
Sejak kejadian itu kehidupan rumah tangga Melinda dan Candra mengalami pasang surut. Namun, keduanya mampu menjalani kehidupan rumah tangga itu, hingga kini mencapai tahun ke satu pernikahan.
Berkat ketekunan dan kejujuran Candra bekerja menjadi kuli panggul di pasar saat ini ia dipercaya oleh sang pemilik toko untuk mengelola toko itu. Ayah Santoso pun saat ini sudah dinyatakan sehat kembali.
Meskipun demikian tak membuat Melinda bahagia. Wanita yang kini sudah berusia 28 tahun itu merasa bersalah pada sang suami. Bagaimana tidak, sejak kejadian itu Candra sama sekali tidak pernah mau menghubungi sang ibu. Ia merasa sangat berdosa karena memisahkan sang suami dari surganya.
"Sayang, kamu sedang apa? Kenapa melamun?" tanya Candra yang kini ikut duduk di samping Melinda tengah menatap ribuan bintang di langit.
"Aku lagi menghitung bintang, Mas."
Jawaban Melinda tentu saja mengalihkan atensi Candra. Dia kenal sang istri jika melakukan hal-hal konyol seperti itu tentu saja dia dalam keadaan gundah gulana.
Candra menarik bahu Melinda agar berhadapan dengannya. "Kamu memikirkan masalahku dengan Mama?" tebak Candra seolah tahu isi pikiran Melinda.
Melinda menunduk dalam. Ia juga tidak mungkin bisa membohongi sang suami, ekspresi wajahnya saat ini benar-benar bisa dibaca.
"Iya, Mas. Bagaimana keadaan Mama saat ini? Jujur saja aku sampai sekarang merasa bersalah karena membuat kamu dan Mama berpisah," ucap Melinda dengan wajah sendu penuh penyesalan.
Candra mengusap pipi Melinda yang kini sudah berurai air mata, "Sayang, Mas sudah bilang ini semua bukan salahmu. Mas tau surgaku ada pada ibuku, tapi kamu juga tanggung jawabku."
"Tapi, Mas—"
Candra meletakkan jari telunjuknya di bibir Melinda. "Mas tau, kedudukan Kalian itu sama. Kalian harus diutamakan dan muliakan. Hanya saja saat ini keadaan berbeda."
Melinda memegang tangan Candra yang kini berada di pipinya. Ia menggenggam erat tangan sang suami. "Jika kamu sadar bukankah seharusnya kita datang berkunjung ke sana, Mas. Terlepas apa Mama mau memaafkan kita atau tidak, kita sebagai yang lebih muda harus datang terlebih dahulu. Keadaan tidak ada yang berbeda, Mas."
Candra diam. Ucapan sang istri ada benarnya, tapi ketakutan dirinya lebih mendominasi. Ia takut jika sang ibu akan berbuat nekad lagi mencelakai Melinda atau menciptakan masalah dalam rumah tangganya yang kini mulai membaik.
"Mas, percayakan dengan ikatan cinta kita?" tanya Melinda yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Candra.
"Jika Mas percaya apalagi yang Mas takutkan? Aku percaya, Mas. Selama kita melakukan hal baik demi kebaikan, Allah akan memberikan jalan untuk kita." Melinda mencoba meyakinkan sang suami lagi meskipun sebelumnya ia pernah gagal, tapi kini ia akan terus mencoba. Ia yakin sejujurnya di dalam hati Candra begitu merindukan sang ibu.
Candra hanya tersenyum menanggapi bujukan sang istri. Jujur saja saat melihat Melinda sudah mengiba hatinya luluh, tapi jika ia ingat perlakuan sang ibu pada wanita yang begitu ia cintai, rasanya hatinya menebal kembali.
"Mas, jangan senyum aja. Ya, kamu mau kan?" tanya Melinda mencoba untuk memastikan.
"Baiklah. Jika kamu bisa menebak berapa jumlah bintang di langit itu, aku mungkin bisa mempertimbangkan permintaanmu." Candra menyeringai lebar saat melihat sang istri mengerucutkan bibirnya.
"Jadi kamu gak mau?" Candra mempertanyakan kembali tawarannya apa Melinda mau menerimanya atau tidak.
Di luar dugaan justru sang istri kini memberikan satu cubitan di pinggangnya. Membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Aku mana tau jumlahnya." Melinda melipat tangannya di dada sembari memanyunkan bibir dan mengubah posisi menjadi mengarah ke depan lalu menatap langit kembali.
"Kan kamu tinggal nebak. Lagian Mas juga gak tau kok. Jadi kalau kamu salah, tetap saja benar." Candra mencubit pipi tirus Melinda.
"Sakit, Mas!" protes Melinda.
"Biarin lagian kamu juga mencubit pinggangku." Candra menarik tubuh Melinda lalu di bawa kedalam pelukannya, "kamu yakin mau menjunguk Mama? Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis lagi karena ulang Mama."
Melinda mengangguk senang.
"Iya, Mas gak apa-apa. Kamu sudah mau mengabulkan permintaanku aku sudah senang."
Candra mengelus lembut rambut Melinda lalu mencium pucuk kepala sang istri.
***
Weekend telah tiba, sesuai janji Candra, ia akan mengajak sang istri berkunjung ke rumah sang ibu.
"Ayah, kami pamit dulu. Ayah jangan lupa minum obat. Dan jangan merokok!" peringat Melinda dengan tegas.
"Tenang saja. Ayah pasti mengikuti apa yang kamu dan dokter katakan. Jangan lupa kirim pesan saat tiba di rumah mertua. Dan sampaikan salam Ayah padanya." Santoso memegang tangan sang anak, ini kedua kalinya ia harus melepaskan sang anak. Entah mengapa ia sama sekali tidak tenang.
Melinda melebarkan senyumnya sembari menatap sang ayah dengan perasaan sulit diartikan. Jujur saja ia gak tega meninggalkan sang ayah, tapi ia juga tidak bisa membiarkan hubungan Candra dan ibunya terus berseteru.
"Nak Candra, nitip Meli." Santoso beralih ke arah Candra yang tengah menenteng tas.
"Iya, Ayah tenang saja. Aku akan menjadi perisai Melinda," jawab Candra.
Candra menatap sang mertua, seandainya lelaki paru baya itu tau. Jika anak perempuan semata wayangnya diperlakukan tidak adil oleh sang mertua, mungkin dia tidak akan pernah mau melepaskan sang anak lagi.
"Ya sudah sana berangkat keburu busnya lewat," perintah Santoso.
Melinda dan Candra meraih tangan Santoso lalu mencium punggung tangan itu secara bergantian.
Tak lama kemudian, bus berwarna putih biru itu melaju dengan kecepatan sedang. Candra dan Melinda terus berpegang tangan sembari menikmati perjalanan itu.
"Kamu tidur saja. Mas akan menjaga dirimu," ucap Candra.
Tanpa ragu Melinda meletakkan kepalanya di bahu Candra. Ia mengingat saat dulu berpacaran dengan sang suami. Di mana mereka selalu menghabiskan waktu jalan-jalan menaiki bus. Jika dipikir-pikir dulu saat pertama kali bertemu juga di dalam bus, dimana Melinda menyangka Candra adalah seorang maling.
"Mas, aku jadi ingat dulu aku menuduh dirimu sebagai maling," ucap Melinda mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Candra. Setiap menatap wajah sang suami Melinda merasa jatuh cinta lagi dan lagi.
"Tapi tuduhan kamu itu sekarang jadi kenyataan," jawab Candra.
"Kok bisa?"
"Bisa dong. Karena aku saat ini sudah menjadi maling hatimu," goda Candra.
"Dih, apaan sih Mas." Melinda membuang mukanya karena malu.
Candra mencondongkan tubuhnya lalu tangannya terulur menarik wajah Melinda agar menatap dirinya. Sungguh ia sangat menyukai wajah Melinda saat mengeluarkan ekspresi malu-malu seperti ini.
"Mas sangat menyukai ekspresi ini," ungkap Candra.
"Udah ih ... Malu. Aku mau tidur, Mas." Buru-buru Melinda membenamkan wajahnya di dekat jendela mobil.
Candra senyum-senyum melihat tingkah Melinda seperti malu-malu kucing ini. Dirinya terus berharap semoga pernikahan yang dijalani segera mendapatkan restu dari sang ibu, agar tidak dijadikan beban oleh Melinda.