Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 125


"Apa saya tidak salah dengar? Anda menyetujui penawaran saya?" ujar Katerina bertanya untuk memastikan apakah pendengarannya tidak salah.


"Iya, Kate. Ayah menyetujui penawaran mu." jawabnya yakin.


Katerina terdiam sejenak, mencerna perkataan Andi. Jujur saja dia shock karena tiba-tiba saja Andi menerima tawarannya. Padahal pria itu sebelumnya menolak mentah-mentah tapi mengapa sekarang malah sebaliknya?


"Kenapa?"


"Hah?" Andi tidak mengerti.


"Kenapa anda berubah pikiran? Bukankah sebelumnya anda menolak keras penawaran saya dan bahkan anda sampai mengatakan hal-hal jelek untuk menentangnya. Lantas, kenapa sekarang anda malah menyetujuinya?" tukas Katerina menatap Andi curiga. Ia tak percaya begitu saja dengan perubahan sikap Andi yang mendadak ini. Bahkan seorang pendosa pun memerlukan waktu untuk berubah.


Andi mengigit bibir bawahnya, menahan gugup. Otaknya berpikir keras mencari alasan yang masuk akal supaya Katerina tidak mencurigai nya. Andi tidak bisa mengatakan kalau sebenarnya dirinya diancam. Di tambah tatapan tajam Zyano yang seolah memberi peringatan padanya. Jika Andi salah berucap maka semuanya akan kacau. Tentu saja Andi yang akan lebih dirugikan dalam hal ini.


Sementara Katerina tak pernah melepaskan pandangan nya dari Andi. Ia menelisik gelagat pria itu untuk memastikan apakah Andi sedang berbohong ataukah tidak. Perubahan Andi terlalu cepat dan itu tidak bisa Katerina terima. Ia sangat mengenal kalau Andi adalah pria yang licik.


Andi menarik nafas, lalu mengembuskan nya perlahan. Ia berusaha agar terlihat tenang. "Yah, saat itu ayah tidak berpikir panjang. Ayah terlalu kalut akan emosi sehingga tidak memikirkan nasib, Olivia. Karena setelah ayah pikirkan tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaan, Olivia."


Katerina tersenyum kecut. "Jadi, ini semua karena, Olivia?"


"Iya, ayah merasa bersalah karena keegoisan ayah Olivia jadi menderita. Harusnya dia mendapatkan kebahagiaan bukan malah penderitaan." ujar Andi menunduk penuh penyesalan.


Zyano yang melihat itu muak. Rasanya dia ingin muntah mendengar kata bersalah dari mulut Andi. Padahal itu semua hanyalah akting demi melindungi dirinya sendiri dan juga selingkuhannya.


"Beruntungnya, Olivia bisa memiliki seorang ayah yang sangat menyayangi nya lebih dari apapun. Padahal Anda hanyalah ayah tirinya." ucap Katerina tersenyum hambar. Mengapa hatinya terasa sakit mendengar perkataan Andi walaupun sejak awal Katerina tahu Andi lebih menyayangi Olivia di banding dirinya tapi mendengar itu kembali hatinya terasa di remas-remas. Tanpa Katerina sadari dari lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya dia juga mengharapkan kasih sayang Andi. Biar bagaimanapun Andi adalah orang yang sudah merawat nya. Jadi rasa sayang itu jelas masih ada.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Zyano meraih tangan sang istri karena merasa khawatir melihat ekspresi kesedihan dari wajah istrinya.


Katerina tersentak. "Ah, iya aku baik-baik saja, Zyan." ujarnya menampilkan senyum menawannya. Setelah itu Katerina melanjutkan kembali pembicaraan nya dengan Andi. Sementara Zyano memperhatikan dengan baik gelagat istrinya.


"Tidak, kau tidak baik-baik saja, Kate." batin Zyano merasakan perubahan suasana hati Katerina. "Apa dia merasa sedih karena ucapan Andi?"


Katerina menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, saya tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Jadi, karena anda sudah menyetujui nya maka tolong tandatangani surat perjanjian ini." ujar Katerina menyodorkan sebuah map berisi surat perjanjian kepada Andi.


"Sebelum tanda tangan aku punya satu permintaan, Kate."


Kening Katerina berkerut. "Permintaan apa?"


"Aku setuju memberikan hak kuasa perusahaan Cristopher padamu tapi aku juga masih ingin bekerja di perusahaan Cristopher."


Katerina menarik sudut bibirnya tersenyum tipis. "Sudah saya duga anda pasti akan meminta hal seperti itu." ujar Katerina memahami betul isi kepala Andi. Pria itu tidak ingin rugi. "Tapi tenang saja karena saya sudah mempersiapkan nya." ucap Katerina melanjutkan perkataannya.


Katerina membuka tasnya dan mengambil satu map berwarna biru. Kemudian, memberikan nya kepada Andi.


"Bacalah surat itu."


Andi tampak ragu. Namun, dia tetap mengambil surat itu dan membacanya dengan seksama.


"Kate, kau.....apa kau serius?" tanya Andi menatap tak percaya. Katerina memberikan jabatan Chief Financial Officer (CFO).


CFO bertugas mengawasi semua urusan keuangan perusahaan dan melaporkannya kembali kepada pimpinan serta ketua dewan.


"Yah, saya rasa jabatan itu cocok untuk anda. Lagipula saya hanya mengambil alih hak milik perusahaan Cristopher. Dan menurut aturan perusahaan anda tetaplah salah satu pemegang saham terbanyak kedua setelah saya. Jadi, anda masih memiliki hak di perusahaan Cristopher."


"Baiklah, kalau begitu tandatangani surat perjanjian kita."


"Baik." Tanpa banyak pikir Andi langsung menandatangi surat perjanjian pemindahan hak kuasa perusahaan Cristopher. Tak lupa juga dia memberikan cap perusahaan supaya surat itu semakin kuat di mata hukum. Setelah selesai tandatangan maka perusahaan Cristopher resmi berpindah tangan menjadi milik Katerina seutuhnya.


"Saya harap kedepannya kita bisa bekerjasama dengan baik tuan, Andi." ujar Katerina seraya mengulurkan tangannya.


"Tentu." Andi membalas uluran tersebut. Kini, keduanya saling berjabat tangan layaknya rekan bisnis.


Andi tersenyum penuh kebahagiaan. "Katerina, tidak pandai dalam memimpin perusahaan. Jadi, aku hanya perlu bersabar sampai dia membuat kesalahan dan setelah itu aku akan meyakinkan para pemegang saham untuk mendepaknya dari perusahaan. Hahahaha, kau memang pintar, Andi." batinnya licik.


Sementara Katerina hanya tersenyum tipis. "Bersenang-senang lah sebelum kehancuran kalian. Karena ini adalah awal dari balas dendam ku." ucap Katerina dalam hatinya.


"Oh iya, Kate. Kapan aku bisa bebas dari sini?" tanya Andi tak sabar lagi.


"Saya akan mengurus nya terlebih dahulu. Jadi, saya harap anda bisa bersabar. Mungkin sekitar 3 hari." jawabnya.


"Apa? 3 hari? Mengapa lama sekali?" protesnya tak terima.


"Proses hukum tidak secepat itu bisa selesai. Ada banyak hal yang perlu diurus. Waktu 3 hari itu paling cepat. Jadi, bersabarlah." decak Katerina kesal dengan sikap tidak sabaran dari Andi.


Andi mendengus. "Huh, baiklah."


"Ya sudah, kalau tidak ada lagi yang dibicarakan saya akan pergi." pamit Katerina undur diri.


"Hm, pergilah. Jangan lupakan tugasmu." ujar Andi bersandar dengan santai seolah tidak ada beban lagi.


"Saya mengerti." ucap Katerina dan setelah itu keluar dari ruangan.


"Tunggu dulu tuan, Zyano." sentak Andi membuat langkah Zyano terhenti.


"Jangan lupa dengan janji anda." ucap Andi memperingati.


Zyano terkekeh pelan. "Tenang saja. Wanita kesayangan anda akan aman selama anda tidak melakukan hal bodoh."


"Baguslah, kalau begitu."


"Ah, iya sebelum anda keluar dari sini saya punya kejutan untuk anda." ujar Zyano tersenyum smirk.


Alis Andi bertautan bingung. "Kejutan apa?"


"Anda akan tahu nanti. Saya harap anda menyukainya." setelah mengatakan hal itu Zyano pergi begitu saja. Meninggalkan tanda tanya di kepala Andi.


"Kejutan apa yang mau diberikan?" gumam Andi penasaran.


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys ❤️🥰😍😍😍


^^^Coretan Senja ✍️^^^