Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 33 Teman sekolah


"Johan!" Melinda berjalan mendekati lelaki gagah yang sekarang berdiri di depan pintu tersebut. "Kamu ngapain di sini?" tanya Melinda.


Johan yang sudah lama tidak bertemu dengan Melinda sejenak terpaku. Di matanya, Melinda masih sama seperti dulu, saat mereka memakai seragam abu-abu dan saling berkejaran rangking di kelas mereka.


Wanita itu seolah tak menua, meski sudah bersuami. Tetap cantik dan menarik. Aura kecerdasannya masih terpancar di wajahnya. Tanpa dieencana, jantung Johan berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


"Johan!" Melinda tersenyum cerah.


"Ya ampun kamu beneran Melinda? Si juara kelas itu?"


Melinda tersipu, kemudian ia mengangguk. "Apaan sih, biasa aja kali."


Johan bisa merasakan detak jantungnya yang bertabuh keras layaknya genderang perang. Bertemu dan bisa sedekat ini dengan Melinda tidak pernah ia impikan sebelumnya, tapi sekarang ia bisa merasakan itu.


"Ngomong-ngomong kamu ngapain di sini? Nyari siapa maksudnya? Mas Candra atau Mama?"


Johan mengelengkan kepala. "Bukan semua, tapi nyari kamu."


"Dih gitu. Serius, kamu mau ketemu siapa? Gak mungkin kan kalau ke sini hanya iseng mampir atau sejenisnya. Oh atau mau nawarin sesuatu? Sales?"


Johan tertawa. "Memang aku ada wajah sales, ya? Kejam banget sih. Aku loh kerja di sini mulai hari ini."


Melinda mengeryitkan dahi. "Kerja di sini? Kok aku baru tahu. Mas Candra juga gak bilang kalau mau ada orang baru yang kerja di rumah ini."


"Ya jelas suami kamu gak tahu, yang nyariin kerja kan Mbak Cici." Johan melihat sekitar tempat itu.


"Cici?" tanya Melinda entah pada siapa. Ia mulai merasa ada yang tidak beres. Buat apa Cici nyari orang tambahan, dan itu Johan lagi.


"Jadi beberapa saat yang lalu aku ketemu sama Mbak Cici, kebetulan baru aja di-PHK dari tempat kerjaku yang kemarin, dan Mbak Cici nyari orang buat ngurus kebun, langsung deh aku daftar."


"Kamu denger-denger kemarin kerja di pabrik, masa sekarang malah mau jadi tukang kebun sih, Jo. Gak sayang apa."


Johan tertawa kecil. "Enggak, yang penting dapat uang dan halal daripada aku maling atau ngerampok, kan?"


Melinda mengangguk. "Bener juga. Ya udah ayo masuk, aku kasih tahu Mama dulu."


Johan mengambil tas ranselnya yang diletakkan di lantai dan berjalan mengikuti Melinda. Ia tak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat di mana Melinda tinggal, yang jelas ia merasa seluruh keberuntungannya sudah dipakai hari ini. Bertemu kembali dengan Melinda.


Sesampainya di depan kamar dengan pintu ukuran kayu jati mewah dan ada sentuhan modern pada pinggirannya, Melinda mengetuk pintu tersebut.


"Hem, siapa?" Terdengar suara dari dalam.


"Aku, Ma. Boleh masuk?" tanya Melinda.


"Ada apa? Tadi udah aku bilang kalau gak mau diganggu karena mau istirahat. Kenapa sih?"


"Ada yang mau bertemu dengan Mama. Katanya tukang kebun baru di rumah kita."


Rosa langsung bangun dari posisinya yang sedang rebahan. "Rumah kita? Rumahku, ingat! Gak ada hak kamu di rumah ini!" ketus Rosa sambil menurunkan kaki dari ranjang.


Melinda menoleh melihat Johan. Pasti lelaki itu mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya. Ia jadi merasa canggung, padahal seharusnya mama mertuanya tidak perlu mengatakan itu di depan orang lain.


Tak lama pintu terbuka, Rosa keluar sambil tersenyum. "Oh kamu yang namanya Johan?"


Johan mengangguk sopan. "Iya, Nyonya. Saya tukang kebun baru di rumah ini."


"Aku bisa ngater Johan ke sana, Ma." Melinda menawarkan diri. Ia mencari keberadaan Candra yang tadi dimintanya menemani mamanya di kamarnya. Tidak terlihat sama sekali, jadi di mana lelaki itu?


Rosa melihat menantunya. "Kamu gak usah kecentilan, ingat sudah punya suami."


"Astaghfirullah, aku hanya mau mengantar Johan ke kamarnya, Ma. Tidak ada yang menggoda dia, lagipula kami kenal sejak SMA, kami satu kelas."


"Oh, ya udah." Hanya itu yang Rosa katakan, setelahnya ia kembali masuk ke dalam kamar meninggalkan Johan dan juga Melinda yang kebingungan.


Melinda tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, ia harus mengantar Johan atau membiarkan lelaki itu menunggu Cici saja. Tapi pasti Johan lelah karena perjalanan jauh, jadi ia memutuskan untuk mengantar Johan dulu ke kamarnya, untuk urusan lain, biar nanti ia jelaskan kepada Cici dan mama mertuanya.


"Mama mertua kamu galak, ya?" tanya Johan sambil berjalan mengikuti langkah Melinda.


Melinda ingin mengatakan iya, tapi ia masih menjaga nama baik keluarganya jadi hanya menjawab dengan senyuman saja.


Mereka sampai di kamar belakang, di mana para perkerja di rumah ini tidur. Ada dua kamar, kamar pertama untuk pekerja wanita, dan satunya laki-laki. Tidak diberi kamar satu orang satu ruangan.


"Ini kamar kamu, bareng sama yang lain." Melinda menunjuk kamar di depannya. Kayaknya masih ada kasur yang kosong, nanti aku tanya sama Pak Subari dulu, ya. Kamu masuk dan istirahat saja dulu."


Johan mengangguk. "Makasih banyak, Mel."


"Oke. Aku tinggal bentar, ya."


Johan masuk ke ruangan yang ditunjuk oleh Melinda. Ia mengamati sekitar, tidak terlalu buruk, malah nyaman menurutnya. Meski satu ruangan untuk beberapa orang, tapi ia tak keberatan tinggal di sini. Yang penting sekarang, ia bisa dekat dengan Melinda.


Setelah mengantar Johan ke kamarnya, Melinda mencari Pak Subari. Ia ingin bertanya tentang sisa kasur untuk Johan, kalau memang sudah tidak ada, ia akan bilang kepada Candra agar dibelikan satu lagi.


Belum juga menemui orang yang dicarinya, Melinda sudah ditarik ke kamar oleh Candra. Ia baru saja pulang ke rumah setelah tadi diminta mamanya untuk mengecek peternakan sebentar.


"Mas, apaan sih siang-siang loh." Melinda mendorong lembut tubuh suaminya. "Kamu dari mana? Kok aku gak lihat di kamar mama."


"Dari peternakan, Sayang. Biarin, mau siang mau malam yang penting aku sudah berusaha."


Melinda menatap suaminya. "Hah? Berusaha apa?"


"Bikin Candra junior."


"Astaga, Mas!"


Sementara Candra dan Melinda berduaan di kamar, Cici datang dengan tergesa. Ia mampir sebentar di butik tadi, jadi tidak bisa membersamai Johan datang ke rumah ini. Ia langsung ke kamar Rosa dan mencari calon mertuanya tersebut.


"Ma, Johan udah datang?" tanyanya setelah masuk dan meletakkan tas di meja.


Rosa mengangguk. "Kamu dari mana aja? Dia udah datang dari tadi, sana antar ke kamarnya."


"Loh sekarang di mana?"


"Gak di depan pintu? Tadi sih di sana. Palingan sekarang lagi ngobrol sama Melinda. Gak apa-apa deh, biarin mereka dekat, jadi kita lebih mudah untuk membuat Melinda ditendang dari sini."


Cici tertawa. "Akhirnya setelah sekian lama, kemenangan itu semakin dekat. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Pagalo."


Rosa pun turut tertawa. "Akhirnya sebentar lagi wanita itu bisa dibuang oleh Candra."


Tanpa mereka sadari, orang yang sedang dibicarakan sedang bahagia memadu kasih dengan lelaki tercintanya.