
"Ah kamu jangan bikin gosip." Candra mencoba untuk meredakan emosinya. Ia pikir baru saja pulang kerja pasti capek, jadi kalau hatinya mudah marah karena cerita Melinda itu mungkin efek dari lelahnya. Ia tak mau menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh Cici.
Kalau ia tidak melihat sendiri, dengan mata kepalanya Candra akan menganggap kalau semua cerita Cici adalah karangan semata. Hoax dan fitnah.
"Aku gak bohong, Mas. Melinda dan Johan memang ada hubungan. Masa kamu gak percaya sama aku sih, kita berteman sejak kecil, loh, Mas." Cici menghentakkan kaki kesal. Ia merajuk, karena aduannya tidak dipercaya oleh Candra.
"Aku akan percaya kalau melihat dengan mata kepala sendiri." Selesai mengucapkan itu, Candra pergi dari hadapan Cici. Ia harus menenangkan hatinya agar tidak mudah terprovokasi oleh ucapan Cici nantinya.
Bukan ia tak tahu kalau selama ini Cici dan mamanya selalu menjelekkan Melinda, seolah apa pun yang dilakukan oleh istrinya itu tidak pernah benar di mata mereka.
Tapi berbeda dengan Cici, setelah Candra pergi dari hadapannya, ia masuk ke kamar Rosa dan mengadu kepada wanita itu. Harusnya Candra percaya padanya karena bukti kalau Melinda selalu membicarakan Johan saja sudah ia dengar, masa itu masih kurang sih buktinya.
"Kamu kenapa sih, Ci?" Rosa duduk di samping calon menantunya sambil melihat gadis itu. "Tadi senyum sumringah, sekarang cemberut. Ada yang membuat kamu kesal?" lanjutnya.
Cici melipat tangan di depan dada. "Tadi aku dengar Mas Candra dan Melinda beradu mulut, Melinda menceritakan tentang Johan yang membuat Mas Candra cemburu." Ia mulai ceritanya.
"Lalu?" Rosa tidak tahu apa yang terjadi hingga suasana hati Cici menjadi tidak baik, padahal harusnya kalau Melinda dan Candra beradu mulut harusnya ia senang kan?
"Mas Candra keluar kamar, aku nyusul dan bilang kalau memang Melinda dan Johan dekat akhir-akhir ini, eh enggak dipercaya dong. Mas Candra malah menuduh aku memfitnah Melinda. Kan menyebalkan sekali, Ma." Ia masih ingat sekali saat dirinya dengan menggebu-gebu menceritakan tentang Melinda dan Johan tapi reaksi Candra biasa saja, malah terlihat curiga padanya. Kan menjengkelkan sekali itu.
Rosa tersenyum. "Kirain ada apa. Tenyata karena itu?" Kalau boleh jujur, ia juga bingung dengan Candra. Seperti dipelet atau sejenisnya, karena terlalu percaya dengan Melinda sampai tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah.
Cici mengangguk. "Kita harus secepatnya bertidak, Ma. Aku gak mau nanti Mas Candra semakin percaya dengan istrinya dan malah rencana kita untuk membuat mereka pisah gagal."
"Ini juga sudah mulai dijalankan rencananya. Kan mama juga sudah menyuruh Candra untuk lebih sibuk di perternakan agar Melinda dan Johan semakin dekat. Coba kamu diam-diam mengambil foto atau vidio ketika mereka berbincang akrab gitu, nanti dikirim ke Candra, kira-kira bagaimana tanggapan Candra nantinya."
Cici tersenyum puas. "Kenapa aku gak kepikiran sampai sana, ya, Ma?"
"Kamu langsung emosi, sih." Rosa terkekeh.
Cici langsung mempersiapkan untuk hari esok. Ia akan merekam kebersamaan Melinda dan Johan untuk menujukkan buktinya pada Candra.
Pagi harinya, Cici sudah menemui Johan. "Kamu harus bersikap perhatian dan romantis sama Melinda nanti, ya!"
Johan mengangguk patuh. "Siap."
"Jadi gimana perkembangan hubungan kalian? Udah ada kemajuan?"
"Ya lumayan daripada dulu. Sekarang sudah lebih akrab sih." Johan membayangkan ia bisa memiliki Melinda seutuhnya. Pasti akan sangat bahagia hidupnya.
"Oke, pokoknya jangan lupa dengan perintahku tadi."
Cici laporan pada Rosa kalau rencananya akan dilakukan nanti siang. Mungkin agar Candra percaya, ia akan langsung mengirimnya, syukur-syukur Candra langsung pulang agar bisa memergokinya langsung.
Dari jarak dua meter di samping kanan mereka, Cici merekam dua orang itu. Ia tersenyum puas saat melihat hasilnya. Optimis sekali kali ini, pasti nanti Candra akan percaya dengan vidio ini.
Tidak menunggu lama, Cici langsung mengirim vidio yang baru diambilnya kepada Candra. Ia menunggu balasan Candra dengan tidak sabar.
Cici menunggu satu menit, belum ada balasan dari Candra, bahkan dibaca saja belum pesannya, padahal Candra online.
Sampai lima belas menit dari vidio itu dikirim, Candra belum membalas pesan darinya. Cici menjadi emosi dan merasa kalau perjuangannya untuk mengambil vidio itu dari angel yang pas sia-sia saja.
"Mana sih kok gak dibalas, cuma dilihat aja." Cici memanjukan bibir karena merasa kalau usahanya kali ini gagal lagi. Ia sudah masuk ke rumah Rosa dan sekarang tengah duduk di ruang santai bersama mamanya Candra.
"Sabar, mungkin Candra lagi menenangkan diri." Rosa yang berada di sana juga tidak habis pikir, padahal di vidio jelas sekali Melinda dan Johan sangat dekat dan bahkan tertawa ngakak seperti akrab berlebih.
"Tapi kalau gini kan jadi sia-sia, Ma. Aku harus bisa membuat Mas Candra benci dengan Melinda, kalau dengan vidio ini tidak berpengaruh apa-apa buat Mas Candra, maka aku akan membuat rencana lain. Tapi apa, ya? Yang sekiranya bisa memperkuat bukti kalau ini memang fakta, bukan hanya rekayasa."
Cici tetap menduga kalau Melinda memakai dukun atau pelet untuk membuat Candra begitu menurut kepada istrinya itu. Andai ia tahu dukun mana yang didatangi Melinda, pasti ia akan ikut ke sana juga.
Rosa ikut berpikir. Ia sudah malakukan banyak cara, tapi hasilnya tidak ada. Mereka berdua masih sama akrab dan bahkan semakin dekat.
"Ma, gimana?" desak Cici.
"Sabar kamu itu. Ini mama juga lagi mikir tahu!" Rosa melempar tatapan kesalnya pada Cici. Ia baru berpikir tapi malah diganggu dari tadi.
"Jadi gimana, Ma?"
"Astaga, kamu kalau gak bisa sabar keluar aja deh. Orang lagi mikir diganggu," usir Rosa pada calon menantu kesayangannya.
"Ya udah, cari yang pasti berhasil. Rencana mama gak pernah ada yang berhasil."
"Emang kamu enggak. Kamu juga sama pun." Rosa tidak mau disalahkan sendiri.
Cici juga kembali memutar otak untuk membuat Melinda dibenci oleh suaminya. Ia harus bisa mendapatkan Candra, biar bagaimana juga ia tidak boleh menyerah begitu saja.
Kalau kata pepatah, pantang menyerah sebelum menang!
"Ah, mama ada ide." Rosa berteriak hingga mengagetkan Cici yang berada di dekatnya.
"Ide apa, Ma?" Cici dengan semangat siap mendengarkan ide yang akan dikatakan oleh calon mertuanya.
"Pokoknya ide ini akan bikin mereka menjauh dan pasti Melinda diusir oleh Candra." Rosa sangat yakin sekali kalau idenya kali ini pasti akan berhasil.
"Oh, ya? Idenya apa tuh, Ma?" tanya Cici tak sabar.