Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
73. TIDAK BISA DIREMEHKAN!


Setelah selesai dari kamar Zahra tadi Katerina langsung memutuskan untuk membersihkan diri. Ia memakai jubah mandi sambil menatap dirinya lewat pantulan cermin bundar di hadapannya. Meskipun dirinya berusaha untuk tidak memikirkan perkataan Irene tadi tetap saja hal itu terus menggangu nya.


Katerina menghembuskan nafas panjang. Ia memijit pelipisnya. Hati dan pikirannya berlainan. Ia tidak boleh terprovokasi atas ucapan Irene tadi tapi Katerina tidak bisa terus diam saja. Ia tidak menyalahkan perkataan Irene padanya karena itu memang kenyataannya. Ia bukanlah siapa-siapa. Di tambah perusahaan Cristopher belum sepenuhnya menjadi miliknya. Katerina masih kurang dalam banyak hal.


"Huh, apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.


Ketukan ujung jarinya menandakan Katerina tengah berpikir keras. Ia harus memperkuat statusnya agar Zyano tidak malu saat bersanding dengannya. Tidak dapat di pungkiri hal itu benar-benar menganggu pikirannya. Mungkin Zyano tidak akan malu tapi Katerina merasa tidak pantas kalau dia tidak memiliki apapun. Status memang segalanya.


"Ck, ayo berpikir, Kate. Kau tidak boleh jadi lemah seperti ini. Aku harus memperkuat status ku agar tidak ada yang bisa menghina keluarga ini lagi kedepannya. Tapi apa yang harus kulakukan?"


Semakin dipikirkan Katerina justru semakin pusing. Ia tidak memiliki rencana apapun. Dia kehabisan akal. Saat ini dia tidak memiliki kuasa apapun. Lalu, bagaimana caranya dia bisa meningkatkan statusnya lebih dari yang sekarang?


Tok tok tok


Katerina tersentak saat mendengar ketukan pintu. Ia langsung tersandar dari lamunannya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Zyano berdiri di luar pintu. Ia khawatir karena Katerina belum keluar juga dari kamar mandi. Sudah lebih dari satu jam istrinya itu masih belum keluar. Tidak biasanya Katerina lama mandi.


"Aku baik-baik saja, Zyan." ujar Katerina akhirnya membuka pintu kamar mandi. Ia tersenyum menatap Zyano.


"Kau tidak terluka kan, sayang?" tanya Zyano menatap Katerina intens. Dari atas sampai bawah. Namun, matanya terkunci saat melihat rambut Katerina yang sudah mengering.


"Tidak. Lihatlah, aku baik-baik saja kan?" jawab Katerina tersenyum sebentar. Dan, kemudian lekas pergi menuju ruang ganti. Ia tidak ingin membuat Zyano curiga.


Zyano memutar tubuhnya menatap punggung istrinya dari belakang. Ia merasa ada yang janggal.


"Di lihat dari rambutnya sepertinya itu sudah lama mengering. Tapi kenapa dia baru saja keluar dari kamar mandi? Apa yang tadi dia lakukan di dalam sana?" tanya Zyano dalam hatinya. Ia sangat teliti memperhatikan tingkah sang istri yang tidak biasanya. Zyano merasa aneh.


"Aku harus mencari tau apa yang terjadi!" batin Zyano.


****


Di ruang tamu kediaman keluarga Cristopher saat ini Olivia mondar-mandir tidak tenang. Ia sudah membaca laporan dari Samuel tentang penyelidikannya mengenai Zyano.


Namun, Tidak seperti yang dia harapkan ternyata Zyano tidak memiliki catatan kriminal apapun. Dia sangat bersih. Hanya berisi tentang informasi kalau Zyano adalah CEO Brawitama company. Selain itu tidak ada informasi khusus. Padahal Olivia berharap Zyano memiliki kelemahan tapi sepertinya tidak ada.


"Olivia, apa kau yakin informasi ini benar?" tanya Sera merasa aneh. Tidak mungkin seseorang bisa sebersih itu tanpa skandal apapun.


"Maksud ibu informasi itu di sabotase?" Olivia balik bertanya sinis.


"Yah, bisa saja kan? Lagipula, ibu tidak bisa percaya kalau dia tidak memiliki kelemahan apapun. Rasanya tidak mungkin. Rei saja punya catatan kriminal. Tidak mungkin Zyano tidak memilikinya. Dia terlalu bersih dan itu membuat ibu jadi curiga."


"Aku bisa mengerti kecurigaan ibu tapi tidak mungkin kalau Samuel menyabotase informasi itu!" ujar Olivia yakin.


"Kenapa kau sangat percaya dengannya? Bisa saja dia menipu mu, Olivia." balas Sera.


"Tidak mungkin! Samuel tidak akan melakukan hal sekeji itu. Dia selalu menuruti permintaan ku dan tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya Bu. Jadi, aku sangat percaya dengan Samuel. Dia tidak akan menipuku!" sarkas Olivia.


"Hanya karena dia menuruti mu untuk membunuh Nathan dan Bryan bukan berarti kau bisa mempercayainya seperti itu. Dia bisa saja berbahaya, Olivia." tukas Sera.


"CUKUP BU! Aku tidak ingin mendengar hal itu. Intinya aku percaya dengannya!" tegas Olivia.


"Baiklah, terserah padamu saja. Ibu hanya memberikan saran. Percaya atau tidak itu hak mu. Tapi ingat satu hal, Olivia. Di dunia ini tidak ada yang bisa kita percaya. Semua orang bisa berkhianat kapanpun."


"Yah, aku tau Bu. Terima kasih atas sarannya."


"Lalu, sekarang kau punya rencana apa, Olivia?" tanya Sera.


Olivia menghembuskan nafas kasar. "Aku tidak tahu, Bu. Aku pikir dengan menyelidiki Zyano kita bisa mencari tau apa kelemahannya tapi ternyata tidak. Dia sangat bersih seolah tidak memiliki cacat sedikitpun. Ini jadi sulit untuk membebaskan ayah dari penjara."


"Yah, kau benar, Olivia. Kalau saja dia memiliki kelemahan kita bisa bernegosiasi dengannya tapi sepertinya itu sulit. Ibu yakin dia bukan orang biasa. Tidak mungkin dia tidak memiliki catatan kriminal apapun. Apalagi perusahaan yang di pimpinnya sungguh besar. Ibu yakin dia menutupinya dengan kekuasaan yang dia miliki."


"Jadi, maksud ibu lawan kita kali ini lebih unggul?"


Olivia berdecih. "Ck, sial. Kenapa kaka selalu mendapatkan yang lebih baik?! Arghhhhhhh padahal aku sudah berusaha mati-matian mendapatkan Rei dan membuangnya dari rumah ini tapi malah ada yang memungutnya. Benar-benar menjengkelkan."


"Yah, anak itu selalu mendapatkan keberuntungan. Aku tidak pernah menduga dia akan menikah dengan, Zyano. Kita pikir Rei sudah baik tapi ternyata ada yang lebih baik darinya. Dan bahkan jauh lebih hebat."


"Arghhhhhhh, kesel." umpat Olivia berteriak frustasi sambil melempar vas bunga di depannya hingga pecah.


Prang


"Astaga, Olivia. Tenanglah. Jangan seperti ini sayang." ujar Sera menenangkan putrinya itu.


"Mana bisa, Bu. Ayah masih di penjara dan kita tidak bisa melanjutkan pertunangannya dengan Rei tanpa ayah. Bagaimana aku bisa tenang, Bu?!" ujar Olivia frustasi. Ia kehabisan akal.


"Ibu tahu, Olivia. Tapi apa dengan kau mengamuk seperti ini masalah selesai? Kau justru membuat ibu semakin pusing, Olivia!" sarkas Sera menghela nafas lelah. Dari dulu kalau Olivia frustasi dia selalu mengamuk. Sera jadi di buat pusing melihat tingkah putrinya itu.


Olivia menarik kerah baju Sera. "Bu, katakan! Apa yang bisa aku lakukan?! Aku harus secepatnya mengeluarkan ayah dari penjara agar aku bisa bertunangan dengan Rei. Kalau dibiarkan terus perut ini akan membesar bu dan semua orang bisa tahu kalau aku hamil di luar nikah! Aku tidak ingin itu terjadi Bu." ucap Olivia menangis frustasi. Ia tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan.


"Tenanglah, Olivia!" Sera mencengkeram bahu putrinya itu dan menatapnya tajam.


"Dengarkan ibu baik-baik. Kau tenang saja, ibu akan memikirkan solusinya. Ibu tidak akan membiarkan semua orang tahu rahasia kita. Tapi kali ini kau harus mendengarkan ibu, Olivia!" tegas Sera.


Olivia terisak. "A-apa ibu punya rencana?"


"Ibu tidak tahu pasti, Olivia tapi ibu akan memikirkannya. Jadi, tolong jangan membuat keributan! Kalau kau seperti ini terus ibu jadi pusing dan tidak bisa memikirkan rencananya."


Olivia menghapus lelehan air matanya. "Baiklah, kali ini aku percayakan semuanya pada ibu. Aku harap kita bisa menemukan solusinya."


"Yah, itu pasti."


"Makasih, Bu." ujar Olivia memeluk ibunya. Setidaknya dia merasa sedikit tenang kali ini. Ia yakin ibunya pasti punya cara untuk menyelesaikan permasalahan ini.


"Apa kau tidak ingin bertemu dengan, Rei?" tanya Sera.


"Untuk sementara aku tidak bisa menemuinya Bu. Aku hanya bisa menemui Rei saat masalah ini sudah selesai. Karena kemarin ayahnya, Rei sangat marah denganku Bu. Jadi, aku tidak punya alasan untuk bertemu dengan, Rei." jawab Olivia sendu.


Sera menghela nafas berat. "Ya sudah, sebaiknya kau istirahat saja, Olivia. Tenangkan dirimu dulu. Dan jangan melakukan apapun tanpa perintah ibu!"


"Iya, Bu."


"Kembalilah ke kamarmu."


Sera menatap punggung Olivia yang semakin menjauh. Ia terduduk di kursi sambil memegangi kepalanya. Sera juga tidak tahu apa yang harus di lakukan. Tapi dia tidak boleh membiarkan ini terus berlanjut.


"Apa yang harus kulakukan dengan mu, Katerina?" gumam Sera menyeringai.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka. Dia tidak lain adalah pembantu di rumah itu. Namanya Mpok Ijah. Beliau sudah lama bekerja untuk keluarga Cristopher.


"Aku harus memberitahu, nona Katerina soal ini. Aku tidak bisa membiarkan mereka menyakiti, nona lagi." gumam mpok Ijah.


Bersambung 😎


______________________________________________


Aduh apa lagi dah rencana mak lampir🀦 meresahkan banget tuh orang 😬


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya πŸ₯°πŸ‘πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘πŸ₯°


Maaf kemarin otor gak update karena gak sempet nulis hehehe πŸ™


^^^Coretan Senja ✍️^^^