
"Jo, kamu mau uang tambahan gak?" tanya Cici saat ia melihat Johan yang baru selesai berbicara dengan Melinda di taman belakang.
Sebuah rencana tersusun di otaknya, segera ia harus melancarkan apa yang sudah ia rencanakan itu.
"Uang tambahan, Mbak? Tentu saja mau banget." Johan mendekati Cici yang sedang duduk santai teras, tempat yang menjadi saksi saat Rosa pura-pura terpeleset dulu.
"Kalau begitu kamu harus mau menurut apa yang aku perintahkan."
"Siap. Gak masalah, apa pun itu asal dapat uang tambahan akan aku lakukan. Jadi aku harus membersihkan apa?" tanya Johan bersemangat.
Cici menggelengkan kepala. "Bukan membersihkan apa-apa, tapi kerjaan lain yang pasti kamu akan sukai."
"Apa itu?" Johan mulai tertarik dengan penawaran Cici.
"Mendekati Melinda. Tugasmu hanya membuat Melinda semakin dekat dengan kamu dan nyaman dengan kamu. Udah itu aja. Kamu bisa?"
Sangat mudah. Tugas seperti itu akan ia selesaikan dengan cepat, apa lagi hanya mendekati Melinda saja.
"Hanya itu saja? Gak ada yang lain?" tanya Johan balik menantang.
"Wah sepertinya ini bukan tugas yang sulit buatmu, ya? Gak ada sih, kamu hanya perlu mendekati Melinda, dan setelahnya biar aku yang selesaikan sendiri."
Johan mengulurkan tangan. "Oke, deal!"
Cici tersenyum puas. Ia akhirnya mempunyai cara untuk menjauhkan Melinda dengan Candra. Sekarang hanya tinggal mencari cara untuk membuat sepasang suami istri itu pisah, tidak kemana-mana berdua.
Setelah ia Johan menyetujui apa yang ia tawarkan, Cici masuk kembali ke dalam untuk mencari Rosa. Ia harus mengatakan kabar baik ini. Dicarinya wanita itu ke kamar, tapi tidak melihatnya.
"Ke mana sih wanita tua itu? Bikin pusing aja!" keluh Cici.
Cici membalikkan badan dan mencari ke ruangan lain, ternyata Rosa sedang melihat pembantunya memasak di dapur. Biasanya juga tidak pernah sampai di dapur, entah kenapa sekarang malah duduk tanpa berbuat apa-apa dan hanya melihat saja.
"Ma." Cici mendekati Melinda. "Ngapain di sini?"
"Gak ngapa-ngapain, kenapa?" tanya Rosa sambil memandang Cici.
"Aku punya kabar bagus, Mama mau denger?"
Rosa mengangguk bersemangat. Ia mengajak Cici untuk ke kamarnya saja, biar lebih leluasa. Mereka berdua menuju ke kamar Rosa dan setelah masuk tak lupa mengunci pintu.
Rosa tak sabar menunggu kabar baik yang dikatan Cici. Kalau bukan tentang Melinda, ia akan protes langsung.
"Ma tahu gak?" tanya Cici. "Johan mau berkerja sama dengan kita. Dia mau mendekati Melinda."
"Loh serius? Segampang itu?" tanya Rosa tidak percaya.
"Hem, tentu saja. Aku tahu pasti kalau Johan juga menaruh hati pada Melinda, bahkan sejak lama, sejak sebelum bertemu dengan Mas Candra."
"Oh jadi karena itu Johan mau diajak kerja sama? Tapi dia ember gak? Nanti bilang sama Melinda dan Candra lagi tentang rencana ini."
Cici memikirkan sejenak. "Kayaknya enggak deh, Ma. Aku yakin sekali kalau Johan pasti suka kalau dekat dengan Melinda. Jadi kita hanya tinggal mencari waktu yang lama untuk menemukan mereka berdua. Intinya kita harus mencarikan waktu agar mereka bisa bersama gitu."
Rosa setuju, ia akan mencari cara untuk menjauhkan Candra dari istrinya agar rencana Johan untuk mendekati Melinda berhasil.
"Sip. Kalau boleh aku sama Mas Candra didekatkan sekalian, Ma. Kan sambil menyelam minum air."
Rosa memanggil Candra, ia akan meminta anaknya itu memantau perkebunan dan peternakan keluarga mereka. Seharusnya memang begitu sejak lama, tapi kehadiran Melinda membuay Candra kadang mau kadang tidak mengurus usaha keluarga mereka.
"Mulai kapan, Ma?" tanya Candra pada Rosa saat diminta memantau usaha mereka.
"Besok pagi gak apa-apa. Kamu bisa kan, Nak?" tanya Rosa penuh harap.
Tentu saja bisa. Candra pulang ke rumah ini agar bisa mendekatkan mamanya dengan Melinda, juga sebaliknya. Jadi apa pun yang diminta mamanya, ia akan turuti, asal jangan sampai menyakiti Melinda lagi.
Candra mengiyakan permintaan mamanya, ia akan memberi tahu Melinda terlebih dulu kalau mulai besok akan kerja di peternakan dan pertanian milik keluarganya. Tidak berat kerja di sana, malah hanya jalan-jalan kebanyakan, karena tugasnya hanya memantau saja.
"Kalau Mas suka dan mau, gak apa-apa, aku bisa jaga diri kok di rumah." Melinda pun memberinya izin untuk kerja di peternakan.
"Tapi kamu gak apa-apa di rumah tanpa aku?" tanya Candra khawatir. Ia tidak tega meninggalkan Melinda sendiri tanpanya, tapi kalau ia menolak permintaan mamanya, pasti nanti akan menjadi masalah lagi. Dan Candra sedang menghindari masalah.
"Ya gak apa-apa, ada Johan yang pasti tidak akan membiarkan aku ditindas Cici dan juga pekerja di rumah ini yang akan langsung menerima tahu kamu kalau seumpama aku kenapa-napa." Melinda menenangkan suaminya agar jangan khawatir berlebihan.
Jawaban dari Melinda membuat Candra sedikit cemburu. "Kamu bisa gak jangan dekat-dekat banget dengan Johan itu. Aku merasa dia bukan orang baik." Ia memajukan bibirnya dan memalingkan wajah.
Melinda tertawa. "Apaan sih, dia itu temanku SMA, Mas. Masa kamu bilang tidak baik. Aku loh kenal sejak lama, jadi tenang aja. Oke!" Melinda memeluk suaminya.
Candra mengangguk pasrah, meski ia tetap merasa kalau Johan itu tidak sebaik yang Melinda katakan.
"Jadi besok pagi kamu mulai berangkat, kan? Pulang jam berapa kira-kira?"
"Gak tahu, Dek. Tapi besok aku kasih kabar, ya." Candra tersenyum seraya mengajak Melinda pergi tidur.
Rupanya pekerjaan Candra sangat sibuk, sampai siang hari saja lelaki itu tidak sempat menelfon dan mengangkat telfon. Melinda maklum, baru pertama memantau pasti banyak yang perlu dipelajari.
"Kenapa, Mel?" tanya Johan saat melihat Melinda melamun sambil melihat ponselnya sejak tadi.
Ia sudah memperhatikan Melinda sejak pagi, dan raut wajah wanita itu berbeda dari biasanya. Murung dan jarang senyum.
"Gak apa-apa, Jo. Aku hanya kangen Mas Candra, biasanya kami tidak pernah berpisah lama, tapi ini sampai hampir sore Mas Candra tidak memberi kabar juga."
Johan duduk di samping Melinda. "Ini baru pertama kalian berjauhan?"
"Gak sih, tapi tetap aja rasanya kangen banget." Melinda mendesah lirih. "Kalau saja aku diajak, pasti tidak akan aku tolak, biar bisa deketan terus."
Johan tertawa kecil. "Tenyata kamu bucin juga, ya."
"Hah? Wajar dong bucin sama suami sendiri. Makanya kamu buruan nikah, biar bisa bucin sama istri." Melinda memukul lengan Johan.
"Aku pengen sih nikah, tapi sayangnya orang yang mau aku lamar udah milik orang lain." Johan terkekeh.
"Eh iya? Jadi kamu udah punya cewek incaran? Siapa?" tanya Melinda bersemangat. Ia tidak pernah mendengar Johan dekat dengan cewek, ternyata punya cewek incara juga.
"Kamu!"
"Hah?"