
Setelah kejadian tidak mengenakan di restoran tadi mereka langsung memutuskan untuk pulang. Di perjalanan Katerina hanya diam sambil menatap pepohonan rindang yang dilewati. Zahra yang saat itu duduk di sampingnya tidak tahu harus berkata apa untuk mencairkan suasana.
Drtttt drttttt
Dering ponsel Budi memecah keheningan. Ada panggilan masuk dari Zyano. Budi memasang earphone dan kemudian menerima panggilan itu.
"Hallo, tuan."
"Kau di mana, Budi?"
"Saya masih di jalan menuju mansion utama, tuan."
"Ohh jadi, kalian sudah di perjalanan pulang?"
"Iya, tuan."
"Hm, tidak terjadi apa-apa kan?" tanya Zyano.
Budi terdiam sejenak. Ia bingung harus mengatakan apa. Haruskah dia menceritakan tentang kejadian di restoran tadi?
Budi melirik Zahra yang tengah mengirimkan kode padanya agar mengatakan baik-baik saja.
"Tidak, tuan. Semuanya aman." ujar Budi.
"Hm, baguslah. Hati-hati di jalan."
"Baik, tuan." Budi melepaskan earphone nya begitu panggilan berakhir.
"Budi, apa itu tadi, Zyano?" tanya Zahra.
"Iya, nyonya. Tuan, Zyano menanyakan keadaan nyonya."
"Ohh begitu." Setelah itu tidak ada pembicaraan apapun.
"Astaga, anak itu sangat penasaran dengan apa yang kami lakukan. Bahkan dia sampai menelpon Budi untuk memastikannya langsung. Entah bagaimana reaksi nya nanti kalau tau istrinya di hina. Haduh, ini bisa jadi masalah rumit." batin Zahra memijit keningnya yang berdenyut. Niatnya mengajak Katerina belanja agar bisa membuatnya bahagia bukan malah berakhir seperti ini.
Zahra mengembuskan napas gusar. Ia meringis pelan memegangi kepalanya yang sakit karena terlalu banyak berpikir di tambah dia juga kelelahan.
"Mom, apa mom baik-baik saja?" tanya Katerina khawatir melihat wajah Zahra yang pucat.
"Kepala mom sedikit pusing, Kate. Mungkin mom kelelahan." jawab Zahra lemas.
"Astaga, mom tidak meminum vitamin ya?"
Zahra terkekeh. "Mom lupa, Kate karena tadi langsung bersiap-siap pergi ke mall."
"Ya ampun, mom. Apa mom membawa vitaminnya?" tanya Katerina sangat cemas.
"Sepertinya ada di tas, mom, Kate." ujar Zahra bersandar karena tubuhnya lemas.
"Sini biar aku ambilkan, mom." Katerina meraih tas yang ada di samping Zahra. Ia mencari vitamin yang sering di minum Zahra.
"Nah, ini dia." ujar Katerina berhasil menemukan vitamin milik Zahra.
"Budi, apa kau punya sebotol air mineral?" tanya Katerina.
"Ada, nyonya. Sebentar." sentak Budi langsung mengambil kan botol mineral yang tersimpan di dashboard. Untungnya Budi selalu menyediakan botol mineral untuk jaga-jaga dalam kondisi terdesak.
"Ini, nyonya."
"Ya, terima kasih."
"Ini, mom. Minumlah." ujar Katerina menyodorkan vitamin dan air mineral. Zahra pun langsung meminumnya.
"Makasih, Kate." ucap Zahra tersenyum.
"Sama-sama, mom. Lain kali mon jangan sampai lupa minum vitamin. Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi." ujar Katerina khawatir.
"Kau sangat cerewet seperti, Zyan."
Katerina terkekeh. "Yah aku kan istrinya, mom."
Zahra tersenyum. Tangan kanannya terangkat membelai wajah Katerina. Ia juga menyelipkan helaian rambut Katerina ke daun telinganya.
"Kate, apa kau marah?"
Alis Katerina bertautan. "Marah kenapa, mom?"
"Marah karena ucapan, Irene tadi."
"Ah, soal itu mom tenang saja aku tidak marah."
"Marah pun juga tidak apa, Kate. Mom bisa mengerti. Biar bagaimanapun dia sudah menghina mu." ujar Zahra. Ia tidak masalah kalau Katerina marah hanya saja Zahra khawatir ucapan Irene akan membuat Katerina tidak nyaman.
"Aku tidak marah kalau dia menghina ku, mom tapi aku tidak bisa menerima kalau dia juga menghina, mom." ucap Katerina tegas.
Zahra tertegun mendengarnya. Bukannya memikirkan dirinya sendiri Katerina justru malah memikirkan orang lain. Terlebih lagi perasaan Zahra. Lagi-lagi Zahra di buat kagum dengan sikap menantunya itu.
Zahra meraih tangan Katerina. Lalu, menggenggam nya. "Kate, kau sudah jadi bagian keluarga Brawitama. Siapapun yang menghina mu itu berarti juga menghina keluarga Brawitama. Jadi, jangan biarkan seorang pun menghina mu!" ujar Zahra menegaskan.
"Iya, mom." balas Katerina tersenyum.
"Dan jangan merendahkan dirimu, Kate. Ingat, kau itu istrinya, Zyano. Dia pasti akan marah besar kalau sampai tau istrinya di hina."
"Kalau begitu jangan sampai, Zyan tau soal ini, mom. Aku tidak ingin dia marah." pinta Katerina. Ia tidak ingin memperpanjang masalah.
"Kau tenang saja, Kate. Mom juga tidak berniat memberitahu, Zyan soal ini."
"Syukurlah." gumam Katerina bernafas lega.
Zahra melirik Budi yang sedang menyetir. "Budi, rahasiakan kejadian di restoran tadi. Jangan beritahu apapun pada, Zyano. Anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi!"
"T-tapi, nyonya....."
"B-baik, nyonya."
"Good." Zahra dan Katerina saling pandang dan kemudian tertawa renyah. Baru kali ini mereka sepakat bekerja sama. Terasa lucu dan menyenangkan.
*****
Zyano turun dari mobilnya begitu sampai di mansion utama. Saat hendak masuk tiba-tiba saja mobil Budi datang. Katerina dan Zahra pun keluar dari mobil.
"Hai, sayang." sapa Zyano menghampiri sang istri.
"Zyan, kau habis pergi ya?" tanya Katerina.
"Iya, aku tadi ada urusan sebentar." jawabnya.
"Ohh."
"Aduh." Zahra hampir saja tersandung kalau tidak di tahan oleh Budi. Kepalanya masih saja pusing walaupun sudah meminum vitamin. Zyano yang melihat itu langsung menghampiri ibunya.
"Mom, kenapa? Muka mom pucat." tanya Zyano khawatir.
"Kepala mom pusing, Zyan." jawab Zahra sambil memegangi kepalanya.
"Astaga, mom pasti kelelahan." decak Zyano.
"Zyan, ayo kita bawa mom masuk ke dalam." ajak Katerina ikut membantu memapah Zahra masuk kedalam mansion. Begitu sampai di depan kamar Budi langsung membukakan pintu. Kemudian, mereka merebahkan Zahra ke kasur.
"Mom, sudah minum vitamin?" tanya Zyano.
"Sudah, Zyan."
"Baguslah, kalau begitu sekarang mom istirahat saja. Aku ingin menelpon Dad dulu." ujar Zyano sedikit menjauh dari sana agar bisa menelepon Zeano.
Sedangkan Katerina mendekat dan duduk di samping Zahra. Ia menggenggam tangan Zahra erat. Katerina tidak tega melihat kondisi Zahra seperti ini.
"Mom, jangan sampai sakit. Aku tidak tega melihat mom seperti ini." ujar Katerina.
"Jangan khawatir, Kate. Mom baik-baik saja. Mom hanya perlu istirahat sebentar dan besoknya sehat lagi." ucap Zahra terdengar lemah. Matanya juga nampak sayu.
"Aku harap juga begitu, mom." ujar Katerina mengusap kepala Zahra dengan lembut.
"Oh iya, soal ucapan, Irene di restoran tadi. Kau tidak perlu memikirkannya, Kate. Dia kalau bicara memang suka tidak di pikir dulu. Mom kadang juga sakit hati dengan ucapannya tapi mom sudah terbiasa." pinta Zahra. Ia mengenal Irene sejak lama. Jadi Zahra tahu betul kelakuan temannya itu.
"Aku tau, mom. Aku tidak akan terprovokasi dengan ucapannya. Mom tenang saja."
"Syukurlah, mom lega mendengarnya."
Katerina tersenyum. "Sekarang, mom harus istirahat supaya besok kita bisa memasak kue bersama-sama."
"Iya, kau benar. Kita sudah membeli bahan-bahan nya. Jadi, besok kita harus membuat kue nya sama-sama." balas Zahra.
"Tentu saja, mom."
Tak beberapa lama kemudian Zyano kembali. Katerina bangkit dari duduknya.
"Mom, aku sudah menelpon Dad. Mungkin satu jam lagi, Dad akan sampai." ujar Zyano.
"Padahal kau tidak perlu memberitahu nya, Zyan. Dia pasti langsung panik."
Zyan terkekeh. "Kau benar, mom. Saat mendengar kalau mom sakit, Dad langsung bergegas pulang padahal meeting nya belum selesai."
"Haish, kau sengaja mengerjai ayahmu ya, Zyan."
"Biarkan saja, mom. Yang penting sekarang mom harus istirahat. Aku tidak ingin mom sakit."
"Yah, mom tau. Kau dan Kate selalu mengatakan itu."
"Ini demi kebaikan, mom." tegas Zyano.
"Yah, tapi tidak hanya mom. Istrimu itu juga pasti kelelahan. Jadi, suruh dia istirahat!" ujar Zahra membuang muka.
"Em...aku tidak begitu lelah mom." balas Katerina cengengesan.
"Tidak. Kau juga harus istirahat, sayang. Jangan sampai kau sakit seperti mom." ucap Zyano.
"T-tapi..."
"Hei, bocah. Aku tidak sakit! Aku hanya kelelahan. Kau paham kan?!"
Zyano memutar bola matanya malas. "Sama saja, mom."
"BEDA, ZYAN!" bantah Zahra tegas.
"Terserah."
Zyano bangkit dari duduknya. "Ayo, kita balik ke kamar, sayang. Biarkan mom istirahat."
"Iya." Katerina hanya bisa menuruti perkataan suaminya. Ia juga tidak ingin membuat semuanya khawatir kalau dirinya sakit.
"Haish, tuh bocah." gerutu Zahra berdecak sebal.
Zahra menghela nafas. Ia menatap langit-langit kamarnya yang indah. "Ternyata usia memang tidak bisa di bohongi. Hanya belanja ke mall saja aku sudah kelelahan. Hadeh."
Bersambung π
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya π₯°ππ₯°π₯°π₯°ππ₯°π
JANGAN LUPA VOTE HARI SENINπΉπΉ
^^^Coretan Senja βοΈ^^^