
Acara arisan di kediaman Rosa berlangsung sangat ramai. Yohana pun ada di sana. Beruntung dress yang kemarin sempat dirobek oleh salah satu pegawai Cici sudah selesai masalahnya, tentu saja diganti yang baru.
Niat ingin membuat Melinda mendapat masalah, kini malah Cici yang mendapat masalah karena ulahnya.
"Kemarin aku ketemu sama pembantu kamu di butik Cici loh, Jeng." Yohana menepuk lembut bahu Rosa.
Rosa mengeryitkan dahi. "Yang mana? Sepertinya pembantuku gak ada yang ke sana kemarin." Ia duduk di sofa, bukan di kursi roda seperti biasanya.
"Yang tadi bawa pudding itu."
Rosa baru ingat kalau ia mengatakan kepada teman-temannya bahwa Melinda adalah pembantunya. Ia malu kalau harus mengakui jika Melinda adalah menantu di rumah ini, alias istri dari Candra, anak lelakinya.
Mau ditaruh di mana mukanya kalau sampai semua orang tahu jika ia mempunyai menantu dari keluarga biasa saja, bahkan miskin. Seharusnya yang jadi menantu di rumah ini adalah Cici. Wanita kaya dan terhormat, bukan Melinda yang bahkan penampilannya saja kampungan.
"Oh iya iya." Rosa menjawab sambil tersenyum meremehkan.
"Tapi seperti bukan penbantu, ya. Orangnya sopan dan lebih cocok menjadi menantu kamu deh." Yohana berkomentar.
"Ah gak juga. Aku kalau cari menantu lihat dari keluarganya, bukan hanya orangnya saja." Rosa menyeruput minuman yang ada di meja.
"Ah jaman sekarang yang penting pribadi anaknya, Jeng. Buat apa dari keluarga terhormat tapi tidak tahu sopan santun dan urakan, kan?"
"Tapi kalau Melinda itu memang anaknya tidak tahu sopan-santun, Jeng. Dia malah kemarin abis nyolong kalungku, dan masih banyak lagi ulahnya yang membuat kepala pusing. Mana kerjanya lelet dan malesan lagi."
Yohana tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Rosa. Ia antara percaya dan tidak percaya mendengar cerita temannya tersebut. Kemarin sempat mengobrol sedikit dengan Melinda, dan ia rasa gadis itu sangat baik. Malah sopan banget. Tapi kenapa Rosa mengatakan kalau Melinda malesan dan tidak sopan?
"Kamu kalau besok mau nyari menantu, jangan yang seperti itu deh, Jeng. Nanti yang ada setiap hari makan hati kamu, mah."
"Kok bisa?" tanya Yohana penasaran lebih dalam lagi dengan Melinda.
"Ya jelas, bayangin aja kamu udah bangun pagi dan kerja, menantu kamu masih tidur. Kan gak banget, Jeng."
Yohana mengangguk. "Tapi aku gak masalah sih kalau memang menantuku bangun siang, yang penting kerjaannya selesai aja, Jeng. Kan jaman sekarang kita bisa pakai ART, jadi besok menantuku gak dituntut harus bisa kerjaan rumah."
"Wanita harus bisa, Jeng. Kalau gak tahu kerjaan rumah jangan diambil menantu. Akan susah nantinya." Rosa mengompori Yohana dengan pendapatnya. Padahal ia hanya ingin diakui kalau apa yang ia lakukan itu adalah suatu kebenaran. Termasuk membuat Melinda sadar diri dan sadar posisi di rumah ini.
Yohana mengendikkan bahu. "Oke deh. Lihat besok aja gimana. Aku mah ikut anak saja. Siapa yang dipilih anakku mendampinginya, aku akan setuju." Karena menurutnya, orang tua hanya mendampingi anak, bukan berarti harus menentukan kehidupan si anak nantinya. Soal jodoh, akan ia serahkan sepenuhnya kepada yang akan menjalani.
"Meski gak dari keluarga terhormat?" tanya Rosa seolah tak percaya. Bagaimana bisa Yohana dengan santainya mengatakan kalau dia tidak memilih menantu yang dari keluarga terhormat, padahal keluarga Yohana adalah keluarga yang bisa dibilang disegani di kawasan itu.
"Ya, meski dari keluarga biasa saja." Yohana menjawab santai.
"Apa gak malu-maluin, Jeng?" tanya Rosa yang merasa tidak sepemikiran dengan Yohana.
"Iya deh, yang penting jangan seperti Melinda. Nanti kamu pasti malu kalau dapat menantu seperti dia."
Melinda yang mendengar itu merasa sakit hati. Ia memang bukan orang yang diinginkan oleh Rosa sebagai menantunya, tapi bukan berarti harus dijelekkan di depan orang-orang juga kan?
Ia mengambil tisu, lalu meremasnya dan melemparkan asal ke tong sampah. Kalau hanya dihinda di lingkungan rumah ini saja, ia sudah biasa. Tapi kenapa harus di depan orang yang bahkan tidak kenal dengannya?
"Aku malah pengen punya menantu seperti Melinda, Jeng." Yohana tertawa kecil sambil menyesap minumannya.
Melinda menarik napas, ia lalu membawakan makanan kecil lagi ke depan anggota arisan mertuanya. Tak lupa Melinda menyapa mereka yang tadi belum sempat disapanya.
Rosa terlihat kesal, ia ingin mengusir Melinda dari sana, tapi sudah diberi kode lewat lirikan mata.
Melinda acuh. Dia malah duduk di sofa dan berbaur dengan yang lainnya. "Silahkan diminum, Bu." Ia tersenyum ramah.
Beberapa orang yang tadi mendengar kalau Melinda adalah pembantu di rumah itu merasa aneh karena melihat Melinda ikut duduk bersama dengan mereka.
"Jeng, itu pembantunya gak apa-apa duduk di situ bareng kita?" tanya salah satu teman arisan Rosa.
"Eh kamu sana kembali ke dapur!" usir Rosa pada Melinda.
"Em sebelumnya mohon maaf, tapi saya bukan pembantu di rumah ini. Saya istri Candra, menantu Bu Rosa." Melinda berkata tegas sambil melihat ke arah orang yang tadi mengadu kepada Rosa.
"Hah? Maksudnya?" tanya teman arisan Rosa lagi.
"Iya saya menantu keluarga Pagalo." Melinda menjawab tanpa keraguan sedikitpun. Ia akan menunjukkan kepada semua orang posisinya di rumah ini. Ia yang dipilih Candra untuk menjadi pendamping hidup lelaki itu, jadi buat apa menyembunyikan statusnya. Padahal banyak yang ingin berada di posisinya saat ini.
Bisik-bisik mulai terdengar di sana. Rosa meradang. Berani-beraninya Melinda mengatakan di depan banyak orang kalau dia adalah istri Candra, padahal tadi ia sudah mengatakan kepada semua orang jika Melinda pembantu di rumah ini.
"Wah ternyata kamu menantu Rosa. Beruntung sekali Rosa mempunyai menantu seperti kamu," puji Yohana.
Melinda mengucapkan terima kasih. Ia merasa puas karena sudah berani mengatakan di depan umum tentang statusnya di rumah ini.
"Gak usah kesenengan karena kamu dinikahi, Candra! Sampai kapanpun, aku tidak akan menganggap kamu sebagai menantu keluarga Pagalo!" Rosa menunjuk Melinda dengan marah.
Ia merasa terhina ketika Melinda mengatakan tentang statusnya di depan teman-temannya. Lancang memang. Dan entah sejak kapan gadis itu berani berontak, padahal sebelumnya Melinda selalu diam ketika dia mengatakan apa pun kepadanya.
"Ma, aku tidak mengambil kalung Mama. Sampai kapan Mama mau menyingkirkanku dari Mas Candra? Aku ini istri sah Mas Candra, Ma." Melinda menatap mertuanya penuh harap.
"Gak akan pernah. Kamu gak akan pernah aku anggap menantu di rumah ini."