
Kelas telah selesai. Dara dan Niko membereskan buku-buku yang mereka bawa berserta peralatan tulis lainnya. Setelah semua nya di masukan ke dalam tas. Dara meregangkan tubuhnya karena telah lama duduk di kursi mendengar penjelasan sang dosen.
Tok!
Tok!
Punggung telapak tangan Juan bergerak mengetuk dua kali ketukan di atas mejanya. Membuat Dara menengadah menatap pria di depannya ini. Dahinya mengernyit.
"Dara Margaretha!" seru pria bermata sipit ini,"bisa ikut aku ke ruanganku. Aku ingin membahasa tentang tugas yang telah kau selesai kan," sambungnya.
Niko menatap lambat dosen tampan di depannya ini. Ke dua manik mata hitam itu di bawa menunu wajah gadis culun di sebelah nya ini. Dara terlihat berpikir lama sebelum mengangguk pelan.
"Ayo," seru Juan Brown lagi.
Patah-patah Dara kembali mengangguk pelan. Ia berdiri di ikuti oleh Niko. Juan melangkah lebih dahulu menuju pintu keluar.
"Apa ada masalah dengan tugasmu?" tanya Niko pelan.
Ke dua sisi bahu Dara terangkat ke atas pertanda ia juga tidak mengerti kenapa ia di panggil oleh dosen muda itu ke ruangannya.
"Entahlah. Kau pergilah ke kantin sendirian."
"Malas. Aku tunggu kau di taman Dara. Setelah selesai temui aku di taman!" balas Niko.
Dara mengembangkan ke dua pipinya. Sebelum mengempeskan nya. Telapak tangan nya memukul dua kali bahu Niko.
"Aku pergi dulu," ucapnya lagi.
Ia melangkah cepat menunju pintu keluar. Di sana Juan berdiri di ambang pintu menunggu kedatangan Dara. Gadis culun itu terlihat berbincang kecil dengan Juan sebelum ke duanya melangkah menjauh dari kelas. Niko masih menatap ambang pintu masuk. Dengan ekspresi yang tidak terbaca.
...***...
"Apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang dia?" suara bariton itu terdengar mengalun keras.
Tom mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati Alex yang berstandar di punggung kursi menatap hamparan bunga mawar merah yang terlihat bermekaran indah. Membawa aroma harus kala angin berhembus membelai kelopak indah itu.
"Ini data-data yang telah di peroleh, Bos!" Seru Tom sembari menyodorkan berkas data pada sang Bos.
Alex menerima nya. Foto Niko Wu yang pertama kali di lihat oleh manik mata hijau tajam itu. Sebelum manik mata itu bergerak menyusuri informasi yang ada di dalamnya. Mulai dari nama Niko sampai semua informasi pribadi pria yang kedapatan tidur di samping Dara di perpustakaan. Lima belas menit Alex membaca informasi pribadi Niko Wu. Pria keturunan asli China itu.
Berkas di turunkan perlahan. Ia membuang asal di atas meja tepat di samping tempat ia duduk.
"Dia hanya seorang peracik minuman di salah satu Bar. Dan sekarang berkuliah di jurusan yang sama dengan Dara. Informasi yang di berikan terlalu bersih. Membuat ini lebih mencurigakan," ujar Alex terdengar penuh pertimbangan.
"Ya, Bos. Aku juga berpikir begitu. Semua nya terlalu bersih. Kehidupan pribadi hingga kehidupan percintaan nya. Benar-benar bersih tanpa noda. Aku juga berpikir ada yang aneh," balas Tom pelan.
Alex mengerutkan pangkal hidung nya. Sebelum mengangkat pergelangan tangan nya manik mata hijau tajam melirik jarum pendek jam tangan. Ini sudah waktunya Dara, kelinci manisnya pulang. Alex berdiri dari posisi duduknya.
"Siapkan mobil," ujar Alex.
Tom menatap lambat wajah sang Bos. Sebelum mengangguk kecil."Baik, Bos!" ujarnya.
Alex melangkah meninggalkan balkon kamarnya. Di ikuti oleh Tom. Pria berkulit hitam itu melangkah keluar dari kamar Alex.
Di waktu bersamaan suara keras akan kedatangan pesawat dari luar negeri menggema keras. Gadis dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancung itu. Dua koper di tarik menuju pintu ke datangan luar negeri. Senyum merengkuh kala paru-paru nya memompa aroma negara yang sangat ia rindukan. Ke duanya berhenti di tak jauh dari pintu kedatangan luar negeri.
"Selamat datang kembali di Texas, Tessa!" Ujar Jenni menepuk pelan punggung belakang Tessa.
"Sama-sama. Tapi kau jangan lupa dengan perjanjian kita berdua, Tessa. Kau kembali ke sini bukan tanpa alasan," peringat Jenni akan kesempatan mereka.
"Ya, tentu saja. Aku akan melakukan nya sesuai dengan kesepakatan kita. Aku tidak akan melupakan perjanjian kita. Kau tenang saja, Jenni!" balas Tissa dengan raut wajah ceria.
Jenni mengangguk pelan tersenyum lebar."Ini sudah saatnya kita bergerak. Tapi untuk saat ini yang harus kita lakukan adalah memantau keadaan sebelum bergerak. Jangan sampai kita salah pergerakan hingga malah kita yang mati di tangan Alex!" peringat Jenni akan keganasan Alex dan tugas Tissa.
"Tenang saja. Aku akan melakukan sesuai dengan instruksimu," balas Tissa,"aku masih ingin hidup lama. Tentu saja aku tidak akan mengambil resiko besar hanya untuk menolongmu, Jenni!" sambung isi hati kecil Tissa.
Beberapa pria berpakaian rapi melangkah mendekati ke dua wanita cantik itu. Jenni memberikan kode untuk orang-orang nya membawakan kopernya dan milik Tissa. Pergerakan cepat mereka langsung membawa koper ke duanya. Setelah nya mengikuti langkah kaki wanita cantik ini.
...***...
"Ada apa lagi sih?" suara tanya Dara terdengar sangat kesal.
Alex tidak menjawab. Gas di injak semakin keras. Dara terpekik keras hingga suaranya hampir habis. Mobil sport merah metalik itu membelah jalan dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia jantung Dara berlompatan begitu cepat. Gila pria ini.
Kya!!!!!!
"JANGAN GILA ALEX!!!!!"
Teriak Dara keras. Apa daya pria ini begitu malah tersenyum miring pada Dara. Semakin keras teriakan Dara. Maka semakin cepat pula laju mobilnya. Teriaknya keras dan makian lucahan kasar dari pengemudi lainya terdengar keras karena ulah Alex. Pria itu benar-benar seperti nya ingin membuat Dara mati serangan jantung.
Mobil mulai melaju sedang saat hampir masuk ke dalam kediaman rumah besar Dragon. Kaca mata Dara entah terbanting kemana. Rambut nya tampak kacau. Dara mengangkat pandangan nya dengan manik manik mata berkilat tajam. Ia menatap Alex yang tidak terlihat jelas. Mengingat gadis ini rabun jauh.
"Kenapa kau takut?" tanya Alex. Sebelum deru mesin mobil mati.
Dara terlihat mengelus dadanya berulang-ulang kali. Jantung nya benar-benar di bawa senam.
"Kau pikir aku ini tidak takut dengan kegilaanmu itu. Jika kau sayang dan ingin bertemu dengan malaikat maut. Pergi sendiri saja jangan bawa-bawa aku!" murka Dara,"aku belum menikah, belum punya anak, dan belum melakukan banyak kegiatan yang aku sukai!" sambungnya.
Alex seat belt mobilnya. Kala melihat Dara membuka seat belt nya buru-buru. Sebelum gadis culun itu cepat keluar. Tangan besar Alex menahan tubuh Dara. Menyusutkan nya di kursi mobil.
"A——alex!" seru Dara mencicit.
Pria ini mengeleng tubuh nya."Kenapa mau masih suka sekali dekat dengan pria itu,Hem?" ujar Alex dengan hembusan napas hangat menerpa wajah Dara.
Dara tidak mampu menelan air liur yang telah terkumpul di mulut nya.
"P——pria...mana?" tanya Dara lagi tergagap.
"Kau pura-pura tidak tau atau benar-benar tidak tau, Dara?" ujar Alex kembali.
Dara membuka mulutnya dan tertutup kembali. Ke dua matanya terbelalak kala ibu jari tangan Alex membelai bibir pink Dara. Dengan gerakan perlahan.
Wajahnya di dekatkan dengan perlahan-lahan. Dara memejamkan cepat ke dua kelopak matanya.
Door!
Door!
Kya!!
Tembakan menghujam mobil Alex. Dara terpekik keras karena terkejut. Beruntung mobil Alex tidak mampu di tembus peluru. Di luar terdengar suara keras kala anak buahnya mengejar orang yang melepas tembakan. Dara memeluk tubuh Alex dengan kuat. Tubuh nya bergetar keras.