Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 7.KEKUATAN DARA


Ke dua pipinya mengembung dan kembali kempes. Hari telah kian larut, tapi ke dua matanya masih tidak bisa tertutup. Tidak ada yang melatar belakangi gadis berkaca mata tebal ini untuk enggan menutup mata. Hanya saja ke dua matanya tidak bisa di ajak berkompromi untuk sekedar terpejam barang sejenak.


"Hoi! Ngapain di sana?" Seruan suara bas itu menggema di sunyi nya malam.


Dara menoleh ke belakang. Ke dua bola mata madu itu berotasi malas. Si manja! Pria yang paling malas untuk Dara layani di saat seperti ini. Derap langkah kaki memantul. Air kolam di panah lampu tampak berkilau dengan warna biru yang begitu indah. Sudah dua Minggu semua nya berlalu begitu saja. Mark tidak berubah, masih suka mencari gara-gara dengan nya. Sedangkan Alex! Pria itu tidak lagi tampak semenjak hari pria Mafia gila itu melecehkan nya.


"Ngapain sih ke sini?" sewot Dara dengan di sertai delik kan mata tak suka.


Mark si manja tidak ambil pusing. Ia duduk di samping Dara dengan wajah polos tanpa dosa.


"Ya, suka-suka aku lah. Inikan vila milik keluargaku!" balas Mark dengan nada bas nya.


Dara mencibir. Ke dua kaki di dalam air kolam bergerak-gerak. Mark menengadah menatap betapa indah nya langit malam. Ada banyak bintang berkedip-kedip indah hanya untuk menggoda nya untuk tersenyum. Merasa aneh dengan kediaman si manja. Dara menoleh ke samping melirik Mark.


Rahang tegas terlihat begitu seksi. Bibir tebal merah seksi begitu mempesona. Jika saja si manja tidak menjengkelkan. Bukan tidak mungkin dirinya jatuh cinta. Melihat visual Mark yang benar-benar memukau. Jika Alex dengan kesan maskulin dan bad boy nya. Maka Mark dengan kesan cute boy dan seksi. Begitu lah kesan ke dua kakak beradik itu.


"Sudah puas melihat betapa tampannya Mark Felton, huh?" Mark berseru tanpa menoleh. Kepalanya masih menengadah menatap indahnya bintang yang berkedip.


Sebelum posisinya berubah. Pria itu memilih merebahkan tubuhnya di lantai dengan ke dua tangan yang menjadi alas kepala belakang nya. Dara berdehem keras mencoba menguasai suasana kembali.


"Siapa juga yang melihatmu," tukas Dara dengan nada aneh,"apa katamu tadi, wajah tampan? Huh! Ayolah berkaca di kamarmu tuan muda Felton. Wajah sepertimu terlalu banyak di Eropa ini. Aku tadi menatap taik matamu itu," sambungnya penuh dusta.


Dara Margaretha bukan gadis yang mudah mengakui segala sesuatu. Termasuk mengakui jika ia sempat beberapa detik terpesona dengan visual Mark. Beda Dara, maka lain lagi dengan Mark. Tuan muda Felton ini dengan cepat mengusap ke dua sisi matanya dengan kasar. Terlalu polos, percaya dengan alasan penuh dusta Dara.


"Nggak ada tuh?" Kesalnya menunjukan ke dua sisi matanya.


Dara hanya mengangkat ke dua bahunya acuh. Mark bangkit dari posisi tidurnya. Duduk dengan tegap.


"Kau kenapa tidak tidur di jam segini?" Mark terlihat masih penasaran.


Dara menghela napas pelan."Entahlah," jawabnya jujur.


"Cih!" Mark berdecak pelan kala mendapatkan jawaban tak jelas dari Dara.


"Kau sendiri?"


"Aku?" Tunjuk Mark pada dirinya sendiri.


"Ya!" Kepala Dara mengangguk cepat.


"Aku ingin minum susu," jawabnya terdengar aneh di telinga Dara.


Dahinya berlipat dalam."Susu?" oke otaknya traveling kemana kala susu di ucapkan.


"Hei! Ada apa dengan ekspresi wajah mesummu itu," decak Mark dengan wajah penuh selidik.


"A——apanya?" Dara tergagap menjawab.


Mark tersenyum miring mendengar jawaban tergagap Dara.


"Hei! Jangan bilang kau berpikir aku menyusu pada itu!" Ujarnya dengan kurang ajarnya menujuk dada rata Dara.


"Gila!!!" Teriak Dara dengan gerakan ke dua tangan menyilang di dadanya.


Wajah Mark berubah semakin aneh. Senyum mesum terlihat jelas, kala bibir bawahnya di gigit pelan.


"Boleh juga kalau kau mau menyusyiku!" goda Mark dengan wajah nada menggelikan di telinga Dara. Bahkan ke dua alis matanya di naik turunkan.


"Dasar bule mesum!" Teriak Dara langsung berdiri dari posisi duduknya.


Mark mengikuti Dara. Berdiri cepat.


"Hei! Kau tak akan menyesal kalau mau menyusuiku!" Ucap Mark lagi dengan bibir mayun-manyun.


"Bajingan!" teriak Dara melayangkan tangan nya pada Mark.


Mark menangkap tangan yang di layaknya oleh Dara. Tubuh nya meronta-ronta.


"Lepaskan!" Dara menyentak tangannya yang di genggaman Mark dengan keras.


Tubuh yang tinggi dan kokoh itu tampak tak bergerak saat tubuh mungil Dara menyentak tangannya.


"Lepas?" tanyanya dengan wajah membodoh,"lepaskan sendiri saja. Kau yang mau memukulku. Jadi berusahalah untuk lepas sendiri. Gadis culun!" lanjut Mark dengan senyum miring.


Dara memerah. Kala wajah di dekatkan ke arah Dara.


"Kalau tidak bisa melepaskan maka, aku boleh dong mencoba?" bisik Mark dengan nada mengesalkan di telinga Dara.


"Kau!!!!" teriak Dara.


Dara mengeram. Senyum miring terbentuk di wajah Dara. Sebelum...


Bug!


Mbeek!!!!!!!!!!


"Ugh!!!"


Wajah Mark langsung memerah. Tangan yang dengan kuatnya menggenggam pergelangan tangan Dara terlepas. Ke dua kakinya terasa seperti jeli. Hingga terjerembab di lantai.


"S——sasa——sakit!!!!" Mark berguling-guling di lantai mengusap adik kecil nya yang di tendang dengan paha kecil Dara.


Prok!


Prok!


Tangan Dara bertepuk kecil. Senyum lima jari tercetak di wajahnya.


"Makanya jangan menggoda gadis Indonesia. Tidak tau saja, walaupun kami tidak bisa bertarung. Tapi kami tau letak titik butamu!" ujar Dara dengan wajah penuh kenangan.


Sebelum bergidik jijik. Saat ingat rasa kenyal beradu dengan tulang pangkal pahanya yang menghantam adik kecil Mark.


"Iihhh!!! Pahaku tidak perawan lagi!!!" Teriaknya keras sebelum berlari terbirit-birit masuk ke dalam vila meninggalkan Mark masih berguling-guling dan mengerang dengan wajah memerah. Bahkan urat lehernya mencuat.


Mark Felton berjanji. Dia akan membalas perbuat Dara padanya. Tunggu saja!


...***...


"Ti——tidak bisakah aku tidak pergi dengan nya?" tanya Dara mencicit pelan.


Emma mengeleng cepat."Kau mau mati di tangan Bos?" balasnya dengan wajah datar.


Kepala Dara mengeleng cepat."Tidak," jawabnya pelan.


Emma hanya mengulas senyum. Tangannya kembali bergerak mengulas lipstik merah di bibir tipis Dara. Emma kemudian menelisik wajah Dara. Tidak buruk. Satu kata yang di dapat kan di otak Emma.


Emma pikir Dara tidak terlalu jelek. Di polos sedikit saja, Dara tampak manis. Rambut sebahu itu di bentuk sedikit bergelombang. Lensa mata berwarna senada dengan mata asli Dara tampak memukau. Dengan dress hitam selutut, dengan tali pasta memperlihatkan bahu mulus.


"Sempurna," ujarnya pelan.


"Apa?" tanya Dara dengan nada pelan.


"Lihatlah wajahmu. Kau terlihat manis," ujar Emma. Sebelum memperlihatkan cermin di ke depan wajah Dara.


"Wah!!! Ini aku?" tanya Dara dengan wajah tak percaya.


"Hem! Ini kamu, bagaimana?"


"Cantik," jawab nya pelan.


Emma hanya terkekeh kecil. Sebelum ke duanya terganggu oleh suara bariton yang menggema.


"Sudah siap?" serunya suara itu di ambang pintu yang terbuka.


Dara dan Emma menoleh ke arah pintu. Tubuh kekar dengan kemeja hitam membalut tubuh kekar itu, rambut di tata rapi, aroma tubuh yang beraroma permen karet menguar. Alex Felton terlihat begitu tampan. Dara terpana oleh penampilan Alex. Bola mata hijau tajam itu membenam Dara jauh ke dalam pesona Alex. Bahkan tanpa ia sadari bibirnya terbuka.


"Katup mulutmu, sebelum air liurmu terjun bebas gadis Asia!" serunya dengan nada dingin.


Glek!


Sontak saja Dara tersentak dan meneguk air liur nya. Emma terkekeh pelan melihat Dara.


"Ayo berdiri," ujar Emma. Kala tangannya menyentuh bahu Dara.


Dara tersenyum. Ia mengangguk cepat. Berdiri dengan bantuan Emma. Sepatu berwarna senada dengan dress yang ia pakai. Gadis ini melangkah dengan ragu. Emma melepaskan tangan Dara, kala Alex dan Dara berjarak dua langkah.


Alex memberikan kode dengan matanya. Dara menarik napasnya perlahan-lahan sebelum menghembuskan nya dengan perlahan pula. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Karena pesona yang di pancarkan oleh Alex. Bad boy satu ini. Ia bahkan melupakan fakta bahwa Alex adalah seorang Mafia gila. Telapak tangan Alex terulur. Dara meraihnya dengan cepat. Ke dua kakinya melangkah mengikis jarak antara mereka.


Ke duanya melangkah meninggalkan kamar. Di arah dapur Mari keluar dengan segelas susu hangat. Ia berhenti kala ingin menaiki tangan. Ke dua matanya memicing untuk memperjelas siapa yang tengah bergandengan tangan dengan sang kakak.


"Dara?" ujarnya tak yakin. Kepalanya menggeleng cepat."Mana mungkin gadis culun itu?" lanjut nya tak percaya.


...


...