
"Mama yakin akan tetap diam terus seperti ini? Ini sudah berbulan-bulan lamanya loh, Ma." Cici menghela napas panjang saat menyuapi makanan untuk Rosa yang kini terbaring lemah di atas ranjang.
Jujur, wanita itu udah bosen dijadikan pelayan oleh Rosa, tapi karena tujuannya untuk terus menjadikan Rosa tameng agar bisa mendapatkan Candra, ia mau tidak mau melakukannya. Konon kata orang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
"Enggak Sayang. Kita tunggu beberapa hari lagi. Firasat Mama, Candra akan pulang kok. Kamu percayakan doa seorang ibu itu pasti akan dikabulkan sama Yang Maha Kuasa." Rosa mencoba untuk menenangkan Cici. Padahal di dalam diri wanita setengah baya itu juga takut, sebab doanya selama ini tak kunjung dikabulkan oleh Sang Halik.
"Tapi, Ma. Kalau kita tidak melakukan apapun, mana mungkin anak Mama itu kembali. Aku yakin si Melinda pasti terus mencegah Candra untuk pulang. Apa Mama gak mau aku segera menjadi menantu Mama?" Cici mengerucutkan bibirnya agar sang mertua luluh dengan sikapnya yang kini kecewa.
Rosa meraih tangan Cici yang menganggur. "Menantu Mama hanya kamu Sayang. Kamu tenang saja, kalau Mama sembuh dan Candra belum pulang juga, pasti Mama akan menjemputnya."
"Harusnya saat Mama sakit seperti ini bisa dijadikan alasan agar Candra pulang," sahut Cici menyalurkan idenya yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Ada benarnya ucapan Cici. Tapi setelah banyak kejadian apa Candra akan percaya? Untuk itu Rosa tidak mau meluluhkan hati Candra dengan kabar dirinya sakit.
"Meskipun Mama sakit beneran, Mama yakin Candra tidak akan percaya. Makanya Mama gak mau gunakan trik kuno itu," ujar Rosa.
Cici mengangguk paham. Tapi apa dengan trik diam dapat membuat Candra pulang. Kadang jalan pikirannya dengan Rosa selalu berseberangan.
Cici tidak bisa membayangkan jika nanti menikah dengan Candra ia harus hidup dengan Rosa, apa dirinya bisa bernapas? Kalau bukan karena status dan cintanya pada Candra mungkin dia tidak akan bertahan. Kadang dalam benak gadis itu terus muncul satu pemikiran, menyingkirkan Rosa.
"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak percaya dengan Mama?" tanya Rosa saat Cici tak lagi bersuara.
"Aku percaya, Ma. Dan aku tengah memikirkan saat Candra kembali sama wanita itu. Rencana kita harus segera dijalankan," jawab Cici sedikit gelagapan. Pertanyaan Rosa barusan mengusik idenya yang ingin menyingkirkan wanita tua itu.
"Iya, Mama juga berpikir seperti itu. Kamu sudah bertemu dengannya kan? Apa bener dia suka sama wanita itu?" tanya Rosa penasaran.
"Tentu saja, Ma. Aku sudah menyelediki semuanya. Intinya tinggal membuat Candra dan Melinda pulang semua akan aman," jawab Cici dengan seringan lebar.
"Iya, Nak. Kita tunggu beberapa hari lagi, Mama benar-benar memiliki firasat jika Candra akan pulang. Kamu sabar sedikit lagi."
Cici hanya mengangguk percuma juga menekan Rosa, jika sudah dalam keadaan pasrah dengan jalannya takdir. Ia kini kembali melebarkan senyum.
***
Di sisi lain, Candra dan Melinda baru saja tiba di halaman rumah keluarga Pagalo. Saat keduanya menginjakkan kaki di halaman itu, seorang satpam langsung menyambut keduanya.
"Tuan dan Nyonya muda, selamat datang kembali? Rumah ini terasa sepi saat kalian tidak ada," sapa satpam itu.
"Bagaimana kabarnya Mang Agus?" tanya Candra berbasa-basi.
"Saya baik Tuan. Hanya dompetnya lagi gak baik-baik saja. Istri di rumah terus bilang uang belanja kurang," jawab satpam yang bernama Agus.
"Sabar, Mang. Memang jamannya lagi serba sulit," sahut Candra yang langsung dapat kekehan dari Agus. Candra dan Melinda pun ikut tertawa kecil.
"Ada, Tuan. Nyonya Rosa saat ini sedang sakit, di dalam juga ada Nona Cici," ucap satpam itu.
Tangan Candra yang memegang tas langsung lepas dan membuat tas itu jatuh begitu saja. Wanita yang sudah melahirkan dirinya saat ini sedang sakit dan dia terus memendam rasa benci serta kekesalan pada surganya itu. Sungguh sebagai seorang anak Candra merasa dikuliti hidup-hidup.
"Mama sakit apa, Pak?" tanya Melinda mewakili Candra. Meskipun saat ini hatinya sedikit tertoreh luka lama karena mendengar nama Cici, tapi ia tidak peduli baginya mengetahui keadaan sang mertua lebih penting.
"Itu, Nyonya Rosa sakit, ya namanya sudah tua. Apalagi punya darah tinggi, terus banyak pikiran juga. Jadi kesehatannya naik turun dan sekarang jatuh sakit." Agus susah menjelaskan penyakit sang majikan, karena pada dasarnya ia hanya tahu jika Rosa hanya di dalam dan beristirahat hanya saja ia mendengar dari para pembantu jika Rosa memiliki penyakit darah tinggi.
Melinda membulatkan kedua bola matanya, lalu menatap sang suami yang nampak lemas. Melinda tahu saat ini sang suami tentu saja merasa sangat bersalah.
Tangan Melinda terulur di pundak Candra, setelah memberikan usapan halus. Tangan itu turun kebawah lalu masuk ke sela-sela jari. Melinda menggenggam erat tangan Candra.
"Ayo, kita masuk, Mas." Ajak Melinda berusaha untuk tenang agar sang suami juga bisa tenang.
Saat kaki Melinda melangkah terlebih dahulu Candra masih mematung membuat tangan yang saling bertautan itu saling menarik.
"Aku, aku belum bisa, Mel."
"Jangan menyiksa dirimu, Mas. Kita jenguk Mama." Melinda memejamkan matanya lalu menganggukkan kepala guna membuat Candra yakin.
"Nyonya Rosa, Nyonya Rosa. Tuan Candra, Tuan Candra pulang!"
Teriakan salah satu pembantu itu membuat Rosa dan Cici yang berada di dalam kamar melebarkan senyum.
Terlebih Cici yang sejak tadi merenggut ia langsung berubah ekspresi menjadi kegirangan. Ia meletakkan makanan yang dipegang lalu berdiri dari duduknya. "Mama benar. Dia pulang!"
Rosa mengedipkan kelopak matanya sebelah kiri. "Kamu harus bisa menahan diri. Ingat masih ada Melinda di hati Candra. Jika kamu memaksakan diri, dia akan langsung menghindari dirimu."
"Iya, Ma." Cici mengangguk dan tak sabar ingin melihat Candra.
Senyum yang tadi lebar berangsur-angsur menghilang, bola mata Cici melihat Candra yang kini nampak kurusan dengan baju lusuh, beda jauh dengan Candra yang ia kenal dulu. Apalagi di samping lelaki itu ada Melinda yang masih memegang tangan lelaki yang sudah ia klaim sebagai calon suaminya ini.
Pertemuan itu dalam suasana hening. Tidak ada yang ingin menyapa terlebih dahulu hingga berlangsung beberapa menit.
"Mas Candra, kata dokter Mama harus istirahat. Karena kecapekan ngurus perternakan," ungkap Cici berbicara terlebih dahulu agar keheningan mencair.
Candra berdehem, pandangannya tak lepas dari tubuh sang ibu yang kini terbaring di atas ranjang. Setelah puas memandangi sang ibu, Candra melirik ke arah Melinda. Akhirnya setelah mendapatkan anggukan dari sang istri, Candra mampu bersuara.
"Mama bagaimana keadaan Mama?" tanya Candra.
Detak jantung Candra dan Melinda memburu, sebab sejak pertanyaan itu dilontarkan Rosa belum menjawabnya. Apa Mama tidak mau menerima kami? Pikir Melinda dan Candra.