
"Nak, Candra sayang. Mama tidak habis pikir kenapa Melinda tega pada Mama. Dia, dia sudah mengungkit almarhum ayahmu. Hati Mama sakit, Nak." Rosa tak hentinya terisak-isak.
Melinda sudah ketar-ketir, ia yakin sang suami pasti marah padanya. Tapi ia sama sekali tidak bisa membela diri, mungkin benar apa yang dikatakan sang mertua jika dirinya sudah keterlaluan.
Rosa bergelayut di lengan Candra. "Mama sedih, hati Mama sakit."
Candra fokus pada Melinda yang kini menunduk, "Mel, apa benar yang Mama katakan?"
Melinda mengangkat kepalanya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Di sini bukan hanya sang mertua saja yang sakit hati, dia juga merasakan hal yang sama. Namun, jika dirinya membela diri apa Candra akan mempercayainya? Ya, lebih baik diam menunggu keputusan Candra.
"Lihat dia hanya diam, Nak. Itu artinya Mama benar. Dan hati Mama benar-benar sakit Nak," ucap Rosa kembali. Air bening terus mengalir di pipi yang sudah tak lagi kencang.
"Cukup, Ma." Candra menghentakkan tangannya dan hal itu sukses membuat tangan Rosa yang bergelayut terlepas.
"Candra!" pekik Rosa terkejut.
"Cukup, Ma. Aku pikir tadi Mama kesini karena ada niat baik. Tapi Mama lagi dan lagi menyakiti Melinda," pungkas Candra yang sudah tak bisa lagi menerima perlakuan sang ibu.
"Apa yang Mama lakukan, Nak. Mama sama sekali tidak pernah berbohong, Melinda yang sudah mengungkit tentang almarhum ayahmu dan Mama ke sini memang memiliki niat baik," jawab Rosa.
"Jadi kamu tidak mengenal Mama dengan baik?" tanya Rosa.
"Dulu aku kenal Mama dengan baik, Mama yang selalu baik, Mama yang melakukan apapun agar aku bahagia. Tapi sekarang aku sama sekali tidak mengenal Mama. Di mana mamaku yang selalu ingin aku bahagia?"
Rosa menatap bola mata Candra dengan tatapan sendu. Anaknya sudah terpengaruh oleh Melinda hingga berani melawan dirinya.
Perlahan-lahan tangan Rosa terulur dan ingin mengusap punggung Candra. Hanya saja lelaki itu menghindar.
"Candra. Mama masih sama dengan yang dulu, ingin hal terbaik Mama persembahan untukmu, Nak. Tapi—"
"Tapi, karena aku memilih Melinda jadi Mama tidak ingin hal baik itu Mama berikan? Ma, lihat." Candra menarik tangan Melinda agar lebih dekat dengan sang ibu, "lihat, Ma. Apa kurangnya Melinda? Dia wanita baik, dari pada aku dia lebih baik dari segala-galanya. Hanya satu Ma kurangnya dia. Karena ia terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Apa karena Melinda tak bisa memilih hidupnya sendiri Mama jadikan hal itu sebuah alasan agar aku berpisah dengannya?"
Melinda terkejut dengan apa yang dilakukan Candra. Di depan sang mertua, suaminya benar-benar membela dirinya. Ia terharu dan terisak-isak. Ia juga tidak bisa berkata-kata lagi, biasanya ia akan meminta sang suami untuk tetap menjaga ucapan di depan sang mertua, tapi ini ia hanya diam.
Melihat sang ibu hanya diam saja, Candra menggelengkan kepalanya, "Maaf, Ma. Untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa melepaskannya. Aku sudah melakukan ijab qobul dimana dia saat ini sudah menjadi tanggung jawabku."
Rosa tidak bisa berkata-kata lagi. Tatapannya sulit diartikan antara menerima ucapan sang anak atau justru semakin membenci Melinda.