Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 18 Berbuat Ulah kembali


Sudah beberapa hari Melinda mencari bukti yang akan digunakan untuk membuat Candra percaya kepadanya, tapi sampai sekarang ia belum juga menemukannya. Mungkin ketika ia mengintip kemarin ada yang melihat, hingga hari-hari setelahnya Melinda sama sekali tidak melihat mertuanya berdiri dari kursi lagi.


Ia melupakan sejenak tentang pencarian bukti karena Candra semakin terbuka lagi padanya. Entah apa yang membuat lelaki itu sadar dan mendekati Melinda lagi, yang jelas, itu sangat membuat wanita dua puluh delapan tahun tersebut senang bukan main.


"Mas, capek, ya." Melinda menyambut Candra ketika lelaki itu pulang kerja. Ia membawakan tas kerja dan jas ke kamar mereka. Perasaan seperti ini yang selalu ingin ia rasakan bersama dengan Candra.


Candra mengangguk kecil. "Masak apa tadi?" tanyanya tanpa menoleh. Ia tidak bisa mendiamkan istrinya lama-lama, dan selama ini Melinda sudah berusaha untuk membuat mereka kembali dekat, meski ia selalu menghindar. Kini waktunya ia yang mendekat kepada Melinda.


"Hanya balado ayam sama sayur asam, tapi enak kok. Aku jamin." Melinda meraih lengan suaminya. "Nanti makan bareng, ya. Aku juga belum makan sejak siang."


"Oke, aku mandi terus kita makan. Mama gimana perkembangannya?" tanya Candra ketika sampai di kamar. Ia melepas dasinya dan memberikan kepada Melinda.


Melinda mengingit bibirnya. Ia harus menjawab apa? Karena sama sekali Melinda tidak tahu tentang kondisi Rosa. Setiap ia ingin mendekat, Rosa mengusirnya. Dan begitulah setiap hari, Melinda hanya sesekali saja menengok dari depan pintu tanpa masuk ke kamar mertuanya.


"Mas, Mama gak diterapi aja apa? Biar lebih cepat sembuhnya gitu." Melinda mencoba memberi usul sekaligus mengalihkan pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh Candra.


Candra menghentikan langkahnya. Ia memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Melinda. Sepertinya tidak ada salahnya kalau mamanya diterapi. Tulangnya akan kaku jika hanya dipakai untuk tidur saja. "Boleh, besok aku bilang sama Mama agar mau diterapi."


Melinda tersenyum senang. Kalau benar mertunya berpura-pura, pasti akan menolak ketika akan diterapi.


Seperti janjinya, keesokan paginya Candra mengatakan kepada mamanya kalau ia akan memanggil dokter yang bisa datang ke rumah guna terapi untuk mamanya. Ia pun berjanji akan mencarikan dokter terbaik agar mamanya lekas kembali seperti semula.


"Mama gak perlu terapi, Nak. Mama akan pulih nanti lama-lama." Rosa menolak ketika akan dipanggilkan dokter terapi. Ia curiga kalau ide ini bukan murni dari Candra.


"Tapi demi kesembuhan Mama. Itu juga usulan dari Melinda. Biar Mama gak kaku tulangnya dipakai tiduran terus." Candra menoleh menatap istrinya. "Melinda sangat perhatian sama Mama, ya."


Rosa melihat Melinda. Hatinya kesal. Ia berjanji akan membuat Melinda kembali merasakan apa itu namanya penderitaan. Tak akan dibiarkan wanita itu menang dan bisa menguasai anak lelakinya. Sekarang mungkin bisa Melinda kembali mendapat perhatian Candra, tapi sebentar lagi, pasti akan dibenci kembali.


"Oh kalau begitu Mama menurut saja. Mama tahu Melinda pasti sangat ingin Mama sembuh kan?" Tentu saja ia harus tetap berpura-pura baik kepada Melinda di depan Candra.


"Iya, Ma. Melinda sangat sayang sama Mama, jadi ingin secepatnya Mama sembuh." Candra selalu memuji Melinda di depan mamanya.


Rosa mengangguk. "Oh iya, Mama ada pesan gaun di butik Cici. Bisa minta tolong nanti ambilkan di sana, Nak? Biar Candra yang ngantar nanti," pinta Rosa pada Melinda.


"Gaun, apa, Ma?" tanya Candra.


"Sebenarnya Mama pesan sudah lama, tapi baru jadi. Gaun untuk arisan, Nak."


Candra baru tahu kalau arisan saja ada dress codenya. Tapi ia hanya diam saja dan tidak bertanya lebih lanjut tentang arisan dan gaun itu.


Setelah Melinda bersiap-siap, Rosa dengan cepat memberi tahu Cici kalau Melinda akan mengambil gaun di butiknya. Tak lupa menyuruh Cici untuk membuat Melinda berada dalam masalah.


[Aku harus ngapain, Ma?] Cici bertanya lewat chat.


Cici memijat keningnya. Harus melakukan apa agar Melinda mendapat masalah seperti yang diharapkan oleh calon mertuanya? Lalu ketika Cici ingin bertanya lagi, sebuah ide muncul di otaknya. Dengan cepat ia menghubungi salah satu pegawainya di butik.


"Halo, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawainya.


Cici tersenyum licik. "Kamu di butik, kan? Gaun yang berwarna putih dan ada mutiara di bagian dada sobekin. Pakai gunting atau apa aja," perintah Cici pada pegawainya.


"Hah disobekin?" Pegawai itu bingung tidak tahu harus bagaimana. Gaun semahal itu masa disobekin. Sayang sekali ia rasa.


"Iya. Cepat kamu sobekin sekarang juga!" Cici menyuruh cepat agar sebelum Melinda sampai di butiknya, gaun itu sudah rusak. Ia masih di rumah ketika Rosa memberitahunya tadi.


Cici menutup panggilan telefon dan memberi tahu Rosa kalau ia sudah melakukan apa yang diminta oleh Rosa. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Pasti setelah ini Candra akan kembali kepadanya lagi.


Sedangkan Melinda yang sudah sampai di butik Cici segera masuk untuk mengambilkan gaun milik mertuanya.


"Ada notanya, Mbak?" tanya pegawai butik.


Melinda mengeluarkan nota dari tasnya. Nota itu diberikan Rosa tadi sebelum berangkat ke sini. Cici melihat koleksi gaun Cici yang mewah. Ia tahu pasti harganya tak murah.


Pegawai Cici mengambilkan gaun untuk Cici. Tapi baru saja ia ingin meninggalkan butik, terdengar keributan di dalam ruang ganti. Melinda mengurungkan niat untuk pergi dari sana, ia penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.


"Kenapa gaun saya bisa sobek seperti ini?" tanya seorang wanita yang Melinda tak tahu itu siapa.


"Saya tidak tahu, Bu. Saya juga baru lihat hari ini." Sebuah suara kembali terdengar. Kali ini dengan nada gemetar menahan takut.


"Saya gak mau tahu, gaun ini harus diganti."


Melinda membuka sedikit gorden yang membentang memisahkan ruang ganti dengan ruangan menunggu. Ia terbelalak ketika melihat gaun yang katanya sobek itu sangat mirip dengan yang dibawanya.


"Eh, ada apa, Mbak?" tanya Melinda pada pegawai butik.


"Gaunnya sobek, Bu." Pegawai itu takut-takut melirik Melinda.


"Ini modelnya sama dengan yang saya ambil ini, ya, Mbak?" tanya Melinda. Ia melihat sekali lagi model gaun di manekin, dan membandingkan dengan yang dibawanya. Sama persis, bahkan bahannya pun sama. Hanya beda di ukuran saja.


Pegawai itu mengangguk. "Iya, Mbak. Sama."


"Kok bisa sama? Bukanya gaun ini hanya saya dan Bu Rosa yang pesan?" tanya Yohana, si pemilik gaun yang sobek. Ia penasaran bagaimana bisa dresa code gengnya ada yang nyamain.


"Oh kebetulan sekali, ini memang gaun Bu Rosa." Melinda tersenyum.


Yohana baru paham. "Oh pantas sama. modelnya. Saya Yohana, kamu siapanya Rosa?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.