
"Alex!" panggil Dara.
Gadis berkacamata itu terlihat melangkah cepat menuju ke arah Alex. Pria ini tidak pulang selama dua hari. Langkah kaki pendek itu terlihat setengah berlari pada tubuh Alex.
Hap!
Tubuh kecil itu memeluk erat tubuh Alex. Wajahnya di benamkan pada dada bidang pria tampan ini. Alex membeku mendapatkan pelukan dari Dara. Pangkal hidungnya bergesekan dengan dada bidang nan keras itu. Tidak ada yang tau bagaimana perasaan gadis ini. Ia sangat mencintai Alex. Marah, sakit dan cinta menjadi satu.
"Kemana saja kamu?" tanya Dara dengan suara teredam.
Alex membalas pelukan Dara. Sebelah tangannya mengusap pelan kepala belakang Dara.
"Ada masalah di luar. Kasino yang ada di pinggir kota mengalami sedikit masalah." Alex menjawab dengan nada biasa. Seakan tidak ada perasan bersalah.
Bohong.
Tentu saja hati Dara tau dengan sangat jelas jika jawabannya di berikan pria ini padanya tidaklah benar. Bibir bawahnya di gigit pelan, mencoba mengontrol rasa sakit yang kini menyerang ulu hatinya. Ia menarik napas perlahan, membawa aroma tubuh maskulin Alex memasuki paru-parunya, Ia menegakkan tubuhnya. Menarik segaris senyum yang bisa kapan saja patah. Kepalanya menengadah menatap wajah Alex.
"Begitukah?" tanya Dara.
Gadis culun ini tidak hanya mengontrol raut wajahnya. Ia juga harus mengontrol nada suara yang akan keluar dari bibirnya.
"Ya." Alex Felton mengangguk pelan.
Dara mungut-mungut pertanda ia percaya pada pria ini."Lalu nanti malam mau kemana? Apakah ada acara nanti malam?" tanya Dara kembali.
Alex mengernyit."Tidak..."
Senyum di bibir Dara tersungging semakin meninggi. Kini ia pahami kenapa banyak wanita yang di selingkuhi malah berpura-pura tak tau jika merasa di telah di duakan oleh orang terkasih. Bukan lantaran mereka itu bodoh. Namun karena takut hatinya lebih hancur lagi. Dengan kehilangan orang yang di cintai. Ah, mungkin tingkat ini yang sering orang katakan cinta itu buta. Ia terima semua kekurangan sampai kelebihan Alex Felton. Namun pria ini? Memperlakukannya seperti ini.
"Hei ada apa dengan raut wajahmu?" suara Alex terdengar khawatir.
Dara mengeleng kecil."Tidak ada," sahut dari cepat.
Dari jauh wanita cantik itu memperhatikan gerak gerik ke duanya. Emma merasa aneh dengan raut wajah Dara. Gadis periang itu terlihat berbeda beberapa hari ini. Seolah tengah memendam sesuatu yang berat. Saat di dekati, Dara selalu menghindarinya. Sebenarnya apa yang tengah gadis culun itu simpan di dalam hatinya.
...***...
"Bersulang!"
Seruan keras di sertai dentingan kaca yang beradu membawa tawa kecil dari ke duanya. Cairan merah itu di sesap perlahan. Hembusan angin menerpa wajah ke duanya. Air kolam yang berwana biru langit begitu menyegarkan mata yang memandang.
"Malam ini kau akan tidur dengannya?" tanya Jenni setelah menjauhkan bibir merah maron itu dari bibir gelas.
Tessa menoleh ke samping. Ia tersenyum pongah pada Jenni. Sebelum mengangkat dagunya ke atas.
"Tentu saja. Semuanya telah beres. Sekarang tinggal menerima hasil dari kerja kerasku. Dia terlalu bodoh, terbujuk dengan rayuanku!"
Jenni tergelak keras. Wajahnya memerah, ke dua netra indah itu terlihat penuh dengan cahaya kebahagiaan.
"Kau hebat, Tessa!" seru Jenni setelah mengontrol tawa yang melambung itu.
Tessa menarik sebelah sudut bibirnya. Mengangkat jauh ke atas, senyum miring yang selalu ia tampil kan dengan keangkuhan.
"Tentu saja. Kau jangan lupa dengan apa yang telah kita bicarakan jika aku berhasil membawanya naik ke atas ranjangku!"
"Jangan khawatir Tessa. Aku bukanlah seorang pembohong. Apa yang aku janjikan tentu saja akan aku berikan," ucap Jenni penuh keseriusan.
Derap langkah kaki terdengar jelas. Pria tampan dengan jas putih kebesaran yang melekat di tubuh atletis itu terlihat. Wajah nya begitu tampan. Jenni mengulas senyum pada Juan.
Juan memutar malas ke dua bola matanya. Entah kenapa dari awal Alex dan Tessa bersama Juan tidak memiliki firasat baik. Namun apa boleh buat, yang menjali hubungan bukalah dia. Juan tidak terlalu ambil pusing. Selama Alex dan Zain bahagia. Ia ikut bahagia akan hal itu.
"Apa yang kalian rencanakan?" ucap Juan dengan nada berat.
"Apanya sih?" tegur Jenni yang tidak suka dengan kecurigaan kembarannya ini.
"Kalian semakin hari semakin terlihat aneh di mataku. Terutama kau, Tessa!" Telunjuk tangan Juan jatuh pada Tessa. Gadis yang duduk menyilangkan sebelah kakinya di atas paha kanannya itu tersenyum lugu.
Senyum yang selalu ia lemparkan saat ia menghindar dari kecurigaan orang-orang.
"Ada apa denganku, Juan?" ujarnya malah balik melemparkan pertanyaan.
"Kau dengan Alex sudah lama berakhir Tessa! Kau kembali mendekati Alex karena permintaan atau apapun lah namanya itu. Aku berharap kau hentikan!"
Ke dua wanita yang tengah duduk bersantai itu sontak mendengus kesal mendengar perkataan Juan. Terutama Jenni, wanita cantik itu berdiri dari posisi duduknya. Melangkah mendekati Juan.
"Tidak udah terlalu ikut campur dengan urusanku, Juan. Jika kau tidak ingin menolong dengan alasan kemanusiaan. Dan dengan dalih biarkan karma yang bekerja. Maaf, aku tidak bisa begitu. Karena itu jangan sok menasehati dan ingin tau!" Ucap Jenni dengan jari telunjuk mendorong kecil dada bidang Juan.
Juan hanya membiarkannya saja. Ia menatap iba perempuan yang lahir lebih dahulu beberapa menit darinya ini. Jenni terlalu di kuasai oleh rasa sakit.
"Jangan libatkan orang yang tidak bersalah, Jen!"
"Siapa yang kau maksud?"
"Kau tau jelas siapa yang tidak bersalah di sini!"
Jenni berdecak kesal. Ia memangku tangan.
"Kau mencintai gadis culun itu duhai kembaranku?" cemooh Jenni.
Lambat Juan menatap Jenni."Ya, aku jatuh cinta padanya. Aku berharap kau tidak melukainya." Juan berucap dengan penuh keyakinan.
Pria itu langsung membalikkan tubuhnya. Jenni ternganga mendengar jawaban Juan. Tak jauh berbeda, Tessa juga tak menyangka. Apa yang membuat Juan jatuh cinta pada gadis culun itu?
...***...
Dara memoles lipstik merah di bibirnya. Gaun hitam dengan belahan di dadanya terlihat. High heels hitam senada dengan gaun hitam milik Dara. Gadis culun itu terlihat cukup cantik malam ini. Ia tidak melepas kaca mata yang membingkai hidung minimalisnya.
"Ayo Dara! Kau harus berjuang terlebih dahulu. Hasilnya, nanti kita putuskan. Yang terpenting saat ini adalah kau harus bisa menyadarkan Alex. Jika wanita yang pantas dan mencintainya dengan tulus adalah kamu!" ujar Dara dengan nada di buat seceria mungkin.
Ia menarik ke dua sisi bibirnya. Manik mata coklat madu itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dara melihat semuanya telah pas. Ia meraih tas kecil miliknya. Melangkah keluar dari kamar.
"Dara mau kemana?" Mark berteriak cukup keras kala melihat Dara melewatinya begitu saja di pintu depan.
Dara menoleh. Tersenyum lembut."Ada pesta yang harus aku hadiri malam ini," jawabnya pelan.
"Dengan siapa?"
"Itu dia!" Dara menunjuk ke arah pria yang berdiri jauh di gerbang luar.
Ke dua manik mata Mark memicing. Memperjelas pandangan matanya. Ke dua matanya membulat sempurna.
"Kau gila?" Mark setengah berteriak.
Dara mengangkat ke dua sisi bahunya acuh."Aku berangkat dulu. Aku sudah izin pada Alex!" dusta Dara.
Gadis itu melangkah dengan cepat menuju pintu gerbang besar yang di jaga itu. Mark masih memperhatikan Dara dari belakang. Entah kenapa perasaannya tidak enak.