Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 39. RAHASIA YANG TERSEMBUNYI


Dara menatap lambat wajah Alex. Pria itu tampak terlelap dengan napas teratur. Senyum tipis tercetak di bibir pink tanpa polesan lipstik. Terkadang ia merasa kasih melihat Alex. Pria ini memang terlihat seperti predator dari luar. Akan tetapi, tidak ada yang tau jika Alex Felton memiliki sisi lemah di balik kata kuat. Banyak orang yang berusaha terlihat kuat untuk menyembunyikan kelemahan dan ketakutan mereka. Setidaknya, seperti itulah kata buku yang pernah Dara baca.


"Aku tau tidak mudah berada di puncak kekuasaan seperti saat ini. Kamu sudah membayar mahal akan semua yang kamu peroleh. Aku berharap kebahagiaan hadir padamu," monolog Dara terdengar sangat pelan. Nyaris berbisik.


Kembali ke dua sudut bibirnya di tarik ke atas. Entah kenapa rasanya manik mata madu itu tak jemu memandang wajah tampan Alex Felton. Jari panjang nakal itu bergerak menyentuh pipi Alex. Menekan dengan lembut, di mana bersemayam lesung pipi nan dalam. Lesung yang hanya mampu di lihat saat pria ini tertawa dan tersenyum. Dara berharap ia bisa melihat dan mendengar tawa lepas dari Alex.


"I love you, Alex Felton!" ujar Dara tersenyum malu-malu.


Ke dua pipinya merona terasa hangat. Bukankah ini lucu? Dirinya sendiri yang mengatakan kata cinta pada pria yang tengah terlelap ini. Tapi dia yang malah tersipu dan merona.


Dara bangkit dari posisi duduk nya di bibir ranjang. Sebelum melangkah menuju pintu keluar. Dua langkah lebar ia ambil berhenti tiba-tiba. Ia membalikkan tubuhnya manik mata madu itu melirik wajah tampan Alex kembali.


"Sweet dreams, my boy!" ucap Dara pelan.


Ia kembali mengambil langkah semakin lebar. Memutar engsel pintu kamar Alex. Menariknya ke belakang. Menutupnya seperlahan mungkin. Dara Margaretha telah menghilang dari kamar dengan cat warna abu-abu itu. Kelopak mata Alex terbuka perlahan. Manik mata hijau tajam itu menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup.


"Hah!" Alex mengembuskan napas berat melalui mulutnya."Aku berharap kau kuat dalam mencintai aku. Sulit bertahan di sisiku, Dara. Tidak ada yang mudah jika sudah menyangkut diriku dan kehidupanku," sambung Alex dengan nada terdengar frustasi.


...***...


"APA???" teriakan keras itu menggelegar di rumah besar kediaman keluarga besar Lewis.


Pria tampan itu mengetatkan ke dua sisi rahangnya. Pria itu menunduk dalam, tak mampu melihat kemarahan dari Alan Lewis.


"Maaf, tuan Lewis," serunya pelan.


Cras!!!


Botol red wine di lempar begitu saja. Hingga cairan merah itu berhamburan dengan pecahan kaca kecil ikut berhamburan.


"Bukankah sudah aku katakan untuk membersihkan semuanya! Lalu kenapa bisa mereka di sapu bersih oleh Alex Felton, huh?" Alan terdengar sangat murka.


Wajah putih pucat itu langsung memerah hingga ke daun telinganya. Muka Alan Lewis terlihat merah padam, saat ini. Bawahan pria ini tidak mampu menjawab ataupun berdalih. Alan menarik napas dan membuangnya perlahan.


"Usahakan mereka untuk tetap mulut semua. Kalau bisa habisi mereka yang di tangkap. Aku tidak perduli dengan cara apapun, yang terpenting habisi mereka!" titah Alan terdengar mutlak.


"Baik, tuan!" serunya.


Ia melangkah keluar dari ruangan kerja Alan. Ke dua telapak tangan besar Alan mengusap kasar wajah tampannya. Dan mengacak-acak rambut kuning keemasan miliknya yang begitu memukau. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar.


Tok!


Tok!


Dua ketukan di pintu kerja yang masih terbuka membuat wajah Alan menoleh ke arah pintu. Wanita dengan seragam putih sepaha itu tersenyum menyapa sang atasan.


"Apakah hari ini tuan Alan tidak mengunjunginya?" tanya lembut.


Alan mencoba mengontrol emosi yang sempat meledak. Kelopak mata itu menutup manik mata hijau tajam itu. Sebelum kembali membukanya dengan perlahan.


"Ya, ayo kita temui dia," ucap Alan terdengar pelan.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Alan kala berhenti di depan tubuh wanita itu.


"Ada beberapa kemajuan dari tuan muda Lewis. Setidaknya kita punya harapan ia untuk kembali bangun," ujarnya.


Senyum di bibir Alan melebar mendengar perkataan wanita cantik ini.


"Ini benar-benar berita yang bagus." Balas Alan di sela langkah kakinya di ikuti oleh Lusi.


"Ya. Tuan Alan sudah lama menunggu tuan muda bangun dari komanya."


"Iya. Sudah sangat lama."


"Aku sudah sangat lama penasaran sebenarnya. Kenapa tuan Alan membuat berita kematian palsu tuan muda?"


"Jika ia masih bernyawa. Orang itu pasti akan kembali datang menghabisinya. Saat adikku bangun dari tidur panjangnya. Saat itu pria itu telah mati. Dan tidak akan bisa lagi mengancam nyawa adikku."


Lusi mengangguk mengerti. Dokter cantik ini sebenarnya tidak terlalu tau apa yang membuat pria di sampingnya ini menyembunyikan keberadaan adiknya yang koma saat itu. Ia hanya di tugaskan untuk merawat pria yang sekarat saat itu. Di mana luka parah di tubuh pria itu. Bahkan harus melakukan pengangkatan jantung. Berkat kekuasaan Lewis, donor jantung darurat bisa di lakukan dengan sangat mudah.


Saat itu Lusi tidak bisa berkata apa-apa. Apa lagi saat di koran dan media masa lainnya, Kematian Zain Lewis di umumkan. Dan pemakaman tertutup di lakukan. Dengan berdalih wajah dan tubuh Zain yang hancur. Bahkan calon istri pria itu tidak bisa melihat Zain untuk terakhir kalinya. Pria itu di kremasi. Dari pada di kubur Alan Lewis memilih untuk membakar jenazah yang di klaim sebagai Zain Lewis.


Ke duanya melangkah menurun beberapa undak anak tangga. Hingga sampai di ruang bawah tanah yang telah di perbaiki menjadi tempat rawat intensif. Dari kaca Alan dapat melihat wajah tampan sang adik yang di bantu oleh beberapa selang di tubuhnya. Wajahmu tampak berbeda karena melakukan operasi.


Wajah yang hancur dari kecelakaan bukanlah sebuah kebohongan. Itu nyata terjadi, hingga wajah adiknya berubah.


"Sebentar lagi hanya sebentar lagi. Tidurlah sedikit lebih lama lagi Zain. Aku akan membersihkan semua kerikil yang bisa menyakiti kamu. Dan membuat kamu bahagia," seru Alan pelan.


...***...


"Ayo!!! Kita main ini!!!" Dara menarik tangan Alex dengan ekspresi wajah antusias.


Alex terlihat merenggut di awal. Namun tersenyum setelahnya saat Dara duduk di sampingnya. Keduanya bermain di area bermain Mall milik Mark Felton.


"Siap! Tuan tampanku?" tanya Dara sebelum menoleh ke samping melihat Alex yang tersenyum miring.


Ugh! Senyum nya membuat lesung di pipi Alex terbenam semakin dalam.


"Yeah!" jawabnya.


"Oke! Ready, let's go!!!" instruksi Dara.


Ke duanya langsung melakukan pertandingan. Permainan balapan motor mulai di mainkan. Dara tertawa keras kala curang mengganggu Alex dengan sengaja mendorong kecil bahu Alex. Pria itu mengerang dengan gerakan tubuh menahan motornya.


"Hei! Jangan curang!!!" teriak Alex yang terlihat mulai asik menikmati permainan.


"Tidak. Kamu harus kalah," teriak Dara balik dengan mata tak lepas dari layar di depannya.


"Tidak akan!!!" tukas Alex.


Keduanya mulai bermain dengan kecurangan masing-masing. Saling dorong dan sikut untuk memenangkan permainan. Pada akhirnya, tetap saja Dara lah yang memenangkan permainan. Dengan seribu kejahilan dan kecurangan di otaknya. Alex terlihat menarik Dara ke semua mesin permainan. Ia tidak tau jika permainan yang di mainkan oleh anak-anak bisa seasik ini.