
Uhukk ... Uhukk ... Uhukk
Seorang lelaki paru baya tengah terbaring lemah di atas kursi bambu. Ya, dia adalah Santoso ayah dari Melinda.
"Ayah! Ayah tidak apa-apa?" Melinda langsung berlarian menuju sang ayah saat melihat lelaki yang sudah membesarkan dirinya tak mampu lagi duduk untuk menyabut dirinya.
Melinda duduk di sisi bangku itu sembari memegang tangan Santoso.
"Kita bawa ke rumah sakit saja," usul Candra yang ikut perihatin dengan keadaan sang mertua.
Santoso mengangkat satu tangannya ke udara sementara tangan satu lagi memegang dada. "Tidak usah Nak. Melihat kalian datang Ayah pasti sebentar lagi juga baikkan," ucap Santoso dengan suara lemah kemudian diikuti suara batuk.
Melinda mengusap dada sang ayah. Batuk hingga terpingkal-pingkal pasti sangat menyakitkan.
"Ayah, masih minum obat yang diresepkan dokter?" tanya Melinda.
"Sudah dua minggu Ayah tidak lagi mengkonsumsi obat itu, Nak. Ayah sangat bosan dan lelah," jawab Santoso.
Melinda hanya bisa menghembuskan napas berat. Pengobatan TBC memang sangat melelahkan, dimana harus mengkonsumsi obat selama enam bulan lamanya, tapi jika sudah berhenti seperti ini apa tidak sia-sia?
"Ayah, maaf. Melinda kurang memperhatikan Ayah," ucap Melinda penuh sesal.
Seandainya dirinya tak sibuk mengambil hati sang mertua dan melakukan perang dingin, tentu saja dengan jarak jauh pun ia bisa memberikan perhatian pada sang ayah melalui alat masa kini. Tapi apa yang dia lakukan? Jangankan menelpon berkirim kabar saja tidak.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayah, paham situasimu. Asal kamu baik-baik saja dan hidup bahagia bersama dengan suamimu, Ayah juga sudah bahagia," jawaban yang keluar dari mulut Santoso itu membuat hati Candra tercubit.
Candra ikut duduk di samping Melinda, bangku kecil itu kini menampung tiga beban sekaligus. Bunyi dencitan dari bangku bambu terdengar nyaring.
"Mas, jangan ikut duduk," pinta Melinda saat merasakan bangku itu hampir goyang.
"Em ... Maaf. Aku juga ingin membantu mengurangi beban sakit Ayah," jawab Candra yang tak ingin bangkit dari duduknya.
Sejujurnya Candra mendekat ke arah Melinda karena merasa sangat bersalah pada dua orang itu sekaligus. Ya, saat ijab qobul terucap Candra sudah diberikan wewenang dari lelaki yang bisa dibilang cinta pertama sang istri itu. Menjaga dan menyayangi adalah satu hal yang dibebankan padanya, tapi yang ada selama ini dia justru memberikan penderitaan untuk sang istri.
"Tidak apa-apa Nak, bangku ini cukup kuat meskipun terus bunyi," ucap Santoso diikuti batuk lagi.
"Ayah, jangan banyak bicara dulu. Em ... Aku ambil obat dulu," usul Melinda dan membiarkan Candra duduk di samping sang ayah, ia pun bangkit menuju ke nakas yang biasa digunakan untuk menyimpan obat.
Di menit berikutnya Melinda kembali membawa obat dan segelas air minum. "Ini Ayah minum dulu setelah ini kita akan ke dokter." Sekali lagi Melinda mencoba membujuk sang ayah barang kali setelah diberikan perhatian hati lelaki paru baya itu akan luluh.
Candra membantu sang mertua untuk mengubah posisi menjadi setengah duduk, sementara Melinda kini membantu untuk memberikan obat.
"Melinda, Candra, Ayah sudah lelah berobat biarkan semua seperti ini saja. Kalau memang Ayah ditakdirkan untuk sembuh, tanpa berobat pasti akan sembuh," ucap Santoso.
"Ayah, tidak ada keajaiban tanpa disertai dengan ikhtiar. Kita boleh saja berharap dan pasrah, tapi juga tidak boleh mengabaikan yang namanya usaha. Ayah, apa Ayah tidak ingin melihat aku dan Melinda memiliki anak?" Candra menimpali ucapan sang mertua. Entah mengapa ia menjadi kesal sendiri saat mendengar kalimat yang diucapkan sang mertua.
Melinda meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, menandakan sang ayah tidak boleh berbicara lagi.
"Ayah, Melinda tau Ayah sudah lelah dengan semua ini. Tapi apa yang dikatakan Mas Candra benar, lagi pula tidak ada usah yang mengkhianati hasil. Jadi Meli mohon, Ayah mau berobat lagi," pinta Melinda membujuk sang ayah raut wajah wanita itu mengiba.
Santoso yang melihat wajah Melinda mengiba dan sendu ia jadi teringat dengan mendiang sang istri. Ya, mau tidak mau kini ia hanya bisa mengangguk menyetujui permintaan sang anak..
***
Di sisi lain, tempatnya di rumah Pagalo. Rosa menjadi uring-uringan, apalagi saat ini ia terus menghubungi Candra, tapi tidak ada jawaban dari sang anak tidak hanya itu, kini justru panggilan terakhir yang menjawab adalah operator.
"Candra, kembali Nak. Maafkan Mama," ucap Rosa penuh penyesalan.
Rosa terus menekan nomor Candra berharap diseberang sana Candra mau mengangkat telepon darinya. Namun, sayang lagi dan lagi operator yang menjawabnya.
"Mama bisa jelaskan semua ini, Nak. Jadi kembalilah Sayang." Suara Rosa terus terbawa angin tanpa ada yang berani menyahuti ucapannya itu. Padahal saat ini para pembantu dan satpam tengah berbaris menunggu instruksi dari sang majikan, tapi nyatanya kini mereka hanya bisa menjadi penonton saja.
"Mama janji akan lebih baik lagi merawat dan menjaga kamu. Mama tidak akan membiarkan siapapun mengambil mu dari sisi Mama. Arghhh ... Ini semua karena wanita itu. Kamu jadi durhaka sama Mama."
Perasaan Rosa bergemuruh, saat mengingat Melinda. Raut wajah yang tadi cemas kini berubah jadi kekesalan, sorot mata itu menatap nyalang ke sembarang arah.
Prank!
Satu guci pecah dan belingnya berhamburan di mana-mana. Mina yang ingin segera membersihkan pecahan itu bahkan tidak berani sama sekali.
"Arghhh ... Ya, wanita itu, wanita udik yang sudah berani membawamu pergi. Aku akan menghancurkan dia!" tegas Rosa. Kali ini ia benar-benar murka, mau apapun yang dilakukan selama ini tidak berhasil mengucurkan Melinda, tapi kali ini ia akan lebih bersungguh-sungguh untuk membuat wanita itu hancur.
Rosa langsung menghubungi Cici, tentu saja untuk membuat rencana yang lebih matang lagi.
"Cici, apa kamu tidak ingin berbuat sesuatu lagi untuk bisa memisahkan Melinda dan Candra?" tanya Rosa saat panggilan itu sudah tersambung.
"Ma, semua rencana sudah gagal akibat keteledoran Mama. Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan?" sahut Cici dari seberang sana.
Ia merasa kesal, kenapa calon mertuanya itu bodoh sekali hingga membuat kebohongan yang sudah berjalan dengan mulus layaknya jalan tol gagal dalam waktu sekejap. Seandainya calon mertuanya itu bisa mengontrol emosi tentu saja saat ini Candra mungkin sudah pisah dari Melinda dan dia bisa menjadikan lelaki itu pasangan dunia akhiratnya.
"Pokoknya kita harus menyusun rencana baru. Mama minta maaf karena sudah menghancurkan semua yang sudah kita rencanakan," ujar Rosa.
"Lagian Mama yakin kok Melinda itu sengaja membuat Mama jadi emosi dan sudah merencanakan ini semua," imbuh Rosa untuk memanasi Cici.
Cici nampak berpikir sejenak, apa yang dikatakan calon mertuanya ini ada benarnya juga. Apa dirinya sudah salah menilai calon mertuanya?
"Ya sudah, Ma. Apa Mama punya rencana lain?"