Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2 : EPISODE 124


Sementara itu di luar ruangan Katerina mondar-mandir tidak karuan. Ia mengigit bibir bawahnya karena gelisah memikirkan Zyano yang sampai saat ini belum keluar. Sudah lebih dari lima belas menit mereka berbicara tapi tidak ada tanda-tanda suaminya akan keluar. Katerina jadi penasaran apa yang mereka bicarakan sampai selama ini. Bukan apa-apa, dia hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Aduh, kenapa hubby lama sekali? Memangnya apa yang sedang mereka bicarakan?" gumamnya resah. Ingin rasanya Katerina menerobos masuk ke dalam tapi dia tidak ingin menganggu karena Zyano meminta nya agar menunggu di luar. Kalau masuk begitu saja itu sama artinya Katerina tidak mempercayai suaminya sendiri.


"Nyonya, lebih baik anda duduk saja takutnya nanti nyonya kelelahan." ucap Budi cemas melihat Katerina yang terus mondar-mandir.


Katerina mendengus sebal. "Budi, apa kau tau apa yang mereka bicarakan? Atau mungkin, Zyan ada memberitahu mu sesuatu?"


"Maaf nyonya, saya juga tidak tahu karena tuan Zyano tidak memberitahu apapun pada saya." ujar Budi menjawab.


Katerina menghela nafas berat. Ia mendudukkan pantatnya di kursi karena merasa lelah. "Hubby memang orang yang tidak bisa di tebak."


"Tapi anda tidak perlu khawatir nyonya. Semua yang tuan lakukan pasti sudah dalam perencanaan yang matang." ucap Budi sangat tahu kelakuan Zyano.


"Yah, meskipun begitu tetap saja aku tidak tenang." balas Katerina bersandar lesu. Ia memijit keningnya yang berdenyut pusing.


"Tunggu dulu." Katerina tiba-tiba teringat sesuatu. "Di mana, Dave? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanyanya baru menyadari kalau dari tadi asisten suaminya itu tidak ada.


"Tadi, Dave sakit perut nyonya. Jadi, dia izin ke toilet tapi kenapa lama sekali ya?" ujar Budi merasa heran.


"Kapan dia ke toilet?"


"Sebelum nyonya keluar."


Katerina refleks bangkit dari duduknya. "Jangan-jangan, Dave pergi karena perintah Zyan?" gumamnya menebak.


Ceklek


Decitan pintu mengalihkan perhatian keduanya. Zyano keluar dari ruangan itu dengan wajah datar.


"Akhirnya hubby keluar juga. Apa pembicaraan kalian sudah selesai?" tanya Katerina menghampiri suaminya.


"Hm."


"Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Katerina tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia benar-benar ingin tahu apa saja yang dua pria itu bicarakan. Entah mengapa instingnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.


Zyano tersenyum sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Nanti aku ceritakan tapi sekarang kau temuin, Andi dulu. Dia bilang ingin bicara denganmu."


"Tapi, Zyan....."


"Ayo masuk sayang."


"Baiklah," Katerina hanya bisa menghela nafas pasrah saat tangannya ditarik suaminya untuk masuk ke dalam. Begitu masuk ternyata Andi sudah menunggu.


"Kate." sapa Andi berdiri begitu melihat kedatangan Katerina.


Sementara Zyano menuntut istrinya untuk duduk. Dia tidak ingin Katerina kelelahan.


"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Katerina to the poin. Ia menatap Andi dengan wajah dingin.


"Em, itu..... sebenarnya aku ingin minta maaf padamu." ujar Andi tiba-tiba.


Katerina mengerutkan keningnya bingung. "Minta maaf untuk apa?"


"Aku ingin minta maaf atas segala sikap ku yang buruk padamu. Aku menyadari kalau aku salah dan tidak seharusnya melakukan hal tercela seperti itu padamu." ujar Andi menunduk. Tanpa Katerina ketahui tangan kanan Andi terkepal kuat.


Katerina terperangah keheranan. "Apa kepala anda terbentur? Bagaimana bisa sikap seseorang tiba-tiba berubah 180 derajat hanya dalam beberapa menit? Apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Katerina tak percaya begitu saja. Ia tahu betul tabiat ayahnya itu. Andi bukan pria yang bisa tiba-tiba berubah.


"Tidak ada yang terjadi, Kate. Ayah hanya merasa bersalah karena sudah memperlakukan mu dengan buruk. Ayah benar-benar menyesal. Tolong ampun ayah, Kate." ucap Andi memohon dengan menunduk penuh penyesalan.


Sementara Katerina tercengang melihat perubahan sikap Andi yang mendadak. Ia tertawa hambar sambil membuang muka ke samping.


"Huh, ini benar-benar tidak masuk akal. Saya tidak percaya kalau ada orang yang tiba-tiba berubah seperti ini tanpa adanya penyebab. Terlebih lagi saya sangat mengenal bagaimana sikap anda."


"Ayah tahu ini sulit dipercaya tapi kali ini ayah benar-benar menyesal, Kate. Tolong percayalah." ucap Andi.


"Kate, jangan diam saja. Katakan sesuatu. Apa kau mau menerima permintaan maaf ayah?" tanya Andi mendesak.


"Apa anda benar-benar menyesali perbuatan anda?"


"Iya, Kate. Ayah sungguh menyesal."


"Baiklah, kalau begitu berlutut lah." perintah Katerina.


"Apa?" Andi terperangah mendengarnya.


"Jika anda benar-benar menyesal maka berlutut dan katakan maaf sekali lagi." ujar Katerina. Ia sengaja melakukan ini untuk mengetes apakah Andi serius ataukah sedang berakting. Katerina tahu betul ego Andi itu tinggi. Dia tidak akan mau berlutut didepan orang lain.


Andi hendak protes tapi tatapan tajam Zyano mengisyaratkan jangan lakukan itu jika ingin wanita mu selamat. Andi pun tak bisa berkutik. Dengan sangat terpaksa dia berlutut didepan Katerina sambil memohon maaf.


"Ayah minta maaf, Kate." ucap Andi sembari berlutut.


Katerina menutup mulutnya shock tidak menyangka kalau Andi benar-benar akan berlutut dihadapannya. Bukan ini yang dia inginkan. Seharusnya Andi menolaknya bukan malah tunduk seperti ini. pikir Katerina.


Saat Andi berlutut kedua tangannya terkepal erat. "Sial, harus berapa lama aku harus melakukan ini? Jika bukan karena, Aruna aku tidak akan sudi berlutut didepan Katerina. Ini benar-benar merendahkan martabat ku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena Aruna masih ada di tangan, Zyano. Jika salah langkah maka dia akan terluka lagi." batin Andi protes.


Sementara Zyano tersenyum puas menyaksikan kekalahan Andi. Pria itu benar-benar tidak berkutik hanya karena ancamannya.


Sedangkan Katerina melirik suaminya. Ia yakin ini semua terjadi karena perbuatan Zyano. Tapi apa yang dilakukan suaminya sampai Andi tidak berdaya seperti ini? pikir Katerina.


"Bangunlah tuan, Andi." ucap Katerina dingin.


Andi mendongak. "Apa kau sudah memaafkan ayah, Kate?"


"Akan saya pikirkan dulu."


"Kenapa harus dipikirkan lagi? Tinggal maafkan saja apa susahnya."


"Heh, apa anda pikir kesalahan anda bisa dimaafkan begitu saja? Kalaupun bisa saya tidak akan bisa melupakan nya. Jadi, saya perlu waktu untuk memikirkannya. Lagipula saya juga masih terkejut dengan permintaan maaf anda yang tiba-tiba seperti ini."


"Lalu, kenapa kau memintaku untuk berlutut hah?!" teriak Andi marah.


"Saya hanya ingin memastikan saja apakah anda benar-benar serius meminta maaf atau hanya sekedar berakting." jawab Katerina menohok.


Andi menelan ludah susah payah. "T-tentu saja ayah serius. Mana mungkin ayah bercanda, Kate. Ada-ada saja kau ini." ujar Andi gugup takut ketahuan.


"Yah, siapa tahu bukan? Lagipula anda tiba-tiba berubah setelah berbicara dengan suami saya. Jadi, wajar kalau saya merasa tidak yakin karena kalian berdua terlihat mencurigakan." ujar Katerina menatap ke-dua nya sinis.


Zyano terkekeh geli. "Sayang, apa yang kau katakan? Aku tidak melakukan apapun." ujarnya berkilah.


"Terserah." Katerina memutar bola matanya malas. Ia hendak keluar tapi suara Andi menghentikan langkahnya.


"Tunggu, Kate. Ada satu hal lagi yang ingin ayah bicarakan."


"Apa?"


Andi menarik nafas, lalu mengembuskan nya perlahan. "Ayah menyetujui penawaran mu."


"Hah?"


Bersambung 😎


_____________________________________________


Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys biar aku semangat terus nulis nya 🥰🥰🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️


^^^Coretan Senja ✍️^^^