Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 12 Menawarkan diri


Candra meninggalkan ruang rawat mamanya untuk menebus obat di apotek. Di sana hanya ada Melinda yang menjaga Rosa.


Rosa langsung mengubah ekspresi wajahnya begitu Candra keluar dari ruangan itu. Malas sekali rasanya melihat Melinda berada di sana, tapi kalau ia mengusirnya secara brutal di depan Candra, pasti nanti image seorang mertua yang sayang pada menantu yang baru saja ia bangun akan hilang dan apa yang ia lakukan selama ini akan sia-sia.


Kali ini Rosa merasa kalau rencananya pasti berhasil. Candra akan membenci Melinda dan akhirnya mereka akan bercerai. Itu pasti.


"Ma udah makan?" tanya Melinda ketika melihat nasi dari rumah sakit masih utuh.


"Gak usah basa-basi, mending kamu pergi deh, kalau bisa yang jauh sekalian. Jauh dari Candra dan keluargaku. Dasar pembawa sial!" Rosa jijik melihat wajah miskin Melinda yang membuat anaknya semakin jauh dari dirinya.


Keputusannya beberapa saat lalu ternyata salah, ia membuat Melinda bertahan dan dirinya akan memberikan pelajaran pada wanita itu. Nyatanya kini justru membuat sang anak tetap menempel seperti prangko pada Melinda.


"Aku minta maaf kalau membuat Mama sakit dan patah tulang seperti ini, aku gak sengaja, Ma."


"Mau kamu sengaja apa tidak, yang jelas kamu sudah membuat aku tidak bisa bergerak bebas lagi. Memang lebih baik kamu pergi dari kehidupan kami, agar kami bisa hidup tenang tanpa kamu."


"Tapi aku istrinya Mas Candra, aku gak bisa pergi begitu saja kalau tidak diizinkan suami."


"Kalau begitu bercerai saja. Mau sampai kapan pun, sampai kamu bersujud dan meminta maaf beribu kali pun, aku tidak akan pernah menerima kamu di keluarga kami. Jadi sadar dirilah, sebelum aku menyadarkan kamu atas posisimu."


Mendengar ucapan Rosa, Melinda mendesah pelan. Bukankah saat itu dirinya sudah menawarkan diri untuk bercerai, tapi ditolak oleh sang mertua? Dan kini apa pun yang ia lakukan nampak salah di depan sang mertua. Bahkan untuk bernapas pun juga salah.


Melinda melihat Rosa berusaha menggapai air minum nampak kesusahan, dengan cepat Melinda mengambilnya dan memberikan kepada Rosa.


Bukannya menerima, Rosa malah menepis gelas itu hingga terjatuh pecah berserakan. "Gak usah berusaha menggambil hatiku, karena aku tidak akan pernah luluh dan menerimamu."


Melinda yang terkejut langsung mundur, tapi itu malah membuat kaki tanpa alas menginjak salah satu pecahan gelas. Kakinya tertusuk pecahan tersebut dan mengeluarkan darah, ia meringis menahan sakit.


"Sekali tidak tetap tidak, jadi tetaplah di posisimu dan jangan kelewatan." Rosa kembali bersuara sembari mendelik kesal.


"Aku hanya mau membantu Mama. Mama butuh orang untuk merawat Mama secara khusus, kan? Biar aku saja. Aku janji akan merawat Mama sepenuh hati." Melinda memohon di depan mertuanya tanpa memperdulikan penolakan sang mertua.


"Gak usah bermimpi kamu. Aku gak akan pernah mau dirawat oleh kamu. Mending Cici dan Candra, daripada disentuh oleh orang miskin seperti kamu."


"Ma, kenapa Mama tidak bisa menerima aku sedikit saja? Aku janji hanya merawat Mama saja, tidak lebih. Aku akan membuat Mama sembuh seperti sedia kala."


"Jangan mimpi!


Melinda mengusap air matanya yang entah sejak kapan keluar membasahi pipi. Ia tidak akan menyerah begitu saja, ia harus bisa meraih hati mertuanya dan membuat Candra memaafkan dirinya.


Setelah mencabut pecahan gelas yang menempel di telapak kakinya, Melinda mengambil tisu di meja dan membersihkan darah yang ada di lantai lalu memakai alas kaki yang sempat ia lepas tadi. Setelahnya, ia memanggil petugas kebersihan agar lantai yang basah karena air dan banyak pecahan gelas dibersihkan sebelum Candra datang.


Hingga ruangan itu bersih, Rosa masih bersikap acuh tak acuh, ia hanya sibuk berbalas pesan dengan Cici dan menyuruh gadis itu untuk datang kembali ke rumah sakit.


"Ma, Mama mau makan? Aku suapin, ya?" tawar Melinda lagi.


"Sudah aku bilang, jangan sok baik! Aku gak sudi diurus sama kamu. Mendingan kamu pergi dari sini daripada aku semakin sakit!" usir Rosa.


Melinda menarik napas. "Iya nanti aku akan pergi kalau Mas Candra sudah kembali, Ma."


"Ma aku ke sini bersama Mas Candra, kalau nanti dia mencari ku bagaimana?"


"Aku gak peduli, karena yang aku pedulikan hanya kamu segera pergi dari hidup kami."


Melinda mengambil tas di kursi dan berniat untuk keluar dari ruang rawat mertuanya. Ia memilih mengalah daripada akan mendapat masalah kembali. Ketika sampai di pintu, dari arah luar Cici masuk.


Dua wanita yang sama-sama mencintai Candra itu bersitatap. Cici tersenyum sinis, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan. Bahunya sengaja disenggolkan ke bahu Melinda.


"Halo, Tante," sapa cici.


Rosa tersenyum. "Suapin tante, ya. Pengen makan," pintanya.


Melinda menghela napas. Sabar. Ia harus sabar. Padahal sejak tadi ia sudah menawarkan mertuanya untuk makan, tapi tidak mau dan malah mengusirnya. Tapi ketika Cici datang, tanpa ditawarkan saja ia sudah meminta.


"Loh Melinda gak mau nyuapin Tante apa? Kok nunggu aku datang makannya?" sindir Cici. "Padahal kan menantunya Melinda bukan aku."


"Bukan gak mau, tapi gak sudi tante disuapin dia."


Melinda mengusap air matanya lagi. Kalau diingat-ingat, semenjak menjadi istri Candra ia lebih banyak menangis daripada tersenyum.


Melinda masih di pintu, ketika Candra selesai menebus obat. Ia melihat istrinya yang menangis diam-diam. Pikir Candra Melinda menyesali atas kejadian hari ini, jadi ia membiarkan saja Melinda di sana dan tidak menyapanya. Candra langsung masuk menemui sang ibu.


"Nak, tadi Mama suruh Melinda pulang dan menjaga rumah. Biar dia gak kecapekan, kasihan kalau harus menjaga Mama, padahal kalian baru promil, kan?" Rosa menatap anaknya.


Cici yang ada di sebelah Rosa menyuapkan nasi ke mulut Rosa. "Maaf, Mas tadi tante minta aku ke sini untuk menjaga tante."


"Iya Mama yang minta Cici ke sini. Biar Melinda banyak istirahat saja, dan kamu menjaga Mama bersama Cici di sini."


Candra mengangguk. Ia tak peduli siapa yang akan menjaga mamanya, yang penting mamanya harus sembuh. Dengan adanya Cici yang membantunya, itu akan lebih baik, karena nantinya biar Melinda yang mengawasi rumah.


"Gak masalah, yang penting Mama cepat sembuh." Candra meletakkan obat di atas meja. "Abis makan obatnya diminum, ya, Ma. Aku nganter Melinda pulang dulu."


"Loh kamu mau ke mana? Kamu di sini aja, nanti kalau Mama mau ke kamar mandi gimana? Cici kan gak kuat ngangkat Mama," Rosa menghalangi Candra agar tidak mengantar Melinda.


"Iya, Mas. Kan ada taksi atau ojek, Mbak Melinda pasti bisa pulang sendiri. Di depan rumah sakit banyak ojek kok." Cici ikut bersuara.


Melinda tak tahan lagi. "Iya, Mas. Mas Candra menjaga mama saja, aku pulang naik ojek." Ia segera meninggalkan ruang rawat mertuanya sebelum lukanya bertambah lebar.


Apa Candra tidak ingat kalau ia ke sini tidak membawa apa-apa selain nyawa? Uang pun sama sekali tidak ada, bagaimana bisa Candra membiarkannya pulang sendiri?


Melinda luruh. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok dan meremat dadanya. "Kenapa hidupku jadi seperti ini, Tuhan?" keluhnya.


Ia menunggu beberapa menit, berharap Candra sadar dan menyusulnya untuk mengantarkan pulang ke rumah. Tapi sampai suster menemukannya dan membantunya berdiri, Candra sama sekali tidak keluar menyusul dirinya.


"Mbak, apa yang sakit? Kita periksa dulu?" tanya Suster.


Melinda menggeleng. "Gak ada, Sus. Tapi bolehkan saya meminjam uang dua puluh ribu untuk pulang, nanti akan saya ganti setelah mengambil dompet yang tertinggal di rumah."