
Rosa menopang dagu. Ia bingung kenapa semua rencana yang sudah ia susun gagal tak lama setelah dilakukan. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.
"Nyonya, makanan sudah siap." Mina memanggil majikannya ketika makan siang sudah siap di meja.
Rosa mengangguk. "Ya, nanti saya ke sana." Ia kembali browsing cara mengusir menantu dari rumah. Tapi semua yang ia baca sudah dilakukannya, dan gagal.
"Apa harus aku menyewa orang dan menyeret wanita itu agar pergi dari sini?" tanyanya pada diri sendiri.
"Siapa yang mau diseret, Nyonya?" tanya Mina.
Rosa menoleh. "Loh kamu ngapain di sini?" tanyanya kesal. "Awas kalau kamu ngadu apa-apa sama Candra!" ancamnya.
Mina mundur dengan ketakutan. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Rosa, tapi kalau nekat melaporkan kepada Candra, dapat dipastikan akan kehilangan pekerjaan.
Doanya, semoga Melinda bisa sabar menghadapi mertua yang tidak suka dengan kehadirannya.
Setelah Mina pergi, Rosa melihat Melinda keluar dari rumah. Di tangan gadis itu ada alat pel dan juga ember. Ia tersenyum puas, sudah menjadi menantu Pagalo masih saja bermental miskin. Kenapa tidak memakai alat pel yang otomatis, malah masih memakai ember dan juga pel manual.
Tapi dengan itu ia jadi mempunyai ide untuk kembali membuat Candra dan Melinda mempunyai masalah. Ditunggunya Melinda selesai mengepel area teras belakang, dan ketika selesai, ia akan masuk dan melaksanakan rencana selanjutnya.
Lima menit kemudian, Melinda selesai mengepel area teras belakang. Rosa berdiri dari kursinya dengan anggun, kemudian berjalan masuk ke rumah lewat lantai yang baru saja di pel oleh Melinda.
"Aaaaa!" teriak Rosa sambil jatuh. Pura-pura, karena sebenarnya lantai yanh dipijaknya tidak licin sama sekali.
Tapi karena teriakannya yang memang nyaring dan sengaja dikeraskan, semua pembantu di rumahnya keluar. Mereka langsung menolongnya dan membantu berdiri.
"Aduh, sakit banget." Rosa memegang pinggangnya. Tak lupa ia berusaha keras untuk mengeluarkan air mata.
"Kenapa, Nya?" tanya Mina yang datang belakangan.
"Tolong siapkan mobil. Pinggang saya sakit banget!" Rosa berhasil mengeluarkan air mata, ia sampai terisak-isak dan terus berakting kesakitan di depan semua pekerja di rumahnya.
Matanya melirik mencari keberadaan Melinda, ternyata menantu yang tak diharapkan itu baru saja menyusul yang lainnya ketika ia digendong menuju ke mobil.
"Jangan sampai ada yang terpeleset lagi. Itu lantainya kekeringkan!" Rosa mengeraskan suaranya sambil menunjuk lantai teras belakang yang masih basah memang, tapi tidak licin sama sekali.
Melinda langsung melihat arah yang ditunjuk mertuanya. "Eh, Mama terpeleset?" tanyanya dengan polos.
Mina mengangguk. "Sepertinya parah, karena Nyonya Rosa sampai menangis."
Melinda langsung merasa kalau ini bukan kabar baik. Ia langsung berlari menyusul mertuanya untuk minta maaf. Tapi terlambat, karena mobil yang mengantar mertuanya itu sudah pergi meninggalkan halaman.
Kekhawatiran langsung menyergap dadanya. Bagaimana kalau kondisi mertuanya parah seperti yang dikatakan Mina? Dan itu karena dirinya.
Melinda mengingit bibirnya risau, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena dibawa ke rumah sakit mana juga ia tak tahu.
Rosa segera menghubungi Cici, ia meminta untuk dibuatkan surat keterangan palsu. Ia ingin berpura-pura patah tulang, agar nantinya Melinda mendapat kemarahan Candra.
"Memang Tante kenapa?" tanya Cici di telefon.
"Ceritanya panjang, pokoknya kamu minta temanmu itu untuk membuatkan surat diagnosa palsu. Jangan sampai nanti Candra sampai di rumah sakit terlebih dulu dan rencana ini akan gagal. Kamu juga menyusul tante ke rumah sakit sekarang."
"Baik, Tante. Ini aku sudah di jalan mau kw rumah sakit."
Selang beberapa puluh menit dari kepergian Rosa, Candra pulang. Ia melihat beberapa pembantu sedang bergerombol dan seolah sedang membicarakan sesuatu. Sepertinya ada kejadian besar yang ia tidak tahu, atau bisa jadi belum tahu.
Candra mendekati gerombolan itu dan bertanya tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ada apa?" tanyanya pada Mina.
Mina menelan ludah. Ia dilema, antara menjawab dan tidak. Karena sebelum Rosa pergi, mereka sudah ditinggali pesan agar jangan sampai ada yang mengatakan kepada Candra kalau ia masuk rumah sakit. Biar Melinda saja yang mengatakan langsung.
"Bi ada apa? Kalian ngomongin apa?" tanya Candra lagi.
"Em, lebih baik Tuan bertanya kepada Nyonya Muda saja. Kami tidak berani mengatakannya." Mina menjawab dengan gemetar.
Candra berlari masuk ke kamar, ia mengkhawatirkan Melinda, takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Tapi sasampainya di kamar, ia terkejut karena Melinda baik-baik saja dan malah langsung mengajaknya ke rumah sakit.
"Siapa yang sakit, Dek?" tanya Candra.
"Mama, Mas. Tadi terpeleset, tapi aku gaj tahu bagaimana keadaanya." Ia menatap suaminya, mencari celah atas jawaban darinya. Semoga saja Candra tidak berpikir kalau ia yang mencelakakan mamanya.
Candra melepas jasnya dan menggantinya dengan jaket, kemudian ia berlari ke luar rumah untuk menyusul mamanya. Dirinya sampai lupa kalau tadi Melinda mengatakan ingin ikut dengannya ke rumah sakit.
"Nyonya Rosa sedang istirahat, Tuan langsung menemui dokter saja untuk tahu kondisi Nyonya Rosa saat ini." Salah satu pembantu yang tadi membawa Rosa ke rumah sakit langsung berkata sebelum Candra bertanya.
Candra menganggukkan kepala. "Sekarang Mama sama siapa di dalam?" tanyanya.
"Nona Cici tadi ke sini setelah mendengar kabar kalau Nyonya Rosa terpeleset."
Candra masuk ke ruangan dan melihat mamanya berbaring dengan beberapa alat bantu di tubuhnya. Ia kaget. "Mama kenapa?" tanyanya.
"Kamu jangan menyalahkan Melinda, Nak. Dia gak sengaja tadi membuat mama terpeleset. Mama yang tidak tahu kalau lantainya licin. Jangan marah sama Melinda, ya, Candra." Rosa mengusap air mata pura-puranya.
"Melinda yang membuat Mama jadi seperti ini?" tanya Candra lagi. Tangannya mengepal. Ia siap memuntahkan amarahnya.
"Kamu jangan marah sama istrimu, Candra. Mama hanya patah tulang kok, gak mati."
"Apa harus nunggu mama mati dulu baru bisa membuat Melinda bisa berdamai dengan mama?" Ia keluar dari kamar rawat mamanya, tujuannya hanya pulang ke rumah dan menyeret Melinda untuk minta maaf serta bertanggung jawab atas perbuatannya.
Ia langsung berteriak begitu sampai di rumah. "Melinda, keluar kamu dari kamar!" teriaknya.
Semua pembantu langsung berlari keluar begitu ia berteriak. Setelah itu Melinda menyusul di belakang mereka.
"Ada apa?" tanyanya dengan kebingungan.
"Kamu mau membunuh mamaku hah? Sebegitu bencinyakah kamu sampai ingin mertuamu mati?"
"Hah?" Melinda cengo. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh suaminya.
"Mama patah tulang sekarang, dan itu karena kamu kan? Jangan bilang kalau kamu gak sengaja? Pasti kamu ingin mamaku celaka kan?" Wajahnya sudah merah padam menahan marah.
"Mas, aku jelasin dulu. Jangan salah paham, Mas."
"Simpan penjelasan itu untuk mamaku! Sekarang juga kamu ikut ke rumah sakit!" Ia menyeret kasar pergelangan tangan Melinda dan mengabaikan rintihan kesakitan dari istrinya.