Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 29. PERASAAN ALEX


Bug!


Bug!


Bug!


Samsak tinju di pukul keras. Kulit wajahnya tampan memerah. Pukulan demi pukulan di layangan oleh tangan kekar itu. Peluh menetes tanpa henti. Tom di bawah ring tinju melirik sekilas ke arah sang Bos. Pria berkulit hitam ini tidak tau apa yang membuat Alex Felton terlihat aneh hari ini. Seakan tengah melampiaskan amarah yang tertahan.


"Ada apa dengan Bos, Tom?" seru Emma Young kala berdiri sejajar di sebelah tubuh Tom.


Tom menoleh ke samping."Aku tidak tau. Dari masuk ke area tinju Bos sudah terlihat seperti itu," ujar Tom jujur.


Emma mengangkat pandangan matanya. Menatap sang Bos yang masih terlihat menghantam keras samsak. Ke dua tangan di lipat di dada. Emma menatap sang Bos dengan kerutan di dahinya.


"Apakah ia bertengkar dengan Dara, ya?" seru Emma dengan nada suara kecil.


Sebelah alis mata Tom terangkat tinggi ke atas."Ada apa dengan Dara?"


"Masalah nya saat pulang dari menjemput Dara di perpustakaan. Wajah Bos terlihat aneh. Di tanya sama Dara pun, gadis itu tidak tau apa yang terjadi pada Bos." Emma menerangkan apa yang ia tau.


Kontak kembali ke dua nya menatap ke depan saat suara sang Bos mengerang kesal menghantam samsak.


...***...


"Aku dengar kau memilih mengajar di kampus, Juan?" Jenni berseru keras saat Juan baru masuk ke dalam rumah mereka.


Juan Brown mengurungkan niat nya untuk masuk ke dalam kamar. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jenni yang tengah membelai penuh kasih sayang kucing peninggalan Zain.


"Apa ada masalah dengan itu?" Juan balik bertanya pada saudara kembar nya ini.


Jenni mengangkat ke dua sisi bahunya dengan ekspresi seolah-olah berkata tidak ada masalah baginya. Sebelum membuka kembali pembicaraan.


"Dia juga ada di sana bukan?"


"Dia siapa?"


"Jangan berlagak sok tidak kenal Juan. Dia yang masuk ke universitas yang kau ajarkan. Apakah ini hanya kebetulan semata atau kau punya rencana lain padanya?"


"Apa gunanya aku memiliki rencana lain padanya, Jenni. Aku hanya bertugas mengajar saja di sana. Hanya itu aku tidak berpikir aneh-aneh hanya karena ia kebetulan berada di kampus yang sama denganku. Lagipula dia tidak ada hubungan apa-apa dengan kita. Yang berurusan dengan kita adalah Alex Felton bukan gadis culun itu. Sungguh picik jika kita bermain dengan dia yang lemah dan bukan tandingan kita," ujar Juan memberikan nasehat pada Jenni.


"Ck! Kau ini memang benar-benar menyebalkan. Dari mana datangnya dia tidak ada hubungannya dengan kita Juan? Dia adalah kekasih Alex. Semua yang berhubungan dengan Alex. Tentu saja berhubungan dengan kita. Salahkan saja hidupnya yang sial. Hingga masuk ke dalam kehidupan Alex!" tukas Jenni berdecak sebal.


Kepala Juan sontak mengeleng kecil. Apa yang sebenarnya merasuki saudara kembar nya ini. Jenni terlalu dibutakan oleh rasa benci dan amarah. Hingga siapa pun yang terlihat terlibat akan di hajar begitu saja.


"Sudahlah. Rasanya sulit berbicara denganmu," dengusnya.


Juan kembali membalikkan tubuhnya. Dengan tangan berkerja membuka pintu kamarnya. Masuk meninggal kan Jenni yang mengerang kesal.


...***...


"Leher kepalamu akan patah jika kau terus seperti itu melirik pintu kamar Alex, Dara!" Seru Mark mengalun keras.


Dara menoleh menatap sang pemilik suara. Mark Felton melangkah mendekati Dara yang duduk di bangku di pinggir kolam berenang. Mark mengambil tepat duduk di bangku satu lagi. Ia merebahkan tubuhnya di kursi. Sembari meluruskan ke dua tungkai kaki panjang itu.


"Jam berapa kau pulang?" Dara mencoba mengalihkan pembicaraan.


Gadis culun ini berani bertaruh jika Mark akan menggoda nya karena kedapatan menatap lama jendela kamar Alex. Dengan eskpresi wajah cemberut. Dari tadi malam dan kembali malam lagi. Pria itu tidak juga pulang. Apakah pria itu tidak tau jika Dara Margaretha merasa kangen berat sama dia.


"Aku baru sampai tiga puluh menit yang lalu. Memperhatikan kamu yang terus menerus menatap pintu jendela kamar Alex. Kau saja yang tidak sadar jika di perhatikan," imbuh Mark.


Dara kembali cemberut."Hah! Alex kemana sih, Kok nggak pulang-pulang?"


"Mana aku tau. Kau tanya saja pada Emma atau pada Tom. Mereka lebih tau jadwal Alex dari pada aku. Aku mana tau jadwal Alex. Dia juga jarang di rumah," balas Mark.


Pria tampan itu menghela napas letih. Dara pun juga begitu. Jujur saja Dara tidak tau apa yang terjadi dengan Alex. Kenapa pria itu terkesan menghindar darinya. Apakah ia memiliki salah pada pria itu? Atau apa yang ia lakukan hingga membuat pria itu marah sampai menghindari nya?


Dara ingin Alex berbicara terus terang padanya. Dara sama sekali tidak mengerti isi hati Alex. Pria itu bungkam dan pergi menjauh darinya.


"Apakah dia menghubungi kamu?" tanya Dara sembari memicing menatap curiga pada Mark Felton.


Dara berpikir Mark tau dimana dan apa yang membuat Alex tidak pulang. Mark menutup perlahan kelopak matanya. Rasanya cukup lebih berkerja memeriksa beberapa berkas pemasukan Mall dan beberapa tokoh yang mengajukan diri untuk bisa mendapatkan tempat di Mall terbesar di Texas itu.


"Mana aku tau. Alex tidak menghubungi aku sama sekali. Kami ini kakak dan adik yang unik tau. Dia tidak menghubungi aku untuk bertanya ini dan itu. Karena dia sudah mengawasiku dimana pun aku berada. Karena itu wajar dia tau apapun yang aku lakukan tanpa harus menerangkan lebih banyak apa yang tengah aku lakukan. Dan ia tidak pernah bertanya banyak padaku." Papar Mark sembari mengucek ke dua mata nya yang terasa lelah.


Seperti nya ia butuh tidur di awal waktu. Karena matanya sudah cukup letih menghadapi layar komputer dan isi laporan.


"Oh....begitu," balasnya hanya bisa ber'oh ria.


"Kau nikah sana sama Alex!"


"Maunya sih begitu, tapi Alex itu suka nggak jelas kadang-kadang," keluh Dara mengikuti jejak Mark. Ia merebahkan tubuhnya di kursi.


Manik mata madunya menatap hamparan bintang yang berkelip di atas langit malam. Ke dua kelopak mata Mark terbuka perlahan. Sebelah tersenyum lucu.


"Sebegitu cintanya kau pada Alex, Hem?"


Kepala Dara mengangguk kecil."Ya, tentu saja. Tidakkah kau melihat betapa gagahnya Alex?"


"Heh? Lebih tampan aku kalau di bawa kemana-mana tau. Tidakkah kau melihat pesonaku ini?" tukas Mark kesal.


Kepala Dara menoleh ke samping. Ia mencabik mendengar perkataan Mark.


"Percuma ganteng kalau itu hanya buyung puyuh," ledek Dara.


Mbeek!!!!


Mark Felton selalu saja kalah dalam bersilat lidah dengan Dara. Gadis culun ini terlalu hebat dalam bersilat lidah. Lidah tak bertulang itu benar-benar licin dalam bermain kata.