Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
bab 43


Mobil yang ditumpangi Rosa berhenti di depan sebuah kos-kosan sederhana. Ia sudah mencari Melinda di rumah ayahnya, tapi tidak menemukan wanita itu di sana, dan dari orang yang ditugaskan mencari keberadaan Melinda, sekarang menantunya itu tinggal di kos-kosan seorang diri.


Ayah Melinda bahkan tidak tahu jika Candra sudah mengusir anaknya. Itu berarti Melinda menyembunyikan semua kesedihannya sendiri kan?


Rosa mengusap air matanya, ia turun dari mobil dan berjalan ragu ke kosan kecil itu. Apa nanti dirinya akan diterima oleh Melinda? Atau malah nantinya akan diusir. Ia pasrah saja.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum." Rosa mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Jantungnya berdetak lebih kencang daripada sebelumnya. Ia tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini, di mana dirinya harus memohon kepada menantu yang selama ini ia benci untuk kembali bersama anaknya.


Ditunggunya lima menit, tapi tidak terbuka juga pintu di depannya. Rosa mengetuk untuk kedua kalinya.


Tok tok tok.


"Mama." Dari arah belakang, Melinda tertegun melihat mertuanya berada di depan ruangan kecil tempat ia bernaung setelah diusir dari rumah suaminya.


Rosa menoleh. "Melinda." Ia langsung berlari dan menubruk kaki menantunya. "Maafin mama, Mel. Maafin semua kesalahan mama." Tangisnya tak lagi bohong sekarang.


"Mama kenapa?" Melinda tidak enak hati. Tetangga kosannya keluar demi melihat apa yang terjadi di luar.


"Mama yang salah. Mama yang menjebak kamu. Maafin mama." Ia terus saja bersujud di kaki Melinda.


"Ma, berdiri dulu, jangan seperti ini. Kita bicara di dalam saja, ya." Melinda memeluk mertuanya dan mengajaknya ke dalam kosan.


"Enggak, mama gak pantas duduk berdua bersama kamu. Mama minta maaf."


"Iya, Ma. Iya." Melinda tersenyum cangung kepada tetangga kamarnya. Ia menjadi pusat perhatian saat ini.


"Kamu maafin mama, Mel?"


Melinda mengangguk. "Kita masuk dulu, ya." Rosa berdiri dan ikut menantunya masuk ke kosan berukuran tidak lebih lebar dari kamarnya itu.


Meski sempit, tapi di dalamnya cukup rapi, karena memang Melinda sangat rajin beberes.


"Mel, mama menyesal telah bekerja sama dengan Cici untuk memfitnah kamu. Mama berdosa, Mel. Kamu boleh nampar mama, kamu boleh marahin mama."


"Enggak, Ma. Aku gak marah sama mama." Melinda bingung, ia harus bagaimana menghadapi situasi seperti sekarang, karena tidak pernah terpikir di dalam benaknya, ia akan didatangi oleh mertuanya.


"Mama yang buta dan tidak bisa melihat kebaikan kamu. Sekarang Candra sakit, Mel. Antara hidup dan mati, mama enggak tega."


Melinda menoleh cepat. "Mas Candra sakit apa, Ma?" Ia khawatir, biasanya setiap Candra sakit, pasti selalu bergantung kepadanya, tapi kalau ia sudah tidak bersama Candra, siapa yang mengurusnya sekarang?


"Entahlah, sudah tiga minggu gak mau makan, sekarang diinfus agar ada asupan makanan ke tubuhnya. Dia menyesal karena sudah mengusir kamu. Mama juga menyesal, Mel. Jangan salahkan Candra karena hal ini, karena semua perbuatan mama yang ingin kalian pisah."


Melinda pada dasarnya perempuan pemaaf, meski ia disakiti bagaimana juga, ia akan memaafkan dengan tanpa syarat. Sebaik itu Melinda padahal, tapi masih saja ada orang yang tidak suka kepadanya.


"Melinda tidak yakin Mas Candra mau menerima Melinda lagi, Ma."


"Enggak, Candra pasti menerima kamu." Rosa menggenggam tangan menantunya. "Kamu pulang ke rumah, ya!"


Melinda bersiap setelah Rosa berkali-kali meminta maaf dan mengatakan penyesalannya. Mertuanya juga berjanji akan selalu sayang kepada Melinda dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Sementara Melinda bersiap, Rosa dengan supirnya pergi menemui Cici. Ia juga akan meminta gadis itu agar tidak lagi mendekati Candra, karena kebahagiaan Candra hanya bersama dengan Melinda saja.


Untuk Melinda pulang ke rumah, Rosa sudah meminta orang untuk menjemputnya. Jadi ia akan menyelesaikan semua masalah yang ia timbulkan hari ini juga. Takutnya, nanti ia terlambat dan tidak lagi bisa menyelamatkan Candra.


Dilihatnya Cici sedang fitting baju pengantin. Sendirian, karena memang dari awal Cici yang menyiapkan pernikahan ini. Rosa berjalan masuk ke butik gadis itu, ia tidak langsung masuk seperti biasanya, tapi meminta staf butik memanggilkan Cici.


"Hah? Mama Rosa ke sini?" Cici antusias ketika mendengar kalau Rosa mendatanginya di butik. Ia segera melepas gaun pengantin dan menemui calon mertuanya tersebut.


Rosa memantapkan hati, ia sudah menyusun kalimat yang akan diucapkan kepada Cici nantinya.


"Loh mama kenapa ke sini gak bilang-bilang?" Cici langsung memeluk Rosa, tapi ia bingung ketika pelukannya ditolak oleh calon mertua. "Ma, ada apa?"


"Duduk dulu! Tante mau bicara." Rosa meletakkan tasnya di samping tempat ia duduk.


"Tante? Mama kenapa sih?" Cici merajuk. "Kok sekarang jadi aneh."


"Gak ada yang aneh, Ci. Seharusnya memang dari awal Tante tidak melakukan ini. Jadi Tante hanya mau bilang sama kamu, perjodohan ini tidak dilanjutkan. Candra tidak bisa menikah dengan kamu."


"Apa-apaan ini?!" Cici berdiri dari tempatnya duduk. "Gak bisa gitu dong. Kan mama sendiri yang mau aku menikah sama Mas Candra. Kok sekarang dibatalkan gitu aja."


"Maaf, Ci. Tante memang salah, tante memang egois dan gak punya hati, tapi semua ini tante lakukan untuk Candra. Semakin hari Candra semakin tidak punya semangat hidup, bahkan setelah mendengar kalau besok seminggu lagi mau menikah dengan kamu, dia tidak bereaksi apa-apa. Sekarang Candra harus diinfus untuk memasukkan nutrisi ke tubuhnya, tante gak bisa melihat dia seperti itu!" Rosa menangis, mengingat kembali dosanya selama ini pada Candra.


"Tapi pernikahan ini sudah 90% siap, dan tante membatalkan begitu saja? Gak bisa! Mau bagaimanapun aku harus menikah dengan Mas Candra."


"Please, Ci. Tolong kamu ikhlaskan Candra bersama kembali dengan Melinda. Tante takut Candra semakin tertekan sampai di meninggal dengan membawa sakit hatinya. Tante gak bisa melihat itu, Ci."


"Kamu jahat! Kamu yang ingin aku bersama Mas Candra, tapi kamu yang memutuskan begitu saja perjodohan ini!" Cici murka, ia membanting vas yang ada di meja.


"Memang tante jahat, jadi maafin tante. Semua yang sudah kamu keluarkan, semua kerugian kamu akan tante ganti. Maaf, Ci." Rosa keluar dari butik Cici tanpa menoleh lagi. Meski ia tahu ini akan jadi masalah antara dua keluarga, tapi ia harus menanggung konsekuensinya.


Setelah dari butik Cici, Rosa pergi ke rumah ayahnya Melinda. Ia harus menjalankan semua, dan meminta lelaki itu untuk menikahkan kembali Melinda dengan Candra. Sependek pengetahuannya, jika seorang laki-laki sudah menjatuhkan talak, maka jika mau kembali rujuk harus melakukan ijab qobul ulang.


Ia baru turun dari mobil, ketika melihat Melinda menggandeng tangan ayahnya keluar dari rumah.


"Mel, kamu ... ke sini?" Wajah Rosa pucat melihat besannya yang menatapnya tajam.