Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 16 Berusaha merebut kembali


Candra memikirkan apa yang dikatakan oleh Cici. Ia belum pernah mendengar Rich Sindrom. Memang ada? Yang lebih tidak ia percaya lagi, Melinda sedang berada di fase itu.


Candra kenal betul siapa Melinda dan bagaimana watak juga karakter wanita itu. Jadi tidak mungkin kalau sampai Melinda mencuri. Tapi bukti kalung itu? Bagaimana caranya bisa sampai di kamar Melinda kalau bukan dia yang mengambil?


Ia memijat keningnya. Pusing. Rasanya semakin lama hubungan yang terjalin di antara mereka semakin tidak sehat. Di satu sisi ia sangat mencintai Melinda, tapi di sisi lain kenapa selalu saja ada ulah Melinda yang membuatnya tak mengerti lagi dengan gadis itu.


Candra kali ini tidak lagi menghindari Melinda, ia ingin tahu sebatas mana Melinda bersikap sebenarnya. Karena selama ini seringnya ia hanya mendapat laporan dari orang saja tentang sifat Melinda di belakangnya.


"Mas, mau kerja sekarang?" tanya Melinda basa-basi saat melihat Candra lebih lama berada di kamar mereka. Padahal biasanya semenjak mama mertunya sakit, Candra lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mamanya.


"Hem." Candra menjawab singkat.


"Sarapan udah siap, Mas mau makan di meja makan atau di kamar Mama?" tanya Melinda lagi. Ia mengambil dasi yang belum terpasang, dengan lembut memasangkan di krah kemeja suaminya.


Berhari-hari ia memikirkan cara untuk mendekati Candra. Dan baru hari ini mendapatkan cara meski ia harus mengabaikan rasa sakit hati yang tercipta karena kedekatan suaminya dengan Cici.


"Dibungkusin aja kalau kamu gak sibuk. Biar nanti aku sarapan di kandang peternakan saja."


Melinda mengangguk senang. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa mendengar lagi nada suara Candra yang biasa seperti dulu. Dengan cepat Melinda pergi ke meja makan dan memasukkan sarapan Candra ke dalam kotak bekal untuk dibawa ke tempat sang suami mengais rezeki.


Cici yang melihat Melinda sibuk di dapur sambil senyum-senyum akhirnya tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia mendekati wanita saingannya itu dan bertanya, "Lagi ngapain, Mbak?"


Melinda mengabaikan Cici. Ia tetap fokus memasukkan lauk dan sayur ke dalam kotak bekal.


"Mbak Melinda marah sama aku?" tanya Cici lagi.


Melinda menarik napas panjang. "Enggak." Ia menghembuskannya kasar. Seharusnya dengan reaksi yang ditunjukkan, Cici paham apa yang ia rasakan kan?


Kecuali kalau memang Cici tidak punya hati, pasti akan tidak peduli dengan itu.


"Ya udah kalau gak mau jawab, mending cari Mas Candra aja deh." Cici berlalu dari ruang makan.


Melinda menoleh melihat kepergian Cici. Sinyal bahaya langsung ia terima. Jangan sampai setelah bertemu dengan Cici, Candra kembali lagi dingin kepadanya. Ia harus menghentikan sebelum Cici mengatakan hal yang jelek tentangnya.


Melinda berlari kecil masuk ke kamarnya, beruntung Candra di sana dan masih menunggunya. Sedangkan Cici entah di mana, tidak terlihat sama sekali setelah dari ruang makan.


"Ini bekalnya, Mas." Melinda menyodorkan sekotak makanan kepada suaminya.


"Makasih."


Meski hanya kata makasih saja, itu sudah cukup membuat senang.


"Mas, maaf. Aku gak mengambil kalung Mama, aku juga gak berniat membuat Mama terpeleset." Melinda berujar lirih.


"Sudahlah, yang kemarin lupakan saja."


"Tapi Mas Candra percaya kan kalau aku gak mungkin ngambil kalung itu?"


"Entahlah."


Semangat Melinda kembali down. Ia tak tahu harus bagaimana lagi untuk menyakinkan Candra agar percaya kepadanya.


"Mas Candra mau ke peternakan nih?" tanya Cici basa-basi. "Aku sekalian ikut, ya. Nanti turun di butik aja. Kayaknya hari ini aku gak bisa jagain Mama dulu."


Candra hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju ke mobil.


Melinda yang mengetahui kalau Cici akan satu mobil dengan suaminya bergegas mengambil jaket dan juga memoles bibirnya dengan lipsglos agar tidak telalu pucat. Ia berlari menyusul mereka berdua.


"Mas, aku ikut mobilnya, ya. Mau ke pasar beliin Mama ikan laut." Melinda langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah supir.


Candra bingung. Ia tidak tahu kalau Melinda mau belanja juga. Tapi sudah terlanjur masuk, dan kalau menyuruh Melinda turun pindah ke belakang untuk Cici, ia tidak tega.


"Jadi aku duduk di mana dong?" ketus Cici sambil melihat Melinda yang sudah siap dengan sabuk pengaman juga.


"Em, kamu di belakang gak apa-apa, kan?" tanya Candra tidak enak hati.


Cici mengangguk kesal. Hilang sudah rencana berduaan dengan Candra gara-gara Melinda ikut. Lagian kenapa sih wanita itu harus ikut ke mobil Candra? Biasanya juga pergi sendiri.


Sedangkan Melinda merasa puas melihat Cici yang mukanya ditekuk sepanjang perjalanan. Untuk pertama kalinya, ia merasa menang melawan Cici.


Beruntung Candra berbalik hati dan tidak membuat dirinya merasa tersisihkan lagi. Karena memang pada dasarnya, Candra selalu berada di pihaknya.


"Kamu pulangnya gimana?" tanya Candra pada istrinya.


"Nanti ada supir yang ke sini, tadi mobilnya baru di bengkel makanya aku ikut kamu. Ya udah aku turun, Mas." Melinda mencium punggung tangan suaminya. Ia melirik sekilas ke arah Cici yang terlihat semakin kesal.


Sejak kejadian itu, Melinda selalu berusah berada di tengah-tengah mereka. Seperti malam itu, ia melihat Cici yang menghampiri Candra dengan membawa segelas teh kopi. Ia dengan cepat membawakan Candra air rebusan jahe dan kayu manis untuk menghangatkan badan dan menambah imun tubuh.


"Mas kopi. Mau lembur, ya?" Cici meletakkan kopi di meja kerja Candra dan memijit tengkuk lelaki itu.


Candra menepis tangan Cici. "Makasih, tapi aku sedang tidak ingin diganggu."


"Ah oke. Jangan lupa kopinya diminum, ya, Mas."


"Mas Candra masih pegal badannya? Ini aku buatin air jahe, tadi aku tambah kayu manis juga biar makin seger. Bagus buat meningkatkan imun loh, Mas." Melinda tiba-tiba masuk dan meletakkan minuman itu di depan Candra, menggeser kopi yang dibuatkan oleh Cici.


"Eh, makasih?" Candra bingung, kapan ia bilang sedang pegal badannya?


"Mau aku pijit, Mas? Ini aku tadi juga udah numbuk jahe yang buat dioleskan ke yang pegal."


Candra menatap istrinya. "Oke. Nanti saja. Aku mau nyelesaiin ini. Tolong jangan ganggu dulu."


"Siap. Jangan lupa diminum air jahenya, Mas. Biar tambah sehat dan gak gampang sakit. Jangan sembarangan minum yang gak sehat, ya, Mas."


Cici cemberut. "Maksud kamu apa? Kamu mau bilang kalau kopi gak bagus bagi tubuh?"


Melinda mengeryitkan kening. "Enggak ada aku bilang gitu, Mbak. Emang tadi aku nyebut kopi gak bagus bagi tubuh apa?"


"Enggak tapi secara tersirat kamu bilang gitu!"


Candra berdiri dari kursinya. "Kalian berdua bisa keluar? Aku sedang tidak ingin diganggu."