
"Kamu langsung ke kamar saja, mama tidak kuat mengatakannya." Rosa mengusap air matanya kasar, ia berpura-pura menangis hingga tak kuat menahan rasa sakit hatinya.
Melihat mamanya yang seolah menanggung beban moral, Candra bergegas menuju ke kamar. Ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga baru saja sampai di perternakan ia sudah diminta kembali.
Hatinya tak bisa tenang, ia penasaran sekaligus takut. Takut kalau sampai apa yang ia pikirkan selama ini benar-benar terjadi.
"Eh Mas Candra sudah pulang? Kok cepat?" Cici yang sudah siap di depan sebelumnya segera menyusul Candra yang hendak ke kamar.
Ia sengaja keluar sebelum Candra kembali tadi, selain untuk mengindari kecurigaan, juga agar Candra tidak menuduhnya yang mengatur semua ini.
Candra mengehentikan langkah. "Kamu dari mana, Ci?" tanyanya curiga. Tatapannya tajam, menelisik wajah Cici dan penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.
Rapi, seolah baru saja pergi. Tapi bukannya Cici menjaga mamanya? Jadi ke mana wanita itu pergi sepagi ini?
"Ambil yang di ATM ini, Mas. Kenapa?" Cici meletakkan belanjaannya ke meja, untung ia sempat belanja di warung depan, jadi bisa buat bukti kalau ia benar-benar keluar.
"Mama sendiri di rumah?" tanya Candra dengan nada mulai tak enak.
"Loh bukannya di rumah ada Melinda, Mas? Tadi sih pas aku tinggal mereka sedang makan sama Johan juga. Ada apa sih, Mas?" tanya Cici yang pura-pura tidak tahu.
Candra menggelengkan kepalanya, ia melanjutkan langkah menuju ke kamar dan melihat apa yang terjadi. Sepanjang langkah ke tempat ia dan Melinda tidur itu, pikiran dan hati Candra tidak tenang.
Tuhan, jangan sampai ketakutanku menjadi nyata. Doa Candra setiap langkah menuju ke kamarnya.
"Mas ada apa sih?" tanya Cici lagi. Ia melirik sekitar, mencari keberadaan Rosa, tapi tidak menemukannya. Entah di mana wanita itu berada.
'Hais mama ke mana sih? Malah ngumpet, kan aku jadi bingung harus ngapain,' batin Cici dalam hati.
Sesampainya di depan pintu kamar, Candra berhenti, ia melihat ada dua sandal di depan kamarnya. Meski ia tahu itu milik siapa, tapi rasanya ia tak percaya kalau benar-benar Melinda berada di dalam bersama orang yang bukan mahramnya.
Hatinya sudah sakit hanya dengan begini saja, hanya dengan melihat dua sandal itu berada di depan kamarnya. Ia menarik napas, berusaha menenangkan hatinya. Tapi usahanya kali ini sia-sia, hatinya bukan tenang tapi malah bertambah sakit.
"Loh ini kan punya Johan." Cici menunjuk sandal di depannya. Ia mulai memprovokasi Candra.
Candra tidak mendengarkan ia langsung mendobrak pintu kamar yang tidak terkunci. Ketika semua terbuka, wajahnya tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.
Di depannya, dia orang sedang berbaring dengan tenangnya sambil berpelukan. Bahkan pakaian Johan berceceran di lantai, sedangkan kemeja Melinda tepat di bawah kaki Candra sekarang.
"Melinda!" bentak Candra. Hatinya meluap marah, ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih melihat kejadian di depan matanya ini.
Cici menutup mulutnya pura-pura kaget, padahal ia sendiri yang menyeting posisi Melinda dan Johan. Senyumnya mengembang, meski hanya dalam hati.
Akhirnya usahanya tidak sia-sia. Membopong Melinda dan Johan ke kamar bukan mudah, ia harus meminta bantuan dua orang tadi. Tapi sekarang orang itu sudah dimintanya pergi sebelum Candra memergokinya.
Kalau hanya ia dan Rosa saja mana mungkin kuat membopong mereka sampai ke kamar Candra.
"Astaghfirullah." Candra mengusap wajahnya kasar, ia masuk ke kamar mandi dan mengambil seember air, dengan cepat disiramkannya ke tubuh dua orang yang ada di atas tempat tidur itu.
Melinda bangun dengan gelagapan. Johan pun sama.
Candra ingins sekali mencekik Johan, tapi ia menahannya agar tidak lepas kendali dan merugikan diri sendiri.
"Ada apa ini?" tanya Johan sambil mengusap wajahnya. Ia terkejut mendapat guyuran gratis sepagi ini.
Candra mencengkeram krah leher Johan, kemudian melayangkan tinjunya di wajah lelaki itu. "Mampus kau!"
Bug!
"Aduh!" Johan oleng dan jatuh ke lantai. Dipeganginya pipi yang baru saja kena pukul Candra.
"Mas Candra!" Melinda berteriak kaget. Ia tidak tahu apa yang terjadi, karena tiba-tiba sudah ada di tempat tidur bersama Johan dan disiram air oleh suaminya.
"Kamu tahu kan dia itu sudah bersuami? Dan kamu beraninya tidur dengan istri orang?" Candra menunjuk Johan.
Johan mengelengkan kepala bingung. "Aku gak tidur dengan Melinda," elaknya.
"Sudah gak ingat dosa kamu, hah? Suami kerja bukannya jaga diri malah selingkuh!" Candra berpaling ke arah istrinya, ia menyeret Melinda turun dari tempat tidur. "Keterlaluan. Aku gak tahu kamu serendah ini Melinda!"
Johan yang kebingungan segera mengambil kemejanya yang ada di lantai, di samping ia jatuh. "Ini kenapa bisa ada di sini sih! Aku kok tiba-tiba ada di kamar?" Ia memukul kepala mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Pergi kamu dari rumah ini! Jangan pernah lagi menampakkan muka di depan semua orang!" usir Candra pada Johan yang masih memakai kemeja dengan raut wajah ketakutan dan bingung.
Johan menurut, daripada ia kena pukul lagi. Tapi yang masih menjadi pertanyaan, kenapa dirinya bisa di atas ranjang bersama dengan Melinda? Seingin-inginnya ia memiliki Melinda, tapi tidak dengan cara ini juga ia merebut wanita itu dari Candra.
Setelah keluar dari kamar Candra, Cici sudah menunggunya di depan. Gadis itu memberikan segepok uang dan menyuruh Johan meninggalkan rumah Keluarga Pagalo.
Setelah mengurus Johan, Cici kembali ke kamar Melinda untuk melihat apa yang terjadi dengan wanita saingannya tersebut.
"Aku gak selingkuh, Mas. Sama sekali aku gak pernah selingkuh." Melinda bersujud di kaki Candra.
"Kamu bilang enggak tapi aku bisa melihat dengan mata sendiri apa yang kamu lakukan saat aku tak ada. Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas aku sangat kecewa dengan kamu."
"Mas, maaf. Aku gak melakukan apa-apa, aku juga bingung kenapa bisa berada di sini bersama Johan."
"Alasan!" bentak Candra. "Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini, aku talak kamu Melinda!"
"Mas Candra, jangan sembarangan menjatuhkan talak." Melinda ketakutan, ia tidak pernah melakukan hal yang dilarang agama, ia juga bingung kenapa bisa berada di kamar bersama Johan.
"Aku gak peduli, aku hanya mau kamu pergi dari sini. Bawa semua barang-barang kamu dan jangan pernah lagi kembali ke sini!" Candra enggan menatap Melinda.
Cici tersenyum puas, akhirnya ia bisa memisahkan mereka berdua. Setelah ini ia yakin kalau Candra tidak akan mau lagi menerima Melinda. Renacanya berhasil.
"Pergi dari sini, Melinda! Aku gak mau lihat wajah kamu lagi!" usir Candra sambil mengeluarkan semua baju Melinda dari dalam lemari.