Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 132


"Jadi, kalian berdua rekan kerja?" tanya Sean sambil menikmati makanan nya. Ia hanya memesan pasta karena sebenarnya Sean sudah kenyang tapi berhubung melihat Maya bersama Dave. Dia tak ingin membiarkan mereka makan berdua saja. Entah kenapa Sean tak suka. Yah bisa dikatakan dia cemburu.


"Iya tuan, Sean. Nona Maya bekerja di perusahaan Brawitama sebagai sekretaris tuan, Zyano." ujar Dave menjelaskan.


"Ah, begitu." balas Sean manggut-manggut paham. Sambil melirik Maya yang tampak menikmati makanan nya tanpa berniat menatap nya.


"Ku harap nona, Maya tidak tertular sifat dingin Zyano." ujar Sean sambil tertawa mengejek.


"Memangnya kenapa?"


"Takutnya nanti kau seperti, Dave. Awalnya dia tidak begitu dingin tapi semenjak bekerja dengan Zyano dia jadi manusia kaku yang tidak pandai berekspresi."


Dave yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Ia menunduk malu. Meski sulit diakui tapi itulah kenyataannya.


"Ohh, ternyata dokter Sean suka mengejek orang ya?" tanya Maya tersenyum kecut.


"Apa?" Sean terkejut. Ia menggeleng. "Tidak! Bukan begitu maksudku. Oh astaga. Jangan salah paham."


"Sudahlah."


Setelah itu suasana menjadi hening dan canggung. Tidak ada yang memulai percakapan. Maya menikmati makanan nya dengan lahap begitu pun dengan Dave. Sementara Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia jadi merasa serba salah dan tak nyaman.


"Kenapa aku jadi serba salah begini sih." batin Sean kesal dengan dirinya sendiri.


"Tuan, Dave terima kasih sudah mengajak saya makan siang di sini. Ternyata makanan disini memang enak. Saya baru tahu ada restoran sebagus ini. Tidak hanya makanan nya yang enak tetapi tempatnya juga bagus dan cocok untuk bersantai." ujar Maya tersenyum manis.


"Syukurlah kalau nona, Maya menyukainya." Dave membalas senyuman Maya. Ia senang mendengar komentar positif dari Maya.


Sean menepuk tangannya satu kali sambil berkata. "Nah, karena ini baru pertama kalinya nona makan disini. Jadi, hari ini biar aku saja yang membayarnya."


"Tapi tuan, saya jadi tidak enak hati kalau anda yang membayar." ujar Dave.


"Santai saja, Dave. Kita kan sudah lama saling kenal. Kau tidak perlu merasa tidak nyaman padaku." balas Sean berucap dengan santai.


"Dalam rangka apa dokter tiba-tiba ingin membayar makanan kami berdua?" tanya Maya.


Sean tampak berpikir. "Em, sebenarnya tidak dalam rangka apapun. Aku hanya ingin berbagi saja." ujarnya.


"Baiklah, kalau begitu apa aku boleh memesan lagi?"


"Nona masih lapar?" tanya Sean tampak kaget karena porsi makan Maya ternyata lumayan banyak. Dan dia malah ingin menambah lagi.


"Bukan untukku tapi untuk anak-anak panti asuhan."


"Apa?"


"Tadi kan dokter bilang ingin berbagi. Ya sudah kalau begitu sekalian saja berbagi untuk anak-anak panti asuhan. Tidak masalah kan? Oh atau mungkin dokter merasa keberatan?" tanya Maya sengaja menguji.


"Mana mungkin. A-aku sama sekali tidak keberatan." jawabnya cepat. Tapi sebenarnya dalam hati berat.


"Dokter yakin?"


"Yah, tentu saja. Nona boleh memesan untuk anak-anak panti. Aku harap mereka menyukainya."


"Baik, kalau begitu saya ucapkan terima kasih banyak dokter. Anda ternyata orang baik." ujar Maya tersenyum manis. Setelah itu dia memanggil pelayan untuk menuliskan paket makanan untuk anak-anak panti. Maya memesan 25 paket makanan. Sementara Sean menepuk kepalanya pusing. Ia tak menduga akan jadi seperti ini. Niatnya ingin cari muka di depan Maya malah berakhir rugi. Kali ini Sean kalah telak. Sedangkan Dave mengulum senyum menahan agar tidak tertawa.


Maya tampak bersemangat memilih menu makanan untuk anak-anak panti. Sebenarnya Maya sering berkontribusi untuk anak-anak panti. Sebagai anak yatim piatu yang tidak memiliki siapapun lagi Maya merasa kasihan dengan anak-anak panti. Untuk itu dia sering membantu dengan memberikan makanan untuk anak-anak panti. Sean tak pernah mengalihkan tatapannya kepada Maya. Jika di lihat seperti ini Maya menjadi sosok yang berbeda. Sean jadi membayangkan bagaimana kalau dia menikah dengan Maya. Pasti sangat menyenangkan. Anak-anak panti saja dia pikirkan apalagi dirinya kalau sudah jadi suami. Ah, lagi-lagi Sean halu.


"Dokter."


"Dokter."


"Dokter, Sean."


Panggilan ketiga akhirnya membuat Sean tersadar dari lamunannya. Ia tampak linglung sesaat. Sementara Maya menatap nya heran.


"Anda kenapa dokter?"


"Aku tidak apa-apa."


"Ohh syukurlah. Ini total biayanya." ujar Maya menunjukkan bil pesanan nya.


Sean membulatkan matanya terkejut. "50 juta?" Tanyanya shock.


"Iya. Apa ada masalah dokter?"


"Em, tidak! Bayar pakai kartu ini saja." ujar Sean.


"Baik tuan, mohon di tunggu ya." Pelayan itu kemudian berlalu pergi membawa kartu ATM milik Sean.


"Tidak apa-apa, Sean. Sekali-kali kau harus beramal." batin Sean dalam hatinya.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak dokter, Sean." ujar Maya tersenyum sumringah. Ia tak sabar melihat reaksi anak-anak panti nanti saat dia bawakan makanan untuk mereka.


"Sama-sama nona tapi bisakah kau memanggil ku, Sean saja tidak perlu memakai embel-embel dokter?" pinta Sean.


"Hm memangnya kenapa? Bukankah anda memang seorang dokter?" tanya Maya tak mengerti maksud Sean yang memintanya untuk di panggil nama saja.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin lebih akrab saja dengan nona." ujar Sean tersenyum penuh arti.


Maya tersipu malu. "Ah, begitu. Baiklah, Sean." ucap Maya pelan tapi masih bisa terdengar. Ia sangat malu tapi Maya tak bisa menolak permintaan Sean karena pria itu sudah membantu nya. Jadi, anggap saja ini sebagai bayarannya. Tidak masalah kalau hanya di panggil nama yang penting bukan sayang atau semacamnya. Ah, kenapa Maya jadi memikirkan itu?


"Yes, satu langkah pendekatan ku berhasil." ucap Sean dalam hatinya berteriak kegirangan. Ia melirik Dave yang tampak biasa saja. Sean pikir Dave akan cemburu tapi ternyata dia biasa saja.


"Ah, sudahlah itu bukan urusanku. Kalau, Dave tidak menyukainya itu lebih bagus karena aku tidak perlu bersaing dengan nya. Pekerjaan ku akan jadi lebih mudah. Lagipula tidak ada yang bisa menolak pesona ku. Cepat atau lambat wanita ini akan terpikat padaku. Hohoho aku tak sabar menantikan hari itu." batin Sean terkikik sendiri membayangkannya. Dia hanyut dalam khayalan sendiri.


Sementara Maya keheranan melihat Sean senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Tuan, Dave dia kenapa?" ucap Maya bertanya kepada Dave.


Dave menggeleng. "Saya juga tidak tahu nona."


"Hei, Sean."


"Sean."


"Dokter Sean!" panggil Maya sambil menggebrak meja.


Sean tersentak kaget. "Ah iya. Ada apa?" tanya Sean akhirnya tersadar dari dunia khayalan nya.


"Apa anda baik-baik saja?"


"A-aku?" Sean menunjuk dirinya sendiri. "Yah, tentu aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?" ujarnya bertanya balik.


"Kami pikir anda sakit soalnya anda senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras."


"Apa?" Sean terkejut mendengarnya tapi dengan cepat dia merespon. "A-aku masih waras nona." ujar Sean tegas.


"Lalu, kenapa anda senyum-senyum sendiri?"


"Em, i-itu aku." Otak Sean berpikir keras mencari alasan yang masuk akal. Sementara Maya dan Dave sedang menunggu jawaban Sean.


Sean tertawa canggung. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sebenarnya aku hanya senang karena nona tidak marah lagi padaku."


Maya mengernyit bingung. "Marah? Kenapa saya harus marah?"


"Yah, soalnya kan waktu itu aku langsung mengajak nona berkencan. Jadi, ku pikir nona marah padaku."


Uhuk-uhuk


Dave yang sedang minum jadi tersedak. Ia terkejut mendengar perkataan blak-blakan dari Sean.


"Astaga tuan, Dave anda baik-baik saja?" tanya Maya khawatir.


Dave segera membersihkan mulutnya. "Em, saya tidak apa-apa nona."


"Syukurlah."


"Hei, Dave berhati-hati kalau sedang minum." ujar Sean tersenyum tipis.


"Baik, tuan. Maafkan saya." ujar Dave menunduk malu.


"Heh, ternyata dia juga menyukai nya." gumam Sean sinis dalam hatinya. Hanya dari reaksi Dave dia bisa mengetahui kalau pria itu juga memiliki rasa terhadap Maya. Tapi baguslah, dengan ini Sean bisa lebih waspada.


"Astaga." Maya memijit keningnya merasa pusing.


"Yah, sejujurnya saya memang marah karena perilaku anda membuat saya tidak nyaman. Terlebih lagi kita baru saja mengenal tapi anda malah langsung mengungkapkan perasaan anda begitu saja. Saya tentu tidak percaya tapi saya tidak ingin memperpanjang masalah. Jadi, lupakan saja." ujar Maya.


"Em, saya minta maaf karena waktu itu saya tidak berpikir panjang."


"Yah, lupakan saja."


Setelah itu hening. Tak ada yang berucap. Suasana menjadi canggung dan tak nyaman. Sean meruntuki kebodohannya sendiri karena sudah mengungkitnya hal memalukan itu. Mereka tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Astaga, bodoh sekali kau, Sean." batin Sean.


"Apa maksudnya mengungkit hal memalukan itu di depan tuan, Dave? Apa dia sengaja melakukannya?" batin Maya.


"Sepertinya tuan, Sean menyukai nona, Maya. Dia bahkan sampai mengajaknya berkencan tapi kenapa nona, Maya menolaknya? Apa nona tidak menyukainya tuan, Sean?" batin Dave.


Drttttt drttttt


Keheningan mereka pecah saat mendengar ponsel Maya berdering. Ada panggilan masuk. Tak perlu waktu lama Maya mengangkat nya.


"Hallo, Sella."


"Hallo nona, Maya."


"Ada apa?"


"Gawat nona, penyakit tuan Erland kambuh."


Bersambung 😎


______________________________________________


Masih ingat kan dengan Erland?


Kalau lupa biar otor kasih tau


Erland itu kakeknya Katerina atau lebih tepatnya ayah dari ibu kandung Katerina.......


Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys 🥰🥰❤️🥰😍


^^^Coretan Senja ✍️^^^