
"Huh, akhirnya selesai juga." ujar Maya menghela nafas lega setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku.
"Haish, karena bos tiba-tiba cuti aku harus kerja ekstra." gerutu Maya.
Maya melirik jam yang melingkar di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 17:00. Maya bersandar sebentar di kursinya. Namun, tiba-tiba dia teringat dengan Kenzie.
"Apa aku harus minta bantuan, Kenzie untuk mencari tau siapa ketua king Draxler ya? Tapi apa dia mau?" gumam Maya berpikir keras.
"Tidak ada salahnya mencoba, Maya. Kurasa anak itu bisa membantuku."
Tanpa pikir panjang Maya langsung menghubungi Kenzie. Ia sudah sangat penasaran dengan ketua king Draxler. Maya sudah lama mencari tahu tapi usahanya selalu berakhir sia-sia.
"Hallo."
"Hallo, Ken. Ini aku, Maya."
"Iya, ada apa ka, Maya?"
"Em....apa kau ada waktu malam ini? Aku ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
"Ada, tapi kaka ingin bertemu di mana?"
"Bagaimana kalau di Le Grand Restoran?"
"Baiklah, terserah kaka saja."
"Ya sudah, kalau begitu kita akan bertemu malam ini di Le Grand Restoran."
"Iya, kak."
"Sampai jumpa, Ken. Dah."
Maya menutup telponnya. Ia tersenyum senang karena Kenzie mau bertemu dengannya. Maya sangat berharap Kenzie bisa membantunya mencari tau siapa ketua king Draxler.
"Aku harus pulang sekarang agar bisa bersiap-siap." ujar Maya bangkit dari duduknya, ia meraih tasnya dan kemudian keluar dari ruangannya.
*****
Tok tok tok
"Masuk."
"Sean, ini laporan pasien yang kau minta." ucap seorang pria yang bernama Dimas. Ia juga dokter sekaligus teman Sean.
"Ya, terima kasih." ujar Sean mengambil laporan itu dan kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sementara Dimas mendudukkan pantatnya ke sofa yang ada di ruangan itu.
"Huh, lelahnya. Hari ini terlalu banyak pasien yang harus diperiksa." ujarnya mengeluh.
Sean melirik Dimas. "Kenapa kau tidak keluar?"
"Aku lelah, Sean."
"Kau bisa beristirahat di ruangan mu."
"Tidak ah malas, aku ingin duduk sebentar di sini. Kau tidak mungkin keberatan kan dokter, Sean?" tanya Dimas sengaja.
"Terserah."
Dimas terkekeh. "Oh iya, bagaimana kencan mu semalam? Apa berjalan lancar?"
"Sangat buruk." jawab Sean tidak terduga.
"Hah?"
Sean melirik Dimas sinis. "Kau bilang wanita itu baik tapi ternyata dia sangat matre. Belum jadi pacar saja dia sudah memoroti uangku apalagi kalau jadi kekasih."
"Astaga, Maaf. Ku pikir dia wanita baik-baik ternyata tidak ya."
"Sudahlah, lupakan saja. Sepertinya aku akan kalah taruhan." ujar Sean pasrah. Ia tidak peduli lagi kalau kalah taruhan dari Zyano. Sean menyerah mencari istri dalam waktu sebulan. Meskipun dia sudah berkali-kali kencan tetap saja tidak ada yang sesuai dengan kriteria nya. Ternyata tidak semudah itu mencari pasangan hidup.
"Jangan menyerah begitu, Sean. Kan masih ada waktu dua Minggu lagi. Aku pasti akan membantumu mencarinya."
"Tidak perlu."
"Loh, kenapa? Apa kau mau menyerah begitu saja?"
Sean menghela nafas berat. "Setelah ku pikir-pikir ini tidak ada untungnya. Aku tidak mau menikah hanya karena tantangan. Lagipula pernikahan itu seumur hidup. Aku tidak mau menyesal kalau salah mencari calon istri."
"Tumben kau bijak. Biasanya kan kau suka tergesa-gesa."
"Kau memuji atau mengejekku hah?!"
"Dua-duanya." jawab Dimas tertawa.
Sean tersenyum kecut. "Cih, aku yakin, Zyano pasti akan mengejekku habis-habisan setelah mengetahui kalau aku tidak berhasil menikah dalam waktu satu bulan."
"Itu sudah pasti. Lagipula, kenapa kau setuju dengan tantangan gila itu hah?!"
"Ya kupikir saat itu mencari pasangan hidup itu mudah tapi ternyata sangat sulit. Setelah beberapa kali berkencan aku mulai sadar kalau aku tidak bisa sembarangan memilih calon istri. Setidaknya, ini jadi pengalaman untukku."
"Akhirnya kau sadar juga." ujar Dimas.
"Hah? Bukankah kau yang membantu ku mencari wanita untuk aku kencani?"
"Kau gila. Jadi, selama kau mengerjai ku hah?!"
"Ya, tapi tidak bisa di bilang begitu juga. Intinya, aku hanya ingin melihat mu berkencan dengan wanita. Aku lelah melihatmu yang terus berpacaran dengan data pasien. Kau bahkan tidak pernah memikirkan wanita. Hanya pasien saja yang kau pikirkan."
Sean tertohok mendengarnya. Ia tidak menyangka ternyata Dimas mengerjai nya. Tapi dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Dimas karena dia juga meminta bantuan pria itu untuk mencarikan pasangan untuknya.
"Argh, sial." umpat nya pelan.
Sedangkan Dimas tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah kekesalan Sean. Biasanya pria itu yang mengerjainya tapi sekarang dirinya.
"Jangan marah, Sean. Aku tidak bermaksud untuk mengerjai mu. Aku hanya ingin membantu teman ku agar dia bisa merasakan bagaimana berkencan dengan seorang wanita." ujar Dimas.
"Ya, aku sangat berterima kasih atas bantuan mu itu." balas Sean kesal.
"Lalu, apa kau sudah menyiapkan mobil Porsche Carrera edisi terbatas untuk, Zyano?"
"Hm."
"Jadi, kau benar-benar sudah mempersiapkan kekalahan mu?"
"Jangan mengejekku seperti itu!"
"Haish, aku tidak menyangka kau akan kalah begitu saja, Sean. Ini bukan dirimu sekali!" enak Dimas.
"Diamlah! Kau sangat berisik!"
"Apa kau akan langsung menyerah begitu saja? Waktunya kan masih dua Minggu lagi. Kau masih bisa mencari wanita lain, Sean."
"Aku sudah tidak tertarik lagi. Wanita kemarin benar-benar membuatku ilfil. Aku tidak mau membuang-buang waktu ku hanya untuk kencan tidak berguna."
"Haish, jangan berkata seperti itu, Sean. Kau hanya belum merasakan jatuh cinta. Nanti saat kau jatuh cinta kau akan tergila-gila." ujar Dimas.
"Sudahlah, cepat keluar dari ruangan ku! Aku tidak bisa fokus bekerja kalau kau terus mengajak ku bicara."
"Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin mengajakmu makan malam. Kau bisa kan?" tanya Dimas menawari Sean makan malam bersamanya.
"Tidak! Aku sibuk, ada banyak data pasien yang harus ku periksa." ujar Sean langsung menolak.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan keluar dari sini." balas Dimas mengancam.
"Terserah."
Dimas tidak tinggal diam. Dia terus saja mengganggu Sean dengan cara bernyanyi. Sean benar-benar merasa kepalanya akan pecah saat mendengar suara Dimas yang tidak ada merdu- merdunya.
BRAK!
"Bisakah kau diam! Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau kau terus beryanyi!" ucap Sean menggebrak meja kesal.
"Kenapa? Bukankah suara ku indah?"
"Indah dari Hongkong yang ada suara mu kayak toa. Berisik!"
"Tapi aku merasa suaraku indah tuh." ujarnya percaya diri. Ia terus saja beryanyi sampai Sean benar-benar muak mendengar nya.
"Kau benar-benar menguji batas kesabaran ku ya, Dimas?!" bentak Sean kesal.
"Tidak, aku hanya beryanyi. Apa salahnya?"
"Salahnya kau beryanyi di ruangan ku, Dimas! Kalau kau mau, beryanyi lah di ruangan mu sesuka hatimu kalau perlu sampai pita suara mu rusak. Aku juga tidak akan peduli tapi jangan di ruangan ku!" geram Sean ingin sekali memukul temannya itu.
"Aku kan sudah bilang, aku akan keluar kalau kau bersedia makan malam bersama ku hari ini."
"Kenapa kau sangat ingin aku makan malam bersama mu? Apa jangan-jangan kau sedang merencanakan kencan lagi hah?!" tuduh Sean curiga karena Dimas begitu memaksanya untuk makan malam padahal dia tidak mau.
"Tidak, Sean! Kali ini tidak ada kencan apapun. Aku hanya ingin makan malam bersama temanku saja."
Sean menghela nafas. "Baiklah, tapi kali ini saja."
"Nah, gitu dong dari tadi. Kalau begini kan enak."
"Ya, sana keluar! Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ku!" usir Sean.
"Oke, aku keluar dulu. Tapi jangan sampai lupa, nanti malam jam 20:00, tempatnya di Le Grand Restoran."
"Hm." Setelahnya Dimas keluar dari ruangan Sean.
"Dia seperti wanita. Mulutnya tidak berhenti bicara." ujar Sean bersandar di kursinya. Ia memijit kepalanya pusing.
"Apa begini ya perasaan, Zyan saat aku menganggu nya? Ternyata sangat menyebalkan." gumam Sean.
Bersambung 😎
______________________________________________
Astaga Sean 😂😂😂
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya🥰🥰🥰
^^^Coretan Senja ✍️^^^