
Denting sendok dan garpu beradu menjadi nada khas saat di meja makan. Sebenarnya gadis culun ini tidak ingin makan. Mengisi perutnya yang kosong. Bayang-bayang beberapa potong tubuh manusia dan bau anyir masih dapat di cium oleh indera penciuman nya.
"Kenapa tidak di makan?" suara bariton itu mengalun kala melihat Dara asik melamun dengan tangan mengaduk-aduk nasi goreng yang di beli khusus di restoran Indonesia yang ada di Texas.
"Hah?" Dara tersentak. Gadis culun itu tersenyum meringis kala manik mata madu miliki nya berbenturan dengan manik mata hijau tajam milik Alex Felton.
Mark ikut melirik Dara Margaretha. Gadis culun itu masih terlihat sering melamun. Mark berpikir seperti nya Dara memang syok berat dengan apa yang ia lihat. Salah sendiri, kenapa masuk ke hutan Pinus. Sudah jelas hutan itu hutan terlarang yang ada di kediaman besar rumah Dragon.
"Tidak suka makanan nya?" sambung Alex dengan nada tenang.
Ke dua manik mata Dara jatuh pada nasi goreng di depannya. Yang sudah tidak beraturan lagi karena ulahnya mengaduk-aduk nya. Sebelum menjawab tidak lupa Dara mengulas senyum lebar.
"Hehe...tidak. Makanan enak kok, cuma seperti nya selera makanku saja yang sedang bermasalah," balas Dara terkekeh di awal kata.
Alex menelisik raut wajah Dara. Gadis culun itu terlihat salah tingkah karena pandangan matanya. Kaca mata tebal itu merosot jatuh dari hidung mancung nya. Dara tersenyum malu sebelum tertunduk dalam. Manik mata hijau tajam itu kembali ia bawa pada makanan spaghetti miliknya. Bos Mafia kejam satu ini jelas tau apa yang membuat Dara si gadis culun ini kehilangan selera makanya.
Tidak ada orang normal yang akan tetap nafsu makan setelah melihat potongan tubuh di depan mata. Apa lagi di kepala menggelinding sampai ke mata kakinya. Sudah pasti itu bukanlah pemandangan yang menyenangkan.
"Sekarang kau mau masuk kampus?" tanya Alex kembali terdengar.
"Ya, aku cukup banyak tertinggal pelajaran. Karena itu aku harus mengejar ketertinggalan yang telah aku lewati. Aku ingin kamu bangga padaku, saat melihat nilaiku yang sangat memuaskan," balas Dara terdengar malu-malu di telinga Mark dan Alex.
Mark mencibir mendengar penuturan malu-malu dari Dara.
"Cih! Kau seperti keledai yang sedang musim cari pasangan," cemooh Mark terdengar pria itu menggulung mie spaghetti dengan perlahan.
Pandangan mata Darah yang penuh cinta langsung hancur karena seruan dari Mark Felton. Pria tampan nan manja ini masih saja tidak berubah. Suka sekali mencari gara-gara dengan nya. Dara menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan nya perlahan. Hari senin, ia tidak boleh bad mood karena adik dan pria Mafia kejam ini.
"Makan saja makananmu tuan manja. Aku hanya ingin berbincang-bincang dengan kakakmu yang tampan ini!" Balas Dara sembari menggulung ujung lengan kemeja hitamnya.
Alex diam-diam tersenyum tipis. Sangat tipis mendengar balasan Dara pada sang adik. Mark mengerang kesal. Bibirnya terlihat manyun ke depan dengan ekspresi wajah mengemaskan bagi kaum Hawa. Dan mengesalkan bagi kaum Adam.
"Kau..."
"Sudahlah. Lanjut kan makan, makanan kalian masing-masing. Jangan terlalu banyak omong kosong di meja makan," potong Alex cepat sebelum sang adik menyelesaikan pembicaraan nya.
Dara tersenyum penuh kemenangan pada Mark Felton. Pria tampan yang berstatus sebagai CEO itu mendengus kesal.
...***...
"Ini!" Jenni menyodorkan laporan tentang kegiatan Alex Felton pada Tessa.
Telapak tangan lembut itu menerimanya. Ia membuka berkas laporan. Manik mata hijau bening itu bergerak ke sana ke mari. Membaca kata demi kata yang tertera di atas kertas. Ah, ternyata Alex Felton masih tidak jauh berbeda. Kegiatan nya masih sama seperti yang dulu-dulu. Tidak ada perubahan banyak yang di lakukan oleh Alex.
"Kapan kau berencana bergerak mendekati dia?" tanya Jenni. Wanita cantik itu bergerak meraih jus jeruk di meja. Ia meneguknya dengan perlahan-lahan.
"Saat ini belum waktunya. Kita berikan jeda jarak yang jauh. Hubungan aku dan Alex cukup berantakan saat ini. Aku butuh perbaikan dahulu dengan nya. Saat kami sudah memperbaiki nya. Saat itu aku akan bergerak langsung." Tessa berkata dengan penuh keyakinan.
Kepala Jenni mengangguk pelan pertanda mengerti."Aku serakah semua nya padamu. Ingat, rencana kita kali ini harus berhasil. Dengan begitu aku dan kamu akan merasa puas telah memberikan pelajaran pada pria pembunuh itu," ucap Jenni pelan.
Tessa mengangguk kecil kepalanya. Meskipun dirinya sendiri tidak sepenuhnya memahaminya. Bagaimana pun Alex Felton adalah pria yang ia cintai. Dan sampai saat ini masih sangat ia cintai. Anggap saja bantuan dari Jenni adalah langkah awal untuk ia kembali pada Alex. Pria pujaan hatinya.
Satu kali dayung satu...dua..tiga pulau terlewati.
"Tenang saja Jenni. Aku sini datang untuk mambantumu. Percaya saja padaku, Jenni. Aku tentu nya tidak akan pernah mengecewakan dirimu!" Tessa berkata begitu manis.
Benar-benar membuat diri Jenni percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibir nya. Wanita berambut pirang ini cukup berbahaya. Jenni mengangguk kembali.
...***...
Kaki kursi besi ringan itu berderit kala di tarik ke belakang. Pria bermata sipit duduk di samping Dara. Gadis culun itu sontak menoleh ke samping.
"Kau baru sampai?" seru Dara berbasa-basi dengan Niko Wu.
Pria berkembang China itu mengangguk dan tersenyum.
"Kau beberapa hari ini tidak masuk kelas. Apakah ada masalah?" tanya Niko pelan.
Dara Margaretha mengulum bibir pink miliknya yang kering.
"Tidak. Hanya sakit di musim panas saja. Mengingat perbedaan cuaca panas Indonesia dan Texas sangat jauh. Aku jadi sakit sebentar," bohong nya dengan wajah tenang.
Niko Wu memicing menelisik ekspresi wajah Dara. Gadis culun itu beberapa kali membenahi kaca matanya yang jelas-jelas tidak merosot. Manik mata nya bergerak liar. Ah, Niko seperti nya tau jika ini gelagat saat seseorang tengah berbohong. Banyak yang bilang seperti bahasa tubuh.
"Benarkah?" tanya Niko kembali memastikan.
Kepala Dara mengangguk patah-patah. Sebelum mengulas senyum terpaksa.
"Lalu minggu lalu, kamu di panggil ke ruangan Mr.Lewis. Ada urusan apa saat itu?"
"Ah...itu tentang ringkasan tugas kita yang selesai aku buat. Dia merasa penjelasanku sempurna. Dan cukup lengkap dalam pengulasan satu persatu dari penyimpangan seksual," balas Dara. Kali ini gadis culun ini berkata jujur. Bahasa tubuh nya tidak terlihat. Tidak ada pergerakan dari tubuh Dara. Bahkan manik mata itu terlihat tidak menghindari dari pandangan nya.
"Ah, begitu. Kau cukup hebat ternyata," puji Niko.
Dara mengulas senyum pongah."Ya, tentu saja!" balasnya dengan senyum lebar.
Niko ikut tersenyum lebar. Gadis di sampingnya ini selalu terlihat berbeda dari hari ke hari. Terlihat sangat unik dan menyenangkan. Tidak banyak gadis yang menyenangkan di sisi Niko Wu.