
Rosa terdiam, ia melirik ke arah Cici guna meminta dukungan lewat tatapan matanya. Tapi sampai beberapa saat, Cici tetap diam.
"Ini makan malamnya, Ma. Dan obat serta uangnya dibawa Cici. Aku langsung ke kamar aja, ya, Ma. Biar nanti aku dan Melinda makan di kamar aja." Candra tersenyum sebelum meninggalkan ruang tamu. Ia tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan istrinya kalau dipaksa tetap berada satu tempat bersama dengan mamanya.
Bukan Candra tidak percaya kalau mamanya sudah berubah, tapi ia hanya berjaga-jaga saja.
Setelah sampai di depan kamarnya, Candra membuka pintu. Ia mengeryitkan dahi saat melihat pintu kamarnya yang seperti baru saja dibuka. Sebelum pergi, ia meninggalkan sandal kamarnya di tengah pintu, tapi ketika kembali, sandal itu sudah berpindah, yang di dekat dinding, sedangkan yang kiri entah di mana.
"Mel, kamu udah tidur?" tanya Candra.
Melinda yang tidak sadar kalau suaminya sudah pulang segera mengusap air matanya. Ia menoleh dan tersenyum. "Belum."
Candra ingin bertanya tentang mata Melinda yang sembab, tapi ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam saja. Nanti setelah makan biar ia selesaikan apa yang harus di selesaikan.
"Sini makan dulu."
Melinda mendekat, ia duduk di depan suaminya melihat apa yang dibawa oleh lelaki itu. "Wah, kamu beli lele? Ada sambal mentahnya, enggak?"
"Ada dong. Kan aku ingat kesukaan kamu, jadi sengaja tambah sambal tadi."
Mereka makan dalam diam, tapi Candra berkali-kali melirik Melinda yang terus saja mengusap air matanya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan Melinda menangis, tapi apapun itu pasti ada hubungannya dengan mamanya.
Selesai makan, Candra memasukkan pakaiannya dan milik Melinda ke dalam ransel hitam yang tadi dipakai mereka.
"Loh Mas mau kemana malam-malam begini?" Melinda yang baru keluar dari kamar mandi heran melihat suaminya sudah rapi dan tas sudah terisi pakaian lagi.
"Kita tidur di hotel aja, yuk!" ajaknya.
"Loh kenapa? Kamu disuruh pergi?"
Candra menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku pergi tadi, tapi pasti itu bukan sesuatu yang baik karena kamu terus menangis. Sandal kamar yang aku taruh di tengah pintu juga bergeser, tanda ada yang masuk ke kamar ini selama aku pergi." Candra menarik napas, ia memperhatikan perubahan wajah Melinda.
"Jadi aku mau ngajak kamu tidur di hotel saja biar kamu tenang dan nyaman. Besok pagi kita bisa kembali ke sini, jadi kamu tidak perlu tidak enak hati."
Melinda tidak tahu kalau suaminya sepeka itu, padahal ia sudah berusaha untuk menyembunyikan wajahnya agar Candra tidak tahu tentang apa yang terjadi tadi.
"Tapi kamu gak apa-apa ninggalin Mama sendiri? Dan kita juga punya masalah, uang yang ada mungkin tidak akan cukup."
"Kan ada Cici, jadi aku tidak perlu khawatir tentang mama. Yang aku khawatirin sekarang itu kamu, Mel. Kamu yang harus aku prioritaskan sekarang. Untuk masalah uang kita bisa cari hotel yang murah saja, bagaimana?"
Melinda mengambil jaket. "Oke, kita pergi."
"Gak usah pamitan sama Mama, besok kita kembali lagi ke sini. Aku yang akan jelasin nanti."
Mereka berdua pergi ke hotel yang terdekat dan murah untuk menginap malam itu. Rencananya besok pagi sekali mereka akan kembali, jadi Rosa tidak tahu jika malam ini mereka tidak ada.
Tapi rencana tinggal rencana, karena terlalu lelah, mereka bangun kesiangan. Sedangkan di rumah Keluarga Pagalo, Rosa menyuruh semua pekerja di rumahnya untuk mencari Candra dan Melinda. Pagi hari ketika ia bangun, ia sudah tidak menemukan anaknya di rumah.
"Cari mereka. Aku tidak mau tahu, cari sampai dapat." Rosa takut kalau Candra tidak kembali lagi ke rumah ini dan memilih Melinda.
"Sepertinya Melinda yang membuat Mas Candra meninggalkan rumah ini, Ma. Jadi kita harus segera menyingkirkan Melinda terlebih dahulu." Cici geram, ia baru mau dekat dengan Candra, tapi malah ditinggalkan begitu saja.
Rosa baru mau menjawab, tapi satpam datang dengan membawa satu orang tetangga mereka. "Permisi Nyonya, semalam bapak ini melihat kalau Tuan Candra dan Nona muda keluar dari rumah membawa tasnya."
Cici ikut kesal. "Kan bener, pokoknya kita tidak boleh menunda lagi rencana kita. Aku gak mau kehilangan Mas Candra lagi, padahal kami baru dekat tadi malam setelah lama dia pergi loh."
Rosa setuju. "Ya sudah kamu segera hubungi lelaki itu. Tapi sebenarnya kita harus cari dulu di mana mereka dan menyuruh mereka pulang."
Cici meminta orang untuk mencari keberadaan Candra sekarang dan tak menunggu lama, mereka menemukan kalau Candra dan Melinda ada di sebuah hotel.
"Jadi apa yang harus kita lakukan, Ma?" tanya Cici tak sabar. "Melinda semakin menjauhkan Mas Candra dari kita."
"Kamu sudah menghubunginya kan, lalu apa kata dia?" tanya Rosa pada Cici.
"Sudah Ma, katanya ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Melinda." Cici memberikan laporan pada Rosa.
"Lalu apa lagi yang mau di tunggu. Segera suruh dia kemari."
"Iya. Aku akan menjemputnya." Cici keluar dari kamar Rosa untuk pergi menjemput laki-laki dari masa lalu Melinda.
Tak berselang lama dari Cici pergi, Candra dan Melinda kembali ke rumah. Mereka langsung menuju ke kamar Rosa.
"Ma." Candra mendekati mamanya yang sedang membaca buku.
Rosa menoleh. "Loh kalian dari mana?" tanyanya mencoba ramah dan tidak mau membuat Candra semakin membencinya.
Melinda menoleh melihat Candra, ia meremas tangan lelaki itu.
"Semalam Candra tidak bisa tidur, Ma. Jadi kami memutuskan untuk menginap di hotel." Candra mencoba menjelaskan dengan pelan.
Rosa mengangguk. "Lain kali bilang, jadi mama gak khawatir."
"Maaf, Ma. Aku yang ngajak Mas Candra pergi." Melinda menunduk.
"Besok lagi kamu harus bisa menahan diri, aku tahu kamu gak suka sama aku, tapi jangan memprovikasi Candra. Dia itu anakku. Ya udah, sekarang kalian ke kamar sana. Istirahat."
Candra ingin menyangkal kalimat mamanya, tapi Melinda mencegahnya agar tidak menjadi keributan.
Candra menarik tangan istrinya. "Kamu kenapa bilang gitu?" tanyanya.
"Biar Mas Candra gak disalahkan. Kita nginep di hotel kan emang karena aku. Jadi aku yang harus tanggung jawab, bukan Mas."
"Ya udah, yang penting kalau ada apa-apa kamu cerita, jangan dipendam seperti semalam, ya."
Melinda mengangguk. "Iya, Mas. maaf."
Candra lega, ia berhasil menunjukkan kepada Melinda kalau ia bisa diandalkan dan akan melindungi wanitanya dari siapapun, termasuk mamanya. Ia mungkin sedikit keterlaluan, tapi jika tidak begini, maka wanitanya akan menderita seperti sebelumnya.
"Ya udah Mas Candra nemenin Mama dulu sana! Aku ke dapur buat nyiapin makan siang nanti." Melinda mendorong tubuh suaminya agar mau masuk ke kamar mamanya.
"Oke. Jangan lupa kalau ada apa-apa cerita, ya. Awas kalau sampai aku tahu dari orang lain!" ancam Candra pada istrinya.
Melinda tersenyum jenaka. "Cie yang khawatir sama aku."
Baru saja Melinda memutar tubuhnya menuju ke dapur suara seorang lelaki mampu menarik perhatiannya.