
"Yang jelas bukan pura-pura sakit!" ketus Rosa seraya memalingkan wajahnya enggan melihat ke arah sang anak.
Candra menarik napas, Melinda mengenggan erat tangan suaminya untuk memberi dukungan. Ia tahu pasti sekarang Candra sangat terpukul melihat keadaan mamanya yang lemah di atas ranjang, apa lagi ia baru tahu beberapa menit yang lalu.
Sungguh, kalau bukan Rosa sendiri yang membuat jarak, ia pasti akan langsung menghampiri mertuanya tersebut. Tapi ia merasa itu malah akan menjadi masalah baru, jadi Melinda memutuskan diam di tempat sampai Candra yang menyuruhnya.
"Bu-bukan maksud Candra menuduh Mama pura-pura." Candra menatap Cici dan meminta penjelasan dengan kode mata atas sakit sang ibu, tapi wanita itu tidak menjawab dan mengendikkan bahu.
Biar dia jawab sendiri, ia tak mau salah bicara dan membuat rencana mereka berantakan. Cici meletakkan minuman yang tadi disodorkan Rosa ke meja, lalu duduk menjauh dari ranjang wanita itu. Tujuannya agar Candra mendekati mamanya.
"Lalu apa? Kamu ke sini cuma mau melihat Mama yang sekarat, kan?" tanya Rosa ketus. "Sekarang sudah melihat, dan kamu puas kan? Pasti wanita di sampingmu itu juga sama, dia ingin melihat aku mati."
Cici membulatkan kelopak matanya. Bertanya-tanya apa drama telah dimulai?
Melinda menggelengkan kepala. "Enggak, Ma. Aku gak pernah berpikiran seperti itu. Mama jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku dan Mas Candra kesini karena kami ingin menjenguk Mama, dan sama sekali tidak tahu kalau Mama sakit."
"Alasan, jangan kamu menampilkan kebaikan yang pura-pura itu. Aku tidak akan luluh."
"Mama!" bentak Candra. "Mama bisa gak sih berpikiran positif pada istriku? Melinda bukan wanita seperti yang Mama tuduhkan."
"Terserah." Rosa memposisikan diri berbaring nyaman, lalu memejamkan mata. "Mau istirahat biar cepat kembali pulih, agar tidak mati dan membuat orang yang benci denganku bahagia."
Candra menarik tangan Melinda dan meninggalkan kamar. Ia tidak bisa mendengar istrinya dituduh sejahat itu. Ia merasa kasian pada sang istri, padahal Melinda yang membuka pintu hatinya agar pulang ke rumah, tapi tetap saja sang ibu tidak mau melihat kebaikan wanita yang dicintainya ini.
Karena hari semakin sore dan mereka tidak membawa persiapan apa-apa, malam itu Candra memutuskan untuk menginap dulu di rumah. Ia tidak akan melepaskan kewaspadaan menjaga sang istri, takut kalau Melinda kembali mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
"Mas!" Melinda duduk di samping suaminya setelah ia selesai mandi. "Mas memikirkan apa? Sepertinya berat sekali yang Mas pikirkan."
Candra menarik napas. "Mama, Mel. Mas gak tahu harus bagaimana menghadapi Mama sekarang. Bukan hanya tidak mau menerima kita, tapi Mama malah menuduh kamu seperti itu. Aku merasa kalau kita kembali ke sini adalah kesalahan."
"Bukan, Mas. Kita memang sudah seharusnya melihat keadaan Mama. Jadi kalau tangan Mama masih belum terbuka menyambut kita, ya dimaklumi saja. Yang penting kamu bisa bertemu dan mengurus Mama sampai sembuh."
"Tapi kamu?"
"Aku baik-baik saja. Aku bisa menahan diri seperti sebelumnya, jadi gak usah khawatirkan aku, Mas. Oke!
Candra tahu tujuannya Melinda, tapi ia juga tidak bisa membiarkan Mamanya melakukan istrinya semena-mena.
"Kita tidur aja yuk, kayaknya gak ada makan malam buat kita." Melinda menarik selimut.
Candra baru ingat kalau mereka belum makan sejak pagi. Hanya roti yang masuk ke perut ketika sarapan tadi. Ia memutuskan keluar dari kamar untuk mencari makanan. Seharusnya memang ada makan malam, tapi entah hari ini dapur sepi, bahan makanan juga tidak ada, seolah memang semua sudah direncanakan.
Ia ingin bertanya kepada mamanya, tapi mengurungkan niat saat melihat Cici memapah sang mama keluar dari kamar.
"Loh Mama mau ke mana?" tanya Candra menghampiri wanita yang melahirkannya tersebut.
Candra tidak melepaskan kesempatan untuk dekat dengan mamanya ini. Ia membantu memapahnya dan mereka duduk di sofa.
"Gimana keadaan Mama?" tanya Candra mengulanginya lagi karena tadi ketika ia datang hanya keteganggan yang ada.
"Mama sehat, hanya butuh istirahat dan pemulihan. Tadi bibi belum belanja, karena Mama lupa menyuruh Cici mengambilkan uang di ATM. Kalau kamu lapar, kamu beli di luar dulu, ya. Sekalian ambilkan uang untuk Mama. Istri kamu juga sekalian dibeliin makanan kesukaannya. Mama minta maaf karena tadi ketus sama kalian, itu karena Mama dalam keadaan kurang stabil, Nak."
Candra merenung sejenak, antara percaya dan tidak. Ia ingin langsung mempercayai ucapan mamanya, tapi melihat perlakuan mamanya selama ini membuat ia ragu.
"Can, ajak Cici sekalian. Dia mau membelikan obat buat Mama." Rosa mendorong kecil tubuh Cici.
"Apa boleh aku ajak Melinda sekalian, Ma?" tanya Candra yang merasa khawatir kalau meninggalkan istrinya di rumah sendiri bersama mamanya.
"Loh buat apa? Melinda biar istirahat saja. Kalian gak lama, kan? Kalau kamu takut mama akan menjahati istri kamu, kamu bisa kunci kamarnya."
Candra mengangguk. "Aku izin Melinda dulu, Ma."
"Iya bilang sama Melinda, dan sampaikan permintaan maaf mama buat dia, ya." Rosa tersenyum tulus.
Tulus kelihatannya, tapi sebenarnya wanita itu menyimpan rencana jahat. Entah apa yang akan dilakukannya nanti, yang jelas ia harus menjauhkan anaknya dari Melinda.
"Oke." Candra berjalan kembali ke kamarnya, ia langsung mengatakan kepada Melinda tentang sang mama yang memintanya untuk ke ATM dan membeli makanan karena stok makanan di dapur habis.
Melinda tentu saja tidak keberatan, apalagi ia melihat Candra yang semangat karena mamanya mau berbicara kepadanya. Soal yang lainnya, ia akan mencoba bersabar. Seharusnya bisa saja mertuanya menyuruh mereka berdua kan? Tapi kenapa harus Candra dengan Cici? Memang ia tidak bisa membeli makanan dan mengambil uang? Tapi karena ia tidak mau ribut dan memperpanjang masalah, Melinda memilih diam.
"Aku takut kamu diapa-apain sama mama. Kan nanti kamu sendirian."
Melinda tersenyum. "Enggak, aku bisa jaga diri kok."
"Serius? Peluk dulu kalau gitu."
Melinda memeluk suaminya dan menenangkan hati lelaki itu, bahwa ia akan baik-baik saja. Setelah mendapatkan izinnya, Candra keluar dan mengambil jaket. Ia juga tak lupa mengunci pintu dari luar untuk berjaga-jaga.
"Sudah siap, Mas?" tanya Cici saat melihat penampilan Candra yang sudah rapi.
"Hem. Kita pakai mobil saja." Candra mengambil kunci mobil mamanya.
"Loh, kan enak pakai motor Mas. Lebih cepat lagi." Kalau memakai mobil, ia tidak bisa modus memeluk Candra dari belakang dong. Ah sialan.
"Dingin. Jadi lebih baik pakai mobil. Ya sudah aku berangkat, ya, Ma." Candra menyalami mamanya dan keluar dari kamar.
"Mama, gimana nih! Kalau pakai mobil nanti aku gak bisa deketan sama Mas Candra." Cici menghetakkan kakinya kesal.