Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
S2: EPISODE 137


"Tuan, sebelumnya maaf kalau saya lancang karena menanyakan hal ini tapi kenapa tuan tiba-tiba ingin bertemu, Katerina? Apa terjadi sesuatu?" tanya Maya penasaran. Ia yakin pasti ada alasan kenapa Erland memintanya untuk mempertemukan dia dengan Katerina. Padahal belum waktunya.


Sebelum menjawab, Erland memantau keadaan disekitarnya takut ada yang menguping pembicaraan mereka. Begitu dirasa aman dia baru mengatakan nya. Sementara Maya mengerutkan keningnya heran melihat kewaspadaan Erland.


"Tuan, kenapa?"


"Shut, pelan kan suaramu, Maya."


"Maaf tuan." Ujar Maya mulai menurunkan volume suaranya lebih rendah.


"Tidak apa-apa." Erland menghembus nafas berat.


"Jadi, apa yang terjadi tuan? Semuanya baik-baik saja kan?"


"Sebenarnya tidak Maya. Kondisi perusahaan sedang kacau karena Hendri terus mendesak ku agar mengeluarkan surat perintah hak waris. Dia ingin diakui sebagai pemilik perusahaan Argawihana tapi aku menolaknya karena hal itu dia mengirim mata-mata untuk memantau pergerakan ku. Makanya akhir-akhir ini aku tidak bisa menghubungi mu. Aku tidak ingin dia mengetahui misi mu ataupun tentang, Katerina."


"Ya ampun, jadi tuan, Hendri ingin menguasai kekayaan Agrawihana sepenuhnya?"


Erland mengangguk pelan. Maya menutup mulutnya shock tidak percaya.


"Maka, sebelum hal itu terjadi aku harus bertemu, Katerina dan memberitahu semuanya padanya. Sudah saatnya dia mewarisi harta kekayaan Agrawihana karena dialah pewaris sesungguhnya. Untuk itu kau harus berhati-hati Maya. Jangan sampai, Hendri mencurigai mu. Aku takut dia akan nekat mencelakai, Katerina demi mencapai ambisinya." ujar Erland.


"Tapi bagaimana kalau seandainya, Katerina malah menolaknya tuan? Kan bisa saja dia tidak ingin menjadi pewaris. Kalau itu terjadi apa yang akan tuan lakukan?" tanya Maya.


Erland langsung terdiam. Hatinya terhenyak sesaat. "Ah, benar juga. Mengapa aku tidak pernah memikirkannya? Bagaimana jika, Katerina menolaknya? Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dalam hati.


Maya menunggu jawaban dari pria itu tapi tampaknya dia tak memilikinya. Erland sendiri bimbang dan tidak tahu pasti apakah Katerina akan menerima ataukah tidak. Sejujurnya dia tak sedikitpun memikirkan hal itu karena ini semua keputusan sepihak darinya. Dia bahkan tidak menanyakan pendapat cucunya. Astaga, Erland merasa jadi kakek yang egois.


"Sepertinya tuan tidak memiliki jawabannya. Yah, wajar saja, dia pasti bingung karena dia tidak pernah bertemu, Katerina. Jadi bagaimana dia bisa tahu isi hatinya?" batin Maya bergumam dalam hati.


Kriet


"Siapa disana?" teriakan Maya membuat Erland terkejut dan refleks menoleh ke arah pintu.


"Sial, aku ketahuan." dia membalikkan badannya bersembunyi dibalik pintu sambil mengigit bibirnya.


"Cepat keluar atau kutarik paksa!"


"Ada apa, Maya? Apa yang terjadi?" tanya Erland kebingungan karena Maya tiba-tiba bertingkah Aneh sambil menatap pintu.


"Sebentar tuan."


Maya melangkahkan kakinya mendekati pintu. Ia yakin sekali ada seseorang yang bersembunyi dibalik pintu. Tapi sebelum sempat memergokinya orang itu sudah lebih dulu membuka pintu sambil membungkuk.


"Maaf tuan, nona, saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin mengantarkan minuman untuk tuan, Erland dan juga tamunya." ujarnya memasang wajah bersalah.


"Apa kau pelayan baru?" tanya Maya merasa asing saat melihat wajah wanita itu.


"Yah, benar nona. Saya baru bekerja satu Minggu yang lalu."


Maya menatap wanita itu dari ujung kaki sampai kepala. Ia pun tersadar mengingat perkataan Erland tadi. "Ah, jadi ini mata-mata yang dikirim tuan, Hendri? Hm, menarik. Aku penasaran seberapa jauh dia bisa bertahan? Aku harus memastikannya." Gumam Maya dalam hatinya. Ia menyunggingkan senyum licik nya.


Maya melipat kedua tangannya di atas perut. "Siapa namamu?"


"Violet." ucapnya menunduk. Entah kenapa dia merasa terintimidasi kalau bertatapan dengan netra Maya. Dia juga tidak tahu kenapa hanya saja dia tidak nyaman.


Maya mengangkat dagu Vio agar menatap nya. "Nah, Vio. Apakah, Sella yang menyuruhmu mengantarkan minuman untukku dan juga tuan, Erland?" tanya Maya sembari membelai wajah pelayan itu. Tapi tatapan matanya menakutkan.


"B-bukan, nona." jawabnya terbata-bata karena gugup.


"Oh, itu artinya ini semua inisiatif mu sendiri, begitu kah, Vio?"


Vio hanya mengangguk karena takut. Aura intimidasi Maya membuat tubuhnya kaku bahkan untuk bernafas saja rasanya sulitnya untuknya. Ia merasa seperti sedang diinterogasi.


Maya menarik sudut bibirnya. "Hm, kau sudah bekerja di sini selama satu minggu. Kurasa itu cukup untukmu beradaptasi dan harusnya kau juga sudah tahu kalau, Sella adalah pelayan pribadi tuan, Erland. Itu artinya semua hal yang berkaitan dengan tuan, Erland entah dari kebutuhan ataupun lainnya hanya diurus olehnya. Lantas, kenapa kau yang mengantarkan minuman bukan Sella?" tanya Maya menekankan setiap perkataan nya.


"Hentikan, Maya! Kau membuatnya takut." ujar Erland buka suara. Sudah cukup dia melihat Maya mengintimidasi wanita itu.


"Ah, sepertinya saya sudah berlebihan. Maafkan saya tuan."


"Hm."


"Violet."


"Iya tuan?" Violet mengangkat wajahnya saat namanya di panggil.


"Terima kasih sudah membuatkan minuman untukku dan juga, Maya. Kau bisa letakkan di atas meja."


"Sama-sama tuan."


"Jika tidak ada keperluan lagi kau boleh pergi."


"Baik, tuan kalau begitu saya permisi dulu." pamitnya undur diri. Ia bergegas keluar takut diintrogasi lagi.


"Tuan, kenapa anda membiarkannya begitu saja?"


Harusnya dia dipecat. itulah yang ingin Maya katakan tapi dia menahannya.


"Maya, aku mengerti maksudmu tapi kalau aku melakukan itu Hendri akan semakin curiga. Dia bisa saja mengirimkan lebih banyak mata-mata."


"Tapi tuan, saya khawatir kalau dia punya niat jahat. Bagaimana kalau dia menyakiti tuan?" ujar Maya cemas.


"Kau tidak perlu khawatir, Maya. Anak buah ku lebih banyak daripada Hendri. Aku punya banyak pasang mata yang tidak diketahuinya. Lagipula mereka juga tidak bisa menyentuh ku sembarangan."


"Meskipun anda bilang begitu tetap saja saya khawatir tuan. Terlebih lagi saat melihat kondisi anda yang begini. Saya makin tidak tenang."


"Aku tidak punya pilihan lain, Maya. Untuk menghilangkan kewaspadaan Hendri padaku hanya ini caranya. Setidaknya, aku akan lebih hati-hati dalam bertindak. Lagipula, Hendri tidak tahu kalau aku juga memata-matai nya. Dia pikir dia saja yang bisa melakukan itu? Heh, aku juga bisa. Jadi, jangan khawatir. Semua rencana Hendri aku sudah tahu."


Maya menghela nafas berat. "Baiklah, kalau ada apa-apa segera hubungi saya tuan. Saya pasti akan langsung datang."


"Iya, Maya. Kau sangat bawel seperti, Ghina dulu tapi untungnya kau tidak keras kepala sepertinya."


"Ini bukan bawel tuan tapi peduli." ujar Maya tegas.


"Ah, sudahlah terserah kau saja. Aku ingin istirahat."


"Baik tuan. Istirahatlah."


****


Sementara itu Violet lekas-lekas masuk ke dalam kamarnya. Jantung nya berdegup kencang seperti habis dikejar maling. Nafasnya menderu turun naik saking takutnya. Sejujurnya dia belum pernah jadi mata-mata begini tapi karena kebutuhan hidup yang mendesak mau tidak mau dia menerimanya.


Violet juga tak mengerti kenapa Hendri menyuruh nya memata-matai kediaman Agrawihana. Padahal dia bisa saja menyewa mata-mata sungguhan tapi Hendri takut ketahuan. Jadi, dia mencari orang yang tidak mudah di curigai. Namun, Hendri salah perhitungan karena Violet ceroboh. Tanpa mengungkapkan identitas nya Maya sudah bisa menebak kalau dia mata-mata.


"Ah, hampir saja aku ketahuan."


"Kedepannya, aku harus lebih berhati-hati. Wanita itu pasti mencurigai ku. Apa yang harus aku lakukan?


"Apakah aku harus memberitahu tuan, Hendri? Tidak! nanti dia marah kalau tahu hal ini. Lebih baik aku diam saja."


"Tapi apa yang mereka bicarakan ya? Tadi aku tidak begitu mendengarnya karena langsung ketahuan. Ah, menyebalkan."


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa Like dan Vote nya dung 🥰🥰❤️🥰❤️🥰❤️🥰❤️🥰


^^^Coretan Senja ✍️^^^