
Melinda berpikir berkali-kali, ia harus bertahan di sini atau memilih untuk pergi saja. Pernikahannya belum genap tiga bulan, tapi dibanding bahagianya, ia lebih banyak menderita karena mertua yang selalu menginginkan dirinya untuk pergi dari sisi Candra.
Wanita itu mengusap air mata yang terus saja keluar ketika melihat dua orang yang serius berbicang tanpa memerdulikan kehadirannya. Bahkan Cici sengaja membuat Candra memalingkan wajah saat dirinya lewat.
Sakit. Sangat membuatnya sesak melihat itu. Tapi jika ia protes, maka pasti Candra akan memihak Cici. Ia memang belum mencoba, tapi sudah tahu siapa yang akan dibela Candra ketika dirinya dan Cici bersitegang.
"Mas, lihat deh, kayaknya kalau kita ajak Mama ke sini bagus loh. Tapi nunggu sembuh dulu, karena gak mungkin Mama bisa jalan kan sekarang?" Cici menempelkan tubuhnya ke tubuh Candra.
Melinda yang saat itu memegang alat pel hanya bisa meremaskan tangan di tangkai alat pel tersebut. Cemburu tentu saja. Mau mendekat dan mengingatkan juga ia takut. Candra masih mendiamkannya, dan kalau sampai ia membuatnya tak nyaman, takutnya nanti akan semakin dingin kepadanya.
"Oke. Bisa tuh." Candra melirik ke arah kanan, di mana Melinda berada. Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Cici. Meski dirinya sedang kesal dengan sang istri, tapi melihat wajah Melinda yang sedih juga sedikit membuat hatinya tercubit.
"Siap. Nanti aku kasih tahu Mama deh, pasti dia senang."
Candra mengangguk, kemudian berdiri dan melihat arlojinya. "Aku ada kerjaan di luar. Tolong jaga Mama, ya, Ci."
Candra hanya ingin menghindari Cici dan Melinda saja. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya masih belum bisa menerima saat tahu kalau Melinda yang membuat mamanya menjadi sakit seperti ini.
Cici melihat kepergian Candra dengan wajah cerah, sedangkan Melinda sebaiknya.
"Mbak, lagi ngapain?" tanya Cici basa-basi.
"Tidur." Melinda menjawab ketus, lalu pergi dari sana. Ia tidak perlu baik-baik di depan Cici, karena Cici pun tak pernah memikirkan hatinya sama sekali.
Seharusnya sebagai seorang wanita, Cici paham dengan apa yang dirasakan oleh Melinda. Tapi bukannya memahami, malah membuat Melinda merasa semakin tidak dianggap di keluarga ini.
Itu yang Melinda tidak suka dari Cici, selain Cici yang merupakan calon madunya.
"Dih, menyebalkan. Diajak ngobrol malah pergi. Dasar orang gak punya sopan santun. Miskin sih, jadi gak pernah diajarin sopan santun." Cici berdiri dari kursi dan melangkah ke arah kamar di mana Rosa berada.
Ia ingin mencari cara agar Candra semakin menjauh dari Melinda. Tahap pertama sudah sukses, kalau tidak dilanjut dengan rencana yang lain, takutnya nanti lebih dulu mereka berbaikan. Dan Cici sangat tidak suka hal itu terjadi.
"Ah, aku tahu caranya!" Di sela langkahnya, Cici menemukam cara yang bisa membuat Candra semakin membenci Melinda.
Malam harinya, di rumah kediaman keluarga Pagalo sedang gempar. Semua orang dikumpulkan, bahkan satpam pun berkumpul. Salah satu perhiasan Rosa yang bernilai puluhan juta hilang. Dan itu baru hilang di hari ini.
"Siapa tadi yang masuk kamar saya?" tanya Rosa dengan suara gemetar dan keras. Ia sangat kehilangan kalung berlian itu, dan ia pun yakin kalau ada yang mencurinya.
"Tidak, ada, Nyonya." Mina menjawab sambil menunduk.
"Gak mungkin kalau gak ada yang masuk bisa hilang. Siapa yang membersihkan kamarku tadi?" tanyanya lagi.
Melinda takut-takut mengangkat tangan. "Aku, Ma. Tap-tapi aku gak ngambil kalung Mama. Beneran, Ma. Sumpah demi Tuhan aku gak ngambil." Melinda menangis karena merasa dipojokkan.
Semua mata menatap ke arahnya. Bahkan Cici pun juga. Beruntungnya Candra masih diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Oh kamu?" Rosa menurunkan nada suaranya. "Kalau kamu memang gak ngambil, boleh dicek semua tempat di kamar kamu?" tanyanya.
Tiga orang itu melihat Melinda dengan tatapan yang entah.
"Kami menemukan ini, Nyonya." Salah satu satpam memberikan sebuah kalung ke pangkuan Rosa yang duduk di kursi roda.
Mata Rosa terbelalak. "Ini kalungku."
Dengan cepat Candra melihat ke arah istrinya. "Kamu butuh kalung? Mau kalung? Kenapa gak bilang malah nyuri?" tanyanya pada Melinda dingin.
"Bu-bukan aku, Mas. Bukan aku. Aku pasti difitnah, Mas." Melinda berlari mendekati Candra dan langsung memeluknya. "Aku gak pernah nyuri, Mas. Gak pernah sama sekali." Ia menangis tergugu.
Rosa meminta semua orang untuk keluar, hanya tinggal mereka berempat saja. Ia menatap Melinda dengan lembut. "Kamu ingin kalung ini, Nak? Kalau kamu mau, harusnya bilang saja, Mama pasti ngasih."
Melinda menggelengkan kepalanya frustasi. "Enggak, Ma. Bukan aku. Aku gak mau, Ma." Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya. Belum selesai masalah yang awal, malah ditambah dengan masalah yang lain lagi.
"Lihat, Mama udah baik hati loh sama kamu. Tapi kenapa kamu malah nyuri perhiasan Mama?" tanya Candra geram.
"Mas, kamu tahu kan aku gimana? Kita pacaran lama loh, masa gak paham. Aku gak pernah nyuri apa pun, apalagi perhiasan Mama, Mas," jelas Melinda lagi.
Karena Melinda masih tidak mau mengaku juga, akhirnya mereka membubarkan diri. Rosa langsung istirahat di kamar setelah berhasil menunjukkan aktingnya yang bak artis sinetron kelas kakap.
Sebenarnya ia tahu siapa yang melakukan ini, karena tadi melihat ketika Cici mengambil dan membawa keluar dari kamar. Tapi ia hanya ingin tahu apa yang direncanakan oleh Cici dan benar saja, Melinda yang menjadi target Cici.
Tak masalah, karena ia pun senang kalau akhirnya Candra mengusir Melinda.
Setelah Melinda masuk ke kamar, Candra duduk berdua bersama dengan Cici di taman. Angin malam ini tidak telalu kencang, jadi mereka pun tidak kedinginan meski di luar rumah.
"Mas, sebaliknya Mas Candra lebih mengawasi Melinda. Kasihan kalau nanti perhiasan atau barang Mama yang lain hilang lagi." Cici mulai menghasut Candra.
"Seharusnya memang begitu. Tapi aku perlu tahu kenapa Melinda berubah. Aku kenal sekali dia, tapi gak nyangka kalau akhirnya akan jadi seperti ini."
"Setiap orang bisa berubah, Mas. Apa lagi kamu orang kaya. Pasti yang tidak terbiasa akan kaget dengan harta yang tiba-tiba banyak."
"Maksudnya?" tanya Candra tak mengerti.
"Maaf nih. Melinda kan dari keluarga kelas bawah, ya. Pasti nyari uang juga susah dan gak punya banyak uang, pas begitu masuk ke keluarga Mas Candra, dia kaget karena banyak barang mahal di sini."
"Masa begitu?" tanyanya tidak percaya.
"Jelas lah. Itu namanya Rich Sindrom."
"Hah?" Candra baru pertama mendengar Rich Sindrom. "Memang ada, ya?"
"Ada, contohnya Melinda."