
Buket bunga mawar di letakan di vas bunga di atas nakas. Dara menghela napas perlahan, gadis berkacamata ini sudah bisa duduk. Ia bersandar di dasbor ranjang.
"Bagaimana kondisimu saat ini?" tanya Niko sebelum mendudukkan bodi belakang nya di atas kursi di samping ranjang Dara.
Gadis itu terlihat masih cukup lemah.
"Sudah cukup lebih baik dari pada kemarin-kemarin nya," jawab Dara pelan.
Niko mengulas senyum."Aku bersyukur kau baik-baik saja. Aku sangat khawatir dengan kondisimu. Tapi tidak bisa menemuimu," ucapnya lirih.
Dara Margaretha terbaring satu Minggu lebih di rumah sakit. Niko Wu tidak bisa menjenguk gadis manis ini. Mengingat Alex benar-benar seperti orang kesetanan jika melihat dirinya. Seperti nya, pria itu tau siapa dirinya. Hingga tidak ada celah untuk bisa bertemu dengan nya. Beruntung ponsel gadis Dara kemarin sore aktif. Hingga ia bisa datang dan masuk ke dalam ruangan inap Dara. Meskipun Niko sempat mendengar jika Alex dan Dara bersitegang. Alex tidak ingin Niko menjenguk Dara. Akan tetapi, Dara tidak peduli dengan ketidak sukaan Alex. Hal hasil, pria berdarah Asia ini bisa masuk ke dalam ruangan inap Dara.
"Hah... kondisiku baik-baik saja. Tapi, kondisi Juan sangat parah," balas Dara sedih.
Pria itu masih terbaring koma di ruangan ICU. Hanya dua yang bisa membuka mata. Juan masih terlalu asik dengan tidur panjang nya.
"Aku yakin Juan secepatnya akan kembali sadar, Dara. Kamu jangan sedih begitu, kamu harus sembuh terlebih dahulu. Dan ikut merawat, Juan." Niko mencoba menghibur Dara.
Dara menunduk dalam."Semoga saja," balasnya lirih.
...***...
"Kenapa kau malah membiarkan pria bermoncong lebar itu mendekati Dara?" tanya Mark dengan nada tak suka pada sang kakak.
Alex merotasi ke dua bola matanya malas. Siapa juga yang menginginkan Niko berada di dalam ruangan yang sama dengan Dara. Setelah adu mulut kecil dengan Dara, Bos Mafia ini memilih keluar dari kamar Dara. Di sini ia sekarang berada. Atap rumah sakit menjadi tempat untuk ia mengontrol emosi nya. Mark Felton terlihat mengeleng kecil melihat sang kakak.
"Kau tidak dengar jika Dara sangat keukeh untuk membiarkan dia untuk datang," kesal Alex.
"Aku tau. Tapi harusnya aku keluarkan ekspresi kejammu itu pada Dara. Buat di tunduk padamu," balas Mark terdengar aneh.
Si manja tidak memberikan solusi yang tepat bagi Alex Felton.
"Lalu, setelah nya Dara pergi dariku. Begitu maumu?"
"Ya, tidak begitu juga Alex!"
"Lalu?"
"Kau harus tegas. Dan bilang kau cinta dia. Dan nikahi dia hari inj dan detik ini juga!" ujar Mark memberikan ajaran sesaat pada sang kakak.
Alex Felton melotot mendengar penuturan sang adik. Dara pasti akan menolak nya mentah-mentah. Gadis itu pasti tidak akan menerima lamarannya. Apa lagi, dirinya sendiri lah yang membuat Dara salah paham. Anehnya, kenapa hatinya jadi tidak menentu seperti ini. Ingin melepaskan tali sungguh tidak rela. Ingin tetap mendekap dan menahan gadis culun itu. Tapi dirinya takut di tinggalkan, jika Dara tau jika kematian tak langsung dari keluarga Dara adalah keluarga nya.
"Tidak semudah itu, Mark!"
"Apa nya yang tidak mudah?"
"Oh, astaga. Kau sebelum nya sudah pernah pacaran?" kesal Alex.
Mark menggaruk tengkuk belakang nya yang tak gatal. Sebelum cengengesan pada sang kakak.
"Belum," jawanya dengan nada malu-malu.
Alex menghela napas frustasi karena sang adik.
"Tapi aku tau Dara akan menerimamu, kok!" ujarnya lagi.
"Alasannya?"
Dahi Alex mengerut mendengar ucapan ambigu sang adik.
"Gede?" ulangnya dengan nada bodoh.
Kepala si manja mengangguk patah-patah."Dara suka yang ekstra besar. Dia suka burung rajawali. Dia tidak suka burung puyuh dan burung kakaktua," terang Mark dengan wajah memerah.
Oh, astaga. Tolong katakan pada Mark Felton. Alex sungguh tidak mengerti dengan semua jenis burung yang di katakan oleh sang adik. Dia tidak mengerti apa hubungan nya tiga burung itu dengan dia akan di terima oleh Dara. Dan apa yang besar, yang dimaksud oleh Mark?
Alex seketika gagal paham. Di tambah semakin lama wajah Mark hingga menjalar di daun telinga adiknya rona merah.
"Lalu apakah aku harus melamar pakai burung rajawali? Itu maksudnya?" Alex berujar tak mengerti.
Mark menghela napas. Kode para burung hanya dia, Dara dan Emma yang tau ternyata. Oke, seperti nya tidak seharusnya dia membawa kode burung di sini.
"Sudahlah Lex! Kamu tidak akan mengerti," jawab Mark menyerah pada akhirnya.
Manik mata hijau itu turun ke bawah menatap miliknya. Sebelum mengangkat pandangan nya pada milik sang kakak. Ah, bukan kaleng-kaleng. Mark mengeluh dalam diam.
...***...
"Kau, mau makan apa?" tanya Alex dengan nada kikuk.
Dara yang sedari tadi menaikan ponselnya berhenti mendadak. Ke dua matanya terangkat. Menatap Alex yang berdiri gelisah di samping ranjang.
"Tidak usah!" tukas Dara dengan nada dingin.
Alex menggerutu di dalam hati kecil nya. Dara yang sekarang sangat berbeda dengan Dara yang dulu terus menempel padanya. Gadis culun ini terkesan sangat dingin dan mengacuhkan nya. Saat ada Mark maupun Emma di dalam ruangan. Maka gadis culun ini lebih mau mengajak ke dua berbicara. Dan meninggalkan dia dalam kebungkaman kata.
Dara yang biasanya cerewet sontak saja malah menjadi pendiam. Diam-diam manik mata hijau tajam itu melirik wajah manis Dara.
"Mau aku pesanan makan Indonesia?" Alex Felton tidak menyerah begitu saja seperti nya.
Dara menghela napas pelan."Tidak usah."
Terlalu singkat.
"Atau kau butuh sesuatu?"
"Tidak ada yang aku butuhkan." Dara menjawab cepat.
Alex menghela napas lagi. Ia menarik kursi di samping ranjang Dara. Hingga lebih dekat duduk di samping ranjang. Dara tercekat sesaat kala, tangannya yang di infus di sentuh pelan. Tidak dapat gadis ini menampik getaran hebat pada dirinya. Tidak dapat ia munafikan perasaan yang masih sama. Jantung nya berdebar cukup keras. Namun, ia masih mempertahankan ekspresi datarnya.
"Jangan mengacuhkan aku seperti seperti ini, Dara!" lirih Alex dengan nada pelan.
Dara hanya diam. Ia tidak menjawab perkataan Alex. Ia membuang wajahnya ke sembarang arah. Alex mengusap pelan penuh kelembutan punggung telapak tangan Dara.
"Bukankah kau sudah memiliki dia di sisimu. Apa lagi gunanya aku. Kau bahkan sudah sembuh dari penyakitmu. Tentu saja aku tidak mempunyai manfaat apa-apa lagi untukmu," ucap Dara dengan nada dingin dan datar.
Kepala Alex mengeleng cepat."Tidak seperti itu Dara. Aku...hah, saat ini aku tidak bisa mengatakan alasan nya padamu. Saat aku benar siap, aku akan mengatakan semua yang ingin kau dengar Dara. Satu yang pasti aku benar-benar sungguh tulus mencintai kamu," ucap Alex dengan nada berat.
Deg!
Hatinya melambung jauh ke atas. Sisi hati Dara yang ingin ia keras kan pada rasa cinta malah merasakan perasaan bahagia dengan penuturan Alex Felton. Sekuat tenaga ia menahan senyum yang akan terukir di bibir tipis merah itu. Alex harus berjuang untuk nya. Sebelum ia memberi kata maaf untuk pria ini. Alex Felton harus merasakan perasaan yang sama dengan nya. Agar pria ini belajar, tidak mudah memperjuangkan orang yang di cintai. Hingga tidak mudah pula melepaskan nya.