
Plop!
Bibir ke duanya berpisah. Hambusan napas memburu dari ke duanya. Jantung berdebar seiriama. Bibir pink tipis tampak memerah karena ulah Alex Felton.
Tuk!
Kepala Alex jatuh pada bahu Dara. Pelukan nya mengerat, wajah putih itu kentara sekali dengan warna merah. Dara tidak tau harus bagaimana. Jantung nya nya masih beredar tak karuan. Air hangat terasa semakin panas kala gelora seksual membakar diri. Ke duanya sama-sama tau hasrat yang terpendam.
"Alex!" panggil Dara dengan nada serak.
Alex menarik semakin dekat tubuh Dara. Hingga tidak lagi ada di antara mereka. Dada ke duanya menempel.
"Aku tidak bisa melakukan nya," keluhnya dengan nada tak kalah serak.
Puncak nafsu mampu membakar dirinya. Pangkal celananya begitu sesak. Menggeliat menyiksa diri. Namun penyimpangan yang ia dapatkan menunda dirinya. Menahan hasrat menerkam tubuh Dara.
"Alex!" panggil Dara semakin terdengar pelan. Bak tikus yang terjebak dalam perangkap. Kala merasa tangan pria itu nakal mengusap paha nya yang terekpos karena dress pink itu tertarik ke atas.
"Hem!" seru Alex semakin membenamkan kepalanya di ceruk leher Dara.
"Apakah kita bisa...." Dara tidak mampu melanjutkan pertanyaan nya. Karena terlalu malu kala di ungkap kan dengan gamblang.
Alex mengerang keras. Menegakkan kepala dari ceruk leher jenjang Dara. Aroma bunga mawar yang memabukkan membuat pria itu sebenarnya enggan untuk meninggalkan aroma tubuh Dara. Tangan nakal itu di tarik. Hingga sampai di ke dua sisi bahu Dara.
Dara dapat melihat mata sayu penuh dengan kilatan hasrat. Alex tidak yakin, bagaimana bisa hormon seksual nya selalu bangkit saat ia bersama gadis culun ini. Tapi ia tak ingin menyakiti Dara. Gadis manis ini tidak boleh hancur di tangannya.
"Keluarlah Dara! Aku bisa gila saat ini. Sangat sulit meredakan perasaan ini. Rasanya benar-benar menyiksa," ujar Alex dengan nada Sanggau.
Dara mengedipkan ke dua mata indahnya di balik kaca mata yang berembun itu. Gadis ini tak kalah sama dengan Alex. Ke dua pipinya tampak memerah. Ingin sekali tangan Dara memukul pria ini. Alex Felton sialan sekali, bagaimana tidak? Setelah membuat nya kacau. Dia harus keluar dari keadaan panas ini.
"Dara! Pergilah!" Alex kembali berseru.
Dengan berat hati Dara berdiri perlahan. Alex melepaskan tangannya. Dari pinggang dada sampai mata kaki tubuh Dara basah. Dress pink itu tampak mencetak bentuk tubuh Dara. Gadis culun itu sedikit cemberut. Keluar dari bathtub, melangkah menuju pintu keluar.
Tanpa kata ia membuka pintu dan menutup nya perlahan. Alex mengusap kasar wajah nya yang merah padam karena hasrat nya. Daun telinga nya ikut memerah. Warna merah dari wajahnya terlihat begitu kontras dengan warna kulit putih pucat di lehernya.
Byur!!
Sebelah tangan Alex Felton menepuk kasar permukaan air. Hingga percikan air menghantam wajahnya. Ia mengerang kesal.
...***...
"Hei! Kenapa dengan wajahmu, Ra?" seru Emma sebelum mengambil tempat duduk di samping Dara.
Gadis culun itu memanyunkan bibir pink itu. Ia tidak mengerti kenapa nya sedikit kesal dengan apa yang terjadi. Baru ciuman saja, sudah begitu. Kenapa susah sekali jatuh cinta dengan pria yang memiliki penyimpangan seksual. Penyimpangan yang berada di tahap yang lebih berbahaya. Karena menyebabkan kematian pada lawan mainnya.
"Hah...entahlah. Aku pun tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku," keluh Dara terdengar kesal di telinga Emma.
Wanita cantik itu melirik Dara dengan pandangan heran. Wanita itu mengeluarkan bungkusan rokok dari kantong celana jins hitam miliknya. Dara mengerutkan pangkal hidung nya kesal. Sebelum membenahi kaca mata yang merosot.
Emma hanya memasang wajah polos tanpa dosa."Hei! Merokok mampu membuat kau merasa tenang Dara. Coba saja, ini ambil satu untuk di coba. Kau pasti akan menemukan ketenangan saat menyesap nya," jelas Emma dengan nada penuh kebanggaan.
Kepala Dara cepat mengeleng."Nggak mau. Aku nggak mau sama pembunuh berkedok kenikmatan itu. Mencium bau asapnya saja aku sudah mau mati. Apa lagi mengonsumsi nya. Kalau mau cari ketenangan. Ada banyak hal yang bisa di lakukan untuk mendapatkan nya. Nggak perlu sama yang begituan," tukas Dara cepat.
Emma Young hanya berdecak sebal dengan penuturan Dara. Gadis culun ini tidak tau saja perasaan dan kenikmatan dalam merokok. Seperti nya saat ini. Sekali mencoba nya akan ketagihan.
"Cih! Gadis alim." Emma berdecak kesal.
"Jangan meracuni kelinci manisku dengan kebiasaanmu itu, Emma!" suara bariton itu menarik atensi ke duanya.
Emma membeku. Ia hanya mampu tersenyum aneh pada Alex. Bos Mafia kejam itu melangkah semakin mendekati ke duanya. Emma langsung berdiri. Alex duduk di samping tubuh Dara. Mengambil tempat duduk yang sempat di sisi oleh Emma. Wanita cantik itu memasukan kembali rokok ke dalam saku celana nya.
"Aku permisi ke depan dulu, Bos!" ujar Emma dengan nada pelan.
Alex mengangkat tangannya mempersilahkan Emma untuk pergi. Emma melangkah cepat tanpa menunda-nunda waktu. Kini tinggallah Alex dan Dara.
"Apa hari ini kau tidak keluar rumah?" tanya Dara tanpa melirik wajah Alex.
"Hari ini tidak. Mungkin besok, kau mau ikut?" tanya Alex.
Kepala Dara sontak menoleh ke arah Alex."Kau mengajakku keluar?"
"Ya. Kau mau berburu denganku. Besok adalah hari berburu. Aku ingin memperlihatkan bagaimana anggota Dragon memburu," ujar Alex dengan senyum aneh.
Dahi Dara mengerut dalam."Berburu apa?" tanya Dara dengan wajah sedikit curiga.
Alex beringsut semakin mendekati tubuh Dara dan dirinya. Bibir merah tebal seksi itu mendekati daun telinga Dara.
"Berburu manusia," bisiknya dengan di ikuti hembusan napas hangat menerpa daun telinga Dara.
Gadis culun itu menahan ludah nya. Sebelum menelan air liur di kerongkongan dengan nya kasar. Alex menjauhkan bibir nya dari daun telinga Dara.
Gadis culun itu berdecak kesal. Bibir tipis itu di poutan seperti moncong bebek. Alex Felton merasa gemas melihat tingkah Dara.
"Jangan membentuk bibirmu seperti itu. Aku bisa menghabiskannya sampai kau bibirmu bengkak," ucap Alex dengan wajah mesum.
Dara dengan cepat merubah bentuk bibir nya. Ia berdecak kesal.
"Cih! Mafia pengancam yang mesum!" kesal Dara.
Alex tertawa keras mendengar gerutuan Dara. Tangan Alex menarik sebelah bibir Dara membuat gadis culun itu mengaduh sakit. Sayangnya Alex tidak melepaskan nya meskipun tangan Dara melayangkan pukulan pada pergelangan tangan keras Alex. Pria itu benar-benar kuat dalam menarik pipi chubby itu. Bisa-bisa pipinya akan melar jika di tarik seperti itu.
Perlawan Dara tidak mendapatkan reaksi banyak kecuali tawa keras dari Alex. Tak jauh dari kedua nya, Mark tersenyum kecil. Kakaknya bahagia dengan kehadiran Dara. Ia berharap Alex akan selalu bahagia. Kepala di tunduk, dengan raut wajah sedih. Karena dia Alex berubah banyak. Kakaknya mengorbankan banyak hal untuk membuat selamat.
"Aku berharap kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri, Alex!" ujarnya pelan.