
Ke dua tungkai kaki kokoh itu terlihat terus menerus mengikuti langkah kaki gadis culun itu. Hingga dada keras itu hampir menghantam punggung belakang Dara. Gadis itu membalikkan tubuhnya. Tak lupa berkacak pinggang, dagunya di angkat ke atas dengan angkuhnya.
"Ada apa sih, sedari tadi mengikuti aku terus menerus?" ujar Dara dengan eskpresi mengenaskan.
Mark mempoutkan bibir nya."Aku punya sesuatu yang ingin aku katakan," ujar Mark terlihat sangat mencurigakan.
Ke dua manik mata Dara memicing melirik nya dengan pandangan penuh kecurigaan.
"Hei! Ada apa dengan caramu menatap pria tampan seperti aku ini, huh?" Mark berucap dengan ekspresi takut-takut menatap Dara.
"Dasar tuan muda manja yang suka kepedean," dengus Dara.
Mark Felton terkekeh kecil. Raut wajah nya di rubah semanis mungkin. Tidak ada yang tau apa yang di inginkan oleh Mark pada gadis culun ini.
...***...
Kursi roda di dorong perlahan-lahan. Ban kursi menggelinding tanpa hambatan. Ke dua tangan kokoh itu berhenti bekerja mendorong kursi roda kala mereka sampai di taman di belakang rumah besar Lewis.
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Herry?" ujar Alan dengan nada lembut.
Pria itu menengah. Jujur saja nama Herry terasa asing di telinga nya. Seolah-olah ia tidak akrab dengan nama yang baru saja di serukan oleh pria yang mengakui jika dirinya adalah saudara sepupu. Ia tidak mengingat satu potong memori pun. Seakan semuanya terasa kosong di dalam otaknya. Namun di dalam hatinya, seakan ada ribuan penyesalan yang membawa rasa sesak di dada.
"Jauh lebih baik, berkatmu!" ia berujar sangat pelan.
Alan mengulas senyum lebar. Ke dua tangan nya berpindah pada ke dua sisi bahu adiknya. Menepuk pelan pundak adiknya ini.
"Beberapa bulan lagi kamu akan semakin membaik. Hari demi hari akan memberikan kebahagiaan untuk kau," ucap Alan dengan nada penuh keyakinan.
Dahi Herry berlipat dalam."Apakah kita sebelum nya sangat akrab?" tanya nya penasaran.
Kepala Alan mengangguk kecil."Ya. Meskipun kita sepupu jauh. Kau dan aku sangat dekat. Harusnya kau tidak melakukan perjalan jauh. Kecelakaan itu tidak akan terjadi," dusta Alan,"yang terpenting saat ini kau sudah terbangun kembali. Itu sudah lebih dari kata cukup," sambungnya.
Herry Malik. Itu adalah identitas baru yang akan terus melekat ke depannya pada Zain Lewis. Karena adik dari seorang Alan Lewis telah lama mati. Yang hidup dengan kehidupan yang baru adalah Herry Malik. Anak dari adik sang ibu. Orang-orang di Texas tidak terlalu tau seperti apa Herry Malik. Pria yang berdarah Texas dan China.
"Maaf, aku tidak bisa mengingat apapun," lirih Herry dengan nada sendu.
"Tidak apa-apa. Ada yang berkata, terkadang melupakan banyak hal adalah kado terindah dari Tuhan untuk manusia. Tidak perlu memaksa semua nya. Jika tidak bisa mengingat kembali, cukup buat lagi buku lembaran yang baru. Tentang masa depan yang akan datang. Aku sebagai sepupumu akan selalu mendungmu. Apapun yang ingin kamu lakukan kedepannya. Jangan khawatir," papar Alan dengan nada pelan.
"Ya, kau benar. Terima kasih, Alan!"
"Sama-sama, Herry!"
...***...
"Yang terpenting adalah sebuah kenyamanan. Buat dia nyaman terlebih dahulu. Penyakit ini memang sulit di tangani. Tidak ada yang akan langsung sembuh. Ada beberapa tahapan yang harus kita lakukan untuk penyakit ini," seru wanita yang terlihat sedikit lebih tua itu.
"Bukankah harus dilakukan hipnoterapi untuk menangani nya, Mom?" tanya Dara dengan wajah serius.
Ia berkonsultasi dan belajar dengan seorang dokter senior yang di tugaskan untuk mengajar nya. Sudah tiga hari kelas nya dengan Dokter Sofia di mulai. Wanita yang memiliki beberapa kedutan di wajahnya ini sangat ramah. Dara Margaretha ingin, suatu saat ini bisa sehebat dokter psikologi satu ini. Yang begitu ramah dan nyaman saat berbicara. Membuat ia akan merasa sangat cepat waktu berjalan.
"Hipnoterapi di lakukan untuk menggali, menutup atau mencuci pemikiran seseorang. Sedangkan ini bukan tentang suatu trauma. Tapi lebih pada kebiasaan dan ketidak biasaan Dara. Terkadang mereka cenderung senang melakukan nya karena terbiasa. Sedangkan saat melakukan nya dengan manusia yang hidup. Ada banyak ekspresi yang di keluarkan dan di tampil dengan nyata oleh wajah manusia. Sebagai bentuk rangsangan. Sedangkan mayat tidak akan melakukan hal begitu. Mereka tidak bisa menolak atau pun merasa tidak puas. Berbeda dengan manusia hidup. Bagi manusia normal, mungkin hal seperti itu adalah sensasi yang sangat menggairahkan. Tapi, bagi yang memiliki penyimpangan malah sebaliknya," jelasnya.
Kepala Dara mengangguk pelan pertanda paham.
"Tapi bukankah jika melakukan nya dengan mayat tidak akan ada hal yang menggairahkan?" Dara bertanya fen wajah yang terlihat aneh.
Sofia terkekeh kecil melihat ekspresi anak didik nya saat ini. Dara Margaretha adalah gadis yang cerdas. Dan sangat tangkap, membuat Sofia merasa senang mengajarkan banyak hal pada Dara.
"Ya. Itu bagi yang begitu merasa merasakan sensasi tersendiri. Tidak ada yang penolakan dari seseorang membuat ia merasa bahagia dan bangga. Sedangkan melihat yang bernapas berlahan-lahan mati. Itu ada sensasi yang kita sebagai manusia normal sulit untuk menggambar nya," ucap Sofi.
"Tapi ini penyakit bukankah langka?"
"Ya. Penyakit ini memang langka bagi sebagian orang tapi," wanita ini memberikan jeda,"ada yang bilang ini di tutupi oleh orang yang berkuasa. Kebanyakan terjadi di Eropa," lanjut nya lagi.
Dara menghela napas frustasi."Apakah sulit untuk di sembuhkan?"
"Tidak. Aku yakin tidak ada yang sulit untuk di sembuhkan. Setiap penyimpangan memiliki alasan dan akibatnya tersendiri," balas Sofia,"tapi pada dasarnya kembali lagi. Ada dorongan kuat yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Contoh nya, perasaan sayang yang enggan menyakiti pasangan. Hanya orang tertentu yang mampu membawa kehidupan normal bagi pasangan mereka," lanjut nya.
Dara terdiam sesaat. Apakah dia mampu menyembuhkan Alex? Sangat sulit menangani hal ini. Tapi, Dara tidak akan menyerah untuk membantu menyembuhkan Alex Felton. Apapun yang terjadi ia akan meju terus menerus. Harus!
...Sedangkan di lain tempat dan waktu yang sama. Dari kejauhan Tessa memperhatikan gerak gerik Alex. Pria dengan jaket kulit hitam yang melekat di tubuhnya itu tampak begitu gagah. Melangkah di ikuti oleh Tom di belakang tubuh nya....
"Sebentar lagi akan akan datang menemui, honey!" monolog Tessa pelan. Tangannya seolah mampu menggapai Alex.