
Rosa menyesal karena meninggalkan mereka berdua pergi, seharusnya ia tetap di rumah dan mengawasi mereka berdua saja. Tapi meski begitu, ia tidak kehabisan akal, rencana matang kembali ia susun.
"Kita akan mengadakan pesta penyambutan kecil, jadi kamu tolong undang beberapa teman dekat untuk datang, Nak." Rosa menatap anak lelakinya. Ini adalah taktik yang bagus untuk mengambil kepercayaan Candra.
Candra mengeryitkan dahi. "Pesta penyambutan apa, Ma?" tanyanya.
"Penyambutan atas masuknya istri kamu ke keluarga Pagalo." Dengan ia memperhatikan istri Candra, maka sebagai imbalannya ia akan mendapat perhatian juga nantinya dari Candra.
Memang begitu rencananya, di depan Candra ia akan menjadi mertua yang sangat menyayangi menantunya. Itu dilakukan agar nantinya kalau Melinda mengadu semua yang ia lakukan padanya, maka Candra tidak akan percaya begitu saja.
Bukankah memakai topeng demi kebaikan keluarga itu bukan merupakan kesalahan?
"Mama mau mengadakan pesta untuk Melinda?" tanya Candra tak percaya.
Rosa mengangguk. "Biar bagaimana juga Melinda belum pernah bertemu dengan semua orang-orang yang dekat dengan keluarga kita. Biar nanti dia kenal dengan semuanya."
"Aku setuju, Ma. Ya udah, nanti biar Candra memberi tahu Melinda dan orang-orang yang akan kita undang."
"Yang dekat saja, Nak. Jangan lupa Cici diundang."
Candra dengan semangat pergi memberi tahu istrinya. Dia menginginkan Melinda bisa bergabung tanpa cangung dengan orang-orang yang dekat dengan keluarganya.
Mendengar rencana mertuanya, ada sedikit harapan terselip di hati Melinda. Semoga saja ini bukan merupakan rencana Rosa untuk menjauhkan Candra darinya lagi.
Beberapa hari sebelum pesta jamuan, Melinda sibuk menyiapkan semuanya. Rosa pun tidak lagi sinis seperti sebelumnya. Hal itu membuat Melinda merasa optimis kalau ia akan diterima di keluarga ini.
"Kamu nanti yang masak dan menyiapkan semuanya, jangan lupa masak yang enak." Rosa memberi tahu Melinda siang hari sebelum acara dilaksanakan.
Melinda mengangguk patuh. Ia menyiapkan semuanya, termasuk makanan untuk para tamu. Semua makanan sudah siap ketika tamu berkumpul di taman belakang. Konsep outdoor menjadi tema jamuan kali ini.
Melinda dengan gaun yang dibelikan Candra sibuk mengatur semua makanan yang akan diberikan kepada para tamu, ia sampai lupa karena terlalu fokus dengan pekerjaannya.
"Tolong siapkan sup untuk makanan penutup," perintah Melinda. Ia turun tangan sendiri atas permintaan Rosa.
Tidak banyak yang diundang malam ini, hanya sekitar dua puluh orang saja. Tapi meski begitu, Melinda tetap merasa kalau ini merupakan langkah awal yang akan ia lalui demi masuk ke dalam keluarga Candra.
Semua asisten rumah tangga keluar membawa jamuan penutup. Saat itu Melinda tengah merenggangkan otot setelah selesai dengan semua pekerjaan ketika mendengar suara ribut dari arah taman di mana pesta itu dilakukan.
"Dia langsung pingsan setelah makan sup," ujar salah seorang yang hadir, entah siapa.
Melinda mencoba maju ke depan dan melihat apa yang terjadi.
"Candra, tolong angkat Cici ke dalam, ya," perintah Rosa.
Dengan sigap Candra melakukan apa yang diperintahkan sang mama. Ia membelah orang yang berkumpul untuk melihat kejadian pingsannya Cici setelah makan sup.
Pesta jamuan malam itu berakhir dengan tidak baik. Para tamu sibuk menebak kira-kira apa yang terjadi pada Cici. Sementara itu di dalam, Candra sedang mencoba menyadarkan Cici, tapi tidak berhasil. Gadis itu seolah tertidur sangat lelap.
Semua pembantu saling menyalahkan satu sama lain, tapi tidak ada yang menyalahkan Melinda. Mereka percaya kalau nyonya mudanya tidak mungkin mencampurkan apa pun di makanan para tamu.
"Kamu kasih apa di makanan Cici?" tanya Rosa pada Melinda dengan mata melotot marah.
Melinda menggelengkan kepala, karena ia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan Cici. Seharusnya kalau ia memberi apa pun itu di dalam makanan tersebut, yang pingsan bukan hanya Cici kan? Tapi semua orang.
"Aku tidak tahu, Ma. Aku tidak mencampurkan apa-apa," bela Melinda.
"Bohong! Mana mungkin kalau kamu tidak memberi apa-apa di makanan Cici dia jadi seperti ini? Kamu pasti kesal karena Candra sering mengantar Cici pulang dan kadang mengabaikan kamu, tapi bukan seperti ini cara membalasnya." Ia menatap marah pada menantunya.
"Ma, jangan langsung menuduh istriku," bela Candra untuk istrinya.
"Lalu Mama harus menyalahkan siapa? Dia yang masak semua makanan ini, kan?"
Candra tidak bisa berpikir panjang. Ia baru bisa mengamankan Melinda ke kamar terlebih dahulu sebelum kemarahan mamanya semakin besar, kemudian kembali ke kamar di mana Cici dibaringkan.
"Makanan yang tadi dimakan Cici bawa ke laboratorium, suruh ngecek kandungan apa di dalamnya." Rosa memberi perintah anak buahnya.
Hatinya merasa bahagia. Sangat bahagia, karena rencana ini akhirnya berhasil.
"Memang harus melakukan itu, Ma?" tanya Candra keberatan karena ia yakin kalau Melinda tidak melakukan apa-apa pada Cici.
"Harus, karena hanya dengan itu kita akan tahu apa yang dimasukkan ke dalam makanan Cici."
Sample sup yang dimakan Cici sudah dibawa ke laboratorium. Berkat koneksi keluarga Pagalo, pemeriksaan sample makanan itu tidak membutuhkan waktu lama.
Candra ingin menghibur istrinya yang berada di kamar, tapi Rosa mencegahnya dan meminta Candra tetap menemani Cici di kamar itu.
Sementara di kamarnya, Melinda ketakutan. Ia mulai berpikir kalau semua ini sudah direncanakan entah oleh siapa, karena tidak mungkin hanya Cici saja yang pingsan sementara yang lain tidak. Ia pun menunggu Candra masuk ke kamar untuk menjelaskan semua, tapi sampai hampir tiga jam lamanya, suaminya tersebut masih belum menampakkan batang hidungnya.
"Bagaimana keadaan Cici, Bi?" tanya Melinda pada Mina ketika wanita itu mengantarkan makanan ke kamarnya.
Mina meletakkan piring di meja. "Masih belum sadar, Nyonya." Ia khawatir karena Nyonya mudanya tidak keluar kamar sejak Cici pingsan.
Melinda mengigit bibirnya risau. Ia takut kalau sampai kasus ini dilaporkan ke polisi dan ia dituduh mencelakai Cici. "Lalu Mas Candra ke mana?" tanyanya.
"Sedang di kamar Nona Cici. Mau saya panggilkan?"
Melinda mengangguk. "Tolong, ya, Bi."
Mina keluar dari kamar, dan saat itu juga hasil labiratorium tentang apa yang terkandung di dalam sup keluar. Seorang laki-laki yang bertugas di laboratorium sebuah rumah sakit, yang merupakan kerabat Candra membawa amplop coklat berisi hasil itu.
"Hasilnya sudah keluar, dan kamu bisa melihatnya sendiri." Ia mengulurkan amplop itu.
Rosa merebut amplop tersebut kemudian dengan tidak sabar mengeluarkan kertas di dalamnya.
Tetapi Candra yang yakin kalau tidak ada apa-apa di dalam sup tersebut, meminta kepada mamanya agar ia yang lebih dulu melihat hasilnya. Dengan semangat ia membuka kertas hasil lab karena percaya Melinda tidak sejahat itu.
"Ini pasti salah!" Candra melotot setelah melihat hasil laboratorium di tangannya.