Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 35


Johan tertawa melihat reaksi kaget Melinda. "Canda ah."


Melinda menghela napas lega. Ia kira Johan benar-benar suka kepadanya, karena sejak dulu ia hanya menganggap Johan sebagai temannya saja, tidak lebih.


Setelah pembicaraan itu, Melinda dan Johan berjarak. Sebenarnya bukan Johan yang menjaga jarak, tapi Melinda. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman ketika di dekat Johan.


Tetapi itu tak berlangsung lama, karena Johan terus saja mendekati Melinda. Karena Melinda juga kesepian ditinggal Candra terus, ia pun mencoba mengabaikan rasa ketidaknyamanan itu.


Seperti hari itu, Melinda dan Johan duduk berdua di dekat pohon jambu yang sedang berbunga. Mereka bercerita tentang masa sekolah dan masih banyak lagi hingga tak terasa waktu berlalu dan petang sayang. Melinda segera kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap menyambut kedatangan Candra.


"Mas," panggil Melinda saat melihat Candra masuk ke kamar.


"Eh, Dek kamu udah mandi?" tanya Candra saat melihat istrinya masih memakai handuk di kepala. Pertanyaan aneh memang, karena tanpa ia tanya pun sudah tahu kalau Melinda baru saja mandi.


"Baru selesai, Mas Candra kok tumben jam segini udah pulang?" Melinda membantu suaminya melepas jas dan juga dasinya.


"Kangen sama istriku." Candra tersenyum. "Aku mandi dulu, ya." Ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Melinda menunggu suaminya sambil mengeringkan rambut, ia juga mengoleskan bedak tipis ke wajahnya agar terlihat fresh.


Tak lama kemudian Candra keluar. Melinda memijat pundaknya saat lelaki itu duduk di kursi dan bersantai.


"Gimana kerjaan tadi, Mas?" tanya Melinda pada Candra yang langsung mendapat pelukan dari lelaki itu.


"Capek, Dek. Ini mau mengambilkan semangat dulu." Ia memejamkan mata sambil memeluk Melinda erat-erat. "Kayak gini aja membuat semangatku kembali lagi."


Melinda tersenyum. "Udah gede masih manja ish."


"Manja sama istri sendiri apa salahnya sih?"


"Gak ada sih, Mas. Cuma aneh aja, akhir-akhir ini kamu sering banget manja loh. Gak kayak biasanya gitu."


"Hem masa sih? Kamu juga gak kayak biasanya, jadi makin cantik."


Melinda tertawa. "Gombal banget sih. Aku seharian tadi ngobrol sama Johan, Mas. Aku jadi inget dulu waktu sekolah dia itu suka godain cewek-cewek tahu!"


Candra tersenyum. "Godain kamu juga?"


"Malah enggak pernah. Aku juga heran, makanya tadi aku tanya, kenapa dulu waktu sekolah aku gak pernah digodain gitu, tahu gak apa jawabannya?"


Candra menggelengkan kepala.


"Katanya aku galak, jadi dia malas godain aku. Padahal aku itu gak segalak itu loh, Mas. Cuma emang kalau sama orang yang cuma basa-basi gak penting gitu aku cuekin."


Candra masih mendengarkan cerita Melinda.


"Jadi dulu itu Johan pernah nembak cewek, nah ditolak, sekarang aku tahu siapa cewek yang ditembaknya dulu. Tenyata teman sebangkuku."


Candra belum juga memberikan reaksi.


"Sekarang Johan lebih putih dan lebih gagah sih daripada dulu. Biasa kan, ya? Kalau ada uang pasti penampilan bisa berubah."


Candra semakin tidak nyaman, apa lagi dari tadi Melinda membicarakan Johan dan Johan terus. Ia masih berusaha diam, meski ingin sekali memotong perkataan Melinda atau minimal mengalihkan pembicaraan agar topiknya bukan Johan lagi.


"Sekarang dia jadi gak suka gombal katanya. Tapi masa sih bisa berubah gitu, ya? Kalau awalnya suka gombal pasti tetap akan sampai tua suka gombal, kan?"


"Kenapa emang, Mas? Kamu gak suka sama Johan?" tanya Melinda kebingungan.


"Bukan aku gak suka, Dek. Tapi gak bagus aja saat kamu bersama dengan suamimu malah membicarakan lelaki lain."


"Tapi kan Johan itu temanku sejak sekolah, Mas. Masa kamu cemburu sih sama dia."


"Siapa yang gak cemburu kalau setiap hari kamu selalu membicarakan Johan dan Johan terus. Masa aku harus biasa saja, kan gak mungkin."


"Tapi gak perlu tetapi cemburu gitu, Mas. Kamu loh kelihatan banget cemburunya, takutnya nanti Johan merasa gak nyaman di rumah ini loh."


"Kok kamu malah memikirkan kenyamanan Johan, Dek bukan suami kamu sendiri? Apa jangan-jangan kamu suka sama Johan? Kamu cinta sama dia?"


"Astaghfirullah. Aku gak suka sama dia, Mas. Sama sekali gak suka sama dia."


Canda berdiri dari kursi. "Terserah kamu ajalah, aku gak tahu lagi sama jalan pikiran kamu." Ia meninggalkan Melinda dan keluar dari kamarnya.


Melinda memegangi dadanya melihat perubahan sikap Candra yang aneh. Padahal ia tidak melakukan apa-apa, ceritanya pun biasa saja, hanya tentang Johan yang dulu suka gombal. Masalahnya di mana?


Cici yang tak sengaja mendengar pertengkaran suami istri itu langsung lari begitu terdengar suara langkah mendekati pintu. Ia bersembunyi dan menunggu siapa yang akan keluar.


Ternyata Candra. Cici mengikuti langkah lebar Candra. "Mas!" panggilnya.


Candra menoleh dan melihat Cici. "Ada apa?" tanyanya dengan masih menahan kesal.


"Mas kenapa sih kok aneh gitu? Aku loh cuma manggil aja, kok marah sama aku." Cici pura-pura sedih.


Candra menghela napas berkali-kali. "Aku gak marah sama kamu, Ci. Cuma kesel aja sama Melinda," adunya.


Cici menahan senyum. "Kesel kenapa? Emangnya Mbak Melinda melakukan apa, Mas?" tanyanya.


Candra melanjutkan langkahnya, Cici pun mengikuti lelaki itu sambil mencari ide demi memanfaatkan kesempatan ini. Mereka duduk di depan rumah, di teras yang sering dipakai Rosa mengobrol bersama teman-temannya kalau datang.


"Melinda akhir-akhir ini sering cerita tentang tukang kebun baru itu. Aku gak masalah sih kalau mereka dekat, cuma gak harus selalu cerita kan? Mana beritanya tentang itu-itu aja lagi." Candra memulai ceritanya.


"Oh, tapi emang biasanya mereka dekat sih, Mas. Jadi wajar kalau Mbak Melinda sering membicarakan Johan, kan?"


"Hah, mereka dekat?" Candra mulai gelisah.


Cici mengangguk. "Setiap hari mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil bercanda loh."


"Mas sih, Ci?"


"Beneran, Mas. Masa aku bohong sih? Kan aku setiap hari jagain Mama, jadi tahu gimana mereka berdua." Rencana Cici sepertinya akan berhasil, ia harus membuat Candra bisa membenci Melinda dan kalau bisa diceraikan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Cici, Candra merasa curiga. Pantas saja akhir-akhir ini Melinda sering kali membicarakan tentang Johan, ternyata memang mereka ada hubungan diam-diam di belakang.


"Mas Candra kalau gak percaya besok pergi terus pulang siang tapi diam-diam aja, pasti lihat mereka sedang berduaan. Coba aja kalau gak percaya, Mas."


Candra mulai memikirkan apa yang Cici katakan.


"Kadang mereka masuk ke kamar berdua juga, Mas. Tapi aku gak tahu sih, ya, ya mereka ngapain. Mungkin Melinda minta tolong apa gitu aku juga gak paham."


"Kamu gak bohong kan bilang gitu?" tanya Candra tersulut emosi.