Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 25 Meyakinkan


"Dasar bodoh!" umpat Rosa sambil mengelus dahinya yang terbentur papan kursi.


Supir yang diperintahkan Rosa untuk menyerempet Candra barusan justru menabrakkan mobil mewah itu ke tiang listrik. Beruntung tidak ada yang terluka hanya saja mobil itu penyok bagian depannya.


"Maaf Nyonya saya tidak fokus," ucap sang supir merasa sangat bersalah. Namun, itu lebih baik setidaknya ia tidak akan dikejar masa setelah menyerempet Candra.


"Ada tabrakan!" teriak salah satu pejalan kaki dan membuat beberapa orang langsung menghampiri mobil itu.


Sementara Candra yang familiar dengan mobil yang kini menabrak tiang listrik langsung menghampiri dan melihat orang di dalam mobil. Ia sedikit syok saat melihat wanita yang sudah melahirkan dirinya tengah memegang kepala, tak ingin menunda waktu ia langsung mengetuk pintu.


"Ma ... Mama!"


"Kamu kenal dengan orang di dalam mobil?" tanya pejalan kaki.


"Iya, itu Mama saya," jawab Candra.


Candra terus mengetuk pintu membuat orang di dalam mobil itu mau tidak mau menurunkan kaca mobil.


Rosa sendiri merasa malu, untung saja Candra tidak zudzon padanya. "Mama tidak apa-apa, ini supir sudah tua harus segera diganti!"


Ia pun tersenyum ramah pada semua orang yang kini mengerubungi mobilnya membuat beberapa orang itu tak lagi khawatir dan lekas menjauh.


Candra menarik napas lega. Ia pindah ke kaca depan untuk melihat keadaan supir itu.


"Saya tidak apa-apa Tuan. Maaf sudah teledor," ucap sang supir yang paham jika Tuannya itu mengkhawatirkan dirinya.


"Lain kali lebih hati-hati, Mang." Candra bersikap ketus, walau bagaimanapun keselamatan sang ibu adalah prioritasnya terlepas dari semua masalah selama ini.


"Sudah, Nak. Mama tidak apa-apa, kamu ngapain di pasar dan mana Meli?" tanya Rosa.


Candra terdiam. Dia berpikir apa sang ibu sudah mau menerima Melinda? Karena dari semua pertanyaan yang ditanyakan adalah Melinda.


"Aku sedang mencari pekerjaan, Ma. Melinda ada di rumah. Em ... Mama sendiri kenapa ada di sini?" tanya Candra.


Rosa gelagapan mencari alasan. "Em ... Itu, Mama dengar mertuamu sedang sakit jadi Mama mampir ke pasar dulu membeli beberapa makanan untuk oleh-oleh. Kan gak mungkin Mama datang dengan tangan kosong kan?"


"Mama—"


Rosa membuka pintu, mempersilahkan Candra agar masuk ke dalam. "Masuk dulu Nak, gak enak dilihat banyak orang."


Candra melihat ke sekeliling, benar kini semua mata masih tertuju pada mereka, bedanya mereka hanya melihat tanpa ingin mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Mungkin sudah menjadi tradisi di sini yang tak ingin ikut campur masalah keluarga.


"Mama sudah gak benci lagi sama Meli?" tanya Candra saat ia sudah duduk di kursi dan mobil pun sudah melaju.


Rosa memegang tangan anaknya lalu memberikan pelukan, "Maafkan Mama selama ini sudah menghancurkan rumah tanggamu, Nak. Mama janji kali ini Mama tidak akan mengusik kalian lagi, Mama sadar hanya Melinda menatu Mama, wanita yang kamu cintai."


Candra mengeratkan pelukannya, rasa syukur ia ucapkan pada Yang Maha Kuasa, akhirnya sang ibu sudah menyadari semua kesalahannya. Dan yang lebih penting wanita paru baya itu juga sudah mau menerima sang istri.


"Mama sedang tidak berbohong kan? Mama benar mau menerima Melinda?" Candra memastikan kembali.


"Apa kamu tidak percaya dengan Mama? Mama sudah sadar, Nak. Sejak kalian meninggalkan rumah Mama kesepian, tidak ada lagi tawamu dan tawa Meli yang menghiasi rumah itu. Mama rindu kalian berdua," ucap Rosa sembari sesegukan wanita itu ingin menujukkan rasa bersalahnya selama ini.


"Sudah Ma jangan menangis lagi. Candra yakin Mama, memang yang terbaik. Terima kasih sudah mau menerima Meli Ma. Candra harap keluarga kita lengkap seperti dulu," ucap Candra.


Candra melepaskan pelukannya ia langsung mengusap air mata Rosa. Tentu saja hal itu membuat Rosa bersorak penuh kemenangan.


"Terima kasih, Nak. Semoga Meli juga mau memaafkan Mama." Rosa mulai menerbitkan senyumnya.


"Tentu saja, Ma. Sejak awal Meli sudah memintaku untuk menghubungi Mama dan kembali pulang. Tapi karena aku takut Mama tidak mau menerima Meli lagi dan juga Ayah mertuaku sedang sakit makanya aku tidak menghubungi Mama," jelas Candra.


Di menit berikutnya ia masih berbicara, "Mama tau dari Mama kalau ayah mertuaku sakit?"


Rosa berdehem mengontrol dirinya agar tak mengumpat di depan Candra dan masih tersenyum, meskipun di dalam hatinya ia tidak terima dengan apa yang sudah dijelaskan Candra. Hah! Melinda meminta sang anak untuk menghubungi dirinya dan kembali pulang? Itu tidak mungkin kan jika tidak ada niat tersembunyi.


"Ma," panggil Candra saat sang ibu tak kunjung memberikan jawaban.


"Tentu saja Mama tau karena menelpon ponselmu. Lagian kamu ini ada-ada saja menjual ponsel beserta nomor kartunya. Apa kamu sudah tidak waras?" celoteh Rosa.


"Aku terlalu panik saat menjual ponsel itu, Ma."


Kini keduanya terus berbincang melepaskan rasa rindu yang selama ini terus membuncah. Tanpa mereka sadar kini mobil mewah itu sudah terpakai di halaman rumah Melinda.


Melinda yang kini tengah memegang sapu bertanya-tanya, mobil milik siapa itu yang terparkir di depan rumahnya. Hingga kaki jenjang memiliki sang suami menyentuh tanah baru ia sadar jika sang suami tengah kembali. Melinda yang cemas ia membuang sapu lalu menghampiri sang suami.


"Mas, Mas sudah pulang? Mas tidak apa-apa?" cecar Melinda.


Candra memegang pundak Melinda agar sang istri bisa tenang, "Aku tidak apa-apa Sayang. Coba tebak siapa yang ada di dalam mobil."


"Alhamdulillah, aku kira kamu kenapa-kenapa, Mas." Melinda celingukan melihat ke arah mobil, "memang siapa Mas?"


"Mertuamu," bisik Candra.


Melinda membulatkan bola matanya, ia menggeser tubuh sang suami agar dirinya bisa melihat sang mertua dan menyambutnya.


"Mama, datang?" Melinda ragu-ragu bertanya demikian, takutnya setiap kata yang keluar dari mulutnya dianggap salah oleh sang mertua seperti sebelumnya.


Namun, kekhawatiran Melinda mengendur saat sang mertua tersenyum ramah, lalu keluar dari mobil dan memeluknya.


"Meli, apa kabar, Nak. Maafkan Mama Sayang," ucap Rosa memeluk erat sang menantu.


Ia benar-benar menghilangkan rasa jijiknya pada Melinda, setelah memeluk kini wanita itu juga mencium pipi kanan dan kiri Melinda. Sungguh sangat berbeda dengan Rosa yang dikenal Melinda, mertua kejam.


"Mama, Meli, Meli, senang Mama kesini dan kabar Meli baik Ma. Mama sendiri bagaimana?" tanya Melinda.


Ia menuntun sang mertua agar masuk ke dalam rumah sederhana miliknya guna melanjutkan obrolan.


"Duh, sudah ketemu mertua. Suaminya dilupakan," protes Candra.


Rosa dan Melinda yang sudah jalan duluan kini menghentikan langkah lalu memutar tubuhnya menghadap Candra.


"Ayo, Nak. Masuk," ajak Rosa mengulurkan tangannya.


Melinda sangat senang, kejadian ini pernah ia lihat saat di rumah sang mertua dimana tangan wanita yang dipegang Rosa adalah tangan Cici, tapi saat ini tangannya yang dipegang sang mertua. Apa ini pertanda jika kebahagiaan itu mulai datang? Pikir Melinda dengan naif.