
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Sera pergi ke penjara. Ia sengaja melakukan itu supaya Olivia tidak curiga padanya kalau dia berniat menemui Andi. Sera masih tidak ingin Olivia mengetahui kalau dirinya membuat perjanjian dengan Katerina.
Sera turun dari mobil begitu sampai. Ia memasang masker supaya tidak dikenali.
"Maaf, saya ingin bertemu dengan tahanan yang bernama Andi Cristopher." ujar Sera.
"Silahkan tulis nama anda di sini terlebih dahulu."
Sera pun mengikuti semua perkataan petugas kepolisian yang berjaga itu.
"Sudah."
"Baiklah, mari ikuti saya."
Ceklek
Mendengar pintu dibuka Andi refleks berdiri. Ia memasang wajah teramat datar seolah tidak menerima kedatangan istrinya itu.
"Mas."
"Cepat sekali kau datang, Sera. Apa kau sangat tidak sabaran ingin memberikan perusahaan ku kepada, Katerina hah?!" tuduh Andi.
"Apa maksud mas?"
Andi terkekeh. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan dibelakang ku hah?!"
"Memangnya aku melakukan apa?"
"Jangan berlagak bego, Sera. Aku sangat mengenal sifat mu itu! Kau membuat kesepakatan kan dengan suami, Katerina tanpa sepengetahuannya hingga kau akhirnya setuju dengan persyaratan yang dia berikan padamu?! Benar bukan?" ujar Andi menatap tajam istrinya.
"Gawat, darimana mas, Andi tahu?" batin Sera gugup. Ia meremas jarinya.
"Mas, ini bicara apa sih? Mana mungkin aku berbuat seperti itu? Mas jangan mengada-ada." ucap Sera masih tak mau jujur.
BRAK
"Jangan membohongi ku, Sera!" bentak Andi marah.
"Aku tidak berbohong mas!" sentak Sera tak kalah tinggi. Ia harus bisa membuat Andi mempercayai nya. Kalau tidak maka semua rencananya akan berantakan.
"Lalu, apa ini hah?!" ujar Andi mengeluarkan sebuah foto yang memperlihatkan Sera sedang berbincang-bincang dengan Zyano di restoran.
Sera terdiam.
"Aduh, bagaimana ini? Gawat kalau mas Andi sampai tahu." batin Sera.
"JAWAB SERA!" sentak Andi membentak.
"I-itu......."
"Beraninya kau membuat kesepakatan lain dibelakang ku! Kau ingin mengkhianati ku ya?"
"Tidak mas!" bantah Sera.
"Lalu, ini apa, Sera! Jelaskan semuanya padaku!"
"Yah, aku memang membuat kesepakatan dengan suaminya Katerina tapi itu semua kulakukan juga demi kebaikan mu mas!" ujar Sera akhirnya mengaku.
"Kebaikan? Apanya yang kebaikan hah?! Kau justru membuat ku jadi curiga padamu!"
"Mas, dia mengancam ku kalau aku tidak mengikuti semua keinginan, Katerina maka dia akan memberikan semua bukti kejahatan mu kekantor polisi. Aku tidak punya pilihan lain mas. Kalau sampai bukti itu ditangan polisi maka kesempatan kau untuk bebas akan hilang begitu saja. Kau tidak akan bisa bebas dari penjara mas!" ujar Sera.
"Tapi kenapa kau tidak mengatakannya lebih dulu padaku, Sera? Kenapa kau harus membohongi ku hah?!"
"Maaf, mas. Aku hanya tidak ingin membuat mu semakin kacau. Aku tau memberikan perusahaan Cristopher kepada Katerina pasti membuat mu marah. Jadi, aku tidak ingin kau tambah kepikiran. Makanya aku rahasiakan saja tapi tidak ku sangka kau malah tau."
"Ah, sudahlah." Andi menghembuskan nafas gusar. Ia terduduk sambil mengusap wajahnya kasar. Andi benar-benar tidak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan istrinya itu. Andi merasa ada yang janggal.
Sera meraih tangan suaminya. "Mas, aku paham kau tidak rela tapi tolong kali ini saja. Tolong pikirkan nasib Olivia. Dia tidak akan bisa menikah dengan, Rei kalau kau masih dipenjara."
"Kenapa, Olivia tidak kesini?" tanya Andi.
Sera menghela nafas berat. "Aku sengaja tidak memberitahu nya tentang hal ini. Aku tidak ingin dia kepikiran. Takutnya itu akan mempengaruhi kandungan nya."
"Berapa usia kandungan, Olivia saat ini?"
"Sudah memasuki 7 Minggu."
"Apa, Olivia dan Rei masih sering bertemu?"
Sera menggeleng. "Semenjak kau dipenjara, Rei tidak mau menemui, Olivia lagi mas. Bahkan keluarga nya juga ikut mengancam Olivia. Mereka tidak akan mau menikah kan anak mereka kalau mas masih dipenjara. Olivia sampai frustasi karena itu mas. Dia sering memaksaku. Aku jadi tertekan makanya ku mohon tolong pikirkan anak kita mas."
"Aku paham mas. Tapi kita masih bisa memikirkan cara lain agar bisa merebut kembali perusahaan Cristopher dari tangannya. Lagipula, Katerina tidak berpengalaman dalam memimpin perusahaan. Jadi, cepat atau lambat kita pasti bisa merebut nya kembali. Yang terpenting saat ini adalah Olivia. Dia harus segera menikah dengan Rei. Kalau tidak maka..." ucapan Sera terhenti.
"Maka apa?"
"Mas, sebenarnya aku tidak ingin memberitahu mu soal ini tapi aku juga tidak bisa terus menyembunyikan nya darimu. Olivia berniat memberitahu media soal kehamilan nya!" ungkap Sera mengejutkan Andi.
"Apa katamu? Apa dia sudah tidak waras?" Andi shock mendengar nya.
"Iya mas, bahkan Olivia juga mengancam ku. Kalau dalam waktu dekat mas masih dipenjara maka dia akan nekat memberitahu media soal kehamilan nya supaya Rei bertanggung jawab."
"Astaga, apa anak itu sudah gila? Bagaimana dia bisa melakukan hal itu hah? Apa dia tidak berpikir bagaimana penilaian orang lain nanti tentangnya. Kenapa dia bisa senekat itu."
"Aku juga tidak mengerti mas. Tapi kau tahu sendiri bagaimana sifat anak mu itu. Dia keras kepala sama sepertimu!"
"Arghhhhhhh ini membuatku semakin pusing." geram Andi mengacak rambutnya frustasi.
"Aku tahu Olivia juga sama tertekannya denganku. Dia bahkan sampai dihina oleh model lainnya karena gagal menikah dengan Rei."
"Beraninya mereka menghina putriku."
"Maka dari itu mas. Jadi, bagaimana? Apa keputusan mu?" tanya Sera hendak memastikan.
"Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin bertemu dulu dengan, Katerina." ujar Andi.
Sera terkejut. "U-untuk apa mas?"
"Aku hanya ingin bertemu dengannya sebelum memberikan perusahaan Cristopher sepenuhnya."
Sera terbata-bata. "T-tapi."
"Kenapa, Sera? Apa aku tidak boleh bertemu dengannya?"
"Bukannya tidak boleh mas. Hanya saja apa mungkin, Katerina mau menemui mu?"
"Katakan saja padanya aku tidak akan menandatangani perjanjian itu kalau dia tidak mau bertemu denganku!"
"Apa?" Sera makin shock dibuatnya. "T-tapi...."
"Sudahlah, Sera. Katakan saja itu padanya. Aku yakin, Katerina mau menemui ku. Bagaimana pun juga aku tetaplah ayahnya."
Sera tersenyum kecut. "Dia sudah tidak mengakui mu sebagai ayahnya lagi mas."
"Tidak masalah, asalkan dia mau bertemu denganku."
"Baiklah, kalau itu keinginan mas. Aku akan memberitahu, Katerina soal ini."
"Hm, aku tunggu kabar baiknya."
"Ya sudah, aku pamit pergi dulu." Ujar Sera undur diri.
Sera pergi dengan rasa marah. Ia mengepalkan kedua tangannya erat.
"Sial, apa yang ingin mas Andi bicarakan dengan, Katerina? Apa dia mencurigai ku?"
"Sepertinya dia tidak percaya padaku. Aku juga tidak menyangka dia sampai menyuruh seseorang untuk memata-matai ku."
"Aku harus berhati-hati kali ini. Jika tidak semuanya akan berantakan." gumam Sera.
Sementara Andi tersenyum tipis menatap kepergian istrinya itu.
"Sera, kau pikir aku bisa dibodohi? Cih, salah besar. Jangan coba-coba menipuku atau kau sendiri yang akan rugi."
Bersambung 😎
______________________________________________
Waduh suami istri saling curiga nih🤭🤭
Kira-kira Andi mau lakuin apa lagi ya???
Hohoho kalau mau tunggu kelanjutannya 🤣
Maaf, guys karena lama ga update soalnya aku sibuk banget. Banyak tugas😭😭😭😭😭😭😭 Pusing eyyyyy
Tapi aku selalu usahakan untuk update walaupun ga teratur lagi😭😭
Mohon dimengerti guys
^^^Coretan Senja ✍️^^^