Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 17 Ketahuan


Melinda dan Cici berdiri mondar-mandir di depan ruang kerja Candra. Mereka menunggu lelaki itu keluar untuk mencari tahu minuman siapa yang akan diminum oleh Candra.


"Mas Canda pasti akan minum punyaku. Jadi kamu mending gak usah berharap, deh." Cici melirik Melinda yang ada di sebelahnya.


Melinda mengabaikan Cici. Ia tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Cici. Biar bagaimana juga, Candra tidak lagi sedingin kemarin, jadi pasti akan meminum air jahenya.


"Mbak Melinda gak punya kuping apa?" tanya Cici kesal karena sejak tadi ia tidak digubris saat mengajak bicara Melinda.


Melinda melirik Cici sekilas. "Memang kenapa?" tanyanya.


"Diam aja dari tadi diajak ngomong. Aku kira budeg atau gak bisa ngomong."


"Gak penting ngomong sama kamu!" jawab Melinda ketus. Karena sudah terlalu lama menunggu Candra dan tidak juga keluar, akhirnya Melinda meninggalkan tempat itu.


Cici yang melihat kepergian Melinda merasa senang sekaligus kesal. Ia senang karena saingannya pergi, dan kesal karena sekarang Melinda seperti tidak lagi takut kepadanya.


Melinda menuju ke dapur. Ia memilih untuk membuatkan makanan saja bagi Candra, jadi nanti kalau sudah selesai Candra kerja, barulah ia akan mengajak suaminya makan.


"Aku lihat sendiri kalau Nyonya jalan di kamarnya." Sebuah suara terdengar dari arah belakang. Jendela dapur terbuka, jadi ia bisa mendengar sedikit.


"Masa sih? Katanya juga ada yang melihat kalau Nyonya jalan-jalan di halaman depan kemarin malam sih," ujar suara yang lain.


Melinda mengeryitkan dahi. Samar-samar ketika ia berada di dapur mendengar jika ada salah satu asisten rumah tangga yang melihat Rosa berdiri dari kursi rodanya, seolah tidak sakit sama sekali.


Melinda kaget. Apa benar mertuanya tidak sakit?


Ia kembali mendengarkan lagi apa yang dua orang bicarakan itu.


"Jadi selama ini Nyonya bohong sama kita?"


"Sama semuanya kayaknya. Tapi entah kalau sama Nona Cici sih."


Melinda meletakkan pisaunya. Ia sedang mengiris bawang putih saat ini. Untuk memastikan apa Rosa sakit atau tidak, ia sengaja mengintip dari balik jendela kamar Rosa. Diam-diam Melinda berdiri di sana dan melihat ke arah dalam, di mana Rosa berada.


Jendela itu langsung menghadap ke arah samping, di mana ada taman kecil di sana. Beruntung jendela itu belum ditutup, jadi ia bisa mengintipnya. Biasanya Rosa tidur di lantai dua, tapi beberapa minggu ini memilih di lantai satu.


Ia hanya ingin memastikan kalau apa yang dikatakan oleh salah satu asisten rumah tangganya itu bukanlah sekedar fitnah saja.


"Apa benar Mana tidak sakit dan selama ini hanya bohong?" tanya Melinda pada diri sendiri.


Tibalah saat yang ditunggu oleh Melinda. Ia melihat sendiri dari tempatnya mengintip. Rosa tampak berdiri setelah bangun dari tidur. Tidak nampak sama sekali kalau pinggangnya sedang sakit.


Ia hampir tak percaya dengan apa yang dlihatnya, tapi karena merasa perlu bukti lagi, Melinda akan memastikan lagi besok.


Keesokan harinya, Melinda sudah siap di tempat yang kemarin. Ia ingin tahu apa Cici juga tahu kalau mertunya berbohong apa tidak.


Rosa menggeleng. "Candra tadi pergi agak pagi, jadi Mama malas mau sarapan kalau sendiri."


"Oh kalau begitu sarapan sama aku aja yuk, Ma." Cici mengambil bungkusan dari dalam kantong. Satu boks diberikan kepada Rosa dan satunya untuk dia.


"Mama mau kapan berhenti pura-pura sakit?" tanya Cici.


Tepat sekali. Entah kenapa apa yang ditanyakan oleh Cici adalah jawaban atas apa yang dicari oleh Melinda. Wanita yang bersembunyi di belakang jendela itu merasa yakin kalau Cici juga tahu jika mertuanya hanya pura-pura saja.


Ia kini tahu pasti dan yakin jika hanya dirinya dan Candra yang tidak tahu jika sedang dikerjai oleh Rosa. Ia berencana akan melaporkan tentang kebohongannya mama mertunya kepada sang suami.


"Jadi masih akan berpura-pura terus sampai besok, Ma? Nanti keburu ketahuan loh Ma kalau gak segera nyusun rencana selanjutnya. Kan biasanya ada terapi buat orang yang patah tulang agar bisa kembali normal lagi." Cici membeli cumi asam manis tadi, dan sekarang sendang menikmati makanan itu bersama dengan mamanya Candra.


"Jangan sampai. Makanya kamu jangan bilang siapa-siapa. Jangan ember deh pokoknya." Rosa menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Enggaklah. Aku mah selalu bisa jaga rahasia. Nanti kalau aku ember gak bisa dapatin Candra dong. Oh iya, itu kapan sih diceraikan? Aku udah gak sabar pengen jadi Nyonya Candra, Ma."


Melinda menutup mulutnya agar tidak berteriak. Sakit hati sekali saat Cici mengatakan kalimat itu. Padahal ia adalah istri sah Candra, dan Cici pun tahu kalau Candra sudah menikah. Masih saja didekati? Benar-benar tidak tahu sopan santun.


"Jangan keras-keras, nanti kalau ada yang dengar gimana?" Rosa melirik sekitar. "Eh, kamu jangan lupa terus dekati Candra. Biar dia gak luluh sama wanita itu lagi."


"Siap, Ma. Aku akan lebih keras lagi mengambil hati Mas Candra."


Melinda pergi dari tempatnya mengintip, ia langsung mengambil ponsel dan hendak memberi tahu Candra kalau mereka dibohongi oleh Rosa. Ia juga mau mengadukan tentang Cici yang sengaja mau merusak rumah tangga mereka.


Rasanya sangat sakit sekali, apalagi selama ini ia tidak tahu langsung kalau Cici dan mertuanya kerja sama. Tapi baru saja, ia dengan jelas mendengar dengan telinganya sendiri kalau ia akan disingkirkan dari samping Candra.


Panggilan pertama tidak diangkat oleh Candra. Melinda tidak menyerah, ia kembali menekan tombol panggil.


"Halo. Ada apa?" tanya Candra setelah mengangkat telfon dari Melinda. Ia sudah sibuk saat ada panggilan masuk, tapi karena itu dari Melinda, Candra memilih untuk mengangkatnya.


Melinda diam. Ia bingung bagaimana harus mengatakan kepada Candra kalau mamanya berbohong dengan berpura-pura sakit padahal tidak sama sekali. Ia juga tidak tahu caranya mengatakan kepada suaminya kalau selama ini Cici itu disuruh oleh mamanya Candra agar merusak rumah tangga mereka.


"Ada apa, Mel?" tanya Candra lagi.


"Mas Candra sibuk?" tanya Melinda mengalihan pembicaraan.


"Enggak. Memang ada apa?"


Melinda mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Candra tentang kebohongan Rosa. Ia belum punga buktu valid, jadi kalau ia mengatakan kebenaran apa yang ia lihat, pasti akan tidak dipercaya nantinya.


"Ah, enggak, Mas. Hanya kangen aja tadi. Ya udah kamu terusin kerjanya, ya." Melinda mematikan sambungan telefonnya. Ia harus mencari bukti dulu jika ingin mengatakan kepada Candra tentang kondisi Rosa.


"Aku harus mencari bukti dulu!" Melinda bertekad kalau ia harus menemukan bukti itu.