
Rosa membisikkan sesuatu di telinga Cici. Rencana yang ia punya ini belum pernah terpikirkan sebelumnya, tapi ia yakin ini rencana yang cukup bagus.
"Keren. Ini rencana paling brilian yang pernah aku dengar. Jadi kapan kita melaksanakan rencana itu, Ma?" tanya Cici antusias.
Ia tidak sabar menyingkirkan Melinda dari kehidupan Candra. Wajahnya menujukkan kepuasan, sebentar lagi keinginannya akan terkabul dan kalau sudah menjadi istri Candra, mungkin mertuanya yang akan dia singkirkan.
"Tunggu dulu, kita harus mematangkan rencana. Kalau terburu-buru, nanti hasilnya kurang baik." Rosa mencoba melihat sekitar kamarnya, takut ada yang menguping.
Cici mengangguk. Rencana menjebak Johan dan Melinda memang rencana paling brilian yang pernah Cici dengar. Kali ini, ia optimis pasti akan bisa mendapatkan Candra dan mengusir Melinda dari kehidupan lelaki yang dicintainya tersebut.
"Semua orang sedang sibuk, kan?" tanyanya was-was.
"Iya, mereka sedang berada di taman belakang. Jadi gimana besok?"
Rencana mereka susun, Rosa juga mencari obat tidur yang akan diberikan ke dalam makanan Melinda dan Johan besok. Saat sarapan, mereka akan memberikan di makanan itu.
"Yes, aku optimis kali ini pasti berhasil." Cici berkali-kali menyakinkan dirinya dan Rosa.
"Kalaupun gak berhasil, kita akan cari cara lain."
"Jangan gitu dong, Ma. Kita harus pastikan ini rencana terakhir kita. Mas Candra harus berpisah dari Melinda."
Baru saja mereka berhasil mematangkan rencana, Candra membuka pintu kamar Rosa tanpa permisi dulu. Lelaki itu terlihat marah, wajahnya memerah, napasnya ngos-ngosan.
Ia langsung menatap tajam pada Cici yang berada tiga meter di depannya.
"Candra, bisa gak sih kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu." Rosa yang kaget hanya bisa mengelus dadanya. Ia takut kalau Candra mendengar rencananya dengan Cici.
"Aku mau bicara sama dia." Candra menunjuk Cici. "Sini kamu, ikut aku!"
Cici menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Ada apa, Mas? Kenapa gak bicara di sini aja?"
Candra mendengkus. "Oh iya lebih baik memang bicara di sini saja, sekalian ada Mama."
"Ada apa sih, Nak?" tanya Rosa yang ikut bingung dengan sikap Candra.
"Aku gak mau kamu mengadu domba antara aku dengan Melinda lagi, ngerti? Asal kamu tahu, vidio seperti itu tidak akan membuat aku membenci istriku sendiri, jadi stop memprovokasi kami lagi!" Candra menunjuk Cici. "Atau kamu akan tahu akibatnya."
"Kamu ngancam aku, Mas?" tanya Cici tak percaya.
"Bukan hanya mengancam, tapi ini memberi peringatan. Ingat, sekali lagi kamu menyebar fitnah dan memprovokasi hubungan kami, aku gak akan segan-segan berbuat jahat sama kamu."
Cici memang sering mendapat bentakan dan kata kasar dari Candra, tapi tidak pernah sampai ditunjuk dengan wajah marah seperti sekarang. Melihat Candra yang membela Melinda mati-matian, ia semakin membenci istri dari lelaki yang dicintainya itu.
"Mas, aku hanya mengirim bukti. Kemarin kamu bilang tidak akan percaya kalau gak ada bukti, ini ada bukti loh, dan kamu masih menyalahkanku? Kamu bilang aku memprovokasi? Aneh kamu, Mas. Diberi apa sih kamu sama wanita itu sampai menjadi seperti ini?"
Candra tersenyum sinis. "Kamu mau tahu? Yang jelas bukan hanya ocehan tak berguna dari mulutmu itu." Candra melihat sang mama yang berada tak jauh dari Cici. "Dan tolong banget buat mama, jangan sampai ikut terprovokasi oleh kata-kata wanita ini."
Rosa mengangguk lalu menggeleng. Ia harus membela siapa? Di satu sisi ia tidak ingin kehilangan kepercayaan anaknya, tapi di satu sisi ia juga ingin Candra dan Melinda pisah.
Candra membalikkan badan dan meninggalkan kamar mamanya setelah ia mengungkapkan apa yang menjadi kekesalannya hari ini. Setelahnya, ia harus menemui Melinda untuk membuat suasana hatinya kembali membaik setelah tadi melihat vidio yang dikirim oleh Cici.
Ia memang mencurigai Melinda, tapi bukan berarti ia akan langsung begitu saja percaya dengan Cici. Bisa saja Melinda dan Johan vidio itu hanya berbicang biasa, tapi karena pengambilan gambar dari arah yang pas, jadi terlihat seperti sedang bermesraan.
"Astaghfirullah, Mas Candra jalan sambil melamun?" tanya Melinda saat melihat Candra yang menuju ke kamar mereka tapi tidak menoleh sama sekali, padahal ia sejak memanggilnya dan berjalan di samping lelaki itu.
Candra yang tersadar segera mengusap wajahnya kasar. "Maaf, Dek. Lagi banyak pikiran. Kamu dari mana?" tanyanya sambil mencari keberadaan Johan. Entah kenapa instingnya mengatakan kalau Melinda baru saja menemui Johan.
'Ke mana lelaki itu? Kenapa gak sama Melinda?'tanya Candra dalam hati sambil mencari keberadaan Johan. 'Ah aku terlalu banyak berpikir negatif sama Melinda,' lanjutnya.
Johan yang merasa ia tengah dicari memilih menyembunyikan diri di balik pintu dapur sambil menguping pembicaraan sepasang suami istri tersebut.
"Oh ini dari taman, Mama membeli tanaman bunga jenis baru, jadi aku membantu Johan memindahkan ke pot. Kenapa, Mas?" tanyanya. Melinda mengusap lengan suaminya. "Kamu kok aneh, ada apa?"
"Enggak apa-apa, hanya tanya kok. Kamu udah makan?" Candra membalas senyum Melinda.
Melinda mengangguk. "Mas Candra bersih-bersih dulu, nanti aku siapin makannya. Tadi kebetulan masak ayam pedas manis." Ia mendorong tubuh suminya ke arah kamar mereka. "Jangan lupa mandi sekalian, Mas."
Candra mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar, sedangkan Melinda pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya. Ia merasa ada yang disembunyikan Candra, entah apa itu, yang jelas itu bukan sesuatu yang baik.
Interaksi Candra dengannya baru saja juga menunjukkan kalau ada yang membuat pikiran dan hati lelaki itu tidak percaya kepadanya.
Setelah Candra pergi, Cici menutup pintu dan kembali mendekati Rosa. "Ma, kira-kira tadi Mas Candra dengar gak, ya?" tanyanya khawatir.
"Nah itu, mama juga gak tahu, semoga saja enggak dengar. Tapi seharusnya kalau memang dengar dia pasti akan langsung marah, kan?" tanya Rosa. Ia mengingat kembali ekspresi wajah Candra tadi, dan sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan kepadanya. Jadi sementara ia aman.
"Duh jangan sampai Mas Candra dengar dan rencana kita gagal." Cici sangat berharap atas keberhasilan rencana ini.
"Enggak, mama bisa jamin kalau Candra gak dengar apa yang kita rencanakan, jadi besok pagi kita mulai menjalankan. Nanti kamu jangan lupa bilang sama Johan suruh sarapan bareng kita, ya." Ia sudah mulai menyusun dari mulai mereka menelan obat tidur sampai dipergoki Candra.
Cici tersenyum bahagia. "Siap, Ma." Sebentar lagi ia akan bisa mendapatkan Candra.
"Sekarang kamu pergi menemui orang ini, ambil obat tidur dari dia. Nanti mama akan bilang sama bibi biar mereka belanja ke pasar semua, pokoknya di rumah ini hanya boleh ada kita berempat."