
Apa yang bisa dilakukan Rosa? Meskipun tekadnya sudah bulat tetap saja kendala akan selalu ia dapatkan, sepertinya memisahkan Melinda dan Candra itu seperti memisahkan gigi dengan karang-karangnya, susah-susah gampang.
Wanita paru baya itu duduk menyendiri di sofa ruang tamu, sejak teleponan dengan Cici para pembantu dan satpam sudah membubarkan diri. Bi Mina juga sudah membersihkan pecahan guci dan kini rumah itu terlihat bersih mengkilat lagi.
"Hem ... rencana apa yang bisa aku buat untuk memisahkan mereka?"
Dalam hidup Rosa tidak ada yang namanya kegagalan, jadi saat dirinya sudah memiliki tujuan harus tercapai. Ya, saat ini tujuannya untuk memisahkan anak dan menantunya itu, tidak boleh gagal lagi dan lagi.
Rosa ingat apa yang dikatakan Cici saat di telepon tadi.
"Mama belum ada ide yang jitu. Tapi Mama benar-benar ingin bandit itu segera melepaskan anak Mama," ujar Rosa berbicara dengan Cici melalui alat telekomunikasi masa kini.
"Sepertinya kita harus bersikap tenang terlebih dahulu dan jangan gegabah sampai kita memiliki satu rencana dalam satu gerakan dapat memisahkan mereka," ungkap Cici.
Satu rencana dalam satu gerakan? Rosa mengulang-ulang kalimat itu. Jika rencana mengancam dan memperbudak bahkan berakting, semua gagal. Lalu apa yang dimaksud Cici dengan rencana dalam satu gerakan itu? Apa kini menantu idamannya itu menyarankan agar dirinya menikam Melinda hingga mati?
Dalam hidup Rosa yang mencapai 50 tahun ini ia sama sekali tidak pernah menghilangkan nyawa seseorang, haruskan saat ini ia lakukan?
Merasa frustasi, Rosa mengalihkan perhatiannya pada layar televisi. Sesekali ia juga terus mengganti canel itu untuk mencari tontonan yang bisa menghibur dirinya.
Perceraian artis berinisial TA kini sudah menemui titik terang. Sang istri berselingkuh dengan sahabat masa SMA nya membuat TA tak lagi bisa mempertahankan rumah tangga yang sudah dirajut selama 17 tahun.
"Dasar wanita apa coba kurangnya TA ini sampai-sampai selingkuh," gumam Rosa ikut kesal saat mendengar berita yang baru saja disiarkan salah satu stasiun televisi.
"Tapi tunggu, selingkuh? Perceraian?" Rosa langsung menjentikkan jarinya sepertinya ide berlian tiba-tiba melintas di benaknya.
Rosa langsung mengambil gawai, menekan kembali nomor Cici guna memberitahukan idenya barusan. Tentu saja tidak membutuhkan waktu lama telepon itu kembali tersambung.
"Iya, Ma. Ada apa lagi?" tanya Cici dari seberang sana. Sebab ia tengah sibuk dengan butiknya. Jika bukan calon mertua tentu saja ia sudah mengomel tidak akan ada habisnya.
"Kamu sibuk, Sayang. Maaf Mama kembali menelpon. Mama sudah tidak bisa menahan lagi untuk tidak menghubungi dirimu karena Mama sudah memiliki rencana," jelas Rosa.
'Kalau rencana itu tidak berkualitas malas sekali aku membantunya. Tapi aku harus sabar ini demi Candra dan status menantu keluarga Pagalo. Jika aku bisa mendapatkan semua itu maka hidupku sudah sempurna,' batin Cici.
Cici pura-pura tertawa dan senang saat mendengar Rosa memiliki rencana, "Lalu apa rencana Mama?"
Rosa menelan ludahnya secara kasar sebelum ia menceritakan rencananya pada Cici, "Jadi gini kita buat skenario perselingkuhan."
"Skenario perselingkuhan?" ulang Cici yang tak paham.
"Iya, Sayang. Lagi pula banyak artis yang cerai karena perselingkuhan dan apa salahnya kita coba," ungkap Rosa.
"Ma, memang selama ini apa yang kita lakukan? Kita sudah membuat Melinda tau jika Candra selingkuh denganku, tapi apa hasilnya gagal! Apa kita harus mengulangi kesalahan yang sama?" Cici tidak menyetujui ide dari Rosa.
"Sayang dengarkan Mama dulu. Kali ini bukan Candra yang selingkuh, tapi Melinda."
Cici dibuat semakin tidak paham dengan rencana Rosa. Melinda selingkuh? Itu adalah hal yang sangat mustahil, coba wanita mana yang sekarang mau menduakan Candra yang begitu sempurna? Hanya wanita bodoh saja.
"Ma, rencana itu aku kira sangat mustahil," jawab Cici dengan intonasi rendah meskipun ia begitu kesal.
"Maka dari itu Mama bilang kita harus membuat skenario. Anggap saja kita ini adalah penulis naskah, dan tokoh yang harus kita mainkan adalah Melinda dan lelaki baru ini. Ingat Sayang, jika Melinda masih bisa berpikir jernih untuk mencerna setiap masalah, belum tentu Candra bisa kan? Mama sangat tau anak Mama itu gampang tertipu, gelap mata, dan bisa kita kompori,"
Bola mata Cici berbinar, dia sudah salah menganggap calon mertuanya ini bodoh. "Mama ini ide sangat berlian. Oke, aku akan mencari lelaki itu."
Manusia itu tidak ada yang sempurna, tentu saja dibalik setiap kesempurnaan yang ditunjukkan akan ada yang namanya satu titik kelemahan.
***
Di sisi lain, Melinda dan Candra kini duduk di bangku pasien. Jantung keduanya berdetak kencang tak beraturan, menunggu hasil pemeriksaan medis yang kini dijalani Santoso.
"Mel, kamu tenang saja. Semua pasti akan baik-baik saja." Candra berusaha untuk menenangkan sang istri, tangan keduanya juga tak lepas dari tautan.
"Kamu minta aku tenang, Mas. Padahal kamu juga cemas kan?"
Candra tersenyum canggung. Meskipun Santoso hanyalah ayah mertua, tapi Candra sudah pernah mengalami rasanya kehilangan seorang ayah, jadi saat berada dalam posisi seperti ini ia kembali teringat dengan kejadian 5 tahun yang lalu, di mana sang ayah meninggal karena gagal jantung.
"Keluarga pasien Santoso," suara suster itu langsung membuat Candra dan Melinda beranjak dari tempat duduk dan menghampiri sumber suara.
"Ya, sus. Kami keluar dari pasien Santoso, jadi keadaan Ayah saya bagaimana?" tanya Melinda harap-harap cemas.
"Silahkan masuk terlebih dahulu, Pak, Bu. Dokter akan menjelaskan keadaan pasien," ucap perawat itu.
Melinda dan Candra menganggukkan kepala keduanya kini masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Malam Dok, jadi bagaimana keadaan Ayah mertua saya?" tanya Candra mewakili sang istri.
Dokter itu berdehem sebentar, tangannya mengambil hasil foto rontgen lalu mengangkat ke udara mencari cahaya terang guna membaca hasilnya.
"Jadi gini, Pak. Pengobatan selama enam bulan sudah gagal, awalnya TBC yang di derita Pak Santoso ini tidak terlalu memerlukan perawatan, namun saat ini TBC sudah menjadi TBC paru dan memerlukan perawatan khusus. Jadi saya sarankan agar Bapak dan ibu, menempatkan Pak Santoso di ruang isolasi agar penyakitnya tidak menular," jelas sang dokter.
"Apa Dok? TBC paru, perlu perawatan khusus?" ulang Melinda.
Harusnya hal itu tidak menjadi beban Melinda, kesembuhan sang ayah adalah nomor satu. Namun, tetap saja perawatan khusus membutuhkan dana yang tentunya tidak sedikit. Darimana ia bisa mendapatkan uang itu?
Candra yang melihat Melinda langsung menggenggam tangan sang istri, lelaki itu sepertinya tahu apa yang kini tengah dipikirkan Melinda.
"Dok, lakukan apa saja agar Ayah mertua saya bisa sembuh," ucap Candra yang langsung membuat Melinda menoleh ke arahnya.
"Mas!"
"Kita bahas ini nanti, yang penting kesembuhan Ayah nomor satu," ucap Candra.
"Baik, silahkan untuk mengisi prosedur rumah sakit. Kami segera memberikan perawatan pada Pak Santoso," sela sang dokter yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Candra.
Setelah berbicara dengan dokter, Candra membawa Melinda keluar dari ruangan itu.
"Mas, darimana kita bisa mendapatkan biaya pengobatan Ayah? Perawatan khusus itu memerlukan biaya banyak," protes Melinda yang kini masih kebingungan.
"Mel, kamu tenang saja. Apa kamu lupa siapa suamimu ini?" Candra percaya diri mengingatkan sang istri akan dirinya.
"Aku tau, Mas. Tapi apa kamu lupa jika kita saat ini tidak memiliki apapun?"
Kepercayaan diri Candra berangsur-angsur meredup. Ya, dirinya melupakan satu hal. Jika selama ini dia bekerja siang malam untuk keluarga Pagalo tanpa menerima imbalan satu sen pun. Bahkan di dompetnya saat ini mungkin hanya ada uang beberapa ratus lembar saja.