
Candra berusaha menenangkan hati sang istri agar tidak terlalu risau memikirkan keuangan. Sebagai lelaki ia akan bertanggung jawab.
"Mel, kamu tenang saja aku pasti akan mencari pekerjaan agar bisa membantu biaya pengobatan Ayah." Candra mengusap pucuk kepala Melinda.
Melinda tahu persis mencari pekerjaan di kota ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, ia tidak ingin menghancurkan keyakinan sang suami lebih baik mendukung keinginannya.
"Terima kasih, Mas. Aku tidak tau harus berbuat apa jika tidak ada dirimu," ungkap Melinda.
"Tentu Sayang. Aku akan selalu ada di sampingmu dalam keadaan senang maupun duka. Ya sudah kita kebagian pendaftaran rawat inap agar Ayah segera diberikan pengobatan." Candra menuntun sang istri menuju ke arah pendaftaran rumah sakit. Setiap prosedur sudah dijalani dan kini Candra dan Melinda sedikit lebih tenang.
Hari berlalu begitu saja, sesuai janjinya Candra mencari pekerjaan. Namun, sayangnya tidak ada perusahaan yang mau menerima dirinya yang pada dasarnya hanya punya pengalaman di peternakan. Di kota ini mencari pekerjaan seperti mencari jarum ditumpukkan jerami.
Candra pernah melihat ada peternakan terbesar di Bogor dan ingin bekerja di sana, tapi sayangnya tidak diterima dengan alasan tidak membutuhkan pegawai baru.
"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan?" gumam Candra yang kini sudah mulai putus asa.
Matahari sudah semakin meninggi, perutnya yang tadi hanya berisi kopi dan beberapa sendok nasi goreng kini mulai minta diisi kembali.
"Jika aku pulang tanpa membawa kabar baik, apakah Meli akan menerimanya? Dia sudah berharap aku pulang mendapatkan pekerjaan, selain untuk makan juga untuk tambahan biaya pengobatan Ayah Santoso," ucap Candra mendesah berat. Saat ini ia sudah tidak memiliki apa-apa, mobil yang ia bawa sudah terjual berikut dengan ponsel untuk biaya pengobatan mertuanya.
Candra berjalan lunglai menyusuri trotoar. Ia berharap disisa tenaga yang ia miliki keajaiban akan datang menghampirinya.
Cukup lama Candra berjalan, tetapi semesta seolah ingin mengujinya. Kabar baik itu belum datang. Di sepanjang jalan yang ia lihat hanyalah bangunan tinggi nan megah. Namun, tak ada secuil kertas pun yang menginformasikan kalau perusahaan itu membuka lowongan.
Di trotoar jalan, kini Candra memutuskan untuk menghentikan perjalanannya. Ia beristirahat sebentar agar perutnya yang mulai keroncongan bisa mereda. Namun, nyatanya ia salah. Perutnya justru sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
Candra meringis kecil. Rasa nyeri di perutnya terasa menyiksa. Dirogohnya kantong berharap ada uang yang masih terselip di sana.
Bola mata Candra berbinar seakan ia mendapatkan sebuah undian kala tangannya merasakan sebuah lipatan kertas kecil di saku celananya dan benda pipih berbentuk lingkaran.
"Cukup untuk membeli minuman penunda lapar, dan sisanya bisa aku belikan obat penurun asam lambung," ucap Candra sembari menatap uang yang baru ditemukannya. Nominalnya memang terbilang kecil, hanya berjumlah dua lembar dengan angka dua, dan satu uang koin berwarna perak.
Candra bergegas bangkit. Ia langsung mencari warung kecil untuk membeli apa yang ia butuhkan, dan uangnya masih tersisa koin berwarna perak.
Seperti semilir angin di padang tandus. Kerongkongan Candra kini terasa segar kembali saat minuman penunda lapar itu masuk ke dalam rongga mulutnya.
"Haaaaah." Helaan napas panjang lolos begitu saja dari bibir Candra. Dengan asupan yang tak seberapa itu, ia kembali memaksakan kakinya untuk berkeliling mencari rezeki.
Di saat seperti ini Candra mengingat Rosa—sang ibu, sejak kecil dirinya tidak pernah mengalami kesulitan seperti ini. Haruskah dia kembali dan memohon untuk diberikan uang? Dalam sekejap Candra langsung menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin sang istri mendapatkan masalah lagi.
Dengan napas berat Candra kembali berjalan lagi-lagi kesabaran Candra masih diuji. Ia sudah berkeliling jauh dan nyatanya ia tidak mendapatkan apa yang ia cari. Akhirnya Candra memutuskan untuk pergi ke pasar.
"Di sana aku bisa menjadi kuli panggul, tubuhku masih kekar dan kuat. Setidaknya aku bisa membawa uang untuk membeli beras," gumam Candra perlahan melangkahkan kakinya menuju pasar.
Candra dengan senang hati mengangkat tumpukan karung beras yang bisa ditafsir satu karung berisi lima puluh kilogram beras.
'Ternyata rezeki mu ada di sini,' batin Candra sembari menyunggingkan senyum tipis khas miliknya.
Lelah, dan haus sudah pasti Candra rasakan. Namun, saat ia mengingat senyum sang istri yang akan menyambutnya saat tiba di rumah membuat ia kembali bersemangat. Penderita ini belum seberapa dengan apa yang sudah Melinda rasakan saat berada di rumahnya.
"Pak ini sudah selesai," ucap Candra seraya mengelap keringat di dahinya.
"Aku suka dengan pekerjaanmu, nama kamu siapa? Sepertinya aku baru melihat dirimu." Pria tua yang ditaksir berumur lima puluhan tahun itu menyeringai lebar ketika melihat gudang miliknya telah penuh dengan karung beras.
"Candra, Pak. Nama saya Candra."
"Ini bayaran untukmu!" Pemilik gudang memberikan Candra uang berjumlah lima puluh ribu untuk memanggul dua puluh karung beras, meskipun tidak sebanding dengan tenang yang ia keluarkan, tapi Candra merasa sangat senang, baru kali ini ia bisa mendapatkan uang dari jerih payahnya tanpa ada embel-embel nama sang ibu.
"Terima kasih, Pak." Candra menganggukkan kepalanya, setelah berbasa-basi sedikit ia langsung pamit undur diri.
"Besok kamu bisa datang kemari lagi."
"Baik, Pak," sahut Candra lantas berlalu pergi.
Kesenangan Candra nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh wanita paru baya yang sejak tadi membuntuti Candra.
"Sialan, aku membesarkan anakku dengan penuh kasih sayang dan harta melimpah, dan kini ia justru seperti orang tak berguna?" umpatnya.
Rosa kini baru saja mengetahui keberadaan sang anak setelah ia menelepon ponsel Candra yang nyatanya orang lain yang mengangkatnya. Awalnya ia tidak peduli dan akan menunggu Candra memohon dengan sendirinya untuk pulang dan dia akan bersikap seolah akan menerima anak dan menantunya dengan tangan terbuka, agar apa yang direncanakan dengan Cici berjalan dengan sempurna. Namun, melihat keadaan seperti ini apa ia akan diam saja?
"Jalan, kita pura-pura menabraknya," perintah Rosa.
"Ta—tapi Nyonya, jika Tuan Candra terluka bagaimana?" tanya sang supir.
"Apa kamu bodoh? Jangan terlalu kencang menabraknya. Ingat ya jika dia sampai terluka kepalamu yang akan aku penggal!" ancam Rosa.
Supir itu menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa menabrak tapi tidak terluka? Dia berpikir jika sang majikan ini terlalu banyak menonton acara televisi.
"Bengong lagi, jalan!" perintah Rosa saat melihat Candra sudah berjalan terlalu jauh.
"Ba ... Baik Nyonya." Supir itu perlahan-lahan menjalankan mobilnya ia juga mulai meminggirkan mobil itu agar menyentuh tubuh Candra yang kini fokus pada selembaran uang di tangannya.
Brukkk!