
"Aku sudah dengar dari Jenni tentang semua yang terjadi, Niko!" Dara membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Niko menundukkan pandangan nya. Helaan napas lelah mengalun dalam. Ke dua sisi bibir nya di tarik perlahan-lahan. Senyum melengkung begitu saja.
"Maaf," balas Niko dengan nada berat,"aku memang dari awal nya mendekatimu tidaklah tulus. Namun perlahan-lahan perasaan itu berubah. Karena kau bukanlah gadis seperti yang pernah aku temui. Kau tulus pada orang yang kau sayangi. Tidak pernah menuntut banyak hal. Dan kau tau cara memperlakukan orang yang kau cintai bahkan juga tau cara menghargai nya," sambung Niko Wu.
Dara Margaretha gadis yang benar-benar hebat di mata Niko. Tanpa gadis ini merubah penampilan nya. Baik saat ia terlihat sederhana pun, ia masih memancarkan aura yang menyejukkan. Pancaran ketulusan yang mampu menjerat banyak orang untuk mencintai nya.
"Ya...aku tau hal ini. Ada banyak hal yang tidak bisa kita bicara secara terang-terangan. Akupun, menerimamu di sisiku. Aku tidak bisa membicarakan banyak hal padamu. Karena aku ini cukup waspada berkenalan dengan orang baru. Apa lagi, Alex Felton bukanlah pria biasa. Jadi, bisa di bilang aku dari awal tidak pernah tertipu."
"Apakah dari awal kau tau jika aku mendekatimu karena ada alasan lain?"
Kepala Dara mengangguk pelan."Tentu saja."
"Lalu bagaimana dengan sekarang? Apakah kau merasa hal yang sama seperti dulu?"
Kepala Dara menggeleng pelan."Tidak. Aku merasa sedikit demi sedikit kau mulai berubah. Kau tidak seperti orang yang sedang mengawasiku. Perasaanmu mulai tulus padaku. Terima kasih akan hal itu, Niko!"
Niko mengangkat pandangan nya. Wajah Dara tampak sangat cantik. Gadis ini terlihat memancarkan kesan dewasa di matanya.
"Lalu dengan perasaanku?" Niko berseru lirih.
Dara menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan nya perlahan-lahan.
"Aku tau. Namun dari awal kau dan aku hanya teman Niko. Aku tidak bisa menawarkan perasaan yang berbeda padamu. Karena perasaanku dari awal sampai akhir tetap milik nya," ucap Dara pelan.
Manik mata madu itu dapat melihat kekecewaan di ke dua mata Niko. Pria ramah ini kembali mengulas senyum pedih. Apa boleh buat, perasaan tidak pernah bisa di paksakan. Cinta tumbuh bukan dengan paksaan.
"Ya, aku tau itu." Niko menjawabnya mengangguk-angguk pelan pertanda mengerti.
Dara mengulas senyum. Tangannya bergerak merogoh tas nya di pangkuan. Sebelum mengeluarkan undangan. Menyodorkan nya ke depan Niko. Ragu-ragu Niko meraihnya, sebelum melihat nama yang tertera dengan tinta emas itu.
"Kau dan dia?"
"Ya. Melamarku. Meskipun tidak ada romantis-romantisnya. Lucunya, kalau sudah cinta. Lamaran aneh tetap akan di terima," ucap Dara. Sebelum ia terkekeh di akhir kata.
Benar saja Bos Mafia Kejam itu entah itu sebuah lamaran atau ancaman. Kemarin ia dan Juan bertemu. Membicarakan kesalahpahaman antara mereka. Tentunya, Dara menolak perasaan Juan.
Setelah obrolan singkat nya dan Juan di ruang tamu rumah besar Felton. Alex marah besar. Dengan kurang asamnya, dia malah menodong kan moncong pistol pada dirinya. Dengan dua pilihan menikah dengan nya atau mati di tangannya.
What the hell.
Apakah itu bisa di anggap lamaran romantis? Dasar Bos Mafia gila. Dara tentunya lebih memilih cincin di tangan kanan Alex Felton dari pada memilih timah panas. Emma, Tom dan Mark yang menyaksikan nya sempat syok. Bahkan Mark melotot melihat lamaran aneh dari sang kakak.
Dara kembali terkekeh geli dengan kegilaan Alex Felton. Undangan di cetak di hari dan jam itu juga. Alex seperti nya memang bertekad memenjarakan dirinya di dalam hidup seorang Bos Mafia Kejam itu.
"Lalu bagaimana masalah keluargamu?" Niko kembali bertanya.
Dara menyandarkan punggung belakang nya di kursi kafe. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Semua nya sudah takdir sang maha kuasa Niko. Kematian tidak bisa di hindari saat sudah saatnya. Aku bukan orang pendendam. Keluarga Alex tidak bersalah akan kematian orang tuaku. Begitu pula dengan kematian adikku. Yang hilang tidak akan kembali. Percuma menyimpan rasa pedih seorang diri. Apa lagi sampai mendendam," papar Dara dengan jujur.
Niko mendesah kecewa. Meskipun di telaah kembali keluar Alex tidak memiliki salah. Karena ke dua orang tua Alex di bunuh oleh musuh nya. Kebetulan saja mobil keluarga Dara juga di sana. Hingga semua yang menang digariskan terjadi begitu saja. Sedangkan adik Dara. Meskipun di tangani lebih dahulu pun ia akan tetap meregang nyawa. Dara sesekali merasa kan perasaan sedih akan kehilangan. Namun hidup terus berjalan. Waktu tidak akan pernah berhenti meskipun kita terpuruk.
"Kau yakin akan ikut denganku?"
Entah sudah untuk ke berapa ratus kalinya wanita cantik ini bertanya pada Juan yang melangkah di samping tubuh langsing nya.
Juan menoleh ke samping."Aku tidak tenang meninggalkan saudara kembarku pergi ke Hongkong sendiri."
"Cih! Katakan saja kau tidak ingin menambah luka hatimu melihat Alex dan Dara akan menikah, kembaranku!" Jenni mencemooh Juan begitu saja.
Juan hanya terkekeh kecil. Koper berukuran besar itu di tarik perlahan-lahan mengikuti jejak sang kakak.
"Kau terlalu paham diriku."
"Kenapa kau harus mengalah?"
"Hei! Aku tidak ingin bersaing dengan sahabatku sendiri."
"Lalu kemarin? Kemana larinya keberanian seorang Juan Brown. Yang bilang sangat mencintai Dara Margaretha. Bahan memiliki rencana merebut Data dari Alex."
"Itu karena aku pikir Alex akan menyakiti Dara. Tapi sekarang kan berbeda. Apa yang terjadi tidak seperti yang aku bayangkan."
Jenni hanya terkekeh kecil. Ia menatap sang adik.
...Bruk!...
"Ah...maafkan aku nona!" seru pria tampan di kursi roda.
Pria itu tidak sengaja menabrak koper Jenni. Juan ikut menghentikan langkahnya.
"Hah! Tidak apa-apa. Tuan ke sini sendiri?" tanya Jenni yang melihat tidak ada yang mendorong kursi pria ini.
"Tidak. Aku bersama kakak sepupuku. Hanya saja tadi di ke kamar kecil."
"Oh...begitu. Mau berangkat kemana?" tanya Juan si berjiwa malaikat.
"Hongkong." Zain berucap pelan. Ia tersenyum lembut kala mata indah nya berbenturan dengan manik mata coklat Jenni.
Getaran yang telah lama mati terasa kembali hidup. Jenni membeku, ia merasa akrab dengan pandangan mata dari pria di kursi roda itu. Juan melangkah semakin mendekati Zain.
"Kami juga mau ke Hongkong. Mungkin kita berada di pesawat dan jam keberangkatan yang sama." Juan berucap ramah.
Zain ikut tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya pada Juan. Jenni mengangkat tangannya. Menyentuh dadanya yang berdebar keras.
"Oh...iya." Zain berujar sebelum merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan paspor, visa dan juga tiket pesawat milik nya.
"Oh! Benar. Kita di pesawat yang sama." Juan berseru kala menatap lembaran tiket pesawat nya.
Zain mengangguk pelan."Oh iya. Aku lupa memperkenalkan diri. Siapa tau nanti kita bisa bertemu di Hongkong,"ujar Zain,"namaku Harry Malik." Serunya menyodorkan tangan pada Juan.
Juan meraih tangan Zain. Pria yang lupa ingatan itu menggoyang tangan Juan. Juan membeku sesaat, pria di depannya ini mengingat kan nya dengan Zain Lewis. Sahabat nya saat bersalaman memiliki kebiasaan menggoyangkan tangan nya.