Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 40


Kejadian beberapa hari lalu membuat Candra terpuruk. Bagaimana tidak? Ia sudah menyerahkan semua hatinya pada Melinda, tapi gadis itu malah menghianatinya dan tidur bersama pria lain.


Separuh jiwanya mati, sebagian pergi bersama sang istri yang entah sekarang ada di mana. Ia cinta, sayang dan masih peduli, tapi kalau mengingat tentang kejadian itu membuat dirinya benar-benar tidak bisa berpikir positif.


Sepanjang kepergian Melinda, Candra belum sama sekali mau mengisi perutnya dengan makanan. Hanya minum, itupun kalau sudah benar-benar haus dan tidak bisa tertahan lagi.


"Mas, ini aku masak makanan kesukaan kamu." Cici masuk ke kamar Candra. Ia melihat sekitar yang berantakan. Meski berkali-kali mereka merapikan tempat tidur Candra tapi tetap saja kembali berantakan seperti semula.


Candra mengatakan kalau ia tak bisa melihat ranjang itu lagi, ranjang yang sama yang digunakan oleh Melinda berselingkuh. Mereka menggantinya dengan yang lain, bahkan yang baru, tapi tetap saja Candra memberantakinya lagi dan lagi.


Cici menghela napas. "Mas, sampai kapan kamu mau seperti ini? Meski Melinda pergi, kamu juga harus tetap bangkit dan melanjutkan hidupmu loh." Ia mengusap lengan Candra.


Candra menepis tangan Cici, ia berdiri dan meninggalkan gadis itu di kamarnya. Di teras belakang, Candra duduk sambil melihat semua tanaman yang ditanam oleh Melinda dan Johan. Ia tahu kalau itu Johan yang menanamnya karena pernah melihat mereka berdua berada di sana.


Dengan tubuh lemas, Candra menghampiri tanaman bunga itu dan menendang potnya hingga hancur. Bunga berwarna ungu itu tergeletak keluar dari pot yang pecah.


"Astaga Tuan Muda." Pembantunya bergegas keluar saat mendengar keributan di belakang. Mereka tidak berani mendekat.


Setelah menendang pot bunga, Candra kembali masuk ke dalam rumah dan melihat Cici. Merasa Cici tidak ada di kamarnya, ia langsung masuk dan mengunci pintunya.


Cici yang melihat kejadian itu hanya menghela napas panjang. Ia kira setelah kepergian Melinda lelaki itu akan bisa lebih menerimanya, ternyata sama saja. Cici menghampiri Rosa yang berada di kamarnya.


"Ma," panggil Cici pada calon mertuanya itu.


"Ya? Ada apa?" Rosa melepas kaca matanya dan meletakkan di meja. Buku yang ia baca juga ditutupnya begitu Cici masuk. "Ada masalah?"


Dengan anggukan Cici menjawab. "Kenapa Mas Candra sama sekali tidak mau melirikku, ya? Padahal Melinda sudah pergi karena diusirnya juga, tapi kenapa sampai sekarang Mas Candra tidak bisa melihat wanita lain? Aku selalu menemaninya, membujuknya, tapi tidak berhasil." Ia menyandarkan tubuh ke belakang.


"Capek aku kalau gini terus, Ma. Harusnya begitu Melinda pergi, Mas Candra langsung suka sama aku kan?" lanjutnya.


Rosa menepuk pundak Cici. "Sabar. Kamu belum ada seminggu berjuang meluluhkan hati Candra, jadi bertahanlah lebih lama lagi."


Cici hanya mengangguk lemah. Ia memutar otak mencari cara untuk bisa membuat Candra menerima kehadirannya.


Pagi harinya, Cici membawakan Candra beberapa makanan kesukaan lelaki itu. Melihat Candra tidak ada di kamarnya, ia langsung mencari ke teras belakang.


Sesuai yang ia duga, Candra duduk melamun di sana.


"Mas udah makan?" Cici bertanya sambil membuka rantang makanannya.


Candra tidak menjawab. Ia melihat kosong ke depan.


"Aku masak banyak, kamu cobain, ya. Dikit aja." Cici dengan sigap membuka satu per satu tutup rantang lalu menatanya di meja. Setelah itu ia berlari kecil mengambil sendok di dapur.


Candra sama sekali tidak melihat apa yang dibawa Cici, melirik pun tidak. Ia hanya memikirkan tentang Melinda dan Melinda. Rasanya masih tidak percaya wanita itu menghianatinya dengan berselingkuh bersama Johan yang dulu Melinda katakan hanya teman SMA-nya.


Tidak akan ada yang bisa menggantikan Melinda di hati Candra, meski banyak wanita yang lebih cantik di sekelilingnya.


Bukannya membuka mulut, Candra malah berdiri dan meninggalkan Cici sendirian di teras. Ia kembali masuk ke kamar dan merebahkan diri di ranjang tempat Melinda dan Johan tidur bersama. Dengan kesal, Candra melempar bantal juga menarik spreinya, ia memilih tidur di sofa setelah ranjangnya berantakan.


Cici tidak sabar lagi, ia sudah berusaha keras untuk membuat Candra luluh kepadanya, tapi sampai kini lelaki itu tidak ada balasan, bahkan mengucapkan satu kata pun tidak.


"Mama, aku mau menikah dengan Candra secepatnya!" Cici membanting rantang yang tadi dibawanya untuk Candra di hadapan Rosa.


"Hah? Maksudnya gimana? Kamu sudah bisa merayu Candra? Dia setuju?" Rosa bertanya dengan bingung.


"Tidak perlu menunggu persetujuan Mas Candra, pokoknya aku mau menikah dengan Mas Candra secepatnya. Mama sekarang tugasnya merayu Mas Candra agar mau menerimaku." Cici melipat tangan di depan dada.


"Kenapa sih ini sebenarnya? Kamu belum ada satu minggu menahlukan hati Candra sudah kebingungan seperti ini? Melinda saja yang berbulan-bulan lamanya bisa sabar kok." Secara tidak langsung Rosa malah membandingkan Cici dan Melinda.


Menurutnya, Cici tidak ada effort sama sekali untuk mendapatkan hati Candra, bukan seperti Melinda yang tidak menyerah melakukan apa saja demi Candra.


"Aku gak peduli, aku mau menikah dengan Mas Candra secepatnya!"


Rosa mencibir dalam hati, kenapa ia jadi mikir lagi untuk mendekatkan Cici dan Candra setelah kemarin memisahkan anaknya dengan Melinda? Sama sekali ia yang bingung dong kalau seperti ini? Dan Cici maunya menerima bersih? Enak sekali dia.


"Tunggu sebulan lagi, kamu teruslah merayu dan berjuang mengambil hati Candra, aku yakin pasti lama-lama dia akan luluh."


"Sebulan itu lama, Ma. Iya kalau Melinda gak balik lagi ke sini, kalau dia balik lagi, aku pasti akan tersingkir."


"Ya makanya kamu harus berusaha lagi."


"Emang kurang selama ini aku berusaha untuk mendapatkan hati Mas Candra? Enggak, kan?"


Rosa menggelengkan kepala agar Cici puas. "Bukannya cinta harus berjuang dan berkorban? Kamu belum berjuang udah ngeluh."


Cici melirik Rosa. 'Sialan wanita tua ini, awas aja kalau sampai aku jadi sama Mas Candra beneran, akan aku usir kamu dari rumah ini. Menyebalkan dan bikin beban aja sih,' batin Cici.


Rosa menepuk pundak Cici lagi. "Sabar, ya. Coba tunggu beberapa hari lagi."


"Aku gak mau, pokoknya minggu depan aku harus menikah dengan Mas Candra."


"Iya, nanti mama coba bicara sama Candra. Kamu sabar dulu kenapa, sambil terus berusaha mendekatinya Candra." Rosa kesal karena Cici mendesaknya.


"Nah gitu dong, biar semua yang aku lakukan gak sia-sia." Cici tersenyum puas. "Dah ah, aku mau ke salon, biar nanti kalau menikah wajahku ini jadi glowing."


Rosa menghela napas. "Harusnya kamu mengurus Candra, Ci."


"Sorry, aku lebih memilih menyehatkan mentalku. Dicuekin itu gak enak, Ma."


Rosa mengelus dada. "Jauh sekali sama Melinda yang mau berjuang."