
Mendengar apa yang diucapkan Rosa di depan banyak orang, hati Melinda semakin sakit. Mau memprotes juga percuma, karena ia tak punya hak apa-apa di dalam keluarga ini.
"Kau dengar? Aku tidak akan pernah mau mengakuimu sebagai menantuku!" Rosa berapi-api menatap Melinda. Ia tidak peduli meski masih banyak teman-temannya di sana.
Melinda mengusap air matanya yang entah sejak kapan sudah menetes. Ia lalu berjalan menjauh dari kerumunan tersebut. Sendiri untuk saat ini masih menjadi pilihan yang terbaik.
"Jeng, kami pulang duluan, ya."
Setelah Melinda pergi, teman-teman Rosa pun bergantian pamitan. Mereka tahu situasi sedang tidak baik-baik saja, makanya menghindar lebih baik.
Dada Rosa naik turun menahan emosi. Ia harus memberi pelajaran kepada menantu kurang ajar itu, harus.
Setelah semua temannya pergi, Rosa masuk dan mencari keberadaan Melinda. Kemarahannya memuncak saat ini, mau disabar-sabarkan juga tidak bisa lagi.
"Melinda! Keluar kamu!" teriak Rosa dari ruang tamu begitu semua temannya sudah tidak ada di sana.
Seluruh asisten di rumah menghindar, mereka tidak mau ikut terkena imbas dari kemarahan nyonyanya. Sudah hapal, kalau Rosa sedang marah, maka mereka lebih baik menghindar daripada terkena amukan juga.
"Mina! Panggil Melinda ke sini!" teriak Rosa lagi.
Mina tergopoh-gopoh berlari ke kamar Melinda, tapi belum sampai di tempat yang ia tuju, Melinda sudah berjalan ke arahnya. Wajahnya tampak sembab, wajar karena baru saja menangis.
"Maaf, Nyonya Muda disuruh ke ruang tamu oleh Nyonya Rosa." Mina menunduk takut-takut.
Melinda mengangguk. "Makasih, Bi." Ia tenang, karena kali ini tidak mau lagi ia diinjak dan direndahkan harga dirinya. Memang sudah seharusnya semua ini berakhir. Entah dirinya atau Rosa nanti yang kalah, yang jelas ia tidak bisa berada dalam penjara mertuanya.
Semoga saja kali ini mertunya bisa luluh dan tidak lagi semena-mena kepadanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Melinda setelah ia sampai di ruang tamu.
"Kenapa kamu mengatakan di depan semua orang kalau kamu menantu di rumah ini? Mau pamer kamu? Berharap aku mau mengakuimu? Iya?" Rosa melotot sambil menunjuk Melinda dari atas kursi rodanya.
Melinda menarik napas, lalu menghembuskannya kasar. "Karena memang aku menantu keluarga Pagalo, Ma. Mau mengakui apa enggak, aku tetap menantu sah di keluarga ini."
"Mimpi! Kamu memang dinikahi Candra, tapi jangan pernah bermimpi akan bisa mengusai Candra dan melupakan ibunya. Lagi pula wanita miskin seperti kamu apa sih yang dilihat? Palingan bentar lagi juga ditinggalkan Candra." Rosa tersenyum sinis dan berusaha menekan Melinda agar bisa pergi dari Candra.
"Aku tidak ada niat untuk membuat Mas Candra melupakan Mama. Tidak pernah sama sekali, Ma." Melinda mencoba memberi pengertian kepada mertuanya.
"Kamu kira aku percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan? Tidak akan pernah. Wanita miskin seperti kamu menikahi Candra pasti hanya untuk harta, kan?"
"Cukup, Ma. Memang belum puas Mama membuat aku dalam masalah terus selama ini? Semua fitnah dan kata pedas Mama selalu aku terima, tidak pernah aku melawan Mama. Tapi apa itu belum cukup? Hingga Mama menjelekkan aku di depan orang-orang yang bahkan tidak mengenalku sama sekali?"
"Memang belum. Kenapa? Mau kamu dijelekkkan lebih banyak lagi dari ini? Boleh sih, itu juga kalau kamu masih tahan di rumah ini." Rosa tertawa. Ia merasa menang karena berhasil membuat Melinda marah dan tertekan. Itu berarti wanita itu sudah tidak betah lagi tinggal di rumah ini kan?
"Aku akan bertahan demi Mas Candra."
"Dan aku akan tetap membuat kamu pergi menjauh dari anakku. Dia pasti tidak akan bisa menolak kalau disuruh menikahi Cici."
Melinda mengusap dadanya. "Orang tua seperti apa yang tega membuat anaknya berpisah dari wanita yang dicintainya? Aku akan mengingat saat ini, kelak jika aku punya anak, aku tidak akan pernah memperlakukan anakku seperti ini. Tidak akan pernah sama sekali."
Rosa tersenyum sinis. "Terserah, yang jelas kamu tidak akan pernah diterima di keluarga ini. Jadi sadar dirilah, dan pergi dari hidup Candra."
"Enggak." Melinda balas berteriak. "Aku sudah berkorban perasaan selama ini, bahkan menerima semua fitnah dari Mama. Kalau aku mundur, akan sia-sia semua yang aku lakukan selama ini."
"Kurang ajar!" Rosa berdiri dari kursi rodanya tanpa sadar. Ia berjalan mendekati Melinda dan mencengkeram bahu gadis itu. "Kamu berani sekarang membantahku? Berani kamu melotot ke arahku, hah?"
Melinda benar-benar kaget. Kali ini di depan mata sendiri ia melihat kalau Rosa sama sekali tidak sakit seperti yang selama ini terlihat.
"Mama ... bisa berdiri dan jalan?" tanyanya dengan kaget dan sedikit lega. Akhirnya apa yang ia lihat di kamar mertuanya itu benar-benar nyata. Rosa hanya berpura-pura saja.
"Kenapa memang kalau aku bisa berdiri? Kenapa kalau aku selalu membuat kamu dalam masalah? Asal kamu tahu aja, kalung itu juga ditaruh di kamar kamu atas suruhanku!"
Melinda menutup mulutnya. Ia tidak sempat memperingatkan Rosa kalau Candra sekarang tepat berada di belakangnya. Ia tak tahu kapan Candra datang, dan apa mendengar semua yang mereka bicarakan, yang jelas raut wajah Candra tampak sangat marah.
"Mama!" bentak Candra. Ia berdiri di pintu melihat dua wanita tercintanya beradu mulut. Beruntung ketika tadi Mina menelefon, dirinya bisa langsung pulang. Jadi ia bisa melihat semua kejadian yang membuat hatinya shock.
Rosa menoleh kaget. "Candra."
Lelaki itu berjalan cepat dan menghampiri Melinda. Ia berdiri di depan Melinda, menjadikan dirinya sendiri tameng. "Cukup, Ma. Aku dengar semuanya. Aku tak menyangka kalau selama ini Mama hanya berpura-pura." Ia menatap wajah mamanya dengan kecewa.
Rasanya sangat berdosa ketika menuduh Melinda yang membuat semua kekacauan ini, padahal orang yang pantas dipersalahkan adalah mamanya sendiri.
"Candra, Mama bisa jelaskan ini semua." Rosa maju dan hendak meraih tangan anaknya, tapi ditepis begitu saja oleh Candra.
"Jangan marah sama Mama, Candra. Mama melakukan ini semua karena Mama sayang sama kamu. Percayalah, Mama ingin kamu bahagia dengan Cici."
"Mama salah, bahagiaku hanya dengan Melinda, bukan Cici. Dan kalau Mama menyakiti Melinda, itu berarti juga Mama menyakitiku."
Melinda berpegangan tangan suaminya. Setelah sekian lama, akhirnya kebenaran itu terbuka juga. Ia bisa cukup bernapas lega untuk saat ini. Tapi ia tidak membayangkan nantinya kemarahan Rosa akan lebih besar lagi, dan semakin membenci dirinya.
"Aku kecewa banget sama Mama," pungkas Candra sebelum ia menarik tangan Melinda untuk pergi dari hadapan Rosa.