
"Ada apa denganmu, Alex?" seruan kata tanya keras itu melambung dari pita suara Tom.
Pria berkulit hitam ini tidak mengerti apa maksud dari yang tengah terjadi. Ini kali pertama nya, Tom memanggil nama Alex tanpa embel-embel Bos. Alex menatap datar bawahannya.
"Tidak perlu tau banyak hal, Tom! Bukankah kau tau kita hanya perlu memanfaatkan gadis itu saja," jawab Alex seadanya.
Ke dua sisi rahang tegas Tom mengeras sesaat.
"Kau kembali pada wanita yang jelas-jelas telah memanfaatkan dirimu?" ujar Tom dengan penuh tanda tanya. Kerutan halus di dahi nya terlihat.
Alex masih memilih bungkam."Tessa hanya khilaf," balas Alex membuat Tom muak.
"Khilaf?" ulang Tom dengan intonasi membeo.
Alex masih terlihat dingin dengan pandangan mata yang menusuk. Kepala Tom mengeleng cepat. Pertanda ia tidak mengerti pemikiran Alex saat ini.
"Aku tidak tau harus berbicara apa denganmu saat ini. Jujur saja aku sangat kecewa padamu, Lex!" Tom berujar dengan nada berat.
Alex masih terlihat sama. Tidak ada perubahan di raut wajah tampan itu. Hingga Tom melangkah meninggalkan ruangan khusus milik Alex. Ke dua tangan Alex terkepal di kedua sisi tubuh nya. Kelopak mata itu terpejam perlahan-lahan.
...***...
Usapan di bahu belakang terasa. Gadis berkaca mata itu menoleh kebelakang. Kondisi Dara terlihat sangat kacau saat ini. Ke dua mata nya sangat merah dan membengkak. Niko Wu mengulas senyum pelan.
"Mau ke apartemenku?" tawarnya dengan nada lembut.
Kepala Dara mengeleng pelan dengan gerakan lemah. Polisi telah terjun ke lokasi. Dan tubuh dingin Sofia kini berada di dalam ruang penyimpanan jenazah. Sebelum melakukan otopsi atas persetujuan keluarga wanita tua itu.
"Sofia," ucap Dara memberikan jeda kala nada serak itu terdengar,"dia adalah wanita terbaik yang aku temui. Sangat baik," lanjut nya lirih.
Niko mengangguk pelan. Sebelum ia menekuk sebelah kakinya. Duduk berjongkok di depan Dara. Ia mengulas senyum ramah pada Dara. Tangan nya meraih ke dua telapak tangan Dara dengan sangat lembut.
"Tuhan lebih menyayangi orang baik untuk pergi terlebih dahulu," hibur Niko pelan,"karena katanya surga merindukan mereka," sambungnya.
Dara mengangguk pelan."Ya, Sofia adalah orang yang baik dana akan di tempatkan di tempat yang baik."
"Karena itu, jangan membuat Sofia sedih karena melihat kau sekacau ini. Jika kau tidak ingin berada di apartemenku. Kau bisa tinggal di rumah lama ke dua orang tuaku. Setidaknya kau harus membersihkan tubuhmu yang penuh darah ini!" Niko memberikan gerakan isyarat dengan mata nya. Menatap tubuh Dara yang penuh dengan darah yang telah mengering.
Gadis ini cukup menakutkan beberapa jam yang lalu. Ia menangis keras memeluk tubuh Sofia. Darah yang merembes di perut dan mulut Sofia memenuhi gaun hitam dan juga tangannya.
Dara menunduk menatap ke dua tangannya yang di penuhi oleh darah. Ia menghela napas, hatinya berdenyut ngeri.
"Bagaimana?" tanya Niko sekali lagi.
Data mengangguk pelan kepalanya. Pertanda ia setuju dengan usulan Dara. Jujur saja, tubuh gadis ini sudah sangat lelah dengan apa yang terjadi. Terutama hatinya juga membutuhkan istirahat dari hal yang membebani. Ke dua mata yang begitu bengkak di balik kacamata. Pangkal hidung nya yang begitu merah.
...***...
"Apa yang terjadi pada Dara tadi malam, Jen!" seruan keras dari Juan menghentikan langkah kaki Jenni.
Wanita cantik yang terlihat sepoyongan itu membalikkan tubuhnya. Senyum bahagia terlihat di wajah Jenni. Juan melangkah cepat menuju ke arah Jenni yang entah seberapa banyak minuman di teguk hingga pulang pagi dengan keadaan yang berantakan. Aroma red wine menyengat menusuk hidung Juan.
"Hai! Kembaranku!" Sapa Jenni dengan tangan di lambaikan ke depan muka Juan.
"Owh! Santai-santai! Hik! Gadis culun itu hanya di permalukan. Dia sama sekali tidak aku apa-apa kan, sumpah! Hik!" jawab Jenni beberapa kali cegukan.
"Apa maksudmu perkataanmu?" Juan mencengkram ke dua sisi bahu Jenni dengan keras. Wajah nya berubah sangat khawatir.
Jenni mengangkat wajahnya. Menatap sang kembaran dengan ke dua mata sayu. Ke dua sisi bibir nya di tarik ke atas.
"Hehe...aku membunuh orang yang dekat dengan nya. Dan mengkambing hitamkan Alex. Kau...hik! Tenang saja. Aku akan membuat dia menjadi milikmu jika kau cinta dia. Setidak, kau mendapatkan gadis yang kau sukai, adiku. Hik..." Jenni menjawab dengan nada bangga di sela cegukan nya.
Juan membeku sesaat. Ia menghela napas pelan. Sebelum menarik tubuh sang kakak masuk ke dalam pelukannya. Ia merasa kasih pada Jenni. Kakak yang lahir lebih dahulu darinya ini. Berusaha keras untuk membuat hatinya untuk mereda. Berusaha dengan keras untuk terlihat tegar. Wanita saat jatuh terlalu dalam pada cinta. Maka ia akan sangat buta. Seperti sang kakak. Yang tidak lagi tau membedakan baik dan buruk.
"Bagaimana caranya aku padamu, Jenni! Kau sudah terlanjur jatuh pada kubangan lumpur yang dalam. Kau tidak bisa mundur. Maaf, karena aku terlambat kembali. Terlambat tau hatimu yang telah tidak lagi berbentuk ini. Maafkan aku, kak!" ujar Juan pelan sangat pelan.
Ia medekab tubuh sang kakak dengan sangat erat. Juan hanya bisa berharap api dendam itu memudar. Karena ia tau dengan jelas yang tersakiti di sini bukan hanya Alex. Jenni secara tak langsung ikut menyakiti dirinya sendiri. Dengan mengesampingkan kebahagiaan nya. Hanya untuk sebuah dendam.
...***...
...Klik!...
"Minggir!" suara tegas di depan pintu membuat Niko membeku.
Bagaimana bisa lelaki ini bisa sampai di rumah lama milik nya?
Juan mendorong pelan bahu Niko. Ia melangkah masuk dengan gerakan terburu-buru. Niko sadar ia membalikkan tubuhnya.
"Hei! Kenapa kau masuk tanpa di persilahkan oleh tuan rumah!" Seru Niko mengikuti langkah lebar Juan.
Juan tidak menyahut. Pria gagah itu melangkah menuju kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Belum sempat Niko kembali berseru. Pintu kamar telah di buka. Juan melangkah semakin cepat menuju ranjang. Pria itu terlihat khawatir melihat keadaan Dara. Gadis terlihat tidak baik-baik saja.
"Dia demam tinggi!" Ucap Juan kala menempelkan telapak tangannya di atas dahi Dara.
Plak!
"Apa yang kau lakukan! Jangan menyentuh nya begitu saja tanpa permisi!" Niko berang. Pria ini menepis tangan Juan di dahi Dara yang terlihat di penuhi hilir peluh.
Besar kemungkinan gadis itu antara sadar dan tidak.
Greb!
"Jangan sok baik, Niko! Kau bukan pria yang baik untuk tetap di sisi, Dara!" Juan menarik kerah baju Niko dengan keras.
Niko tersenyum miring."Kau pikir kau baik?" ujar Niko kembali bertanya.
"Aku setidaknya tidak seburuk dirimu, pria bayaran!" Sarkas Juan mendorong bahu Niko keras.
Tiga langkah mundur di dapatkan. Niko tertampar oleh perkataan Juan. Pria tampan itu mengendong tubuh Dara. Niko hanya mampu menatap punggung lebar nan kokoh itu dengan pandangan nanar. Ia tau siapa Juan Brown. Seperti nya pria itu tau juga siapa dia. Meskipun dia pria bayaran. Dia sungguh tulus pada Dara.
Niko Wu juga ingin melindungi Dara Margaretha dari orang-orang jahat. Membuat gadis itu tetap aman. Salahkan hatinya malah ikut terlibat pada hal serumit ini.
"Aku mencintai nya," ujarnya lirih. Sangat terdengar pedih.