Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
63. MEMINTA BANTUAN KENZIE


Katerina berdiri menatap dirinya lewat pantulan cermin besar yang ada dihadapannya. Malam ini dia memakai dress berwarna mocca. Dengan sedikit polesan make up natural membuat wajahnya tampak segar.


"Sayang, apa kau sudah siap, hm?" tanya Zyano tiba-tiba memeluk Katerina dari belakang. Ia juga menghirup aroma Jasmine yang keluar dari tubuh Katerina.


"Sudah, Zyan. Bagaimana penampilan ku?" tanya Katerina berbalik menatap suaminya yang sudah tampan dalam balutan kemeja yang senada dengan dress Katerina.


Zyano menatap Katerina tanpa berkedip. Ia terpana melihat kecantikan sang istri. Kulit seputih susu, hidung mancung serta bibir yang tambak menggoda.


"Kau sangat cantik, sayang." puji Zyano.


Katerina tersenyum mendengarnya. "Suamiku juga sangat tampan."


"Oh iya, sayang. Apa kakimu sudah tidak sakit lagi?" tanya Zyano.


"Tidak, Zyan. Kau jangan khawatir."


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita turun. Mom pasti sudah menunggu di bawah." ujar Zyano meletakkan tangan sang istri di lengannya.


"Ayoo."


Keduanya turun bersama sambil bergandengan. Mereka berdua terlihat sangat serasi.


"Hati-hati, sayang." ujar Zyano takut kalau sampai Katerina jatuh apalagi wanita itu memakai high heels.


"Iya, Zyan."


"Akhirnya, kalian turun juga." ujar Zahra tersenyum menyambut pasutri itu.


"Hai, mom. I miss you." ucap Katerina langsung memeluk Zahra.


"Miss you to, sayang." ujar Zahra membalas pelukan menantunya. Keduanya saling melepas rindu yang selama ini tertahan.


Katerina melepaskan pelukannya. "Mom, apa kabar? Mom baik-baik aja kan?" tanya Katerina.


"Mom baik-baik aja, Kate. Kabarmu sendiri bagaimana? Apa, Zyan memperlakukan mu dengan baik? Dia tidak menyakiti mu kan?" tanya Zahra sambil melirik Zyano.


"Tidak, mom."


"Syukurlah, kalau begitu. Mom, lega mendengarnya." ujar Zahra.


"Apa mom pikir aku akan menyakiti istriku sendiri hah?!"


"Ya siapa tahu. Kau kan dulunya sangat membenci wanita. Bisa saja kau menyakiti, istrimu sendiri."


"Mom, berpikir terlalu berlebihan." ujar Zyano memutar bola matanya malas.


"Hai, Kate. Apa kau tidak merindukan, Dad?" tanya Zeano meretakkan tangannya.


"Tentu saja, aku merindukanmu, Dad." jawab Katerina memeluk Zeano.


"Ohh menantuku."


"Sudah cukup!" ucap Zyano menarik Katerina dari pelukan Zeano.


"Astaga, kau pencemburu sekali, Zyan." ejek Zeano.


"Sama sepertimu, Dad."


Katerina dan Zahra terkekeh geli melihatnya. Mereka merasa lucu saat melihat interaksi antara ayah dan anak itu.


"Lihatlah, ucapan ku dulu benar kan, sayang? Zyano pasti akan sangat bucin dengan Katerina." ujar Zahra.


"Iya kau benar, sayang. Bahkan sepertinya dia sangat posesif. Masa aku tidak boleh memeluk menantuku sendiri."


"Kali ini aku tidak akan membantah ucapan mu, Mom." ujar Zyano membenarkan.


Hahahaha


Semuanya pun tertawa bahagia. Makan malam itu penuh kehangatan dan kebahagiaan.


******


Maya baru saja sampai di Le Grand Restoran. Ia membayar ongkos taksi lalu bergegas masuk ke dalam. Begitu masuk dia dapat melihat Kenzie sedang duduk di salah satu meja.


"Maaf, Ken, Aku telat. Kau pasti sudah menunggu lama ya?" ujar Maya tidak enak hati.


"Tidak juga, Ka. Aku baru saja sampai sepuluh menit yang lalu." ucap Kenzie.


"Ohh begitu."


"Duduklah dulu ka, kau ingin pesan apa? Biar aku pesankan?" ujar Kenzie sambil menyodorkan buku menu.


Maya melihat buku menu. Ia memesan stek daging medium serta Black Forest Gateau. Sambil menunggu pesanan Maya akan menceritakan semuanya dengan Kenzie.


"Maaf ya Ken, karena aku tiba-tiba mengajak mu bertemu seperti ini." ujar Maya memulai percakapan.


"Tidak masalah ka. Jadi, apa yang ingin kaka bicarakan?" tanya Kenzie sambil menyeruput minumannya.


Maya sedikit ragu mengatakannya. "Em.... sebenarnya aku ingin meminta bantuan mu, Ken."


Kenzie mengerutkan keningnya. "Bantuan apa ka?"


"Aku ingin mencari tahu soal identitas ketua king Draxler. Kau pasti pernah mendengar organisasi itu kan?"


Kenzie terkejut mendengarnya. "Iya, tapi aku hanya tau sedikit ka. Setahuku katanya tidak ada yang tahu siapa ketuanya bahkan para anggotanya juga tersembunyi."


"Ya, kau benar, Ken. Tidak ada yang tahu bahkan aku juga sudah lama mencari tahu tapi sayangnya sampai sekarang aku tidak bisa menemukan apapun soal organisasi itu. Mereka benar-benar tertutup dari dunia luar."


"Tapi, untuk apa kaka mencari tahu organisasi itu? Bukankah ini sangat berbahaya?" tanya Kenzie heran.


"Haruskah aku menceritakan semuanya dengan, Kenzie? Apa anak ini bisa dipercaya?" tanya Maya dalam hatinya. Ia bimbang menceritakan soal penyelidikan nya tentang kematian Gavin.


"Ka?"


"Ah, ya." Maya tersentak saat Kenzie memanggilnya.


"Kaka baik-baik saja, kan?"


"Iya, aku baik-baik saja, Ken." jawabnya tersenyum.


"Kalau kaka tidak mau menceritakannya tidak masalah ka. Aku tidak akan bertanya lebih. Aku paham semua orang punya rahasianya masing-masing."


"Bukan aku tidak mau menceritakannya, Ken. Hanya saja ini berhubungan dengan identitas Katerina."


"Indentitas? Maksudnya gimana ka?" tanya Kenzie bingung.


"Mendekat lah, aku tidak ingin ada yang mendengarnya." ujar Maya.


Kenzie pun mendekat. Ia jadi penasaran dengan cerita Maya. Sedangkan Maya meyakinkan dirinya bahwa Kenzie bisa dipercaya. Ini semua demi kelancaran penyelidikannya.


"Jadi, sebenarnya Katerina itu putri dari keluarga bangsawan." ungkap Maya.


"Hah?" Kenzie terkejut mendengarnya.


Maya pun akhirnya menceritakan semuanya. Di mulai dari identitas Katerina hingga kematian Gavin yang sengaja di bunuh oleh Andi Cristopher. Berbagai macam reaksi terlihat di wajah Kenzie. Ia kaget mengetahui kebenaran ini. Kenzie juga tidak menyangka kalau Katerina putri dari keluarga bangsawan.


"Jadi, maksud kaka, Black Shadow lah yang membantu Andi Cristopher untuk membunuh ayahnya ka, Katerina?"


"Yap." jawab Maya mengangguk.


"Astaga, ini sangat rumit ka. Aku tidak menyangka kalau ternyata orang yang sering dipanggil ka, Katerina ayah adalah orang yang membunuh ayah kandungnya sendiri."


"Iya, itulah kebenarannya, Ken."


"Lalu, apa ka, Katerina tau soal ini?"


"Tidak! Dia tidak tahu apapun." ujar Maya.


"Kenapa kaka tidak memberitahu soal ini?"


"Belum saatnya, Ken. Jadi, kumohon padamu jangan beritahu apapun soal ini dengan Katerina." pinta Maya.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kaka saat tau hal ini. Dia pasti akan sangat terluka." ujar Kenzie.


"Untuk itulah aku masih belum bisa menceritakan soal ini padanya. Kecuali, sampai aku benar-benar bisa mendapatkan bukti akurat kalau Andi dalang di balik itu semua."


"Aku paham, Ka. Penyelidikan ini sulit karena yang terlibat di sana adalah Mafia. Untuk mencari buktinya tidak semudah itu."


"Maka dari itu aku harus mencari tahu soal ketua king Draxler. Mungkin saja dia bisa membantuku untuk memecahkan masalah ini agar Andi bisa segera dihukum."


"Aku tidak akan tenang kalau bedebah sialan itu tidak mendapatkan balasannya nya. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!" ujar Maya mengepalkan tangannya erat.


"Tapi, apa ini tidak terlalu berbahaya ka? Masalahnya lawannya adalah Mafia. Mereka tidak bisa diremehkan begitu saja ka. Hidup kaka pasti akan dalam bahaya."


"Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya, Ken. Tugasku adalah mengungkap tuntas kasus ini. Aku tidak peduli seberapa bahayanya. Aku tidak akan menyerah begitu saja." ujar Maya penuh kobaran api. Ia sudah memutuskan akan melakukan apapun agar penyelidikannya berhasil. Maya tidak peduli soal keselamatan nya.


"Kau yakin ka? Apa kau tidak takut mati?"


"Mati? Heh, apa kau tau, dulu aku hampir mati? Dan kalau bukan karena tuan Erland, mana mungkin aku masih hidup. Jadi, aku akan membalas jasanya." ujar Maya.


Maya menunduk, ia meremas jarinya. "Aku melakukan ini juga demi, Katerina. Ayahnya mati dengan cara tragis dan orang yang membunuh nya malah hidup bahagia. Mana bisa aku diam saja. Lagipula, aku juga sudah memutuskan akan melakukan ini sampai akhir. Aku tidak akan menyerah di tengah jalan hanya karena takut mati!" tegas Maya berkilat. Tekadnya sudah bulat.


"Kau sangat baik, ka." ucap Kenzie.


"Ini tidak seberapa dengan kebaikan yang tuan, Erland berikan untukku, Ken. Bagiku dia pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupku. Aku akan melakukan apapun yang dia minta termasuk mengupas tuntas kasus kematian menantunya."


Kenzie tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku putuskan akan membantumu, Ka."


"Benarkah? Kau mau membantuku, Ken?" tanya Maya dengan wajah berbinar.


"Iya, walaupun mungkin akan sedikit sulit tapi aku akan berusaha untuk membantu kaka mencari tau siapa ketua king Draxler." ujar Kenzie membuat Maya kegirangan.


"Aku tidak tau lagi ingin mengatakan apa. Tapi aku sangat berterima kasih karena kau mau membantuku, Ken." balas Maya tersenyum lebar.


"Sama-sama, Ka. Aku melakukan ini demi keadilan. Andi Cristopher harus di hukum!"


"Iya tentu saja. Bedebah itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."


"Lalu, setelah kaka tau siapa ketua king Draxler. Apa yang akan kaka lakukan?"


"Aku akan menemuinya langsung dan meminta bantuannya."


"Bagaimana kalau seandainya dia menolak?"


"Soal itu kau tenang saja, Ken. Aku akan membuatnya setuju. Kesepakatan tidak akan terjalin kalau tidak ada keuntungan di dalamnya. Hubungan ini akan jadi simbiosis mutualisme." ujar Maya tersenyum licik.


"Ternyata kaka sudah mempersiapkan nya, ya?"


"Tentu saja. Aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa perencanaan."


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰🥰🥰👍🥰🥰


^^^Coretan Senja ✍️^^^