
Cici pergi mengambil obat tidur untuk menjebak Melinda dan Johan besok pagi. Ia kembali ke rumah Keluarga Pagalo dengan senyum puas dan hati yang lebih bahagia, yang tak pernah ia rasakan selama ini karena semua rencananya selalu gagal.
"Eh, gimana?" Rosa yang tak sabar menunggu Cici di luar rumah.
"Aman, Ma. Ini obatnya udah aku bawa, besok pagi tinggal kita jalankan rencananya."
Rosa tersenyum lebar. "Mama akan meminta Candra pergi lebih pagi, biar Johan dan Melinda bisa sarapan bareng kita. Pokoknya mama atur semua besok."
Mereka berdua masuk ke rumah setelah menyusun rencana yang matang. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Cici merebahkan diri di atas ranjang. Ia tak sabar untuk menanti hari esok, hari di mana akan menjadi hari terakhir Melinda di rumah ini.
Rosa berharap rencananya tidak menemui kegagalan lagi. Dia sangat optimis bahwa idenya yang satu ini akan membuahkan hasil. Lihat saja besok, Melinda pasti akan diusir dari rumah. Rosa tertawa puas.
***
"Aku pergi kerja dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah."
Chandra berpamitan pada Melinda sebelum pamit bekerja. Dia bahkan tidak sempat sarapan karena harus pergi pagi-pagi sekali. Selain itu, Rosa juga sudah mewanti-wanti Chandra untuk bawa bekal saja ketimbang makan di rumah karena khawatir banyak urusan yang harus ditangani.
Padahal dalam lubuk hati terdalam Rosa, dia bersorak karena rencananya pasti akan berjalan sangat lancar. Dia ingin segera memberi pelajaran pada Melinda, tidak lama lagi riwayatnya akan tamat, bahkan setelah Chandra melihat hal ini.
"Hati-hati di jalan, ya." Melinda tersenyum pada suaminya dan mengantar sampai ke luar.
Saat Melinda mengantarkan suaminya ke luar, Rosa tengah mempersiapkan obat tidur di makanan milik menantunya dan juga tak lupa di piring Johan. Dia terus menatap ke luar pintu, takut-takut Melinda datang.
"Beres, setelah ini akan kupastikan hidupnya berakhir!" Melinda bergumam setelah selesai melakukan tugasnya, dia lalu pergi dari meja makan.
Melinda baru saja masuk ke ruang makan dan pergi sarapan. Bersamaan dengan kemunculan Johan, mereka mulai makan bersama, menyantap menu yang terhidang di atas meja.
Dari dalam kamar Rosa, Cici melihat dua orang itu. Ia tinggal menghitung menit, sampai Candra memergoki dan ia akan menjadi satu-satunya wanita Candra.
"Bagaimana, Ma?" tanya Cici setelah Rosa masuk ke kamar.
"Udah aman, tinggal nunggu aja kita."
Misi Rosa berhasil. Sesuai dengan perkiraan beliau sebelumnya, obat yang dimasukkan ke dalam makanan milik Johan dan Melinda langsung menimbulkan reaksi hanya dalam waktu lima menit. Saat pria itu dan menantunya mulai menunjukkan pergerakan-pergerakan aneh saat makan pagi berjalan, saat itulah Rosa tertawa di dalam hati.
Rasa kantuk tiba-tiba menyerang Melinda. Mata dengan bulu lentik itu memejam rapat manakala angin berembus menerpa kulit wajahnya. Tak hanya Melinda, bahkan Johan pun merasakan kantuk yang sama.
Rosa tertawa bahagia saat melihat kedua orang itu akhirnya tertidur juga. Dengan segera dia membereskan kekacauan yang telah terjadi, kemudian membawa satu per satu orang itu menuju kamar.
"Ma, aku hilangkan bukti dulu, abis itu kita gotong mereka ke kamar." Cici memakai sarung tangan dan memasukkan ke kantong makanan Johan juga Melinda. Ia menyingkirkan semua barang yang digunakan untuk penjebakan kali ini.
"Buruan, keburu mereka bangun!" Rosa sudah mulai mengacak-ngacak sprei kamar Candra, agar terkesan alami nantinya.
Rencana Rosa sepertinya berhasil, mereka tertidur akibat obat yang Rosa berikan diam-diam. Sekarang dia hanya harus menjebak mereka dan membuat Chandra melihat kekacauan yang terjadi di rumah.
"Lihat saja nanti, kamu pasti akan diusir oleh suamimu. Bahkan diceraikan. Aku tidak sabar melihat hidupmu hancur." Cici memandang Melinda dengan benci.
Rosa tertawa tanpa rasa bersalah ketika melihat Melinda dan Johan berhasil dibaringkan di ranjang yang sama dengan tubuh saling berhadapan. Sungguh dramatis, pikir Rosa. Mereka sudah tampak seperti pasangan yang tengah melakukan perbuatan tidak senonoh. Rosa tidak sabar untuk memanggil Chandra ke rumah dan menyaksikan perselingkuhan ini.
"Ah, sudah selesai. Sekarang waktunya memanggil Chandra pulang. Dia pasti kaget melihat istrinya bermain api di belakang." Mertua Melinda itu menatap Melinda untuk terakhir kali sebelum ia keluar dari sana.
Setelah selesai membuat jebakan, Rosa keluar dari kamar dan menutup pintu. Dia pergi menelepon Chandra untuk memberitahu tentang hal ini. Rosa akan berakting sebagus mungkin supaya anaknya yakin.
"Halo, Ma."
Terdengar suara Chandra dari seberang sana ketika Rosa meneleponnya.
"Candra, ayo pulang ke rumah. Cepat!"
Rosa langsung menyuruh Chandra untuk pulang sebab dia melihat keanehan yang terjadi di kamar Melinda. Mendengar hal itu, Chandra kaget sekaligus tidak mengerti.
"Tapi aku sedang bekerja, Bu. Kenapa tiba-tiba ibu nyuruh aku pulang? Apa di rumah sedang terjadi sesuatu, Bu?"
"Iya, ada. Cepat kamu pulang, ibu tidak mau tahu. Ayo pulang, Nak. Ibu sedih!"
Rosa mengubah nada suaranya menjadi sedih dan panik supaya Candra terpancing untuk pulang tanpa banyak bertanya. Dia ingin pria itu melihat sendiri apa yang sudah terjadi di rumahnya.
"Kenapa? Kenapa ibu sedih? Tunggu, aku akan pulang sebentar lagi."
Chandra tidak mengerti kenapa ibunya meminta pulang cepat. Namun, mendengar nada panik beliau akhirnya Candra memutuskan untuk segera pulang. Dia khawatir ada hal mendesak yang terjadi di rumah selama dirinya pergi bekerja.
Sementara itu, Rosa menutup sambungan telepon dengan perasaan bahagia dan puas. Mulai sekarang dia akan membuat Melinda terusir dari rumah ini.
"Akhirnya rencanaku berhasil." Rosa kegirangan.
"Rencana kita, Mama. Jangan lupakan aku juga." Cici protes.
"Iya kita. Sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Keluarga Pagalo. Ya udah kamu ngumpet dulu, nanti katika Candra pulang biar mama yang memberitahunya. Nah setelah itu kamu pura-pura keluar dan gak tahu apa-apa."
Cici ingin bertanya kenapa harus ngumpet dulu, tapi mengingat kalau Candra tidak suka kepadanya, ia takut kalau nanti Candra malah menuduhnya merencanakan ini semua, meski memang iya.
"Ya udah, aku keluar dulu. Nanti kalau Mas Candra pulang baru aku ke sini lagi." Cici mengambil tas dan juga sisa makanan Johan juga Melinda untuk dibuang ke sungai.
Tidak lama kemudian, mobil Candra tiba di pekarangan rumah. Pria itu sampai lebih cepat dari perkiraan. Dia segera bergegas memasuki rumah untuk memastikan apa yang telah terjadi.
"Nak, kamu pulang juga!"
Chandra segera mendekati sang ibu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa dia sedih.
"Itu, Melinda dan Johan ... mereka ...."
Rosa menunjuk kamar Candra dan memberi sinyal pada Chandra bahwa ada hal tidak beres sedang terjadi. Mendengar ucapan ibunya, dia terkejut bukan main. Benarkah apa yang Rosa katakan tadi?
"Mereka kenapa, Ma?" tanya Candra.