
"Yang penting kamu bisa berduaan, gunakan kesempatan ini dengan baik. Mumpung wanita itu tidak ikut." Rosa mendorong kecil tubuh Cici agar segera menyusul Candra yang sudah keluar dari kamarnya.
Ia tersenyum lega, akhirnya bisa mendekatkan kembali Candra dengan Cici. Harapannya, semoga kali ini ia berhasil dan mereka berdua bisa bersama. Urusan Melinda, ia akan selesaikan nanti.
Candra naik ke mobil dan menghidupkan mesinnya, ia menunggu Cici naik dan akan segera melajukan kendaraan beroda empat tersebut.
"Mas, jadi kita ambil uang dulu, aja, ya." Cici masuk dan sengaja tidak menggunakan sabuk pengaman.
"Oke!" Candra hanya menjawab singkat lalu melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
Cici menunggu Candra peka. Ia bahkan sengaja agak mencondongkan tubuhnya ke samping, ke arah Candra saat mobil berbelok. Tujuannya tak lain dan tak bukan agar lelaki itu melihat jika ia tidak menggunakan sabuk pengaman dan membantunya memasangkan.
Tapi harapannya tidak akan terkabul. Sampai di depan ATM, Candra sama sekali tidak melirik ke arahnya, seolah lelaki itu hanya sendiri dan tidak ada orang lain. Ia diabaikan.
"Buruan, nanti keburu malam," ujar Candra saat Cici tidak segera turun dari mobil.
"Mas Candra gak turun?"
"Gak. Aku nunggu di sini saja, biar langsung mencari makan malam."
Cici menghela napas. "Oke." Bukan ini yang ia inginkan, harusnya Candra menemaninya dan mereka mengambil uang bersama-sama.
Ah, susah sekali mendapatkan Candra.
Cici mengeluh, tapi sejenak kemudian ia kembali berpikir positif agar bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Candra.
"Jadi kita mau cari makan apa, Mas?" Cici sudah selesai mengambil uang, ia masuk ke mobil kembali dan kali ini memakai sabuk pengaman. Kalau nunggu Candra peka, kayaknya tidak akan pernah, deh.
"Pecel lele saja." Padat singkat dan jelas. Candra tidak ingin basa-basi lagi.
"Oh iya lupa, kan Mas Candra suka sama lele, ya. Aku ingat loh dulu waktu kita kecil Mas Candra sering banget makan lauknya lele, ternyata masih sampai sekarang."
Candra tidak menimpali kalimat Cici.
"Mas Candra kapan-kapan beli lele hidup yuk, terus kita bakar-bakar sendiri di rumah. Kayaknya seru deh."
"Oke!" Hanya itu kata yang keluar dari bibir Candra.
Merasa Candra tidak mau bicara lebih panjang dengannya, Cici memutar otak agar mereka bisa berbicang dengan hangat.
"Hari ini Mama terlihat lebih bersemangat daripada sebelumnya, Mas. Karena Mas pulang mungkin, jadi semangat hidupnya datang lagi. Padahal kemarin sempat menyerah loh. Aku tidak tega melihat kondisi Mama kemarin-kemarin, makanya selalu ada di samping Mama agar kalau ada apa-apa bisa langsung membawa ke rumah sakit."
"Mama sakit apa, sih?" tanya Candra akhirnya.
Cici menarik kedua ujung bibirnya. "Kata dokter penyakit tua sih, pikiran terus darah tinggi juga kan. Yang jelas semua berawal dari pikiran yang tidak tenang. Kan Mas Candra pergi dengan marah kemarin, jadi Mama kepikiran sampai sakit itu."
"Terima kasih karena sudah menjaga Mama, Ci."
Mobil berhenti di depan warung lesehan. Candra turun dan memesan makanan untuk mereka, ia tidak mengajak Cici turun, karena menurutnya pasti nanti akan salah paham dan bisa dijadikan senjata untuk membuat Melinda ngambek padanya. Ia cukup tahu apa yang ada di otak Cici, pasti sedang merencanakan sesuatu.
Semantara Candra dan Cici keluar, Melinda dan Rosa sedang berhadapan. Dengan kunci cadangan, mertua Melinda berhasil masuk ke kamar Candra.
"Jangan kira karena kamu mengajak Candra pulang ke rumah ini lagi, kamu akan dimaafkan dan diterima sebagai menantu. Aku tidak akan pernah menerima kamu sampai kapanpun." Rosa menunjuk Melinda yang duduk di ujung ranjang.
"Enggak, Ma. Aku hanya melihat kalau Mas Candra kangen dengan Mama, makanya mengajaknya pulang ke sini, dan atas kemauan Mas Candra sendiri kok, bukan karena paksaanku."
"Gak usah alasan! Aku cukup tahu rencana busukmu, jadi berhenti bersikap polos dan sok tidak tahu apa-apa di depanku. Selama aku hidup, aku akan terus memisahkan kamu dengan anakku. Gara-gara kamu, Candra jadi membenciku, meski dia bersikap biasa, tapi aku tahu dia benci dengan ibunya. Dan kamulah penyebab semua ini."
"Enggak, Ma. Aku tidak melakukan apapun hingga membuat Mas Candra membenci Mama. Mama sendiri yang membuatnya menjadi seperti ini, jangan pura-pura lupa dengan apa yang sudah Mama lakukan."
Rosa tersenyum sinis. "Lihat, kamu membela diri. Itu tandanya kamu salah, kamu penyebab Candra berubah. Orang yang salah pasti akan membela diri agar terlihat benar."
"Aku membela diri karena faktanya memang seperti itu."
"Udahlah, capek ngomong sama orang tidak berpendidikan. Memang kamu benar-benar tidak cocok dengan Candra."
Melinda menarik napas. "Ma, apa Mama enggak capek seperti ini terus? Mama gak capek menjelekkan aku?"
"Kenapa capek? Kan memang kamu jelek."
"Ya udah, terserah apa kata Mama. Lebih baik sekarang Mama keluar dan istirahat biar cepat sembuh."
"Kalau aku sudah sembuh Candra akan kamu cuci otaknya agar meninggalkan aku lagi? Begitu kan rencanamu?"
Melinda capek, benar-benar capek kali ini. Jadi ia mengabaikan mertuanya dan menutup seluruh tubuh juga kepala dengan selimut. Daripada mendengar ocehan mertuanya yang bikin pusing, lebih baik ia tidur saja.
Melihat Melinda tidak mau lagi berbicang dengannya, Rosa merasa direndahkan. Ia akan mengadu kepada Candra nanti, agar anaknya itu sadar kalau Melinda bukan wanita yang tepat.
Rosa menunggu Candra di depan pintu, lalu saat terdengar mobil masuk, ia pura-pura lemas.
"Loh, Mama." Candra langsung mendekati mamanya. "Kenapa di sini? Istirahat di kamar aja." Ia melepas jaket dan menutupkan ke tubuh mamanya. "Dingin kan di sini, Ma."
Rosa mengucapkan terima kasih. "Mama khawatir dengan kalian, makanya mama di sini nungguin. Tapi tadi Mama ke kamar kamu mau bicara sama istri kamu kok dia gak mau buka pintu, ya." Ia mulai menjalankan rencana kecilnya.
"Jangan-jangan sengaja, Ma. Melinda gak mau bicara sama Mama, makanya dia ngurung diri di kamar dan tidak mau membuka pintu." Cici mengompori agar suasana semakin panas. Kesempatan tak datang dua kali, siapa tahu kali ini Candra marah dengan istrinya.
"Mama tadi juga berpikir gitu, Ci. Tapi Melinda orang baik, mana mungkin seperti itu kan? Apalagi aku ini mertuanya loh." Rosa melirik Candra yang sudah berubah ekspresi wajahnya.
"Wah jangan salah, Ma. Menantu itu kadang lebih kejam dari preman pasar." Cici masih saja menyulut api di tumpahan bensin. Kalau tadi ia tak berhasil mendekati Candra, siapa tahu kali ini ia berhasil. Dengan menjelek kan Melinda, pasti akan semakin di sayang Rosa.
Candra memotong ucapkan mamanya sebelum wanita itu menuduh Melinda lagi. "Kuncinya aku bawa, Ma. Melinda gak bisa keluar kamar kalau aku belum buka pintunya."