Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 55. SESUNGGUHNYA AKU MENCINTAIMU


Jari telunjuk panjang itu di ketukan beberapa kali di meja. Dahi putih mulus itu terlihat berlipat. Seakan otaknya tengah berpikir keras. Seberapa keras pun ia berpikir, hati yang merasakan tetap terasa sakit. Harus nya tidak seperti ini bukan?


Bagaimana bisa semua nya jadi sia-sia. Semua yang telah ia lakukan dan ia kerahkan menjadi sebilah pedang bermata dua. Kejujuran lebih baik dari pada sebuah kebohongan. Namun, bukan kejujuran seperti ini yang wanita cantik ini harapkan. Ini adalah kejujuran yang paling menyakitkan dan menyesatkan baginya.


Brak!


Meja kerjanya di gebrak keras. Wajahnya kembali memerah.


"Brengsek! Mereka berani-beraninya menipuku!!" Jenni berucap marah.


Terbukti urat leher nya mencuat di balik kulit putih pucat nya. Ke dua mata nya membesar. Hatinya terbakar api yang bergejolak. Kurang apa dia? Semua nya telah ia berikan. Cinta, kesetiaan bahkan mahkota berharga baginya. Telah dia berikan pada Zain Lewis.


Jenni berpikir Zain akan setia padanya. Sebagai ia setia pada pria tampan itu. Tapi ini apa? Zain, kekasih yang ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya. Malah mengkhianati nya. Tidur dengan wanita yang sangat ia kenal. Kekasih sahabat pria ini sendiri?


"Kau pantas mati!" serunya lagi. Buku-buku jari tangannya memucat kala di genggaman keras.


Gigi-gigi geraham nya bergemeretak. Kala otak pintarnya membayangkan bagaimana malam yang di habiskan berdua dengan Tessa. Wanita itu mereguk kehangatan dari kekasih nya. Membayangkan Zain menyentuh Tessa sungguh membuat kepalanya mendidih.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiga ketukkan di daun pintu ruangan kerja Jenni. Membuat wanita Brown ini menoleh.


"Nono muda. Nona Tessa sudah di sini."


Itu suara tangan kanannya di balik pintu. Mata Jenni menajam seakan ingin membagi daun pintu kayu itu dengan tatapan mematikan miliknya.


"Suruh dia masuk!" balas Jenni dengan nada keras.


"Baik, nona!"


Klik!


Kreat!


Pintu di buka dan di dorong ke dalam. Senyum di ukur, perubahan raut wajah Jenni terlihat. Ia berdiri dari posisi duduknya. Melangkah mendekati Tessa yang semakin berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Hai! Jenni!" sapa Tessa dengan senyum merekah di bibir merah itu.


Hati Jenni mencemooh senyum itu. Jijik sekali wanita berdarah campuran Asia-Eropa ini melihat senyum yang di umbar oleh Tessa. Wanita itu semakin melangkah mendekati dirinya. Jenni memilih berdiri di depan meja kerja nya. Senyum polos ikut di umbar. Setidaknya sandiwara itu butuh kesabaran ekstra bukan?


"Oh! Hai!" balas Jenni lembut.


Tessa semakin mendekat. Telapak tangan Jenni tampak meraba-raba kota berisikan pena dan pisau kecil yang tajam. Cukup mampu membunuh orang dengan tusukan yang keras.


"Tessa!" panggil Jenni dengan nada pelan.


"Ya."


"Kamu tau adikku kecelakaan?" tanya Jenni dengan nada lemah.


Raut wajah Tessa berubah beberapa detik sebelum menampilkan ekspresi sok dan sedih.


"APA? JUAN KECELAKAAN?" teriaknya beberapa oktaf.


Senyum tipis di bibir Jenni tercetak. Sangat tipis.


Kepala nya menunduk perlahan. Terlihat sangat lemah di mata Tessa. Tangan Tessa mengusap pelan bahu Jenni. Seolah-olah wanita berambut pirang ini tengah menyalurkan semangat untuk Jenni. Jenni menghela napas. Tangan nya terus bergerak turun. Sedangkan tangan kirinya memegang pinggang Tessa.


Jleb!


Akh!


Jleb!


Jleb!


Akh!


Ke dua mata Tessa terbelalak kala perut di tikam empat kali dengan kuat. Oleh Jenni, darah segar merembes mengalir deras. Ke dua mata Tessa menatap Jenni dengan pandangan terbelalak. Wajah Jenni begitu menyeramkan. Sungguh menyeramkan.


"Kau..." Tessa meremas keras bahu Jenni.


Wanita itu tidak meringis meskipun buku-buku jari Tessa di tancap keras di bahu nya. Jenni tau Tessa tengah menahan sakit yang menjalar di perut nya.


"Ini belum seberapa. Kau tenang saja aku masih ingin berpikir keras. Apakah aku harus membiarkanmu hidup atau tidak." Ucap Jenni sembari mendorong bahu Tessa dengan keras ke belakang.


Bruk!


Tubuh Tessa terjengkang ke belakang. Dengan pisau yang masih tertancap tegak di perut nya. Jenni duduk di pinggir meja. Tangan kanan yang berlumuran darah itu di usap dengan tisu dengan perlahan.


Hembusan napas Tessa tampak memburu. Tangannya mengepal kuat. Meskipun wanita ini ingin menyumpah pada Jenni. Sayang nya rasa sakit lebih dominan. Membuat Tessa hanya mampu mengigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ekspresi dingin tanpa perasaan itu membingkai wajah cantik Jenni.


"Harus nya kau tau apa alasan bagi wanita yang bermain api dengan pria wanita lain. Apa lagi pria itu adalah sahabat kekasihnya. Lalu kau pikir kau mampu menyentuh adikku setelah kau membuat Zain mati karena mendua bersamamu. Akan aku pastikan setiap kulit tubuhmu di sentuh oleh Zain akan melepuh. Dan terbakar, dengan senang dan baik hati aku akan membakar tubuhmu yang menjijikan itu!" ucap Jenni. Sebelum tawa keras melambung.


Napas Tessa tersengal-sengal. Dahinya berpeluh deras. Hingga memelam dan menutup ke dua mata hijau itu. Cairan merah yang membanjiri lantai marmer mahal itu kontras dengan warna nya yang putih.


"Selamat tinggal, wanita sialan!" seru Jenni lagi.


...***...


Alex mengusap perlahan wajah pucat Dara. Gadis yang kini menutup erat ke dua bola mata madu yang indah itu di usap perlahan-lahan. Di dalam relung hati Alex ia penuh dengan rasa sesal. Ia melepas Dara untuk bahagia dengan pria lain.


Perasaan bersalah akan kematian ke dua orang tua Dara. Di tambah kematian adik kecil Dara yang saat itu harus nya di tangani lebih dahulu. Karena kekuasaan keluarga Alex. Dokter berbondong-bondong menyelamatkan Mark. Meninggalkan Kevin kecil yang harusnya di tangani lebih dahulu.


"Maafkan aku, Dara! Aku jatuh cinta padamu. Namun, semakin besar rasa cinta itu sendiri. Semakin besar rasa takut menghujam jantungku." Lirih Alex mengusap pelan pipi chubby Dara.


Sudah satu hari Dara terbaring dengan selang alat bantu. Ia keluar dari masa kritis. Untuk pertama kalinya, Alex bersimpuh di gereja. Berdoa hanya untuk menyelamatkan Dara yang malang. Pria kejam ini tidak percaya pada Tuhan yang sering orang-orang agungkan. Namun kemarin untuk pertama kalinya ia menekuk ke dua lututnya meminta dengan mata penuh air mata. Semenjak kehilangan ke dua orang tuanya, kehilangan adiknya, kekuasaan nya, dan bahkan dia hidup dengan tanpa memakai perasaan. Saat itulah ia mengingkari akan ke-Esaan tuhan.


"Bos!" seru Tom kala pintu ruangan rawat intensif di bukan.


Alex menoleh kebelakang. Tom melangkah mendekati Alex. Mata tajam pria berkulit hitam itu melirik Dara di atas ranjang. Sebelum kembali menatap sang bos.


"Apa?"


"Tessa di bantai oleh Jenni," ucapnya.


Alex mendengus pelan."Wanita itu benar-benar tak sabaran."


"Bukankah kita tau bagaimana tempramen nona Brown," balas Tom.


"Ya. Kau benar. Saudara perempuan Juan memang memiliki sisi gila."


"Apakah Bos tidak sedih?"


"Untuk apa?"


"Waktu itu..."


"Aku tidak lagi menyimpan perasaan pada wanita murahan itu. Aku hanya ingin memanfaatkan nya. Dan ingin membuat nya menderita. Siapa sangka, Jenni tidak sabaran."


"Apakah informasi yang di berikan Ricardo malam itu hingga Bos memilih keputusan itu?"


"Ya. Aku pikir menjauh dari Dara akan sangat mudah. Siapa sangka, di sini sangat sakit melihat nya menangis begitu. Aku bahkan membenci diriku sendiri."


Tom menghela napas. Dia tidak berpikir jika bosnya akan sensitif itu. Karena takut Dara membencinya karena kematian keluarga. Alex Felton lebih rela Dara berpikir dia di manfaatkan dan khianati itu lebih baik. Alex tau perasaan sakit dan ketidak bisanya pria ini memaafkan orang-orang yang telah membunuh ke dua orang tuanya.


.


.


.


Gimana??? seru banget???😁


Cerita nya udah mau End.


Aku gak pernah menyajikan cerita B aja🤭😅 sok PD 🤣🤣🤣 Cerita nya selalu gak ketebak kemana arah angin bertiup.


Mau bilang, aku nggak butuh yg namanya Vote apapun jenisnya. Menurutku gak ada artinya lagi🤭 Jadi gak usah kasih Vote ya kakak-kakak. Aku tau yg baca lebih dari 5000 yang baca. Aku mohon hargai saja cerita ini dengan LIKE atau Jempol aja udah cukup kok😁


dan Maaf kalau banyak typo. Setelah End bakal di perbaiki 🙈