Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 13 Tidak Peduli


Melinda sampai rumah langsung mengambil dompetnya. Ia mengabaikan pertanyaan dari para asisten rumah tangga di rumah yang menanyakan kondisi Nyonya Rosa. Mereka semua khawatir dengan mertuanya, tapi tidak ada yang peduli dengan dirinya.


Rasanya Melinda ingin berteriak sekarang, tapi ia masih mencoba bersabar karena masih banyak hal yang harus ia lakukan daripada meluapkan emosi yang tersimpan di hati. Mengembalikan uang suster baik hati tadi salah satunya.


Ia kembali naik ke tukang ojek yang menunggunya di depan rumah dan menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan air matanya kembali luruh. Beruntung Tuhan menurunkan air dari langit untuk menyamarkan tangisnya, kalau tidak mungkin ia akan menjadi perhatian dari pengendara lain, bisa juga dikira orang aneh yang menangis di sepanjang jalan.


"Mbak, ini saya nunggu lagi apa saya tinggal?" tanya si tukang ojek kepada Melinda.


"Kalau Bapak ingin mencari penumpang lagi, saya sampai di sini aja, Pak. Nanti biar saya cari ojek lain." Melinda mengusap air matanya.


Bapak tukang ojek yang mempunyai anak seusia Melinda itu kasihan melihat penumpangnya. Ia bukan tak tahu kalau Melinda menangis sepanjang jalan pulang dan kembali ke rumah sakit. Tapi bukan kapasitasnya untuk mencari tahu dan bertanya tentang masalah penumpangnya.


"Enggak Mbak. Saya bisa menunggu kalau Mbak mau."


"Oh kalau begitu tunggu sebentar, Pak. Saya balikin uang ini dulu." Melinda berlari kecil masuk ke lobi rumah sakit dan mencari suster yang tadi meminjaminya uang. Ia langsung bisa menemukannya karena sebelum Melinda pulang, suster itu memberi info kalau ia berjaga di pendaftaran.


Ia segera mengembalikan ongkos yang dipakai untuk pulang dan mengucapkan banyak terima kasih. Sempat akan langsung kembali ke tukang ojek dan pulang, tapi Melinda penasaran dengan kondisi mertuanya. Ia memutuskan untuk sebentar saja melihat keadaan wanita yang melahirkan suaminya tersebut.


Sayangnya apa yang ia lihat sangat menyakitkan. Dari jendela yang menghadap lorong, Melinda melihat Candra berbincang akrab dengan Cici, bahkan sesekali mereka bercanda. Rasanya ia tak sanggup melihat betapa intensnya tatapan Cici pada suaminya.


Melinda memutar langkah, ia berlari dan langsung keluar dari rumah sakit untuk kembali ke rumah. Tukang ojek yang tadi mengantarnya masih berada di depan, tidak meninggalkannya sendiri seperti yang dilakukan oleh Candra, suaminya.


"Loh Mbak kenapa?" tanya bapak tukang ojek yang melihat wajah Melinda bersimbah air mata.


"Pak, bisa minta tolong antar ke tempat yang sepi? Mana aja Pak, yang penting sepi." Melinda ingin menenangkan diri.


"Oh baik, Mbak. Saya tahu tempatnya."


Melinda menangis dan mengusap air matanya dengan ujung cardigan yang ia pakai ketika pulang tadi. Sesampainya di taman yang cukup sepi, Melinda meluapkan semua rasa sakit hati dan kecewanya dalam tangis. Ia tidak peduli dengan apa pun bahkan tatapan kasihan dari tukang ojek yang mengantarkannya.


Setelah puas, ia diantarkan kembali ke rumah oleh tukang ojek yang sama. Melinda mengucapkan banyak terima kasih, karena saat ini hanya tukang ojek itu yang peduli kepadanya.


Hari kedua mertuanya dirawat, Melinda sama sekali tidak diperbolehkan menjenguk oleh Candra. Bahkan sampai Rosa pulang ke rumah dan Cici tetap berada di samping Rosa, Melinda juga tidak diperbolehkan melihat mertuanya.


Candra semakin mendiamkannya, bahkan hanya berbicara ketika mengatakan larangan apa yang tidak boleh dilakukan olehnya.


"Mas, makan siang udah siap, mau aku ambilkan?" tanya Melinda ketika Candra masuk ke kamar mereka dan mengganti pakaiannya.


"Gak usah. Udah makan tadi sama Cici." Candra selesai menukar kemeja lamanya dengan yang masih baru, ia keluar lagi dari kamar tanpa menoleh ke arah istrinya.


Melinda mengusap dada. Kembali lagi air mata menetes melihat kepergian suaminya. Matanya bahkan perih ketika air itu keluar dari kelopak karena terlalu banyak menangis selama seminggu ini.


Ia menyusul Candra keluar dan berpapasan dengan Cici yang baru saja keluar dari kamar mertuanya.


Melinda mengernyitkan dahi. Mama? Tadi Cici bilang kalau mama sedang tidur. Sejak kapan gadis itu memanggil mertuanya dengan mama? Bukannya selama ini tante? Kenapa berubah?


Belum sempat ia bertanya, Candra datang membawa obat dan memberikan kepada Cici. "Ini nanti jangan lupa diminumkan, ya, Ci. Aku ada pertemuan dengan rekan bisnis, jadi mungkin akan malam pulangnya, kamu jangan lupa ingetin makan dan obat."


Melinda membeku. Seharusnya ia yang berada di posisi Cici, merawat mertuanya yang sakit. Tapi kenapa sekarang Cici yang malah merawat mertuanya, dan Candra bahkan sama sekali tidak melibatkannya dalam hal ini.


"Baik, Mas. Aku akan ingat untuk menjaga mama. Kamu hati-hati, ya." Cici merapikan dasi Candra.


Kalau dibilang cemburu, tentu saja Melinda cemburu dengan interaksi dua orang di depannya. Sangat mesra, tidak seperti hanya teman.


Candra hanya melirik sekilas ke arah Melinda tanpa menyapa. Ia langsung keluar dari rumah begitu saja. Hatinya masih kesal karena Melinda membuat mamanya kecelakaan, meski itu tidak sengaja.


Ia tidak peduli dengan siapa merawat mamanya, yang penting baginya mamanya cepat sembuh seperti sebelumnya. Jadi ketika kemarin ia diminta bersama Cici saja dalam hal merawat sang mama, Candra langsung setuju.


Cici tersenyum manis. "Mas Candra gagah banget, ya. Kelihatan berkharisma sekali kalau dilihat dari belakang, eh sebenarnya dari depan juga sih. Jadi pengen bersandar di punggung kokoh itu."


Melinda menatap tak percaya, Cici memuji suaminya di depan dia? Memuji laki-laki di depan istrinya apa itu sopan? Menurutnya tidak sama sekali.


"Mbak, kamu tahu kan aku istri Mas Candra?" tanya Melinda dengan nada ditekan pertanda dia sedang menahan emosi.


"Iya, lalu kenapa? Kan aku berkata jujur." Cici merasa tak bersalah setelah memuji Candra di depan Melinda.


Melinda menarik napas panjang. "Seharusnya Mbak bisa menghargai posisiku sebagai istri Mas Candra dong!" Kali ini ia menaikkan nada suaranya dari sebelumnya.


"Aku menghargai Mbak Melinda kok, kan cuma mengatakan kalau Mas Candra gagah. Salahnya di mana?"


"Astaga!" Melinda memilih untuk memutar badan dan meninggalkan Cici daripada semakin emosi dengan gadis itu.


Sesampainya di kamar, Melinda membanting tubuhnya ke ranjang dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kenapa semua tidak ada yang peduli dengan perasaannya?


Entah berapa lama ia tertidur setelah tadi menegur Cici yang terang-terangan memuji suaminya di depannya. Ketika bangun, langit sudah gelap. Mungkin sudah lepas magrib. Ia keluar kamar setelah mencuci muka.


Dari arah kamar mertuanya, terdengar suara orang tertawa dan bercerita dengan seru. Pelan, ia melangkah menghampiri kamar Rosa dan mengintip siapa orang yang ada di dalam.


Tangan Cici tampak melingkar di pinggang Candra, dan sialnya, Candra sama sekali tidak melepaskan tangan itu. Bahkan Rosa juga tidak menegur sama sekali, padahal jelas sekali kalau apa yang dilakukan oleh Cici itu bukanlah suatu yang benar.


Ia memejamkan mata, menahan gejolak emosi.


"Mbak Melinda, ngapain di situ? Kok gak masuk?" tanya Cici ketika ia melihat Melinda mengintip di pintu.


Melinda kaget dan langsung membuka mata. Ia melihat Cici menatap ke arahnya dengan senyum sinis.